NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

"Terima kasih. Semalam kau sudah membantu," ucap Dean sambil menepuk bahu Oscar. Meskipun operasi penangkapan semalam berakhir dengan kegagalan total, setidaknya ada sedikit petunjuk yang mereka peroleh.

Walau hanya berupa identitas jenis kelamin sang pelaku, hal itu sudah cukup menjadi penghubung awal. Di hari-hari berikutnya, fokus mereka akan mengarah pada pencarian seorang pria.

Oscar mengangguk singkat, namun matanya tak lepas dari papan putih besar di hadapannya. Papan itu dipenuhi foto korban, transkrip kesaksian saksi, potongan berita, hingga catatan teknis hasil olah TKP. Benang merah yang menghubungkan setiap kasus mulai terbentuk, namun di mata Oscar ada sesuatu yang terasa janggal. Ia hanya tidak tahu, dari mana harus memulai membongkar kesalahan itu.

"Paman," ujarnya lirih, masih menatap papan kasus, "menurutmu... pelakunya benar-benar seorang pria?"

Dean memutar tubuhnya, menatap Oscar. "Menurut keterangan Angel dari pengakuan Violet semalam pelakunya memang seorang pria. Kenapa kau menanyakannya? Apakah kau mencurigai orang lain?"

Oscar tidak langsung menjawab. Pikirannya kembali pada sosok gadis remaja yang mereka temui semalam. Ada yang aneh. Terlalu banyak kebetulan mengitari keberadaannya. Dia kebetulan berada di lokasi yang sama, pada waktu yang tepat, ketika umpan mereka menghilang, bersamaan dengan membawa mawar merah di tempat kejadian. Kebetulan? Tidak. Baginya, itu terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Dean menghela napas panjang. Ia cukup paham arah pikiran keponakannya. Jacob semalam telah menceritakan seluruh proses pengejaran itu secara rinci. "Jangan terlalu kau pikirkan. Masalah ini akan kami tangani dengan baik. Lagi pula, mencurigai warga sipil tanpa bukti konkret hanya akan membuat kita terjebak dalam jalan buntu."

Oscar memalingkan wajahnya dari papan putih. "Paman, apa kau tidak merasa kehadiran gadis itu... seperti disengaja?"

"Aku tahu," balas Dean tenang. "Kami sudah memeriksanya. Tidak ada yang mencurigakan. Dia berasal dari kalangan kalian..." Dean menekankan kata itu, merujuk pada lingkaran keluarga konglomerat, "...dan dari data yang kami peroleh, tidak ada catatan kriminal sama sekali. Bahkan sebaliknya, dia aktif menjadi relawan di panti asuhan. Gadis semurni itu... tidak mungkin menjadi seorang pembunuh."

"Tetap saja..." gumam Oscar. Justru karena rekam jejaknya terlalu bersih, kecurigaan Oscar semakin kuat. Pengalaman mengajarinya bahwa orang yang terlihat paling tak bersalah seringkali menyimpan rahasia paling gelap.

Ketukan di pintu memutus ketegangan di antara mereka. Jacob masuk dengan penampilan berantakan. Kemeja kusut, dasi longgar, dan wajah lelah seperti baru saja keluar dari medan perang.

"Apa yang terjadi padamu?" Dean mengernyit. Seingatnya, penampilan Jacob masih rapi pagi tadi.

Jacob menarik napas panjang sebelum menjawab. "Komandan, Anda ingat kasus orang hilang beberapa hari lalu? Orang tuanya datang kembali pagi ini... dan mengamuk, menuntut kita mempercepat proses pencarian."

Dean mengingatnya. "Putri pengusaha nikel itu? Freya? Dari SMA Athena juga?"

"Betul, Komandan," jawab Jacob, suaranya terdengar letih.

Dean memijat pelipisnya. "Mereka pikir kepolisian hanya menangani satu kasus orang hilang. Kalau saja mereka memberi petunjuk yang jelas, mungkin kita sudah menemukannya. Tapi anak mereka lenyap tanpa jejak. Dari mana kita harus memulai? Semua personel sudah digerakkan sesuai prosedur, tapi mereka tetap saja tidak puas."

