Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELANJA HERBAL DI JALAN YAP CIANG
Ah Me selesai berendam. Rasanya aneh.
Bukan aneh yang buruk. Tapi aneh yang asing. Baru hari itu dia berendam pakai ramuan pemberian Eng Sok. Air hangat wangi jahe dan serai itu meresap ke pori-pori, terasa sampai ke tulang. Tapi anehnya, sensasinya mirip seperti berendam garam dulu—waktu dia masih muda, masih sehat, masih bisa bekerja membanting tulang.
Mungkin ini cara Thien mengingatkan, pikirnya. Bahwa dulu aku pernah kuat.
Selesai mandi, ia berpakaian rapi. Baju atasan lengan panjang—warna biru tua, agak lusuh tapi bersih. Celana kain hitam. Rambut sebahu ia sisir ke belakang. Ia tidak berdandan. Tidak perlu. Tapi wajahnya lebih segar dari tiga hari lalu. Matanya tidak lagi sayu. Pipinya mulai berisi.
Ia melangkah keluar kamar, menengok kedua putranya di ruang tengah.
Ah Ti sedang ketakutan.
Bukan gemetar. Bukan menangis. Tapi membeku. Duduk di kursi plastik dengan punggung tegang, mata lurus ke depan. Seperti anak tupai yang sadar ada elang di atas kepalanya.
"Ada apa ni... eeeh, Sioh Bu?" tanya Ah Me heran. Jelas-jelas 'anak baru'nya ini kayak batu kali—hampir tidak ekspresif, hampir tidak pernah marah. Tapi bisa sekesal itu?
Bahkan Engkoh toko kelontong depan rumah aja sempat curiga kalo Sioh Bu lagi kesurupan Pangeran kuno. Tapi Ah Me memastikan semua aman. Sioh Bu normal, lagian dia butuh minyak Sam Hok Liong kan karena syuting film kostum terus.
"Ah Ti minta dipakaikan wig. Padahal mau berangkat ke toko herbal." Suara Eng Sok dingin. Datar. Tidak tinggi. Tapi tekanannya seperti gunung yang siap longsor.
Ah Me menghela napas.
Ia mendekati Ah Ti. Menekuk lutut, meraih kedua tangan anak itu.
"Ti," katanya pelan. "Koko pasti akan pakaikan. Tapi nanti. Pulang dari beli obat. P3K kita kosong melompong. Kalau ada yang luka, bahaya."
Ah Ti menggigit bibir. Kepalanya menunduk. Lalu, perlahan, ia mengangguk.
"Maaf, Koko," bisiknya ke arah Eng Sok.
Pangeran itu hanya mendengus. Tapi sudut bibirnya—sedikit—naik.
---
Ah Me berpakaian ulang di kamar. Tadi sudah rapi, tapi ada yang kurang. Dress kerah Mandarin. Untuk ke pasar herbal, lebih sopan pakai Dress kerah Mandarin.
Eng Sok rebahan di ruang tengah. Matanya terpejam. Ia mengira Ah Me akan lama—seperti kebanyakan perempuan di zamannya yang butuh satu jam hanya untuk bersolek.
"Yang Mulia, pake baju dong. Nanti kita terlambat," omel Ah Ti dari samping.
"Tunggu Ah Me selesai."
"Ya udah, ganti dulu. Nanti Ah Me mah cepetan."
Eng Sok tidak bergerak, malah goleran di sofa.
Dia mengira Ah Me butuh waktu setidaknya setengah jam. Mungkin empat puluh lima menit. Cukup untuk rebahan, memejamkan mata, merapikan strategi belanja di kepala.
Lima belas menit kemudian.
"Koh Sioh Bu, Ah Me selesai. Ayo."
Eng Sok terperanjat. Matanya membuka lebar. Ia duduk terlalu cepat sampai lehernya berbunyi kretek.
"Haiyaaah! Lo mana gua tau kalo sebentarnya Ah Me beneran!" omelnya sambil berdiri—kesandung sandal gunungnya sendiri.
