NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Pagi itu dimulai dengan sesuatu yang terasa aneh, meski mansion keluarga Halstrom masih tampak sama seperti hari-hari sebelumnya. Cahaya matahari jatuh lembut menembus jendela tinggi di sepanjang lorong utama, para pelayan berjalan tenang dengan langkah teratur, dan aroma kopi hangat bercampur roti panggang memenuhi udara pagi. Dari luar, rumah besar itu tetap terlihat sempurna. Tidak ada perubahan mencolok. Tidak ada suasana tegang yang terlihat jelas.

Namun Seraphina tahu sesuatu sedang bergerak.

Perubahan itu memang tidak terdengar gaduh, tidak pula datang dalam bentuk konflik besar, tetapi instingnya menangkap sesuatu yang terlalu familiar. Ada permainan kecil yang sedang dimulai, permainan yang dulu tidak pernah ia sadari sampai semuanya terlambat. Dan kali ini, ia bahkan tidak perlu berpikir terlalu lama untuk menebak siapa yang memulainya.

Pagi itu ia memilih sarapan di ruang makan kecil dekat taman belakang, tempat yang lebih tenang dibanding ruang makan utama. Di hadapannya, beberapa dokumen perusahaan terbuka rapi, sebagian diberi tanda kecil menggunakan pena hitam. Evelyn baru saja mengirim laporan terbaru soal restrukturisasi aset, dan Seraphina sedang memeriksa ulang beberapa perubahan akses investasi sebelum benar-benar disahkan.

Ia baru saja selesai membaca bagian laporan transfer aset ketika langkah pelan terdengar mendekat. Seorang pelayan berhenti tidak jauh dari mejanya sambil membawa sebuah kotak beludru hitam di atas nampan perak.

“Nyonya,” ucap wanita itu hati-hati, “ada kiriman untuk Anda.”

Seraphina mengangkat wajah perlahan. Tatapannya berpindah dari dokumen ke kotak kecil itu sebelum akhirnya bertanya dengan nada tenang.

“Dari siapa?”

“Tuan Darius.”

Jemari Seraphina berhenti tepat di atas halaman dokumen. Tidak sampai sedetik, tetapi cukup untuk membuat pikirannya bergerak lebih cepat.

Darius?

Pelayan itu meletakkan kotak tersebut di atas meja lalu sedikit membungkuk sebelum pergi. Suasana kembali hening, hanya tersisa suara kecil angin dari taman belakang dan dentingan samar alat makan dari dapur utama.

Seraphina tidak langsung menyentuh kotak itu. Ia hanya menatapnya beberapa saat sambil menyandarkan tubuh ke kursi.

Kotak beludru hitam.

Mewah.

Berkelas.

Dan terlalu khas.

Darius selalu punya cara untuk menciptakan kesan. Ia tahu hadiah mahal bisa terlihat romantis, perhatian kecil bisa terasa tulus, dan gesture sederhana sering kali cukup membuat seseorang luluh. Dulu, Seraphina menganggap itu bentuk kasih sayang. Sekarang, semuanya terasa seperti strategi yang terlalu sering diulang.

Akhirnya ia membuka kotak itu perlahan.

Sebuah kalung berlian terletak rapi di dalamnya, memantulkan cahaya tipis dari jendela besar di samping meja. Desainnya elegan. Mahal. Sangat cocok dengan selera yang biasanya dipilih Darius saat ingin meninggalkan kesan mendalam.

Di bagian dalam terdapat kartu kecil.

Untuk istriku yang terlalu sibuk akhir-akhir ini.

Sudut bibir Seraphina bergerak tipis, tetapi sama sekali tidak terlihat seperti senyum. Ada rasa muak yang harus ia tahan tetap tenang karena semuanya terasa terlalu familiar.

Di kehidupan sebelumnya, Darius sering melakukan ini.

Saat ingin sesuatu.

Saat sedang mencoba meredakan situasi.

Saat ada sesuatu yang disembunyikan.

Pria itu akan berubah menjadi suami sempurna. Perhatian mendadak meningkat, nada bicara menjadi lebih lembut, hadiah datang tanpa alasan jelas, dan perhatian kecil mulai bermunculan seperti sesuatu yang manis.

Begitu meyakinkan sampai Seraphina dulu tidak pernah mempertanyakannya.

Ia ingat beberapa minggu sebelum kesehatannya memburuk di kehidupan sebelumnya. Darius lebih sering pulang cepat. Mengajaknya makan malam. Membelikan hadiah. Bahkan pernah tiba-tiba berkata bahwa ia terlihat lebih cantik dari biasanya.

Kalimat yang sama.

Pola yang sama.

Dan akhirnya...

Kematian yang sama.

Seraphina menutup kotak itu perlahan. Tatapannya jatuh lagi pada permukaan beludru hitam sebelum ia mengembuskan napas pendek.

Cantik memang.

Namun terasa menjijikkan.

Karena sekarang ia paham, hadiah dari pria itu tidak pernah datang tanpa tujuan.

---

Siang harinya, Darius pulang lebih cepat dari biasanya. Hal itu cukup jarang terjadi mengingat jadwal kerjanya selalu padat, terlebih belakangan pria itu tampak semakin sibuk mengurus proyek investasi.

Saat memasuki ruang keluarga, langkahnya sedikit melambat.

Seraphina duduk di sofa dekat jendela sambil membaca beberapa dokumen perusahaan. Rambut panjangnya tergerai rapi, wajahnya tenang, dan ekspresinya terlihat begitu biasa sampai sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya.

Tatapan mereka bertemu.

Darius tersenyum lebih dulu.

“Suka hadiahnya?”