Oscar melirik sekilas. "Apa mungkin Freya ini... terkait dengan kasus pembunuhan berantai juga?"

Jacob menoleh, ragu. "Belum ada bukti yang mengarah ke sana. Tapi...  Freya memang mempunyai hubungan dengan korban pembunuhan kedua yang ditemukan dihutan kota."

Dean menatap Jacob tajam. "Kenapa informasi itu baru kau sampaikan sekarang?"

Jacob mengangkat kedua tangannya, defensif. "Karena belum ada keterkaitannya yang jelas. Dan aku tidak ingin membuat kesimpulan prematur."

Oscar menyandarkan punggung ke meja lalu menatap papan putih lagi. "Paman, kalau boleh aku sarankan... mungkin kita perlu memeriksa ulang semua laporan saksi yang ada. Termasuk keterangan gadis  semalam."

Dean mengerutkan kening. "Kau ingin memanggilnya untuk diinterogasi?"

"Ya. Minimal, kita tahu persis kenapa dia berada di sana dan siapa saja yang dihubunginya sebelum kejadian."

Dean menimbang sebentar, lalu mengangguk pelan. "Baik. Tapi kita lakukan dengan hati-hati. Ingat, keluarga gadis itu bukan orang sembarangan. Satu langkah salah, kita bisa kehilangan kepercayaan."

Jacob mendesah. "Kalau begitu, saya akan atur jadwalnya. Tapi... Apa mungkin memang ada kaitannya."

Oscar tersenyum tipis, tapi matanya dingin. "Kita tidak tau, jika tidak memastikannya."

Keheningan singkat menyelimuti ruangan, hanya terdengar bunyi jam dinding yang berdetak pelan. Di papan putih, foto-foto korban dan potongan berita terasa seperti menatap kembali ke arah mereka, seolah meminta keadilan yang belum juga datang.

Dean akhirnya memecah keheningan. "Oscar, aku tahu instingmu tajam. Tapi pastikan semua kecurigaanmu punya pijakan. Kita tidak sedang mengejar bayangan."

Oscar mengangguk, meski pikirannya sudah melayang kembali pada tatapan gadis itu semalam. tatapan meski takut dan gugup, namun terlalu tenang untuk seseorang yang kebetulan berada di tempat kejadian.

🥀🥀🥀

Oscar melangkah keluar dari gedung kepolisian dengan wajah tenang, meski pikirannya masih dipenuhi oleh potongan-potongan informasi dari ruang rapat barusan. Udara sore yang lembap menyambutnya, bercampur dengan bau asap kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya. Di tepi trotoar, sebuah Jeep berwarna hitam pekat sudah menunggunya. Kaca jendelanya sedikit terbuka, memperlihatkan sosok Aron di balik kemudi yang tampak tak sabar.

Tanpa banyak basa-basi, Oscar membuka pintu depan dan masuk ke kursi penumpang. Begitu pintu menutup, suasana hening yang sempat menguasai kabin mobil pecah oleh keluhan bernada protes dari Aron.

"Kapten, ini seharusnya masa liburan kita. Setelah berbulan-bulan menghabiskan tenaga di perbatasan Mesir, kita seharusnya bersantai. Menikmati udara bebas, bukan justru menjerumuskan diri ke dalam kasus pelik seperti ini," ucap Aron dengan nada kesal, jemarinya mengetuk setir seolah menyalurkan rasa jengahnya.

Oscar menoleh sekilas, tatapannya teduh namun tajam, lalu menjawab santai, "Bukankah justru menyenangkan, Aron? Anggap saja ini semacam hiburan. Mengasah insting, menjaga tubuh agar tidak tumpul. Kalau hanya berdiam diri, kalian akan bosan dalam dua hari."

Senyum tipis terlukis di wajah Geo yang duduk di kursi belakang. Ia mengangkat bahu sambil menimpali, "Aku setuju dengan Kapten. Tidak setiap hari kita mendapat kesempatan memburu seseorang yang tidak normal. Kepolisian bahkan dibuat kewalahan. Menurutku ini lebih menantang daripada sekadar berjalan-jalan atau duduk di kafe."