"Kan udah dibilangin, Yang Mulia," dengus Ah Ti sambil menyilangkan tangan. Sok tua. Sok tahu. Padahal baru kelas 5 SD.
Eng Sok gelagapan. Ia masuk kamar, berganti baju dengan kecepatan yang tidak pernah ia lakukan sejak pelantikan jadi perdana menteri dulu. Hem lengan panjang—kerah Mandarin, warna abu-abu gelap. Celana jins hitam—agak ketat, tapi tidak masalah. Sandal gunung yang ia siapkan di bawah sofa ia pakai.
Ia berdiri di depan cermin reyot yang ditempel di dinding.
Wajahnya tampan. Rambut panjang tersanggul rapi dengan pita biru. Kerah Mandarin membuatnya terlihat seperti pendekar naga di zaman modern.
"I sui koh (Koko ganteng buanget)," kata Ah Ti sambil mengacungkan jempol.
Eng Sok tidak menjawab. Tapi dadanya—sedikit—membusung.
---
Ah Me sudah menunggu di depan pintu.
"Ke mana kita Ah Me?" tanya Eng Sok.
"Jalan Yap Ciang. Itu pusat herbal murah."
Eng Sok mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh. Memori Sioh Bu sudah memberinya peta: Jalan Yap Ciang, deretan toko obat Tionghoa, tawar-menawar harga, aroma rempah yang menempel di baju berjam-jam.
Mereka naik bus. Ah Ti duduk di samping jendela. Eng Sok di tengah. Ah Me di sebelahnya, dekat lorong.
Bus bergerak lambat. Macet. Sabtu pagi.
Di lampu merah, bus berhenti. Eng Sok menoleh ke jendela—lantas matanya tertumbuk pada sebuah plang besar di seberang jalan.
Perpustakaan Negara Bun Long.
Aksara-aksara itu ia kenal. Bun—aksara, budaya. Long—naga. Perpustakaan Naga Aksara.
Matanya menempel di plang itu. Tidak bisa lepas.
"Ah Ti," panggilnya pelan. "Kamu pernah ke situ?"
Ah Ti menoleh. Wajahnya berubah. Ada sesuatu di sana—rindu, sakit, kenangan.
"Iya pasti, Ko. Kalo ada PR susah, ke situ kan. Sore-sore." Suaranya mulai bergetar. "Buku di situ dari murah sampai mahal. Ada yang boleh dibaca di tempat, gratis. Ada yang harus bayar jaminan pinjam karena langka. Ada yang dijual juga. Ada komik series Pendekar Bun yang tahun lalu akhirnya difilmkan dan Koko jadi figuran perampok gunung."
Ia mengenang.
Sioh Bu dulu—Koko Sioh Bu yang asli—sering mengantarnya ke perpustakaan itu. Mereka duduk di pojok lantai dua, baca buku bergambar, pinjam komik silat. Sioh Bu tidak banyak membaca. Dia lebih banyak tidur. Tapi dia ada. Dia menemani.
Air mata Ah Ti ditahannya keras-keras. Pundaknya naik turun.
Eng Sok melihat. Ia tidak bicara. Ia hanya meraih bahu kecil itu, menariknya perlahan, memeluknya. Tidak ada kata "diam" atau "jangan nangis". Hanya pelukan.
Semoga pelukannya bisa mewakili cinta Sioh Bu, pikir Eng Sok. Karena kata-kata tidak pernah cukup.
Bus bergerak lagi. Lampu hijau. Jalanan mulai ramai. Perpustakaan itu tertinggal di belakang.
---
Di dalam bus, Eng Sok mengeluarkan notes—buku catatan kecil yang ia beli saat beli tinta kaligrafi kemarin. Sampulnya hitam, isinya masih kosong. Ia juga mengeluarkan brush pen—beli di toko yang sama.
Ia mulai mencatat.
Jahe. Sereh. Kunyit. Brotowali. Temulawak.
Eng Sok khawatir tinta brushpen habis
"Ah Ti, pen ginian perlu dicelup tinta?", tanyanya
"Gak, Ko, ini brush pen. Tintanya sudah di dalam.", jawab Ah Ti. Mata anak itu masih melayang.
