Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.
Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permulaan
Lampu kristal di ruang tamu rumah mewah itu terasa sangat menyilaukan bagi Celina yang baru saja terbangun dengan kepala berdenyut. Di depannya, sang Bunda—Siska—duduk tegak dengan tatapan yang belum pernah Celina lihat sebelumnya: dingin dan tak tergoyahkan.
"Duduk, Celina," perintah Bundanya singkat.
Celina menghempaskan tubuhnya ke sofa, masih memakai long dress maroon sisa semalam yang aromanya sudah bercampur asap rokok dan parfum mahal. "Apalagi sih, Bun? Kalau soal aku pulang pagi, kan udah biasa."
"Ini soal masa depan kamu. Bunda sudah panggil seseorang," ucap Siska.
Pintu jati besar itu terbuka. Seorang laki-laki melangkah masuk dengan tenang. Ia mengenakan baju koko putih bersih yang rapi, sarung batik bermotif gelap, dan peci hitam yang bertengger sempurna. Namanya Zuhair Akbar. Tangannya memegang tasbih kayu, dan pandangannya terjaga, tetap tertuju pada lantai tanpa sedikit pun melirik ke arah Celina yang berpakaian minim.
"Assalamualaikum," suara Zuhair terdengar berat dan tenang, memberikan vibrasi yang seketika membungkam tawa mengejek di tenggorokan Celina.
"Waalaikumsalam, Nak Zuhair. Silakan duduk," sambut Nur Khasanah dengan senyum lega.
Celina melotot. "Tunggu... siapa si 'Sarungan' ini, Bun?"
Siska menatap Celina tajam. "Ini Zuhair Akbar. Dia calon suamimu. Minggu depan kalian menikah, dan setelah itu, kamu akan tinggal di pesantren miliknya untuk belajar jadi manusia yang lebih benar."
Dunia Celina rasanya runtuh seketika. Ia menatap Zuhair dari ujung kaki sampai ujung kepala—sosok yang terlihat sangat membosankan dan kaku di matanya. "Nikah sama santri? Bun, aku ini Celina! Aku nggak mau hidup sama cowok yang dunianya cuma soal ngaji dan ibadah!"
Zuhair akhirnya mengangkat sedikit pandangannya, namun tetap tidak menatap mata Celina secara langsung. "Pernikahan bukan penjara, Celina. Tapi sebuah madrasah. Jika kamu keberatan, saya tidak akan memaksa, namun saya di sini untuk menjalankan amanah orang tua."
"Amanah matamu!" maki Celina spontan.
"Celina! Jaga bicaramu!" bentak Bundanya. "Pilihannya cuma dua: menikah dengan Zuhair atau semua kartu kredit kamu Bunda blokir, mobil kamu Bunda tarik, dan kamu silakan cari makan sendiri di luar sana."
Celina terdiam. Ia menatap kartu-kartu di atas meja, lalu beralih menatap wajah datar Zuhair Akbar yang seolah tidak terpengaruh oleh makiannya. Di kepala Celina, sebuah rencana gila mulai muncul: Oke, gue terima. Tapi jangan harap hidup lo bakal tenang setelah jadi suami gue, Zuhair.
"Oke," desis Celina sambil menyilangkan kaki, memamerkan belahan gaunnya dengan sengaja. "Aku mau nikah sama dia."
Zuhair hanya beristigfar pelan dalam hati, menyadari bahwa perjalanan menjinakkan perempuan di depannya ini akan jauh lebih sulit daripada menghafal ribuan bait kitab suci.
Dalam hatinya juga sempat berkata "Seperti apalah tanggung jawabnya nanti sebagai suami harus menuntun istrinya ke jalan yang baik"
Ia tak pernah berpikir bahwa akhirnya akan di jodohkan seperti ini dengan anak pemilik pondok pesantren, tempat dimana ia menimba ilmu. Ia juga tak berekspektasi bahwa anak seorang guru besar pesantrennya adalah seorang gadis nakal—gemar keluar malam, minum,clubbing dan berganti-ganti pasangan.
Entah ini nasibnya yang malang atau memang ujian dari Tuhan kepadanya. Sebenarnya ada sedikit rasa menyesal dalam hatinya; mengiyakan tawaran sang guru besarnya untuj menikah dengan Celine? itu bukanlah hal yang mudah.