Geo memang selalu haus tantangan. Kasus pembunuh berantai tanpa jejak ini baginya ibarat teka-teki yang menunggu untuk dipecahkan.

Aron mendengus sinis. "Tentu saja kau menyebutnya menyenangkan, Geo. Bukankah kau sendiri termasuk orang yang tidak normal itu? Obsesi dengan perburuan, adrenalin, dan darah seolah jadi makanan harianmu."

"Jangan iri hanya karena aku menikmati pekerjaanku lebih dari dirimu," balas Geo ringan, matanya menyipit penuh provokasi.

Namun sebelum Aron sempat menjawab lebih pedas, Arhan yang duduk di samping Geo menengahi. Suaranya tenang namun tegas, "Sudahlah, hentikan perdebatan tak berguna ini. Kita sudah di sini, jadi sebaiknya nikmati saja. Anggap liburan kali ini berbeda dari biasanya. Daripada kita berkeliling pusat perbelanjaan dan menghabiskan waktu tanpa arti, bukankah lebih baik jika kita menyalurkan kemampuan ke sesuatu yang bermanfaat?"

Aron hanya menggeram lirih, memilih untuk tidak melanjutkan argumen.

Suasana kembali lengang sejenak. Hanya suara mesin Jeep dan deru lalu lintas yang terdengar. Hingga tiba-tiba Oscar membuka suara, nadanya datar namun membawa beban yang berbeda.

"Kalian masih ingat apa yang terjadi pada Jean, tiga tahun lalu?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, namun efeknya bagai ledakan granat yang jatuh di tengah ruangan sempit. Seketika ketiganya terdiam. Pandangan Aron, Geo, dan Arhan saling bertaut, seolah menimbang siapa yang pantas menjawab lebih dulu. Aura di dalam mobil yang sebelumnya ringan berubah menjadi berat.

Jean. Nama itu masih meninggalkan luka di hati mereka.

Aron menarik napas dalam-dalam, lalu bersuara pelan, "Kapten, saat itu kau sedang menjalani misi khusus. Wajar jika tidak mengetahui detailnya. Tapi kami… kami menyaksikannya sendiri. Semua terjadi begitu cepat. Tuduhan, sidang, vonis. Tidak ada ruang untuk membela diri."

Arhan menunduk, jemarinya mengepal di pangkuan. "Kami tidak pernah percaya Jean melakukan itu. Seorang seperti dia… terlalu jujur, terlalu lurus untuk sekadar menerima suap. Tapi bukti yang ditunjukkan kala itu tampak begitu kuat, dan kami hanyalah prajurit di bawah perintah. Kami tidak punya kuasa untuk membantah keputusan atasan."

Suara Arhan mengandung penyesalan yang pekat. Ia masih teringat bagaimana Jean, sahabat sekaligus rekan satu tim mereka di Team Alpha, harus keluar dengan status tidak terhormat. Pangkatnya dilucuti, kehormatannya dirampas, dan tak lama setelah itu ia menghilang dari dunia militer tanpa jejak.

Geo yang biasanya paling ringan menanggapi, kali ini pun terdiam cukup lama. Namun akhirnya ia ikut angkat bicara, "Aku tidak pernah melupakan tatapan Jean saat terakhir kali kita bertemu di markas. Ia tidak marah, tidak pula membela diri dengan lantang. Hanya diam… dan tersenyum tipis. Senyum yang entah kenapa membuatku merasa bersalah sampai sekarang."

Oscar memejamkan mata sejenak, membiarkan kenangan samar tentang Jean menyeruak. Seorang prajurit cerdas, selalu berdiri paling depan, selalu menjaga integritasnya. Sulit membayangkan ia jatuh karena kasus yang tidak pernah jelas kebenarannya.

"Apa kalian tidak berpikir," suara Oscar lirih namun mengandung ketegasan, "bahwa apa yang menimpa Jean saat itu bukan sekadar kebetulan? Bahwa mungkin… ia dijebak?'

Kata-kata itu membuat Aron tersentak. Pandangannya membelalak ke arah Oscar. "Kapten, kau serius? Jika benar Jean dijebak, itu berarti ada pengkhianat di dalam kesatuan sendiri. Itu… terlalu berbahaya untuk diucapkan sembarangan."

