"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.
Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?
Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: ANAK YANG MENJADI MUSUH
Bab 33: Anak yang Menjadi Musuh
Jet pribadi yang membawa Aruna dan timnya kembali dari Singapura membelah awan badai dengan guncangan yang hebat. Di dalam kabin yang mewah namun sunyi, Aruna duduk meringkuk di sudut kursi. Gaun sutra ungu gelapnya yang tadi malam terlihat begitu anggun di ruang pelelangan, kini tampak kusut dan ternoda oleh jelaga peluru.
Mata Aruna kosong, menatap jam tangan pintar milik Kenzo yang sudah hangus di atas meja. Kata-kata Kenzo terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak: *“Aku tidak mau pulang ke rumah yang penuh dengan orang-orang lemah...”*
"Aruna, makanlah sedikit," Adrian menyodorkan secangkir teh hangat, namun Aruna tidak bergeming.
"Dia membenciku, Adrian," bisik Aruna, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. "Anak yang kukandung, anak yang kupertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkannya dari klinik jiwa... dia melihatku sebagai monster yang membunuh ayahnya."
Adrian menghela napas panjang, lalu duduk di hadapan Aruna. "Itu bukan Kenzo yang sebenarnya, Aruna. Itu adalah hasil dari doktrin psikologis tingkat tinggi. Nirwana punya teknologi untuk memanipulasi ingatan anak-anak. Mereka menghapus sosok ibunya yang penuh kasih dan menggantinya dengan narasi palsu."
Dari layar monitor di dinding jet, wajah Bambang muncul. Kali ini tidak ada kerupuk di tangannya, dan kacamata tebalnya melorot ke bawah. "Mbak Bos... tolong jangan menyerah sekarang ya. Kalau Mbak Bos lemes begini, saya sama tim 'Sisa-Sisa' yang lain jadi ikutan bingung mau ngapain. Kita ini cuma bayangan, Mbak. Yang punya cahayanya itu cuma Mbak Bos."
Aruna menoleh perlahan ke arah layar. "Bambang... apa gunanya aku menghancurkan Nirwana dan Adhigana jika pada akhirnya Kenzo yang akan duduk di kursi kekuasaan mereka?"
"Nah, justru itu!" Bambang membetulkan letak kacamatanya dengan semangat. "Saya sudah membedah data dari server Swiss yang kita ledakkan semalam. Ternyata, proses pencucian otak Nirwana itu belum permanen. Ada kode enkripsi biologis yang mereka sebut 'The Anchor'—Jangkar. Untuk membuat ingatan palsu itu permanen, Kenzo harus melewati ritual inisiasi di Swiss saat dia berulang tahun yang kesepuluh. Dan ulang tahun Kenzo kan masih enam bulan lagi!"
Mendengar hal itu, ada percikan cahaya yang kembali menyala di mata Aruna. "Enam bulan?"
"Artinya kita punya waktu enam bulan untuk merebut kembali ingatan Kenzo sebelum dia benar-benar berubah menjadi The Architect yang baru," Adrian menambahkan, sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya yang tegas.
Begitu jet mendarat di pelabuhan terpencil Jakarta, Aruna melangkah turun dengan aura yang berbeda. Rasa putus asanya semalam telah berubah menjadi urgensi yang membakar. Di dalam gudang markas, Siska sudah menunggu dengan kursi rodanya, memegang beberapa dokumen cetak.
"Kau sudah kembali, Iron Lilac," ucap Siska dengan nada yang sedikit mengejek namun ada rasa hormat di dalamnya. "Bagaimana pelelangan di Singapura? Kudengar kau meledakkan seluruh investasi mereka di Swiss."
"Itu baru pemanasan, Siska," Aruna berjalan melewati Siska dan langsung menuju meja peta besar. "Nirwana mengira mereka bisa menggunakan anakku untuk melawan aku. Sekarang, aku tidak akan lagi menyerang dari luar. Aku akan merebut Adhigana sepenuhnya. Aku butuh kekuasaan mutlak di Indonesia agar Nirwana tidak punya sekutu lagi di negara ini."
"Caranya?" tanya Haris, sang mantan akuntan yang sudah bersiap dengan laptopnya.
"Prabawa Adhigana saat ini sedang sekarat secara finansial karena skandal saham yang kita buat," Aruna menunjuk logo Adhigana Group di layar. "Besok pagi, dia akan mengadakan rapat darurat pemegang saham untuk menjual anak perusahaan utamanya demi menutupi utang. Kita akan datang ke rapat itu. Bukan sebagai musuh yang membawa senjata, tapi sebagai pembeli tunggal yang memegang seluruh utang-utangnya."
Bambang langsung bersorak. "WADUH! Mbak Bos mau ambil alih takhta pake cara 'Hostile Takeover'! Ini mah bener-bener skenario tersadis di dunia korporat! Saya suka, saya suka!"
"Siska, aku butuh kau memberikan semua kesaksian tertulis tentang bagaimana Bimo dan ayahmu menggunakan dana Adhigana untuk membiayai eksperimen Nirwana," perintah Aruna. "Kita akan menodong Prabawa di depan seluruh dewan komisarisnya sendiri."
Siska menatap perban di tangannya sendiri, lalu menatap Aruna. "Aku akan memberikannya. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Biarkan aku yang menekan tombol untuk mengirim ayahku sendiri ke penjara. Dia harus tahu rasanya dibuang oleh darah dagingnya sendiri."
Aruna mengangguk pelan. "Kesepakatan tercapai."
Malam itu, markas tim The Scraps dipenuhi oleh aktivitas yang intens. Aruna berdiri di depan cermin, mengenakan setelan blazer hitam formal yang sangat rapi. Ia tidak lagi memakai gaun sutra ungu yang anggun. Kini, ia adalah seorang eksekutor bisnis yang siap menelan korbannya bulat-bulat.
"Enam bulan, Kenzo," bisik Aruna pada foto kecil anaknya yang ia selipkan di dalam dompetnya. "Mama akan datang menjemputmu. Dan saat Mama datang, tidak akan ada lagi yang namanya Nirwana di dunia ini."
.
.
.
Bersambung.....
.
.
.
Bab 34: Kudeta di Ruang Sidang.