Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Akhir Sang Jenius Palsu
Angin berhembus membawa bau amis darah di Lembah Tulang Menangis. Su Yue masih duduk di tanah, menatap Rumput Jiwa Darah yang disodorkan oleh Lin Chen. Tangannya gemetar hebat saat menerima rumput legendaris itu.
Ia lalu menatap mayat Ular raksasa tanpa kepala di kejauhan, lalu beralih menatap Lin Chen. Pemuda berpakaian pelayan ini baru saja menampar logika dunia kultivasi sampai hancur lebur!
Membunuh master Puncak Pembangunan Fondasi dengan satu jentikan jari? Mencabut Akar Roh dari tubuh orang lain hidup-hidup? Dan memusnahkan monster Inti Emas hanya dengan satu tamparan?
"Lin... Lin Chen," Su Yue menelan ludah dengan susah payah. "Kau... level berapa sebenarnya? Jangan bilang kau adalah monster tua yang bereinkarnasi?"
Mendengar pertanyaan itu, Lin Chen tertawa pelan. "Kakak Senior Su terlalu banyak membaca buku cerita. Aku hanya kebetulan punya tenaga fisik yang lumayan kuat, dan sedikit keberuntungan."
Sedikit keberuntungan kepalamu! batin Su Yue menjerit. Tapi ia cukup pintar untuk tidak bertanya lebih jauh. Di dunia kultivasi, tahu terlalu banyak rahasia ahli ahli tersembunyi malah bisa mendatangkan maut. Yang jelas, mulai detik ini, di mata Su Yue, Lin Chen bukanlah pelayan, melainkan dewa pelindungnya!
Di sisi lain, suara rintihan menyedihkan memecah obrolan mereka.
"Ugh... Aaarrgh... Dantianku... kekuatanku..."
Ye Feng berguling-guling di tanah yang berdebu. Wajahnya yang dulu selalu tampan dan sombong kini dipenuhi ingus, air mata, dan darah. Tanpa Dantian dan Akar Roh, tubuhnya melemah drastis. Ia bahkan tidak punya tenaga untuk berdiri di bawah tekanan gravitasi Ranah Rahasia ini.
"Lin Chen! Kau iblis!" Ye Feng menjerit histeris, menatap Lin Chen dengan penuh kebencian. "Klan Ye tidak akan melepaskanmu! Kakekku akan mencincangmu sampai jadi daging cincang!"
Lin Chen berjalan mendekat dan menatap Ye Feng dari atas ke bawah layaknya melihat cacing tanah.
"Kau salah, Ye Feng. Bukan Klan Ye yang tidak akan melepaskanku, tapi aku yang tidak akan melepaskan Klan Ye," ucap Lin Chen sedingin es. "Dulu kalian merampas segalanya dariku dan membuangku ke Puncak Pandai Besi agar mati perlahan. Sekarang, aku mengembalikan perbuatan itu padamu."
"Bunuh saja aku! Bunuh aku sekarang!" teriak Ye Feng putus asa. Bagi seorang jenius kultivator, menjadi cacat seratus kali lipat lebih menyakitkan daripada kematian.
"Membunuhmu? Tanganku terlalu bersih untuk mengotori diri dengan darah lalat sepertimu," Lin Chen berbalik membelakangi Ye Feng. Ia menoleh ke arah Su Yue. "Ayo kembali, Kakak Senior. Tujuan kita di sini sudah selesai."
Lin Chen dan Su Yue mulai berjalan meninggalkan lembah.
"Tunggu! Jangan tinggalkan aku di sini! Lin Chen! Su Yue! Tolong bawa aku keluar!" Ye Feng tiba-tiba sadar akan nasibnya. Di Ranah Rahasia ini penuh dengan monster buas. Tanpa kekuatan Qi, ia tidak lebih dari sepotong daging segar!
Namun Lin Chen sama sekali tidak menoleh, terus berjalan hingga sosoknya hilang ditelan kabut darah.
Sesaat setelah mereka pergi, dari balik tumpukan tulang, belasan ekor Tikus Darah Bermata Merah—monster tingkat rendah seukuran anjing—keluar mengendus bau darah. Mata merah tikus-tikus itu langsung menatap Ye Feng yang tergeletak tak berdaya.
Melihat kawanan monster itu mendekat, Ye Feng menjerit ngeri. "Tidak... menjauh dariku! Aku Tuan Muda Klan Ye! AAAAAARRRGGGHHH!!!"
Jeritan putus asa itu menggema sebentar, lalu menghilang sepenuhnya ditelan kejamnya hukum rimba.
Sementara itu, di dunia luar. Di dalam Aula Leluhur Klan Ye yang mewah di Puncak Utama Sekte Pedang Awan.
TRAAAK! KRAAAK!
Sebuah suara pecahan keras mengejutkan Penjaga Aula yang sedang tertidur. Ia buru-buru melihat ke arah meja altar tertinggi.
Di sana, Giok Jiwa milik Ye Feng—batu kehidupan yang paling dijaga ketat di seluruh klan—tiba-tiba retak parah, cahayanya padam, lalu hancur berkeping-keping menjadi debu!
"T-Tidak mungkin..." Penjaga itu jatuh terduduk, wajahnya sepucat kertas. Ia langsung merangkak keluar aula sambil berteriak histeris. "Gawat! Gawat Darurat! Giok Jiwa Tuan Muda Ye Feng... HANCUR!!!"
Teriakan itu bagaikan petir di siang bolong. Dalam hitungan menit, seluruh petinggi Klan Ye berkumpul di Aula Leluhur.