"Justru karena berbahaya maka harus dicari kebenarannya," balas Oscar. "Aku tidak percaya seseorang sepertinya bisa jatuh hanya karena kesalahan pribadi. Terlalu banyak kejanggalan yang tidak terjawab. Dan sekarang… entah mengapa aku merasakan benang merah antara  Jean dengan kasus pembunuh berantai ini."

Geo mencondongkan tubuh ke depan, matanya berbinar penuh antusias. "Kau pikir ada kaitannya, Kapten? Jean dan kasus ini?"

Oscar menatap lurus ke depan, sorot matanya dingin. "Aku belum tahu. Tapi firasatku mengatakan, kita tidak hanya akan berburu seorang pembunuh. Kita mungkin akan menggali rahasia lama yang seharusnya terkubur bersama Jean."

Mobil Jeep melaju kencang, meninggalkan keramaian kota menuju jalanan yang lebih sepi. Di dalam kabin, suasana kian tegang. Masing-masing dari mereka larut dalam pikiran sendiri. Antara rasa penasaran, ketakutan, dan penyesalan yang belum tuntas.

Misi yang awalnya dianggap sekadar hiburan, perlahan berubah menjadi perjalanan berbahaya. Sebuah pencarian yang mungkin akan membuka kembali luka lama, sekaligus menguak tabir kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik bayangan.

Dan bagi Oscar, ini bukan hanya tentang memburu pembunuh berantai. Ini adalah kesempatan untuk menebus sesuatu, sebuah penyesalan yang selama ini membekukan hatinya. Kebenaran tentang Jean.

🥀🥀🥀

"

Wow, Alma. Kau mendadak seperti selebritas di sekolah sekarang. Lihat saja pandangan mereka tidak pernah lepas darimu," ujar Sherin penuh kekaguman, seraya menyeruput strawberry frappuccino miliknya.

Keduanya berjalan santai di jalan setapak yang membelah taman sekolah, usai menyantap makan siang di kafetaria. Tidak ada hal istimewa yang terjadi di sana, selain tatapan yang entah diam-diam atau terang-terangan. Terus dilayangkan para siswa pada Alma.

Alma tidak menggubris. Baginya, semua itu hanya riak kecil di tengah lautan pikirannya. Justru ada pemandangan yang sedikit menghiburnya. Grace, yang kini tampak duduk seorang diri tanpa satupun sahabat di sisinya. Meski masih berani melayangkan tatapan tajam, kehilangan pengikut membuat gadis itu terlihat menyedihkan. Sementara di sisi lain, Alma juga sempat memperhatikan Violet yang rupanya hadir di sekolah hari ini. Meski dikelilingi beberapa teman, sorot mata waspada nan penuh ketakutan dari gadis itu justru terlihat lucu di mata Alma.

Andaikan Sherin mengetahui apa yang sebenarnya dipikirkan Alma, mungkin bulu kuduknya akan meremang. Sebab, sahabatnya ini bukan hanya sekadar putri keluarga konglomerat; ia adalah gadis yang berdiri di tepi jurang tergelap kehidupan.

"Alma," sebuah suara dalam bariton tenang menyapa.

Dari arah depan, seorang pemuda berwajah aristokrat berjalan mendekat. Kedua tangannya menenteng dua jilid buku tebal. Leon.

Alma tidak tahu apa yang hendak Leon lakukan, tetapi ia mulai terbiasa dengan cara lelaki itu tiba-tiba muncul di sekitarnya. Sebaliknya, Sherin nyaris melongo. Mulutnya terbuka, matanya membelalak. Siapa yang tak mengenal pewaris keluarga Radcliffe sekaligus anggota dewan Athena? Hanya melihat Leon dari kejauhan saja sudah cukup membuat banyak siswi terengah kagum. Apalagi kini, jarak mereka dengan sang pewaris tidak lebih dari lima langkah.

"Kau baik-baik saja, bukan? Aku… ingin meminta maaf atas nama kakakku untuk kejadian semalam," ujar Leon, nada suaranya tulus penuh penyesalan.

Alma menggeleng kecil lalu mengukir senyum menenangkan. "Itu hanya kesalahpahaman. Aku baik-baik saja."

