Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 : BELAJAR BERJUANG DI KEHIDUPAN BARU
...BAB 23...
...BELAJAR BERJUANG DI KEHIDUPAN BARU...
Sejak Kirana dan Dimas pindah tempat tinggal, serta Aditya yang sudah tidak mampu lagi mempekerjakan orang lain, beban mengurus rumah sepenuhnya jatuh ke pundak ayah dan anak itu.
Alina baru menyadari betapa beratnya mengurus rumah tangga tanpa bantuan orang lain. Selama ini, ia hanya perlu bangun tidur, berpakaian rapi, dan pergi sekolah—semua kebutuhan sudah terpenuhi. Kini, ia harus menghadapi kenyataan bahwa tidak ada yang akan menyiapkan air mandi, tidak ada yang akan menyetrika seragamnya, dan tidak ada yang akan menyiapkan makanan saat perutnya keroncongan.
Hari-hari pertama terasa sangat berat. Aditya, yang selama ini hanya sibuk mengurus urusan kantor dan bisnis, kini harus membagi waktunya antara mencari nafkah dan mengurus pekerjaan rumah. Demi bisa menghidupi kebutuhan sehari-hari, Aditya memutuskan untuk memulai usaha kecil-kecilan. Ia menyewa sebidang tanah tidak jauh dari rumahnya, lalu membuka sebuah toko kelontong sederhana. Di sana, ia menjual berbagai kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, sabun, hingga makanan ringan.
Setiap pagi sebelum matahari terbit, Aditya sudah berangkat ke tokonya. Ia melayani pembeli dengan senyum ramah, meski seringkali terlihat lelah. Penghasilannya memang tidak sebesar dulu, namun cukup untuk menutupi kebutuhan dasar mereka.
Sementara itu, di rumah, Alina berusaha mengisi waktunya. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus menunggu, maka ia pun mencoba melakukan pekerjaan rumah sendiri. Ia menyapu lantai yang luas, namun tubuhnya cepat lelah. Ia mencuci pakaian, namun seringkali lupa membilasnya dengan bersih sehingga masih terasa sabun. Yang paling sulit adalah urusan dapur.
Perutnya seringkali keroncongan, namun ia tidak tahu harus berbuat apa. Terbayang kembali masakan Kirana yang selalu lezat dan pas rasanya. Namun, mengingat wanita itu sudah tidak ada di rumah, Alina menepisnya. Ia mengambil ponselnya, membuka YouTube, dan mencari tutorial memasak yang sederhana.
"Memasak nasi goreng paling mudah, kan?" gumamnya percaya diri.
Ia menyiapkan beras yang sudah dimasak, telur, bawang, kecap, dan sedikit garam. Mengikuti langkah demi langkah yang ditampilkan di layar ponselnya. Namun, hasilnya sungguh jauh dari harapan. Nasi goreng itu terasa terlalu asin, sedikit gosong di bagian bawah, dan baunya pun kurang sedap. Dengan wajah masam, Alina memaksakan diri memakannya sedikit, namun akhirnya membuangnya ke tempat sampah.
Ia mencoba lagi keesokan harinya, kali ini mencoba membuat sayur bening. Namun sayurnya terlalu lembek dan rasanya hambar. Saat mencoba memasak telur dadar, malah menjadi gosong dan lengket di wajan. Berkali-kali ia mencoba, namun hasilnya selalu gagal. Tangan dan bajunya seringkali kotor terkena minyak atau bumbu.
"Kenapa sulit sekali ya? Dulu Bu Kirana bisa membuatnya dengan mudah dan rasanya enak sekali," keluhnya pelan tanpa sadar, lalu segera menutup mulutnya sendiri. Ia menggeleng keras, mencoba menghilangkan nama itu dari pikirannya. Namun, semakin ia berusaha melupakan, semakin jelas terbayang bagaimana Kirana bergerak di dapur dengan tenang, memotong sayuran dengan rapi, dan meracik bumbu dengan takaran yang pas.
Suatu sore, Aditya pulang dari tokonya dengan wajah yang sedikit lelah namun tersenyum. Ia membawa beberapa bungkus makanan sederhana. Nasi, orek-orek tempe dan ikan pindang.
