NovelToon NovelToon
Archive Zero

Archive Zero

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Tujuh Singgasana dan Inti Dunia

Archive Zero

Bab 10 — Tujuh Singgasana dan Inti Dunia

Udara di ruangan ini begitu padat dan berat, seolah setiap tarikan napas harus melawan tekanan yang menindih seluruh tubuh. Ruangan itu berbentuk bulat raksasa, dinding-dindingnya terbuat dari material bening berkilauan yang memantulkan cahaya putih menyilaukan yang berasal dari bola energi raksasa yang melayang diam di tengah ruangan.

Itulah Inti Archive. Sumber dari segala sesuatu. Tempat di mana seluruh data, ingatan, nyawa, dan takdir penduduk Elarion tersimpan dan diatur. Bola itu berdenyut perlahan, berirama seperti detak jantung raksasa yang menopang keberadaan kota ini sejak seribu tahun lalu.

Dan mengelilingi bola itu, pada tujuh singgasana tinggi yang tersusun melingkar dan menjulang ke atas hingga hampir menyentuh kubah langit-langit ruangan, duduklah para penguasa tertinggi. Dewan Tertinggi. Tujuh sosok yang dianggap sebagai dewa oleh seluruh penduduk kota, tujuh orang yang memegang kendali mutlak atas hidup dan mati semua orang.

Jubah emas mereka berkilauan, menyatu dengan cahaya ruangan, membuat wujud asli mereka samar dan sulit dilihat. Hanya mata mereka yang terlihat — tujuh pasang mata yang bersinar dingin dan tajam, menatap ke bawah ke arah Ren, Kai, dan Anya yang berdiri diam di dekat pintu masuk.

Suara yang berbicara tadi, suara yang sama persis dengan suara sistem di seluruh kota, kembali terdengar. Kali ini bukan hanya dari sosok di tengah, tapi dari ketujuh mulut mereka serentak, bergema berlipat ganda hingga membuat tulang-tulang bergetar.

"Kau berani melangkah masuk ke sini dengan membawa niat memberontak, Pewaris Aran," ucap Dewan Tengah. Suaranya kaku, tanpa emosi, seolah ia bukan manusia, melainkan perpanjangan lidah dari sistem itu sendiri. "Kau membawa kekacauan. Kau membawa ketidakteraturan. Sesuatu yang dilarang keras oleh perjanjian seribu tahun lalu."

Ren tidak mundur selangkah pun. Ia mengangkat kepalanya tinggi, cahaya ungu di tangannya menyala terang, menciptakan bayangan gelap di lantai yang diterangi cahaya putih itu. Di sampingnya, Anya sudah bersiap, uap dingin mulai mengepul dari tubuhnya, siap berubah menjadi senjata kapan saja. Kai berdiri sedikit di belakang, jari-jarinya bergerak cepat di pergelangan tangan, matanya memindai setiap sudut ruangan, mencari celah, kelemahan, atau apa saja yang bisa dimanfaatkan.

"Perjanjian itu sudah diingkari oleh kalian duluan," jawab Ren tegas, suaranya bergema menembus keheningan ruangan. "Aran menciptakan sistem ini untuk melindungi, bukan untuk menguasai. Dia ingin memberi waktu bagi manusia untuk belajar dan tumbuh. Tapi kalian? Kalian terbuai oleh kekuasaan. Kalian mengubah tempat perlindungan ini menjadi penjara abadi. Kalian mencuri kebebasan kami, mencuri masa depan kami, dan bahkan mencuri ingatan kami sendiri."

Salah satu sosok di sebelah kanan, sosok yang jubahnya memiliki sulaman pola waktu, berbicara dengan nada sedikit lebih manusiawi namun tetap dingin.

"Kau muda dan penuh nafsu, anak muda. Kau tidak mengerti beratnya beban yang kami pikul. Tanpa aturan, tanpa batasan, tanpa kendali... manusia akan kembali saling membunuh. Energi akan lepas kendali lagi. Dunia akan hancur seperti dulu. Kedamaian yang kau sebut penjara ini... adalah satu-satunya cara agar umat manusia tetap ada sampai hari ini."

"Kedamaian semu!" potong Ren keras. "Hidup tanpa pilihan, hidup tanpa mimpi, hidup hanya sesuai apa yang tertulis di data... apa bedanya itu dengan mati? Kalian bilang demi keselamatan? Kalian hanya takut kehilangan kursi kekuasaan kalian!"