"Ya iya, tau. Tapi tinta di brush pen itu biasanya cepet habis gak sih?" tanya Eng Sok dengan gaya kayak kakek-kakek ga pernah pake barang modern.
"Nanti diisi ulang.",mata Ah Ti mulai kesal, pipinya menggembung
"Dari mana?", tanya Eng Sok sambil menatap keliling brushpen itu.
Ah Ti mengambil brush pen, membuka tutup atasnya,”Dari sini, no… haiyaaah!”
Ah Ti mau ngomel, tapi dia sungguh sadar. Koko dia gak main-main waktu bilang dia dari zaman Kaisar Ong Ai Hong.
Ah Ti menutup mata. Menarik napas panjang. Lalu—dengan sabar—ia menjelaskan.
"Yang Mulia. Brush pen itu beli yang isi ulang. Kalo habis, beli botol tinta brush pen sendiri, terus dituang ke dalam. Gak perlu dicelup-celup kayak kuas."
"Ooo."
"Cuma kalo gak ada botol isi ulang, terpaksa beli brush pen baru. Satu paket isi dua atau tiga."
"Mahal?"
"Enggak. Cuma lebih mahal dari tinta botol biasa."
Eng Sok mengangguk. Dunia modern memang aneh. Tapi logis.
Ah Ti menghela napas. Koko baru dia pintar. Cerdas. Cuma... amit-amit, jadulnya buanget.
Ia merindukan Koko Sioh Bu yang gaul dan modern. Tapi ia sadar—Koko yang dulu isi kosong. Koko yang sekarang isi nya banyak, tapi bentuknya kuno.
Ya sudah, pikir Ah Ti. Pilih mana?
Ia tidak bisa menjawab.
---
Bus berhenti di Jalan Yap Ciang.
Panas. Ramai. Pedagang kaki lima berjajar di trotoar. Suara tawar-menawar dalam bahasa Hokkien, Indonesia, dan Mandarin bercampur aduk. Aroma bakmi ayam, lumpia, dan kopi tubruk menyengat.
Mereka berjalan menyusuri deretan toko. Eng Sok memegang notes di tangan. Ah Ti menggandeng Ah Me. Sesekali, Ah Me berhenti, membaca papan nama, menggeleng.
"Di sini mahal."
"Di sini bahannya kurang bagus."
"Di sini suka ngasih obat kadaluarsa."
Dua puluh menit berlalu.
Akhirnya, Ah Me berhenti di depan sebuah toko dengan papan kayu besar bertuliskan:
HOK HONG JIO— Sehat dan Panjang Umur.
"Di sini," kata Ah Me. "Murah, lengkap, bahannya bagus."
Eng Sok masuk.
---
Toko itu lebih besar dari yang ia bayangkan. Rak-rak kayu jati menjulang sampai langit-langit. Laci-laci kecil berlabel aksara Mandarin berjejer rapi. Aroma rempah—jahe, kayu manis, bunga lawang—memenuhi ruangan.
Tapi yang membuat Eng Sok terpaku bukanlah rak atau laci.
Di dinding belakang, tergantung panci-panci keramik.
Tembikar. Tanah liat bakar. Sama persis dengan panci di istana dulu.
Ia berjalan mendekat. Tangannya menyentuh satu panci—permukaannya kasar, dingin, berat. Ini bukan plastik. Ini barang sungguhan.
"Yang Mulia, kita cari obat dulu," bisik Ah Me dari belakang.
Eng Sok mengangguk. Ia membuka kipas lipat—srek—mengipas-ngipaskan ke wajah. Gerakannya lambat. Anggun. Seperti tuan muda dari zaman dulu.
Ia menyodorkan notes ke pelayan toko.
"Ini. Pesanan saya."
Pelayan toko—anak muda sekitar dua puluh tahun—menerima kertas itu dengan hormat. Wajahnya berubah. Matanya membaca satu per satu aksara-aksara yang ditulis dengan brush pen.
Jahe kering. Serai. Kunyit. Brotowali. Temulawak.
