Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Parcel Yang Diludahin. (2016)
Namaku Satria Abdul Rahman.
Dua puluh satu tahun. Kuli bangunan. Anak sulung dari ibu yang punggungnya sudah terlalu bengkok untuk usianya, dan adik laki-laki yang masih kelas dua SMP, masih suka minta uang jajan tiap pagi dengan muka polos yang kadang bikin aku pengen nangis sendiri di kamar mandi.
Bapak sudah pergi lima tahun lalu. Aku putus sekolah waktu kelas sepuluh SMA karena waktu itu pilihan cuma dua — sekolah atau makan. Dan aku pilih yang kedua, karena adikku masih kecil dan Ibu sudah tidak kuat lagi angkat beban sendirian.
Itu bukan keputusan yang heroik. Itu cuma keputusan yang harus diambil. Titik.
Tapi hari ini — hari ini beda.
Hari ini aku bawa sesuatu di tangan kanan. Parcel buah. Jeruk, apel, anggur merah yang harganya bikin aku mikir dua kali waktu di pasar tadi pagi, tapi tetap kubeli juga karena katanya Pak Hendra suka buah anggur. Dibungkus plastik kilap warna emas, diikat pita merah. Kelihatan bagus. Kelihatan... serius.
Dan di saku kiri celanaku — cincin. Bukan emas murni. Aku tahu itu. Penjualnya bilang "cincin emas muda, Mas, kilap tahan lama," dengan senyum yang agak terlalu lebar untuk orang jujur. Tapi aku beli juga. Karena yang penting bukan karatnya — yang penting niatnya.
Empat bulan aku menabung untuk ini.
Empat bulan aku tolak ngopi bareng teman-teman proyek. Empat bulan aku makan siang cuma nasi sama garam, kadang sama kerupuk kalau lagi beruntung. Empat bulan aku tidur di gubuk proyek yang dindingnya triplek dan atapnya suka bocor kalau hujan, digaji tiga ratus ribu seminggu, dan dari tiga ratus ribu itu aku sisihkan setelah kebutuhan Ibu dan adikku terpenuhi.
Totalnya terkumpul lima ratus ribu lebih sedikit.
Lima ratus ribu untuk parcel dan cincin. Sisanya untuk ongkos pulang dan satu minggu ke depan.
Aku berjalan ke rumah Pak Hendra dengan jantung yang... aneh. Bukan deg-degan yang menyenangkan. Lebih ke deg-degan yang kayak mau ujian tapi kamu tahu kamu belum belajar cukup. Aku tahu keluarga ini punya uang. Aku tahu Pak Hendra bukan orang sembarangan di kampung ini. Tapi aku pikir — aku pikir cinta Aisyah cukup. Aku pikir empat tahun kami kenal, tiga tahun kami dekat, cukup jadi modal untuk ketuk pintu itu dengan kepala tegak.
Aisyah sedang kerja di pabrik. Kami sudah bicara sebelumnya, dan dia bilang, "Ngomong sama Bapak dulu, Mas. Kalau Bapak setuju, semuanya beres."
Aku percaya dia.
Bodohnya aku, aku percaya.
Pagar besi rumah Pak Hendra terbuka sedikit. Aku ketuk dua kali. Pelan, sopan, seperti yang Ibu ajarin waktu kecil — "Kalau mau dihargai orang, kamu yang duluan jaga adab."
Pintu rumah terbuka.
Pak Hendra berdiri di sana. Kemeja batik lengan pendek, kopi di tangan kiri, muka yang langsung berubah begitu matanya jatuh ke mukaku. Bukan kaget. Bukan heran. Tapi semacam... jijik. Kayak dia buka pintu dan yang dia lihat bukan manusia, tapi sesuatu yang mengganggu pagi harinya.
Satu tatapan dari atas ke bawah. Lambat. Dari rambut sampai sandal jepitku yang solnya sudah mulai menipis di sisi kanan.
Cuma satu tatapan. Dan aku sudah bisa merasakan sesuatu runtuh di dalam dadaku.
Tapi aku tetap angkat parcel itu. Tetap senyum. Tetap bilang — "Selamat pagi, Pak Hendra. Saya Satria, Pak. Saya mau—"
Parcel itu diraih.
Bukan diambil dengan baik. Diraih, terus dibanting.
Keras.
Plastik kilap warna emas itu robek waktu menghantam lantai teras. Buah-buah berhamburan. Jeruk menggelinding sampai ke ujung teras. Anggur merah — anggur yang kubeli karena katanya Pak Hendra suka — pecah berantakan, airnya meleber di lantai keramik putih itu kayak luka yang memalukan.
Aku terpaku.
Mulutku masih terbuka setengah. Kata-kata yang tadi mau keluar — lenyap. Tidak ada satu huruf pun yang tersisa.
Dan sebelum aku sempat menutup mulut, sebelum otakku sempat memproses apa yang baru saja terjadi —
Pak Hendra meludah.
Tepat di kaki kananku.