Dewan Tengah mengangkat tangannya perlahan. Seketika itu juga, tekanan udara di ruangan itu meningkat berkali-kali lipat. Kai tersentak, hampir jatuh berlutut karena beratnya tekanan itu. Keringat dingin mengucur deras di dahinya.

"Kau tidak akan mengerti, karena kau belum melihat kehancuran," ucap Dewan Tengah pelan. "Kami telah hidup seribu tahun ini. Kami telah melihat segalanya. Keputusan berat harus diambil demi kebaikan bersama. Dan keberadaanmu, Archive Zero... adalah kesalahan terbesar yang terjadi. Kau adalah cacat yang harus diperbaiki agar keteraturan tetap terjaga."

Dewan itu menunjuk ke arah bola cahaya raksasa di tengah.

"Serahkan dirimu padanya. Biarkan kunci itu kembali menyatu dengan inti. Biarkan energimu diserap dan dihapus. Maka kami berjanji, kawan-kawanmu akan selamat. Kota ini akan tetap aman. Dan sejarah akan terus berjalan dengan damai."

Ren menatap bola cahaya itu. Ia bisa merasakan tarikan yang kuat dari sana, seolah bola itu memanggilnya, menginginkannya kembali ke dalam pelukannya. Di dalam bola itu, ia bisa melihat bayangan ribuan nyawa, ribuan nasib yang terikat diam.

Ia menggeleng perlahan, tapi mantap.

"Jika aku menyerahkan diri... maka pengorbanan Aran sia-sia. Maka penderitaan semua orang yang menentang kalian, termasuk Elara dan warga Kawasan Bayang... semuanya sia-sia."

Ren mengepal tangannya erat, cahaya ungu meledak keluar dari tubuhnya, mendorong balik tekanan berat yang diberikan Dewan Tertinggi.

"Aku tidak datang untuk bergabung dengan kalian. Aku datang untuk mengakhiri permainan ini. Aku datang untuk membuka kembali apa yang telah dikunci."

Seketika itu juga, aura di ruangan itu berubah total.

Wajah ketujuh Dewan itu, meski tertutup jubah, terlihat berubah menjadi marah. Cahaya emas di tubuh mereka menyala ganas, beradu melawan cahaya ungu milik Ren.

"Kalau begitu... kau memilih jalan kehancuran," ucap Dewan Tengah dingin. "Kalau kami tidak bisa mendapatkan kunci itu dengan damai... kami akan mengambilnya dengan paksa. Dan kami akan menghancurkan siapa saja yang berdiri di jalan kami."

Dengan satu gerakan tangan Dewan Tengah, bola cahaya raksasa di tengah ruangan berdenyut hebat. Dari permukaannya, ribuan sinar energi putih melesat keluar, berubah wujud menjadi ribuan sosok bayangan berwujud manusia namun tubuhnya terbuat dari cahaya tajam.

Pasukan penjaga terakhir. Pasukan yang diciptakan langsung dari inti kekuatan dunia.

"Mereka tidak akan habis, Ren!" teriak Kai di tengah hiruk-pikuk suara berdengung itu, jari-jarinya bergerak secepat kilat di alat di tangannya. "Mereka terhubung langsung dengan sumber energi! Kalau kita menghancurkan satu, dua lagi akan muncul!"

"Kalau begitu kita harus langsung ke sumbernya!" balas Ren lantang. Ia menoleh ke Anya. "Anya! Bisakah kau membekukan ruangan ini? Sekuat tenagamu!"

Anya mengangguk. Matanya merah menyala terang, pembuluh darah di pelipisnya menonjol karena ia mengerahkan seluruh tenaga hidupnya. Ia membuka kedua tangannya lebar-lebar, dan kali ini, bukan sekadar badai salju. Seluruh suhu di ruangan itu turun drastis dalam sekejap. Udara yang panas dan bercahaya itu berubah menjadi dingin membeku, hingga cahaya putih itu sendiri mulai tertutup lapisan es kristal tebal.

"AKU TAHAN MEREKA! LALUKAN SAJA, REN!" teriak Anya di sela-sela erangan kesakitan, pembuluh darah di tangannya pecah dan meneteskan darah merah yang langsung membeku menjadi butiran kristal.

Es merambat cepat ke segala arah, membungkus ribuan pasukan cahaya itu, membungkus kaki-kaki singgasana Dewan, bahkan mulai menyentuh permukaan bola energi raksasa itu, membuat pergerakan dan denyutannya melambat drastis.

Ren melesat maju secepat kilat, menerobos di sela-sela bayangan yang bergerak kaku dan lambat karena dinginnya suhu. Cahaya ungu di tangannya kini memanjang menjadi sebilah pedang besar yang berkilau. Ia tidak menyerang pasukan-pasukan itu. Ia langsung melompat ke atas, menuju tujuh singgasana tempat para Dewan duduk.

"KAI! GANGGU SISTEM PENGENDALIAN MEREKA!" seru Ren saat melompat.

"SEDANG KERJA! TAPI MEREKA TERLALU KUAT!" teriak Kai menjawab. Ia terus menekan tombol-tombol, keringat bercucuran, wajahnya pucat tapi matanya berapi-api. "TAPI AKU TEMUKAN SATU HAL! Kekuatan mereka terbagi tujuh! Mereka saling mengisi energi satu sama lain! Kalau satu saja ikatan itu terputus... keseimbangan mereka akan runtuh!"

Informasi itu masuk ke telinga Ren secepat kilat.

Ren mengubah arah lompatannya. Bukannya menyerang Dewan Tengah yang paling kuat, ia membelokkan pedang ungunya ke arah Dewan Paling Kiri — sosok yang mengatur data dan catatan sejarah.

"Kesombongan kalian adalah kelemahan terbesar kalian!" teriak Ren.

Dewan itu kaget, tidak menyangka serangan akan datang ke arahnya. Ia berusaha mengangkat perisai energi, tapi pergerakannya terhambat oleh es buatan Anya yang masih merambat naik ke kaki singgasana.

SRAAAANG!!

Pedang cahaya ungu itu menebas lurus ke bawah, membelah perisai energi emas itu seolah kertas tipis, dan menghantam tepat di dada sosok itu.

Suara jeritan mengerikan bergema, bukan suara manusia, tapi suara sistem yang rusak dan pecah. Tubuh Dewan itu meledak menjadi percikan emas, dan seketika itu juga, cahaya di keenam Dewan lainnya berkedip liar, melemah drastis. Ikatan energi yang menghubungkan mereka terputus. Keseimbangan kekuasaan seribu tahun itu goyah!

"DIA MEMUTUS IKATANNYA!" teriak salah satu Dewan lainnya panik. "KITA RUSAK! SISTEM TIDAK STABIL!"

Bola energi raksasa di tengah ruangan berdenyut liar, naik turun tak beraturan. Cahaya putihnya berubah menjadi warna-warni kacau, memancarkan kilatan listrik ke segala arah. Dinding-dinding ruangan mulai retak, debu dan serpihan batu jatuh dari langit-langit.

Ren tidak berhenti. Ia mendarat di atas singgasana yang kosong itu, lalu bersiap melompat lagi ke Dewan berikutnya. Napasnya tersengal berat, tenaganya hampir habis, tapi matanya menyala penuh kemenangan.

"Permainan sudah berakhir!" bentak Ren. "Kalian tidak lebih kuat dari sistem yang kalian buat! Dan sistem itu... diciptakan oleh pendahuluku. Diciptakan oleh darahku. Aku adalah bagian darinya! Dan aku bisa menghancurkannya sama mudahnya seperti aku mengubahnya!"

Dewan Tengah bangkit berdiri. Aura emasnya meletus ganas, mendorong es yang membekukannya hingga pecah berkeping-keping. Wujudnya membesar, berubah menjadi raksasa cahaya setinggi ruangan, wajahnya kini terlihat jelas — wajah seorang pria tua yang sama persis dengan wajah pemimpin yang pernah dilihat Ren dalam ingatan Aran.

Dia adalah rekan terdekat Aran seribu tahun lalu. Dia yang paling setuju untuk mengunci segalanya. Dan dia yang menjadi pemimpin Dewan Tertinggi selama ini.

"Kau tidak mengerti apa yang kau lakukan, Aran kedua!" raungnya, suaranya mengguncang seluruh ruangan hingga retakan-retakan di dinding makin melebar. "Jika inti ini rusak... seluruh Elarion akan hancur! Semua orang akan mati! Kau rela mengorbankan jutaan nyawa demi ego kebebasanmu itu?!"

Ren tertegun sejenak di udara.

Kalimat itu menghantamnya keras. Ancaman yang paling mengerikan sekaligus.

