⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"
10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.
Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.
"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Malam yang sunyi, Hanum berjalan seorang diri menuju rumahnya. Berkali-kali dia mengecek ponselnya, barangkali suaminya masih tertidur. Sesekali dia menghela napasnya sembari menatap bintang gemintang yang menghiasi langit malam.
Sebelumnya dia meminta izin suami nya untuk pergi dinas ke luar kota bersama rekan kerjanya. Namun, tugas itu dibatalkan lantaran ada ketidaksesuaian jadwal. Karena itu lah Hanum kembali ke rumah sambil menatap kecewa ke arah ponselnya, sebab pesan meminta dijemput di ponselnya sama sekali tidak dibaca. Bahkan, hanya centang satu saja. Kebetulan juga taksi online sedang sepi di aplikasi.
"Mungkin Mas Bram kecapekan kali ya," ucap pelan Hanum pada dirinya sendiri. Mencoba mengatasi asumsi yang tidak-tidak terkait suami nya itu. Walaupun dalam hatinya dia yakin betul, ada sesuatu yang lagi-lagi membuat hatinya terluka. Entah itu ketidakharmonisan atau sikap suami nya yang dingin dan seolah tidak peduli.
Ah, jangan kan itu..
Bertahun-tahun mereka menikah pun Hanum sama sekali tidak pernah disayang layaknya istri sendiri. Kecuali hanya di saat situasi tertentu, misalnya memenuhi hasrat suaminya. Lupakan, waktu menunjukkan pukul sembilan lewat lima puluh menit. Dia harus memastikan suami nya sudah makan malam atau belum.
Setibanya di rumah kontrakan sederhana itu, dia sadar ada yang tidak beres. Ada sepasang sepatu hak berwarna merah di depan pintu.
Malam-malam begini? Apa ada tamu?
Lagi-lagi Hanum menepis semua praduga nya itu. Tanpa menimbulkan suara apa pun, dia masuk ke dalam rumah itu. Berjalan pelan, hingga sebelum dia memasuki kamar, pintu itu masih terbuka sedikit.
"Sayang.., kamu kapan sih menceritakan wanita membosankan itu? Aku tuh udah gak sabar banget pengen jadi istri kamu. Istri sah kamu maksudnya hehehe."
Itu..,itu suara wanita.
Suara itu terdengar begitu jelas, melengking dan penuh kemenangan.
"Sabar, Vanya. Aku hanya butuh tanda tangannya untuk pengalihan semua aset perusahaan. Setelah semua harta jatuh ke tanganku, aku akan membuang Hanum seperti sampah," jawab sebuah suara yang sangat dikenali Hanum. Itu suara suami nya sendiri, Mas Bram. Pria yang selama ini tetap dia temani dengan sepenuh hati.
BRAKK!
Tas yang disandang oleh Hanum jatuh ke lantai. Buktinya begitu keras, tak peduli alat rias nya berantakan di dalamnya. Kehancuran hatinya jauh lebih berantakan.
Pintu terbuka lebar. Bramasta muncul dengan kemeja yang berantakan, tidak terkancing. Diikuti oleh Vanya yang hanya mengenakan jubah mandi milik Hanum. Tidak ada rasa bersalah yang terpancar dari mata Bramasta, yang ada hanya tatapan dingin yang menusuk. Sakit sekali rasanya.
"Kamu sudah tahu?" ucap Bramasta tanpa beban, tanpa bersalah sama sekali. "Baguslah. Jadi, aku tidak perlu berpura-pura lagi, Hanum."
Hanum, tanpa disadari air matanya menetes sejak dia mendengar ucapan kedua orang itu pun mencoba untuk mengatur napasnya. Tangannya gemetar hebat. Selama ini ia selalu bersabar dan memendam emosi yang ada dalam dirinya. Tapi kali ini berbeda? Kenapa hal ini terjadi pada dirinya?
"Mas.., aku sedang hamil anakmu..," lirih Hanum dengan air mata yang menderu.
Vanya menatap Bramasta, seolah-olah meminta agar tidak mudah terpancing ucapan Hanum. "Udah deh, jangan banyak drama kamu. Hamil? Sayang sekali, Bram gak butuh anak dari wanita kampungan kayak kamu! Mending kamu pergi dari rumah ini segera karena besok rumah ini milik kami berdua," ucap Vanya tertawa jahat. Sedikitpun tak ada rasa iba apalagi bersalah di dalam hatinya.
Hanum menatap penuh suaminya. Berharap akan membelanya, istri pertama dan istri sahnya. Namun, melihat Vanya ia merasakan sakit yang teramat. Dengan segera dia mengangkat tangannya dan menampar pipi kanan Vanya sekeras mungkin.
"AH! SIALAN!"
"Berani-beraninya kamu merebut suami ku! Kamu gak tahu apa?! Dia itu udah beristri! Kamu tahu diri dong!" seru Hanum dengan emosi yang meledak-ledak. Kemarahan, kesedihan, kekecewaan bercampur menjadi satu. Ibarat warna, hitam kelabu lah yang ia rasakan.
"Kamu jangan macam-macam, Hanum!"
Seketika Hanum terdiam. Hatinya sakit. Sakit sekali. Suami yang dia cintai lebih memilih selingkuhannya dibandingkan ISTRI nya sendiri. Apalagi Hanum melihat suaminya membiarkan Vanya memeluk Bram dari belakang. Dengan tatapan licik dan kemenangan kepada Hanum.
"A -aku gak nyangka kamu bakalan kayak gini, Mas..," ucap Hanum dengan pelan. Seluruh tenaganya pupus sudah. Yang ada hanya sakit hati yang membekas kuat dalam jiwa.
Bramasta melemparkan sebuah kertas ke wajahnya. "Tanda tangani surat cerai ini. Pergi dari sini dak jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi, atau aku akan memastikan kamu tidak akan melihat matahari esok pagi."
Hanum menatap surat itu dengan penuh pilu. Tega sekali suaminya mengatakan hal itu. Sedikitpun tak ada belas kasihan? Dia tidak mampu menjernihkan pikirannya lagi. Membahas tentang harta sekalipun, jika emosi mu masih belum stabil tidak akan kelar juga. Apalagi ini menyangkut perselingkuhan. Sungguh menyedihkan.
"Cepat pergi!" hardik Bramasta sekali lagi.
Hanum bangkit, berjalan tertatih meninggalkan rumah itu. Udara malam yang begitu dingin tak ia hiraukan. Bintang-bintang yang menghiasi langit malam pun tak lagi bersinar lantaran diselimuti oleh awan pertanda hujan. Setetes demi setetes air itu luruh dari langit. Seolah-olah mengiringi suasana kesedihan yang Hanum alami. Makin lama hujan semakin deras. Tapi Hanum tak peduli dengan hujan yang membasahi tubuhnya.
"Ya Tuhan.., begini kah jalan hidupku? Kemana lagi aku harus pergi?" ucapnya dengan suara yang pasrah, air matanya menetes bersamaan dengan hujan yang membasahi wajahnya.
Ia tak punya siapa-siapa lagi. Orang tuanya telah tiada dan tak ada informasi pasti terkait saudara nya sendiri. Masa lalunya begitu kelam dan sulit untuk diceritakan. Esok hari kalian akan mengerti alasannya.
Perutnya mendadak keram. Makin lama makin terasa sakitnya. Hanum terduduk lemas di pinggir jalan sembari mencengkeram erat perutnya. Berpikir ini adalah akhir dari segala kisah dalam hidup nya. Hujan deras masih saja mengguyur. Di bawah alam sadarnya, Hanum merasa ada yang mengangkat tubuhnya. Samar-samar tapi pasti.
"TETAP BERTAHAN, HANUM!"
Pandangannya gelap. Ia jatuh pingsan.
××××
Halooo Momjaaa!!
Gimana kira-kira? Mau lanjutannya? Ayo jangan lupa sukai dan komen di bawah biar makin terdorong lanjutin ceritanya.