"Syukurlah." Leon kemudian mengangkat buku yang ia bawa, lalu menyodorkannya. "Ini. Dua jilid lanjutan dari Climax yang pernah kau baca. Aku ingin memberikannya padamu."

Alma sontak tertegun. "Ini… untukku?" tanyanya, ragu-ragu seakan tak percaya.

"Tentu saja. Terimalah. Anggap saja ini sebagai tanda permintaan maafku." Ia meletakkan buku-buku itu di tangan Alma.

"Kau tak perlu melakukan ini," bisik Alma lirih, suaranya seolah berusaha menolak namun dalam diam matanya berbinar.

"Tidak masalah." Leon tersenyum tipis, seakan menikmati setiap perubahan ekspresi yang melintas di wajah Alma. "Ngomong-ngomong… sepulang sekolah nanti, apakah kau sudah memiliki janji?"

Alma menggeleng pelan. "Belum. Mengapa?"

"Maukah kau menemaniku mengobrol di kafe yang pernah kita kunjungi sebelumnya?" tawarnya tenang.

Ia sempat menimbang, antara ya dan tidak. Tetapi akhirnya mengangguk. "Baiklah."

Senyum Leon merekah, puas. Tangannya bergerak spontan mengacak rambut Alma dengan lembut. "Sampai jumpa nanti." Lalu ia berbalik pergi.

Alma menunduk sebentar, menatap kedua buku dalam genggamannya, senyumnya mengembang. Bukan karena ajakan Leon, melainkan karena akhirnya ia dapat menyelesaikan kisah menegangkan dalam seri itu.

Sherin, dengan tangan sedikit gemetar dan kata-kata terbata, menyentuh lengan Alma. "I-itu… Leon… Dia… tidak… kau… kau mengenalnya?"

"Ya, sedikit," jawab Alma sekenanya, seolah tak ingin memperpanjang pembicaraan.

Sherin memicingkan mata penuh curiga. "Kelihatannya tidak sesederhana itu."

"Sudahlah. Ayo jalan," Alma melangkah lebih dulu, jelas tidak ingin membahasnya lebih lanjut.

Namun langkah keduanya mendadak terhenti ketika tiba di area taman sebelah timur. Dari kejauhan, mereka melihat kerumunan siswa. Suara ejekan dan tawa kasar terdengar jelas.

Beberapa siswa dari Polaris, tengah mengelilingi seorang siswi berpenampilan sederhana. Rambutnya sedikit kusut, kancing seragamnya copot, dan wajahnya menunduk ketakutan. Alma mengenali dari seragam gadis itu salah satu murid beasiswa.

"Hey, apa kau tidak malu datang ke sekolah elit ini hanya dengan sepatu lusuh begitu?" salah satu siswi Polaris mencibir.

"Sepertinya uang beasiswamu lebih baik untuk beli sikat gigi. Nafasmu bau sekali!" seru yang lain, diikuti gelak tawa.

Gadis itu hanya menggenggam erat bukunya, menahan air mata yang hampir pecah.

Sherin menutup mulutnya dengan tangan. "Astaga… mereka keterlaluan."

Namun ia terdiam ketika melihat ekspresi Alma. Mata gadis itu berubah suram, teduh tetapi berkilat dingin. Tatapan itu tidak sedang melihat siswi beasiswa yang tengah ditindas… melainkan sesuatu jauh di masa lalu.

Alma terdiam kaku. Suara tawa ejekan itu bergema di kepalanya, bercampur dengan kenangan samar yang menusuk. Ingatan kehidupan sebelumnya, saat ia sendiri yang menjadi sasaran, diperlakukan hina oleh mereka yang merasa lebih tinggi darinya.

Sherin mengguncang lengannya pelan. "Alma? Kau kenapa? Kau terlihat… berbeda."

Alma menghela napas dalam, lalu menyunggingkan senyum samar. "Tidak apa-apa. Hanya saja…" suaranya merendah, penuh misteri, "…beberapa hal memang tidak pernah berubah, meskipun kehidupan sudah berganti."

Sherin menatapnya bingung. "Maksudmu?"

Tidak ada jawaban dari Alma.

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!