Kakek Ye Feng, yang merupakan Tetua Agung sekte, berdiri gemetar menatap debu giok di atas meja. Matanya memerah dan urat nadi di dahinya menonjol seperti mau pecah. Ye Feng adalah harapan terbesar klan mereka untuk naik tingkat menjadi sekte bintang tiga!
"Siapa... SIAPA YANG MEMBUNUH CUCUKU?!" raungan Tetua Agung membuat seluruh aula berguncang. Aura Inti Emas tingkat menengah meledak, membuat para anggota klan bersujud ketakutan.
"Tetua Agung, Tuan Muda pergi ke Ranah Rahasia Penjara Darah Kuno tiga hari yang lalu," lapor seorang penjaga dengan gemetar. "Beliau membawa tiga Tetua elit bersama beliau..."
"Lalu di mana Giok Jiwa ketiga Tetua itu?!"
"S-Sudah hancur juga beberapa saat yang lalu..."
Mendengar itu, Tetua Agung memuntahkan seteguk darah karena marah dan syok. "Ranah Rahasia itu hanya diisi oleh murid muda dan monster. Tidak mungkin ada yang bisa menyapu bersih kelompok Ye Feng kecuali monster tingkat Inti Emas! Tunggu di depan gerbang portal! Begitu Ranah Rahasia ditutup, interogasi semua murid yang selamat! Aku harus tahu bagaimana cucuku mati!"
Kepanikan dan aura membunuh menyelimuti seluruh Klan Ye.
Setengah hari kemudian, portal Ranah Rahasia kembali terbuka.
Satu per satu murid yang selamat keluar dengan wajah kelelahan dan luka-luka. Dari ratusan yang masuk, hanya setengah yang berhasil hidup.
Di antara kerumunan murid yang keluar, Su Yue dan Lin Chen melangkah keluar dengan tenang. Pakaian Su Yue sedikit kotor, tapi ia terlihat sangat sehat. Sedangkan Lin Chen masih memasang wajah datar dan polos bak pelayan biasa yang setia mengikuti majikannya.
Pemimpin Sekte, Liu Zhen, sudah menunggu di luar. Begitu melihat Su Yue, matanya langsung berbinar.
"Tetua Kehormatan Su! Kau selamat! Bagaimana hasilnya?" tanya Pemimpin Sekte dengan penuh harap.
Su Yue tersenyum. Ia membuka kotak giok di tangannya. Cahaya merah murni langsung memancar, diiringi aura spiritual yang sangat kuat. "Saya berhasil, Pemimpin Sekte. Ini Rumput Jiwa Darah."
Pemimpin Sekte tertawa terbahak-bahak saking bahagianya. "Luar biasa! Hahaha! Kau memang jenius sejati sekte kita!"
Namun, tawa itu terpotong oleh suara teriakan marah dari arah samping. Tetua Agung Klan Ye melangkah maju dengan wajah membunuh, dikawal oleh puluhan anggota klan bersenjata lengkap.
"Minggir semua!" bentak Tetua Agung. Matanya yang merah menyapu seluruh murid yang selamat. Ia lalu menatap Pemimpin Sekte. "Pemimpin Sekte! Cucuku, Ye Feng, telah tewas di dalam sana! Aku menuntut semua murid diperiksa ingatannya!"
Suasana langsung menjadi tegang. Pemimpin Sekte mengerutkan kening. Kematian Ye Feng memang kerugian besar bagi sekte, tapi memeriksa paksa ingatan murid adalah hal yang melanggar privasi.
Tetua Agung Klan Ye lalu menatap tajam ke arah Su Yue dan Lin Chen.
"Su Yue! Di antara semua murid yang masuk, hanya kau yang memiliki kekuatan cukup tinggi dan alasan untuk memusuhi Ye Feng!" Tetua Agung menunjuk Su Yue dengan pedangnya. "Katakan padaku, apakah kau melihat cucuku di dalam sana?!"
Su Yue yang sudah dilatih mentalnya oleh adegan brutal Lin Chen di dalam, membalas tatapan itu dengan tenang.
"Tetua Agung, Ranah Rahasia sangatlah luas. Saya sibuk lari dari monster dan mencari rumput obat. Bagaimana saya tahu di mana cucu Anda berada?" jawab Su Yue dingin. "Lagi pula, cucu Anda membawa tiga ahli tahap puncak Pembangunan Fondasi. Sementara saya hanya ditemani pelayan saya ini. Apakah Anda pikir kami mampu membunuh mereka berempat?"
Mendengar logika itu, Tetua Agung terdiam. Ia melirik Lin Chen sesaat. Pemuda itu terlihat seperti manusia fana tanpa Qi sama sekali, berdiri menunduk sambil membawa kotak obat. Mustahil pelayan cacat ini dan Su Yue bisa membunuh kelompok Ye Feng.
"Pasti... pasti cucuku diserang Binatang Roh tingkat Inti Emas..." gumam Tetua Agung putus asa.
Melihat Klan Ye yang sedang berkabung dan kebingungan, Lin Chen menundukkan kepalanya semakin dalam. Di balik bayang-bayang rambutnya, ujung bibirnya melengkung membentuk senyum iblis.
Menangislah sepuasnya, Tetua Agung. Karena sebentar lagi, bukan hanya cucumu yang akan hancur, tapi seluruh klanmu. batin Lin Chen sambil merasakan Inti Bintang baru di perutnya yang kini berdenyut penuh dengan kekuatan petir penghancur.