Aku merasakan hangatnya. Dan itu — itu yang paling menyakitkan. Bukan bantingan parcelnya. Bukan suara plastik robek itu. Tapi hangatnya ludah di punggung kakiku, dan cara Pak Hendra menatapku setelahnya, kayak dia baru saja buang sampah dan bukan menghinakan manusia yang berdiri di depannya.
"Harusnya lo sadar," suaranya rendah tapi tajam, tajam banget, kayak pisau yang diasah lama-lama, "lo gak punya bapak. Siapa yang mau biayain pernikahan lo? Ngaca lo dulu. Dasar bocah dongo."
Aku tidak bergerak.
"Pergi. Jangan pernah datang lagi ke sini."
Pintu dibanting.
Keras. Sangat keras. Sampai pot bunga di sebelahnya bergetar dan daun-daun kecilnya rontok pelan-pelan ke lantai.
Aku masih berdiri di sana. Di antara buah yang berserakan, pita merah yang kusut, dan ludah yang belum kering di kakiku.
Kakiku bergerak sendiri. Aku tidak sadar kapan aku mulai melangkah. Tapi tahu-tahu aku sudah di luar pagar, di jalanan kampung yang sempit itu, dan di kiri-kanan ada tetangga yang tadi pasti dengar semuanya karena pintu itu dibantingnya keras sekali dan kampung ini kecil sekali dan tidak ada yang namanya privasi di tempat seperti ini.
Seorang ibu-ibu berdiri di depan warung, tangannya masih pegang sapu, matanya menatapku dengan ekspresi yang susah aku baca, antara kasihan dan semacam kepuasan yang tidak bisa disembunyikan, dan dia bilang — pelan, tapi cukup keras untuk sampai ke telingaku —
"Kasihan... mimpi terlalu tinggi."
Aku tidak berhenti melangkah.
Tidak noleh. Tidak balas. Tidak nangis.
Tangan kiri masuk ke saku celana. Jari-jariku menemukan cincin itu. Masih ada. Masih di sana.
Aku genggam sampai tanganku sakit.
Tidak tahu kenapa. Mungkin karena itu satu-satunya yang tersisa dari empat bulan itu. Dari nasi garam itu. Dari gubuk bocor itu. Dari semua hal yang aku tahan dan aku simpan dan aku jaga buat hari ini — semuanya sudah hancur di teras rumah orang, tapi cincin ini masih ada.
Aku jalan terus.
Melewati gang sempit, melewati jemuran yang menjuntai rendah sampai hampir kena mukaku, melewati suara-suara kampung yang tiba-tiba terasa sangat berisik padahal tadi biasa saja. Anak-anak berlarian. Warung sebelah nyetel lagu dangdut. Asap dari dapur seseorang mengepul manis, bau bawang goreng, bau masakan pagi yang hangat dan normal dan menyakitkan karena duniaku baru saja roboh tapi dunia di sekitarku jalan terus kayak tidak terjadi apa-apa.
Aku berhenti di jembatan kecil di ujung kampung.
Berdiri di sana. Menatap air selokan yang cokelat keruh di bawah.
Di saku kananku, tangan kananku yang tadi pegang parcel itu — masih bisa kurasakan bekas genggemannya. Bekas beban lima ratus ribu yang tadi ada, sekarang sudah jadi puing di teras orang.
Aku keluarkan cincin itu dari saku.
Kecil. Murah. Kilap murahan yang penjualnya bilang "tahan lama." Di bawah matahari pagi ini, kilapnya biasa saja. Biasa banget. Kayak benda yang memang tahu dirinya tidak layak ada di tempat yang lebih baik.
Atau mungkin itu aku yang tidak layak.
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu cuma satu: hangat ludah itu masih ada di kakiku. Dan kata-kata Pak Hendra itu — "lo gak punya bapak, siapa yang biayain pernikahan lo" — masih berputar di kepalaku, berputar terus, kayak kaset rusak yang tidak bisa diberhentikan.
Bapak.
Aku meremas cincin itu sampai ujungnya membekas di telapak tanganku.
Bapak sudah tidak ada. Itu benar. Dan itu sesuatu yang tidak pernah berhenti sakit, tidak peduli sudah lima tahun atau lima puluh tahun, tetap saja ada momen-momen tertentu di mana kamu tiba-tiba sadar betapa beda hidupmu kalau dia masih ada.
Ini salah satu momen itu.
Aku masukkan kembali cincinnya ke saku.
Tarik napas. Dalam. Sampai dadaku penuh dan sesak dan mau meledak, terus aku buang pelan-pelan.
Aku tidak punya kemewahan untuk roboh di sini. Ibu ada di rumah. Adikku ada di rumah. Besok ada proyek lagi dan kalau aku tidak masuk, minggu ini tidak ada gaji.
Jadi aku tidak boleh roboh.
Belum.
Aku putar badan. Aku jalan pulang.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berjalan dengan sesuatu di dalam dada yang belum punya nama — bukan amarah, bukan sedih biasa, bukan malu saja — tapi campuran semuanya, yang mengeras pelan-pelan di suatu tempat di balik tulang rusukku, dan aku tidak tahu kapan itu akan melunak lagi.
Atau apakah itu akan pernah melunak sama sekali.
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain