Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.
Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.
Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.
Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membingungkan
"Sa-saya tidak berniat mengikuti Bu Zevana. Tapi tadi tiba-tiba Pak Bani meminta saya menyusul Bu Zevana karena ada hal mendesak yang harus dirapatkan, katanya. Jadi saya langsung naik taksi mengikuti mobil Bu Zevana, karena telepon saya tidak diangkat," terang Arka penuh penyesalan.
Arka menoleh karena Zevana tak langsung menjawabnya, ia menunggu respon gadis dewasa itu seolah itu begitu penting baginya.
"Tidak apa-apa," jawab Zevana singkat pada akhirnya.
Ia tak merasa perlu mempermasalahkan sikap Arka karena ia sendiri jadi punya alasan melarikan diri dari Reno. Yang menjadi masalah adalah kesiapan mentalnya sendiri. Bayangan balas dendam yang menyenangkan itu ternyata harganya cukup mahal. Ia belum benar-benar siap dengan konsekuensi menghadapi dirinya sendiri yang terlalu membenci Reno namun harus berpura-pura baik-baik saja. Tangannya bahkan masih gemetar, mengingat bagaimana dulu tangan-tangan besar Reno yang memukuli dan menyiksanya dengan sebegitu parahnya, kini justru berlagak menyentuhnya dengan lembut namun memaksa.
Diam-diam Arka melihat tubuh Zevana yang gemetar. Meski ia merasa begitu ingin membantunya meredakan ketakutannya, namun Arka sudah berjanji untuk tidak melewati batas. Jadi ia hanya bisa menelan ludah menahan dirinya untuk tidak melewati batas sekuat tenaga.
"Saya melihat dengan jelas dia menuangkan sesuatu. Warnanya putih, itu bukan butiran cokelat, saya yakin," ungkap Arka tiba-tiba.
Tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan, Zevana mengangguk lemah. Ia jelas tahu bahwa kemungkinan Reno bisa melakukan hal yang curang. Namun Zevana tak menduga bahwa Reno akan melakukan hal sejauh itu.
"Sepertinya saya memang agak terburu-buru. Anda tidak salah," ucap Zevana lemah, ia tak berniat menampik apa yang Arka katakan.
"Saya tidak keberatan kalau Bu Zevana memanggil nama saya seperti tadi," seloroh Arka mencoba mencairkan suasana, membuat Zevana terkekeh mendengarnya.
"Jangan konyol," kekeh Zevana memalingkan wajah ke arah lain.
Jalanan terasa cepat hingga tak terasa mereka pun sudah sampai. Setibanya di kantor, Arka langsung merapikan berkas yang Zevana bawa lalu mempelajarinya, sembari memberikan Zevana waktu untuk menenangkan diri. Setelah kurang lebih membiarkan Zevana berdiam diri dengan merenung di kursinya, ia pun memberanikan diri mendekat.
"Bu Zevana, izin menyampaikan. Saya sudah memeriksa rincian investasi yang Anda sepakati dengan Pak Reno tadi."
Tanpa menoleh, Zevana masih menatap layar di depannya.
"Ada masalah?"
"Secara hitungan bisnis, nilai modal yang kita berikan jauh melebihi nilai aset dan kemampuan pengembalian usaha mereka. Bahkan jika usaha mereka berjalan maksimal sekalipun, keuntungan yang akan kita dapatkan dalam lima tahun ke depan tidak akan menutupi risiko yang diambil. Sepertinya ini tidak masuk akal dari sisi keuangan."
Zevana terdiam sejenak, jari-jarinya berhenti bergerak di atas meja. Ia akhirnya menoleh, berusaha memasang ekspresi tenang dan tegas.
"Anda lupa, Arka? Bisnis bukan hanya soal angka di kertas. Saya melihat potensi yang tidak tertulis di laporan. Mereka punya koneksi di pemerintahan dan lingkaran bisnis yang bisa kita manfaatkan untuk memperluas jaringan kita ke wilayah ini. Ini strategi jangka panjang, bukan mencari untung dalam waktu singkat."
Arka menatapnya dengan tulus, tidak ada niat menyalahkan melainkan keprihatinan.
"Saya mengerti soal strategi jangka panjang. Tapi koneksi itu tidak sebanding dengan jumlah dana yang kita keluarkan. Apakah Bu Zevana yakin tidak ada hal lain yang membuat Anda memutuskan ini?"
