NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Belum lama fajar menyingsing dan langit masih berwarna kelabu kebiruan, Ani sudah terjaga dari tidurnya. Tubuhnya felt segar dan bugar, jauh berbeda dari malam-malam sebelumnya yang sering kali dihantui gelisah atau kenangan pahit. Di dada, rasa antusiasme membara lembut; ini adalah hari pertama ia melangkah kembali ke dunia kerja, bukan lagi sebagai pendamping orang lain, melainkan sebagai dirinya sendiri, wanita yang mandiri dan punya tujuan jelas.

Dengan gerakan tenang dan terbiasa, Ani mengambil air wudhu, lalu bersimpuh di atas sajadah yang ia gelar di sudut kamar. Salat Subuh ia laksanakan dengan khusyuk, memanjatkan rasa syukur yang tak terhingga atas segala perlindungan, kebaikan, dan jalan yang telah dibukakan Tuhan untuknya. Ia berdoa agar hari ini dilancarkan segala urusannya, diberi kemudahan dalam beradaptasi, dan senantiasa dijaga kejujuran serta ketegaran hatinya. Doa kedua orang tuanya yang kemarin masih terngiang jelas di telinganya, menjadi kekuatan batin yang tak ternilai harganya.

Setelah selesai berdoa dan merapikan kembali perlengkapannya, Ani segera bersiap-siap. Ia memilih pakaian kerja yang rapi, sopan, namun tetap terlihat sederhana dan berwibawa: kemeja putih bersih yang dipadukan dengan rok selutut berwarna biru gelap, serta sepatu datar yang nyaman untuk berjalan. Rambut hitam panjangnya disanggul rapi ke belakang, memperlihatkan wajah yang bersih dan cerah, berbinar semangat. Sedikit sentuhan rias wajah sederhana ia lakukan, bukan untuk terlihat cantik berlebihan, tapi untuk menambah rasa percaya diri dan menunjukkan keseriusannya bekerja.

Sebelum berangkat, Ani melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Masih ada waktu sekitar setengah jam lagi sebelum jam kerja dimulai. Ia teringat belum makan apa pun sejak kemarin sore, dan perutnya pun mulai memberi sinyal minta diisi. Ia ingat Damar pernah bilang bahwa di sekitar gedung apartemen ini banyak pedagang makanan pagi yang bersih dan enak.

Dengan tas kerja yang sudah tersiapkan di bahu, Ani menutup pintu apartemennya rapat-rapat, lalu berjalan menuju lobi dan keluar menuju jalan raya di depan gedung. Udara pagi kota yang sejuk dan sedikit berembus dingin langsung menyapa wajahnya, membuat ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara segar. Jalanan belum terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang berjalan santai, pengendara motor yang melintas, dan para pedagang yang sedang menata dagangannya.

Tak jauh dari gerbang depan, tepat di pinggir trotoar, terlihat seorang ibu-ibu sedang mengaduk panci besar berasap yang mengeluarkan aroma sangat menggugah selera. Tulisan di spanduk kecilnya bertuliskan Bubur Ayam Pak Man. Aroma kuah kuning yang kental, bumbu, dan gurihnya kaldu ayam itu langsung membuat perut Ani makin keroncongan. Ia pun memutuskan untuk menghampiri lapak sederhana itu.

"Bu, satu porsi ya," sapa Ani ramah sambil tersenyum sopan, duduk di salah satu bangku kayu panjang yang tersedia.

Pedagang itu, Ibu paruh baya yang tampak rajin dan bersih, langsung menyambutnya dengan senyum lebar. "Siap, Neng. Mau yang biasa atau yang spesial? Pakai apa saja?"

"Yang biasa saja ya, Bu, tapi lengkapkan. Terima kasih," jawab Ani lembut.

Tak lama kemudian, semangkuk bubur hangat tersaji di hadapannya. Bubur yang lembut dan panas, disiram kuah kuning gurih, ditaburi suwiran daging ayam, kacang, seledri, daun bawang, kerupuk, dan sedikit kecap manis. Aroma harumnya terasa begitu nikmat. Ani menyantapnya dengan lahap, rasanya enak, hangat, dan pas sekali di lidah. Di sela suapan, ia sesekali melirik sekeliling, memperhatikan lingkungan baru ini. Hati kecilnya merasa senang; suasana pagi yang sederhana namun hidup ini, terasa akrab dan menenangkan. Tidak ada lagi tatapan sinis atau bisikan-bisikan seperti di kampung dulu. Di sini, ia hanyalah satu dari sekian banyak orang yang sedang berjuang mencari nafkah, dihargai sama rata.

Setelah selesai makan dan membayar pesanannya, Ani berdiri dan mengucapkan terima kasih pada pedagang itu. Perutnya sudah kenyang dan hangat, tenaganya pun terasa terisi penuh. Ia melihat ke arah seberang jalan, di mana terlihat bangunan kantor yang cukup megah dan bersih berdiri tegak, gerbangnya terbuka lebar. Itulah kantor Damar, tempat ia akan mengabdikan tenaga dan pikirannya mulai hari ini.

Ani merapikan sedikit bajunya, menarik napas panjang untuk menenangkan sedikit rasa gugup yang masih tersisa, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap bangunan itu dengan pandangan yang tajam dan penuh tekad.

"Ayo, Ani... Kamu sudah siap. Kamu bukan lagi wanita yang lemah dan bergantung. Kamu punya kemampuan, kamu punya harga diri, dan kamu punya Tuhan yang selalu menjagamu," bisiknya pelan pada dirinya sendiri, sebagai penyemangat terakhir.

Dengan langkah tegap, kepala yang diangkat tinggi, dan senyum percaya diri yang tak lagi pudar, Ani melangkah menyeberangi jalan, menuju gerbang perusahaan itu. Setiap langkah kakinya terasa ringan dan berisi. Di balik tembok gedung itu, ia tahu tantangan baru menanti. Tapi ia tidak takut. Ia justru bersyukur, karena akhirnya ia menemukan jalan yang benar, jalan yang ditujukan Tuhan untuk mengangkat derajatnya, membuktikan kualitas dirinya, dan menyusun kembali kepingan-kepingan hidupnya menjadi sesuatu yang jauh lebih indah dan berkilau.

Hari ini, di bawah langit pagi yang cerah, Ani melangkah masuk ke gerbang perusahaan itu, membawa serta doa orang tua, kepercayaan sahabat, dan kekuatan hatinya sendiri. Sebuah babak baru telah dimulai, dan Ani yakin... babak ini akan menjadi babak yang paling gemilang dalam seluruh perjalanan hidupnya.

Ani berjalan menyusuri trotoar untuk sampai ke perusahaan damar , karena memang tidak terlalu jauh dari apartemen yang ditinggali Ani . hanya berjarak 5 menit dengan berjalan kaki. setelah sampai di depan perusahaan milik darma , Ani langsung menghampiri resepsionis yang berjaga di lobby perusahaan . Ani menanyakan ruangan milik damar sang CEO . tapi resepsionis yang bernama Arum menatapnya intens .

" apa Mbak Ani sudah membuat janji dengan pak damar . Soalnya di jadwal gak ada nama mbak Ani yang akan datang berkunjung ?" tanya Arum .

Ani tersenyum ramah ." maaf mbak , emang saya diminta pak damar langsung datang ke ruangannya ."

" tapi , maaf Bu ... Kami belum ada konfirmasi langsung dari atasan kalau anda akan berkunjung ke ruangan pak damar ." ucap Arum kekeh .

Ani menghela nafas panjang , iya lalu mengambil pulsanya dek yang berada di dalam tasnya . lalu menekan nomor damar tapi beberapa kali panggilan damar tidak mengangkatnya . Ani lalu meminta izin untuk menunggu damar di ruang tunggu yang berada di lobby . Arum hanya mengangguk pelan . dia menatap sinis ke arah Ani yang sedang berjalan ke sofa tunggu khusus tamu .

Ani kembali menghubungi damar tapi hasilnya nihil . damar masih belum mengangkat teleponnya . kami lalu memasukkan kembali ponselnya dan tanpa sengaja menatap ke arah pintu masuk lebih perusahaan . jantungnya berdebu kencang saat melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam lobby .

" mas Dimas ." bisiknya pelan .

bersambung ,,,,

1
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
reza atmaja
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!