LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Di Desa Yang Masih Asri.
Waktu itu di desa yang masih asri banget deh – sawahnya luas banget terus hijau merata sampe jauh ke kejauhan aja! Sungainya juga jernih banget lho, bisa liat dasar sungainya yang penuh kerikil kecil terus ikan-ikan kecil yang lagi bolak-balik berenang sana sini! Kayak punya energi sendiri aja tuh alamnya! Udah ada beberapa petani yang lagi menyiram sawahnya pakai ember dari sungai, salah satunya Pak Soleh yang udah kenal Malia dari kecil.
“Malia… kamu lagi apa tuh duduk sendirian?” teriak Pak Soleh dari kejauhan, sambil masih menyiram sawahnya. “Anak kamu lagi baik-baik aja kan?”
Malia cuma bisa senyum pelan dan angguk-angguk, tangannya masih terus pegang buaian kayu yang jadinya dari barang bekas. “Iya Pak… dia lagi baik-baik aja,” jawabnya dengan suara yang sedikit getar. Pak Soleh mau datang lebih dekat tapi Malia cepat ngomong, “Gak usah Pak, saya baik-baik aja kok!” – dia takut kalau orang lain tau dia mau kasih anaknya ke orang lain.
Rumah kayu tua yang tinggalin Malia itu jelas aja sudah tua banget – kayu nya udah mulai mengelupas, ada lumut yang menempel di bagian bawah tembok, atapnya ada beberapa tempat yang bolong, kalau hujan pasti masuk deh! Di samping rumah cuma ada satu pohon rambutan yang sudah tua juga, tapi tahun ini malah banyak buahnya yang merah-merah mengkilap. Malia ngeliat pohon itu, lalu ngomong sendiri sambil peluk buaiannya, “Nanti kamu bisa makan rambutan banyak-banyak ya nak… tapi sayangnya bukan dari pohon rumah kita lagi.” Bayinya yang baru lahir beberapa hari aja malah nangis sedikit, seolah paham apa yang dikatakan ibunya.
“Shhh… tenang ya nak… ibu sayang kamu banget lho,” ujar Malia sambil goyang-goyang buaiannya perlahan, jari kecilnya menyentuh hidung bayinya yang kecil. “Ibu juga pengen bisa kasih kamu yang terbaik, tapi ibu lagi tidak bisa… maaf ya nak.” Air matanya lagi keluar terus sampe jatuh ke tangan nya yang pegang buaian.
Pas Malia lagi nangis, tiba-tiba ada suara mobil gede banget dari jauh tuh – brumm… brumm… sampe getarannya bisa dirasain dari tanah berpasir di depan rumah! Suaranya makin gede sampe beberapa burung yang lagi bertengger di pohon rambutan langsung terbang kesana kemari. Malia langsung kaget banget, cepet-cepet pegang buaiannya lebih erat kayak khawatir ada yang mau nyolong anaknya. Dia juga langsung berdiri walau badan nya masih lemah karena baru aja melahirkan.
Mobil putih itu gede banget dan kayak mewah banget – warnanya putih bersih banget, padahal jalan ke desa ini banyak lumpur aja! Mobilnya terus melaju perlahan sampe berhenti tepat di depan rumahnya – bikin lumpur sama pasir sedikit terlempar kesamping aja, bahkan ada beberapa yang nyemplung ke pinggir sungai! Pintu mobilnya langsung terbuka tuh, keluarnya wanita cantik banget dengan baju putih yang rapi banget – dia langsung mengusap-usap roknya yang kena sedikit lumpur.
“Wah… jalan nya memang seperti yang aku dengar ya, penuh lumpur!” ujar wanita itu sambil nyengir, lalu dia liat Malia yang lagi berdiri dengan wajah takut. “Halo… kamu Malia kan? Aku adalah Rania Sky – ini anakku Allbiru,” ujarnya sambil mengajak tangan Allbiru yang lagi ngeliat sekeliling dengan mata penuh penasaran.
Allbiru langsung jalan ke depan, dia liat buaian yang ada di tangan Malia dengan mata yang semakin besar. “Bu… itu bayi ya?” tanya dia sambil menunjuk ke arah buaian, suara nya penuh kegembiraan. “Kayak kecil banget ya Bu… lebih kecil dari boneka Kalangga aku!”
Rania sedikit tertawa, lalu ngomong sama Allbiru, “Betul nak… bayi memang kecil kok. Kamu mau bilang halo sama ibu nya bayi itu gak?” Allbiru langsung mengangguk dan jalan lebih dekat ke Malia, dia malah mau nyentuh buaiannya tapi langsung menarik tangannya balik. “Boleh ngga ya Bu Malia… aku mau nyentuh bayinya?” tanya Allbiru dengan sopan banget, matanya penuh harap.
Malia sedikit terkejut sama sikap sopan anak ini, dia mengangguk pelan. “Boleh aja nak… hati-hati ya,” jawabnya lembut. Allbiru langsung menyentuh pipi bayinya dengan jari yang kecil dan lembut, pas sentuhan itu terjadi – bayinya yang tadinya lagi nangis terus tuh malah langsung senyum sama Allbiru!