Pertanyaan itu membuat Zevana sedikit tertegun. Untuk sesaat, ia merasa tidak bisa menatap mata Arka yang terlihat jujur dan polos. Rasa tidak nyaman menyelinap di hatinya—sesuatu yang jarang ia rasakan selama ini.
Dengan suara sedikit lebih pelan, ia pun menjawab, "Saya tahu apa yang saya lakukan. Percayalah, ini akan menguntungkan kita nanti. Kamu tidak perlu khawatir, cukup urus administrasi dan pantau perkembangannya saja."
Arka pun mengangguk patuh, meski masih terlihat ada kekhawatiran. "Dia tidak menjelaskan soal pertunangan itu," batin Arka merasa kecewa.
"Baik, Bu. Saya akan lakukan sesuai perintah. Hanya saja ... saya harap Anda tidak menyesal di kemudian hari."
Arka berpamitan dan keluar dari ruangan. Zevana terdiam sendirian, menatap berkas perjanjian di atas meja. Untuk pertama kalinya, bayangan masa lalu bercampur dengan kata-kata Arka, membuatnya bertanya dalam hati, "Apakah aku benar-benar melakukan hal yang pantas?"
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Zevana merasa begitu lelah, namun ia enggan beranjak dari gedung kantornya. Kepalanya begitu berisik. Ia mengingat betapa dirinya sudah terlalu jauh untuk sampai di posisi itu, begitu banyak luka dan pengorbanan yang telah ia lakukan. Kini ia berdiri di atap gedung—di bawah langit malam yang penuh bintang. Semilir angin menerpa wajah dan rambutnya hingga berkibar-kibar.
"Satu langkah lagi. Aku bisa," monolognya sembari menunduk, menatap daratan di bawah sana.
Hiruk pikuk manusia yang berlalu lalang, kendaraan, juga lampu-lampu jalanan yang terlihat begitu kecil, membuatnya merasakan euforia yang mendebarkan.
"Dari atas sini, kalian harus jatuh sampai ke dasar sana." Zevana menyeringai saat membayangkan kepingan harga diri orang-orang yang telah memperbudaknya dulu, hancur tak bersisa.
Saat tenggelam dalam lamunan ilusi dopaminnya, tiba-tiba seseorang datang menepuk bahunya. Sontak Zevana yang sedang melamun pun terkejut.
"Aish! Kenapa belum pulang?" dengus Zevana saat melihat Arka berdiri dengan canggung beberapa meter di hadapannya.
"Kenapa mundur-mundur?" tanya Zevana lagi, sembari mengernyitkan alis.
"Itu... Saya takut mengganggu, tapi saya khawatir. Sudah jam delapan lewat, Bu Zevana belum juga pulang. Kantor sudah tutup sejak jam 5," gagap Arka tanpa menatap wajah Zevana.
Melihat tingkah polos pria jangkung di hadapannya, Zevana tersenyum miring.
"Lalu?" goda Zevana sembari mendekat selangkah demi selangkah.
Melihat hal itu, Arka juga mundur satu langkah setiap kali Zevana mendekat.
"Bu-Bu Zevana juga belum makan dari siang jadi—"
Ucapan Arka terpotong lantaran punggungnya sudah menempel di dinding dekat pintu atap.
Tep!
"Lain kali pulang saja. Saya bukan orang yang perlu dikhawatirkan," ucap Zevana sembari mendongak menatap wajah Arka, dan menempelkan telapak tangannya ke dinding samping tubuh Arka. Kini hanya berselang sedekat satu sentimeter di antara hidung mereka.
Glek!
Gerakan menelan salivanya terlihat jelas, menandakan ia begitu gugup di hadapan Zevana.
"Ayo pulang," ajak Zevana sembari melengos pergi lalu melemparkan kunci mobilnya ke arah Arka yang langsung dengan sigap menangkapnya.
Trak–hap!
Dengan senyum simpul, Arka mengikuti Zevana.
"Saya tahu tempat makan enak yang masih buka sampai jam segini," usul Arka sembari melangkah sedikit cepat mengekori Zevana.
"Kartu saya ada di laci meja kantor," ucap Zevana sembari berjalan menuju lift.
"Saya bawa uang tunai," jelas Arka sambil tersipu.