"Maaf, Nak. Papa baru bisa pulang. Tadi ada pembeli yang datang agak sore, jadi Papa tidak sempat memasak. Ini Papa belikan nasi dan lauk sebentar," ucap Aditya sambil meletakkan bungkusan itu di meja makan.
Alina menatap makanan itu, lalu menatap wajah Papanya yang kini terlihat lebih kurus dan ada kerutan halus di wajahnya. Hatinya terasa perih. Ia sadar, Papanya juga sedang berjuang keras.
"Pah, biar Alina yang belajar memasak. Besok Alina coba lagi," ucapnya pelan.
Aditya tersenyum tipis, mengelus kepala putrinya. "Tidak apa-apa kalau gagal, Nak. Belajar itu butuh waktu. Dulu Papa juga tidak bisa memasak, sampai Bu Kirana yang mengajari sedikit demi sedikit."
Mendengar nama itu disebut, Alina terdiam sesaat. Ia tidak menjawab, hanya menunduk.
Malam itu, saat sedang membereskan dapur, Alina melihat sebuah kotak jahit tua yang tergeletak di rak atas lemari. Ia mengambilnya dengan hati-hati. Kotak itu terlihat akrab—ia sering melihatnya dipegang oleh Kirana. Di dalamnya terdapat jarum, benang berbagai warna, gunting kecil, dan beberapa kancing.
Tiba-tiba, matanya tertuju pada seragam sekolahnya yang tergantung di dekat pintu. Kancingnya masih hilang dan bagian bahunya masih sedikit koyak. Ia teringat janjinya untuk kembali bersekolah, namun ia tidak memiliki seragam lain.
Dengan tangan yang ragu, Alina mengambil kancing berwarna putih yang seukuran dengan seragamnya. Ia mencoba memasukkan benang ke dalam lubang jarum, namun sulit sekali. Berkali-kali ia mencoba, namun benang selalu melengkung dan tidak mau masuk. Jari-jarinya terasa kaku.
Saat ia masih sibuk mencoba, tanpa sadar ingatannya kembali melayang. Ia teringat dua tahun silam, saat Kirana dengan mudah memasukkan benang ke jarum, lalu menjahit gaunnya dengan gerakan yang halus dan cepat.
"Kalau saja Bu Kirana ada di sini..." gumamnya pelan, namun segera ia menutup mulutnya. Ia merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Dulu ia sangat ingin Kirana pergi, namun sekarang justru merindukan kehadiran wanita itu meski tidak mau mengakuinya.
Hari-hari terus berlalu. Aditya semakin giat mengurus tokonya, meski penghasilannya tidak seberapa, namun cukup untuk menopang hidup mereka. Sementara Alina terus berusaha. Ia terus mencoba memasak, meski sering gagal, namun perlahan mulai ada sedikit perbaikan. Nasi gorengnya tidak lagi terlalu asin, sayurnya tidak lagi terlalu hambar. Ia juga mulai bisa menyetrika baju dengan rapi, meski kadang masih ada bagian yang sedikit kerut.
Namun, di balik itu semua, ada kekosongan yang terasa. Rumah itu terasa terlalu sunyi. Tidak ada suara orang yang menanyakan apakah ia sudah makan, tidak ada tangan yang menyiapkan obat saat ia pusing, tidak ada senyum lembut yang menyambutnya. Tanpa ia sadari, gambaran Kirana sering muncul di benaknya—saat wanita itu menjahitkan kancingnya, saat ia menyiapkan makanan, atau saat ia hanya duduk diam membaca buku.
Suatu malam, saat hujan turun deras dan petir menyambar-nyambar, Alina terbangun dari tidurnya. Ia masih takut dengan kegelapan dan suara petir, sama seperti dulu. Dulu, jika ia ketakutan, Kirana akan datang mengetuk pintu kamar dan menawarkan lilin atau sekadar menemani sebentar. Namun sekarang, ia hanya bisa memeluk selimutnya erat-erat sendirian.
Di dalam kegelapan itu, hati Alina mulai dipenuhi pertanyaan. Apakah kepergian Kirana dan Dimas ini benar-benar yang ia inginkan? Mengapa justru setelah mereka pergi, ia merasa ada sesuatu yang hilang?
Bersambung...
Hallo readers, terimakasih banyak yang sudah mau mampir memberi like dan komentarnya. Mohon selalu dukungannya ya 🙏😇
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