Tih Ta Iu Cheng — satu botol.
Hai Tho Tim Ko — dua tube.
Po Chai Pian — dua kotak.
Lo Han Ko — sepuluh buah.
Hu Cheng Song Ju Ko — satu pot.
Pelayan itu pai pai—menangkupkan tangan, membungkuk.
"Pesanan Yang Mulia akan hamba siapkan."
Eng Sok tidak bereaksi. Tapi Ah Ti dan Ah Me—di belakang—cengar-cengir dan sikut-sikutan. Orang ini bisa buat pelayan toko kebawa suasana. Lucu. Tapi anehnya, wajar.
---
Sambil menunggu obat ditimbang, Eng Sok berjalan ke rak panci.
Ada macam-macam. Panci tanah liat. Panci enamel putih dengan bintik-bintik. Panci listrik—berkabel, ada tombol, bisa diatur suhunya.
Seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal mendekat. Pipinya tembam, perutnya buncit, senyumnya lebar.
"Siau Heng!" sapanya. "Cari panci enamel? Ada yang listrik loh! Dicari banyak pelajar akademi herbal muda kayak Siau Heng!"
Tauke Hok. Pemilik toko.
Eng Sok menyipit. "Listrik... bahaya tidak?"
"Bahaya? Enggaklah. Ini sudah SNCA — Standar Nasional Cia Agung. Ini standar paling prestisius di Region Sembilan kita ooo. Ada garansi juga 3 tahun."
Tauke Hok menjelaskan panjang lebar. Tegangan, watt, cara pakai, cara cuci, cara simpan. Eng Sok mendengarkan sambil mencermati catatan di HP—Sioh Bu sudah mengingatkan soal batas voltase dan daya di rumah kontrakan.
Setelah lima menit menimbang-nimbang—matanya beralih dari panci enamel ke panci tanah liat, dari panci listrik ke kompor modern—ia memutuskan.
"Satu panci enamel listrik. Yang dalamnya bisa dilepas. Satu kuali enamel kuno. Satu kompor kuno."
"Kok beli barang kuno punya juga, ha? Masi muda" tanya Tauke Hok.
"Buat... Konten, Tauke," jawab Eng Sok. Dia ingat kalo jeda syuting biasanya Sioh Bu nganggur. Tapi sejak video psikopat dia tersebar. Baru selesai makan langsung dibayar dibawa bikin konten pakai barang kuno ginian. Padahal alasan sebenarnya: Aku takut gak bisa pake alat modern. Setidaknya punya cadangan barang yang kuno yang biasa gua pake dan pasti nyala.
Tauke Hok mengangkat bahu. "Terserah Siau Heng."
Eng Sok menunjuk lagi. "Satu set jarum akupuntur. Satu set alat bekam kuno. Satu set alat bekam listrik."
Ah Me di belakang sampai terbelalak. "Koh, itu mahal."
"Tidak apa. Ini untuk Ah Me."
Ah Me terdiam. Mulutnya terbuka, tertutup, terbuka lagi. Orang asing ini... menghabiskan uang untuk bekam dan akupuntur? Hatinya berdesir. Thien, kebaikan macam apa ini?
---
Obat sudah dibungkus. Panci dan alat-alat sudah diangkat ke meja kasir.
Tagihan dihitung.
Eng Sok menunggu dengan tenang. Dompet digital sudah siap. Ia hafal langkahnya: buka QR, scan, masukkan PIN, klik Bayar. Dia udah lemes. Tiga hari ini memaksakan diri, soalnya bus harus bayar cardless pakai kartu atau scan QRIS sekarang.
Tapi sebelum tagihan selesai dibayar, Tauke Hok datang lagi. Tangannya membawa selembar kertas promo.
"Siau Heng," katanya. "Lu mau obat ini sama barang-barang ini... gua kasi gratis."
Ah Me, Ah Ti, dan Eng Sok menyipit curiga.
Serempak.
"Kami bayar pake QRIS, kok, Koh," jawab Eng Sok dingin. Suaranya datar. Tapi dalam hati: Boleh juga asal syaratnya tidak berat.