Nada bicaranya ringan, seolah itu pertanyaan biasa antara pasangan suami istri.

Seraphina mengangkat pandangan perlahan lalu menutup map di tangannya.

“Cantik.”

Jawabannya singkat, tetapi cukup membuat bahu Darius terlihat sedikit lebih rileks.

Pria itu mendekat lalu duduk di sofa seberang. Ada jeda beberapa detik sebelum ia kembali membuka percakapan.

“Aku merasa kita akhir-akhir ini terlalu sibuk.”

Nada suaranya hangat.

Terlalu hangat.

Kalau ini adalah Seraphina beberapa tahun lalu, mungkin ia sudah merasa diperhatikan. Mungkin ia akan menganggap ini usaha manis seorang suami yang mulai sadar bahwa hubungan mereka renggang.

Namun sekarang, semuanya terasa terlalu transparan.

Seolah Darius sedang membaca skrip yang sudah pernah dimainkan sebelumnya.

“Apa kamu ada waktu malam ini?” tanyanya lagi. “Makan malam berdua.”

Seraphina menatap pria di depannya beberapa detik lebih lama.

Darius memang pandai.

Senyumnya lembut.

Tatapannya terlihat tulus.

Nada bicaranya selalu terukur.

Namun di balik semua itu, Seraphina melihat sesuatu yang dulu tidak pernah ia sadari.

Kalkulasi.

Pengamatan.

Kewaspadaan.

Darius mulai merasa ada yang berubah dan sekarang pria itu sedang mencoba mengambil kembali posisi aman.

Manipulatif.

Sangat khas dirinya.

Namun Seraphina justru tersenyum tipis.

“Tentu.”

Jawaban itu langsung membuat ekspresi Darius sedikit melunak.

Bagus.

Karena Seraphina memang ingin pria itu merasa semuanya masih bisa dikendalikan.

Orang yang terlalu percaya diri biasanya lebih mudah melakukan kesalahan.

---

Malam datang dengan langit kota yang dipenuhi cahaya lampu. Restoran privat pilihan Darius berada di salah satu lantai tertinggi hotel mewah pusat kota, tempat yang tenang dengan pencahayaan hangat dan alunan musik instrumental pelan.

Tempat itu terasa familiar.

Terlalu familiar.

Dulu, restoran ini adalah salah satu tempat favorit Seraphina. Mereka sering datang saat ulang tahun pernikahan atau ketika Darius ingin terlihat romantis.

Atau setidaknya begitu yang ia pikirkan dulu.

“Kamu kelihatan lebih cantik akhir-akhir ini,” ujar Darius sambil menuangkan anggur ke gelasnya.

Tangan Seraphina hampir berhenti bergerak.

Kalimat itu lagi.

Persis seperti dulu.

Persis seperti malam-malam sebelum semuanya berubah menjadi mimpi buruk.

Dalam sekejap, ingatan lama muncul begitu saja.

Ruangan remang.

Senyum Darius.

Gelas anggur.

Dan tubuhnya sendiri yang semakin melemah tanpa memahami apa penyebabnya.

Ada rasa dingin menjalar pelan di sepanjang tulang belakang.

Namun ekspresi Seraphina tetap tenang.

Ia mengangkat gelasnya perlahan.

“Kamu terlalu berlebihan.”

Darius tertawa kecil.

“Aku serius.”

Malam itu pria tersebut berbicara lebih banyak dari biasanya. Tentang kenangan lama, perjalanan pertama mereka setelah menikah, restoran favorit, bahkan cerita kecil yang sudah lama tidak pernah dibahas.

Kalau orang lain melihat mereka, mungkin semua tampak romantis.

Pasangan suami istri yang sedang memperbaiki hubungan.

Namun di kepala Seraphina, semuanya terasa seperti proses negosiasi yang dibungkus kata-kata hangat.

Darius sedang menguji sesuatu.

Mencoba membaca apakah istrinya masih sama.

Masih mudah dilunakkan.

Masih bisa diarahkan.

Masih percaya.

Seraphina ikut bermain.

Ia tertawa kecil di saat yang tepat. Menjawab seperlunya. Bahkan sesekali membiarkan suasana terlihat nyaman.

Namun di dalam pikirannya, ia sedang mengamati.

Cara Darius memilih topik.

Cara pria itu perlahan membawa pembicaraan menuju perusahaan.

Arah pertanyaan yang terdengar santai, tetapi sebenarnya terlalu spesifik.

“Kamu jadi sering ikut urusan kantor sekarang,” ujar Darius sambil memotong steak.

“Sedikit.”

“Capek?”

“Belum terlalu.”

Darius tersenyum kecil.

“Kalau terlalu berat, kamu bisa serahkan lagi padaku.”

Ah.

Jadi ini arahnya.

Seraphina menyesap minuman pelan sebelum meletakkan gelasnya kembali.

“Aku cuma ingin lebih memahami semuanya.”

“Dulu kamu tidak suka hal rumit.”

“Orang berubah.”

Ada jeda singkat.

Tidak lama.

Namun cukup terasa.

Darius tersenyum lagi setelahnya, meski kali ini senyumnya terlihat lebih tipis.

“Kamu memang berubah.”

Seraphina membalas tenang.

“Apa itu buruk?”

“Belum tentu.”

Percakapan tetap berjalan, tetapi sesuatu mulai terasa lebih jelas. Darius sedang mencoba masuk kembali ke zona nyaman mereka, membangun kedekatan, menciptakan rasa aman.

Namun Seraphina justru semakin yakin.

Pria itu mulai gelisah.

Dan rasa gelisah biasanya membuat seseorang bertindak lebih ceroboh.

1
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!