Benar. Energi ini adalah nyawa kota ini. Energi ini adalah sumber listrik, sumber udara, sumber kehidupan buatan yang menopang jutaan manusia di bawah tanah ini. Jika ia menghancurkan inti itu... jika ia mengubah segalanya secara drastis... mungkinkah semua orang akan binasa bersamanya?

Ragu mulai merayap di hatinya. Serangannya melambat.

Namun saat itulah, suara Anya terdengar lemah namun jelas di telinganya.

"Ren... lihatlah..."

Ren menoleh ke bawah.

Anya berlutut di tengah lautan es dan cahaya, darah menetes dari hidung dan telinganya karena mengerahkan tenaga berlebihan. Ia menunjuk ke arah bola energi yang kini bergejolak kacau.

"Lihat... inti itu sudah rusak sejak lama..."

Ren menatap tajam. Dan baru ia sadari sekarang. Di balik cahaya putih yang menyilaukan itu, ada retakan-retakan halus yang sudah ada sejak lama. Ada bagian-bagian energi yang redup dan mati. Ada ketidakteraturan yang bukan disebabkan oleh serangannya, tapi sudah ada di sana sejak dulu.

Kai berteriak lantang, suaranya parau namun jelas.

"REN! DATA YANG KU BACA! SISTEM INI SUDAH MENJALANKAN SIKLUS AKHIR! DALAM WAKTU KURANG DARI 50 JAM LAGI... INTI INI AKAN RUNTUH SENDIRI! MEREKA MENYEMBUNYIKANNYA! MEREKA TAHU KOTA INI SUDAH TIDAK BISA DISIMPAN LAGI! ITU SEBABNYA MEREKA SANGAT INGIN MEMILIKIMU! MEREKA INGIN MENGGUNAKAN TUBUHMU SEBAGAI PENGGANTI SUMBER ENERGI BARU AGAR MEREKA BISA HIDUP LAGI SERIBU TAHUN LAGI!"

Darah Ren mendidih.

Dewan Tengah itu berbohong. Ancaman kehancuran itu bukan disebabkan oleh Ren. Kehancuran itu sudah pasti terjadi. Dan mereka hanya ingin memanfaatkan Ren untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, sementara jutaan penduduk biasa akan tetap hidup dalam penjara abadi sebagai baterai hidup.

"KAU BERBOHONG!" teriak Ren, amarahnya meluap tak terkira. Cahaya ungu di tubuhnya meledak menjadi ribuan kilatan petir kecil, jauh lebih kuat dari sebelumnya. "Kalian bukan pelindung! Kalian cuma pengecut yang mencuri hidup orang lain!"

Ren tidak ragu lagi. Ia mengumpulkan seluruh sisa tenaga, seluruh warisan Aran, seluruh harapan warga Kawasan Bayang, seluruh pengorbanan Anya dan Kai... semuanya ia salurkan ke dalam pedang cahayanya.

"AKU AKAN MENGUBAH ATURANNYA! AKU AKAN MENGEMBALIKAN APA YANG HILANG! DAN AKU AKAN MEMBIARKAN DUNIA INI DIBANGKITKAN KEMBALI DENGAN CARA BARU!"

Dengan teriakan panjang yang mengguncang langit-langit ruangan, Ren melesat bagai anak panah ungu, menukik tajam ke bawah, menembus pertahanan raksasa cahaya Dewan Tengah, dan menghantamkan seluruh kekuatannya tepat ke pusat bola energi raksasa itu.

DUAARRR!!!!!!!!

Suara ledakan terbesar yang pernah terdengar dalam sejarah Elarion meletus. Cahaya menyilaukan memenuhi segalanya, menghapus pandangan, menghapus suara, menghapus rasa sakit. Seluruh ruangan itu berguncang hebat, retakan-retakan besar membelah dinding, dan kubah langit-langit yang kokoh itu akhirnya pecah, menampakkan kegelapan luar angkasa dan bintang-bintang yang berkedip... serta langit biru sejati yang sudah lama hilang.

Di tengah cahaya yang memekakkan mata itu, suara Aran terdengar lagi, kali ini penuh kebahagiaan dan kelegaan.

"Terima kasih, anakku. Akhirnya... akhir yang indah."

Dan segalanya menjadi tenang.

Bersambung...

1
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
sena himura
siap
sena himura
ok,
Uday
semangat mas, alur ceritanya bagus.

jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!