“Wahhh! Dia senyum sama aku Bu!” teriak Allbiru dengan suara ceria, sampe Pak Soleh yang lagi kerja di sawah juga kepo mau liat apa yang terjadi. “Bu… dia suka sama aku kan? Boleh aku peluk dia gak?” tanya Allbiru lagi, dia udah tidak sabar mau pegang bayinya.
Rania ngeliat Malia dengan tatapan yang penuh perhatian, “Kalau kamu setuju ya Malia… Allbiru memang suka banget sama anak-anak kecil.” Malia mengangguk lagi, dia merasa kalau anaknya bakal aman sama anak ini. Pas bayinya diangkat sama Allbiru, dia langsung jadi lebih hati-hati banget – badan nya sedikit menekuk agar bayinya tidak terjatuh, tangannya melingkari badan bayinya dengan benar.
“Wah… dia beratnya kayak boneka besar aku ya Bu!” ujar Allbiru sambil tersenyum lebar, dia bahkan mulai mengoceh sendiri sama bayinya. “Hai… namaku Allbiru Sky Kalangga lho! Kalangga itu nama boneka kesayanganku, kamu mau main sama aku dan boneka ku nanti gak ya?” Bayinya malah menggerakkan tangannya dan nyenggol dagu Allbiru yang kecil.
“Kamu suka sama aku ya? Kamu jadi adik ku aja deh!” kata Allbiru lagi, lalu dia ngeliat ibunya dengan wajah penuh harap. “Ibu… ini adikku ya? Bukannya ibu gabisa punya anak lagi?” tanya dia sambil masih fokus ke wajah bayinya yang baru lahir itu.
Rania mendekat dan nyentuh kepala Allbiru dengan lembut, “Iya nak… ini adik kamu sekarang lho. Kamu mau jaga dia baik-baik kan?”
“Pasti dong Bu! Aku bakal jaga dia dari anak nakal di sekolah, aku juga bakal bagiin makananku sama dia, dan aku bakal ajarin dia baca tulis juga!” ujar Allbiru dengan penuh semangat, sampe dia hampir lupa kalau dia lagi pegang bayi – dia langsung jadi lebih hati-hati lagi.
“Kita kasih nama apa ya buat dia Bu?” tanya Allbiru lagi sambil terus liat bayinya yang udah mulai tidur tenang di tangannya. Rania ngeliat Malia yang lagi duduk di tikar sambil menatap mereka, lalu ngomong, “Kita kasih nama apa ya sesuai dengan keinginan ibu nya ya?”
Malia sedikit terkejut, dia tidak nyangka kalau mereka mau tanya pendapatnya. “Aku… aku belum punya nama buat dia,” jawab Malia dengan suara pelan. “Kalau boleh… kasih nama yang sama kaya anak kamu aja ya… biar mereka kayak saudara kandung.”
Rania tersenyum hangat, “Kalau begitu kita kasih nama Sabiru aja ya… Sabiru Naverlla Azzura – sama kaya namanya Allbiru biar ada hubungan nya.” Allbiru langsung seneng banget, “Sabiru! Nama bagus banget Bu! Nanti aku panggilnya Sabi aja ya!”
Pas mereka mau masuk mobil lagi, Malia tiba-tiba berdiri dan ngomong sambil masih nangis, tangannya yang gemetar terus pegang ujung rok Rania. “T-tapi… boleh ngga kalau aku bisa tahu dimana kalian tinggal? Nanti aku cuma mau liat dia dari jauh aja, gak mau ngganggu hidupnya!”
Rania langsung pegang tangan Malia dengan kuat, “Tentu aja boleh Malia. Kamu bisa datang kapan aja, bahkan kamu juga bisa tinggal sama kita kalau kamu mau lho. Karena kamu tetap jadi ibu kandung nya Sabiru.”
“Tapi aku gak mau ngganggu kalian Bu… aku cukup bisa liat dia aja sudah cukup,” jawab Malia sambil menggeleng-geleng kepala.
Allbiru yang lagi pegang Sabiru dari dalam mobil tiba-tiba nyanyi lagu yang biasa didengarnya dari ibunya waktu dia lagi mau tidur. “Lagu ini buat adik Sabi ya… biar kamu bisa tidur nyenyak,” ujarnya pelan. Malia mendengar lagu itu dan nangis lagi – tapi kali ini air matanya lebih banyak karena bahagia.
“Bu Malia jangan nangis ya!” teriak Allbiru dari dalam mobil, dia bahkan mengangkat tangan nya yang tidak pegang Sabiru buat melambai. “Aku bakal ajarin Sabi lagu ini juga nanti! Dan aku juga bakal kasih dia foto kamu biar dia tahu ibu kandung nya adalah orang yang kuat banget!”
Malia langsung menangis lebih gede tapi juga tersenyum, dia melambai balik sampe mobil itu mulai berjalan pergi. Pak Soleh yang sudah datang lebih dekat tiba-tiba ngomong sama Malia, “Itu keluarga baik kan Mal? Jangan khawatir deh, anak kamu bakal hidup baik sama mereka.”
Malia mengangguk, matanya masih terus mengikuti mobil yang semakin jauh hilang di balik hamparan sawah hijau. “Iya Pak… aku tahu dia bakal bahagia sama mereka,” jawabnya dengan suara yang sudah mulai tenang.