"Haiyaaah, Siau Heng. Lu sama adik ini lucu." Tauke Hok tertawa. "Gua mau pemotretan buat akun toko punya. Instagram, TikTok, Shopee. Lu pakai baju sama adik lu pakai kostum silat. Lu pake baju Pendekar Bun, adik lu pake baju anak pendekar Bun. Ada lagi satu perempuan di atas, anak gua punya. Itu jadi istri Pendekar Bun. Gimana? Nanti semua belanja gratis."
Eng Sok menatap Ah Me. Ah Me mengangguk tipis. Eng Sok menatap dingin. Tauke harap-harap cemas. Ah Ti berbisik,”Aku mau, Ko!”
"Baik," kata Eng Sok.
---
Mereka bertiga ke lantai dua toko. Ah Ti paling cepat. Dia mau jadi anak Pendekar Bun.
Di sana, lampu studio sudah terpasang. Background putih. Reflector. Kamera DSLR di tripod.
Dan di sudut ruangan, seseorang sedang merapikan wig. Ah Oan.
"Im ho..." Eng Sok menyapa sambil mengibaskan kipas. "Sioh Bu... lu lagi? Lu lagi?" sapa Ah Oan sambil menoleh. Wajahnya setengah kaget, setengah pasrah.
"Ho'o. Salam lagi."
Ah Oan menggeleng-geleng. Tiga hari yang lalu, Sioh Bu masih figuran bayaran kecil. Sekarang?
· Dia viral karena akting psikopat.
· Dia dikejar 4 sutradara sekaligus.
· Dapat peran utama 40 episode.
· Dan sekarang... jadi model untuk akun toko herbal.
"Hidup di jalan Thien memang tidak ada yang tahu," pikir Ah Oan sambil melanjutkan merias Ah Ti.
Ah Ti duduk di kursi, mata berbinar. Ia akan pakai kostum Anaknya Pendekar Bun untuk pemotretan. Sementara Eng Sok—tinggal ganti kostum dan pita lalu dirapikan— rambut panjang tersanggul, kipas di tangan.
Tauke Hok sudah menyiapkan props: panci enamel, ramuan herbal, dan plang bertuliskan HOK HONG JIO di bagian bawah.
Ada lagi satu model wanitansudah berpakaian Tng Sa. “Im ho, Gua Hok Hiang Chio, dipanggil Ah Chio”, katanya sambil menyalami Keluarga kecil itu.
Setelah set siap.
"Gas," kata Tauke Hok.
Kamera klik.
Foto Set pertama, pose keluarga pendekar
Eng Sok tidak tersenyum. Ah Ti seperti pendekar cilik. Tidak cengar-cengir. Mereka bertiga hanya berdiri dengan wibawa seorang pangeran dan keluarga pendekarnya. Satu tangan di belakang, satu tangan memegang kipas tertutup. Mata menatap lensa—tajam, tenang, agak arogan.
Foto set kedua keluarga hangat, mereka tersenyum gembira. Seperti keluarga dengan anak kecil. Ah Me merasa dadanya sesak. Dia berharap dalam hati kalo Koko satu ini nantinya punya istri cantik, ga cuma jadi foto suami ideal doang. Dia cepat-cepat menghapus air matanya.
Pemotretan berlangsung diluar dugaan. Awalnya dikira lambat. Tapi ternyata jam setengah tiga sore udah kelar.
Ah Oan, dari belakang kamera, sampai bersiul pelan.
"Ini orang... fotogenik gila. Mana cocok pisan jadi keluarga Bun! Bisa-bisanya!"
Ah Oan pamit pergi, ada orderan lain. Dia meninggalkan pembersih wajah dan kapas di meja, kebiasaan MUA Cia Agung.
Ah Ti diam-diam tersenyum. Keinginan dia tampil ala Pendekar Bun tercapai dan ga nyusahin Koko dia.
Di bus, HP Sioh Bu berdering. Eng Sok mengangkatnya malas-malasan. Lalu dia melotot dan mulutnya menganga.
---
BERSAMBUNG
---
Kejutan apa lagi hari ini?