NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Angst / Single Mom / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Tak selamanya pertemuan antara dua trauma berakhir dengan trauma baru. Bisa jadi, merekalah yang paling paham cara merawat luka satu sama lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang selama ini kita cintai sama sekali tidak pernah merasa bersalah, bahkan berani bilang kalau itu hal yang wajar dan mencoba menutupi semua luka itu dengan istilah 'Nafkah'.

DI hotel malam itu, Vandini melihat sosok suaminya sedang bersama wanita lain, dan ia hanya mendapat makian.

"Kamu nggak seharusnya ada di sini, Van. Ini bukan tempatmu."

Keterkejutannya pun berganti menjadi amarah yang membuncah. "Aku istrimu, Satura! Aku harusnya ada di mana pun kamu berada. Kamu itu yang gak seharusnya ada di tempat kayak gini!"

"Kamu nggak ngerti, Van. Ini... ini nggak ada hubungannya sama kita."

"Oh, begitu ya?" Vandini tertawa getir. "Terus ini apa? Jelasin dong! Gimana maksudnya ketemu suami sendiri lagi ngamar sama wanita lain, hahh?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Betapa Berharganya Pengorbanan Itu

Di kediaman Satura.

Sebuah bayangan pahit muncul di benak Satura. Bagaimana ayah lain bisa sukses di karir sekaligus bisa pulang tepat waktu untuk makan malam?

Saat itu juga ia tahu jawabannya. Kebanyakan ayah tak perlu pusing membagi waktu karena beban itu dipikul oleh para ibu. Merekalah yang mengurangi jam kerja, mengambil pekerjaan paruh waktu, atau menolak promosi demi keluarga.

Satura langsung teringat Vandini. Wanita itu mengurus anak, mengatur jadwal, dan bekerja tanpa banyak bicara. Selama ini Vandini yang selalu mengalah dan berkorban, sementara ia terlalu sibuk sampai tak menyadarinya.

Bertahun-tahun Satura lembur dan bekerja di akhir pekan, menganggap wajar jika waktunya habis untuk kantor. Ia tak pernah dipaksa membuat pilihan sulit seperti yang dilakukan Vandini. Vandini memikul semua itu dalam diam, dan baru sekarang ia mengerti betapa berat harga yang harus dibayar.

Baginya, menyeimbangkan keluarga dan karir bukan soal memilih, melainkan pertarungan yang jarang berpihak padanya. Dunia kerja pun menghukumnya. Promosi dan kenaikan jabatan sering kali melayang begitu saja saat seorang ibu harus meluangkan waktu untuk keluarga.

Ketidakadilan itu membakar hati Satura, bercampur rasa marah dan bersalah yang luar biasa. Dulu ia sering melihat rekan wanita dilewati saat promosi dengan anggapan "kurang komitmen". Kini ia sadar, itu adalah hukuman karena mereka menyempatkan waktu untuk keluarga.

Satura menunduk, mengusap wajahnya kasar. Ia memikirkan pengorbanan Vandini yang selama ini tak pernah ia hargai atau akui.

Vandini adalah tulang punggung yang memastikan segalanya berjalan, sementara ia sendiri sibuk mengejar mimpi. Baru beberapa bulan merasakan sebagian kecil beban itu saja, rasanya sudah sangat berat.

"Aku harus berubah. Vandini sudah terlalu lama menanggung semuanya sendirian," gumamnya pelan.

Satura bersandar ke kursi, rasa kecewa karena gagal promosi masih terasa perih. Namun, ingatan tentang saat Vandini mendapat kenaikan jabatan justru muncul tak terduga.

Ia seolah bisa melihat wajah istrinya yang berbinar saat menceritakan kabar baik itu. Vandini tampak begitu bersinar, dan itu jelas bukan soal uang atau gelar, tapi soal pengakuan atas kerja kerasnya. Dan ia, justru meremehkannya saat itu.

Rasa malu menerjang naik, panas dan pahit. Ia ingat betul bagaimana ia memadamkan antusias itu dengan kalimat yang terlontar begitu saja.

"Kita kan nggak kekurangan uang, Van. Mendingan kamu fokus ke anak-anak aja."

Ucapannya itu terlontar begitu mudah, seolah ambisi Vandini hanyalah hobi biasa yang bisa ditinggalkan seenaknya. Ia melihat ada kilatan kecewa di mata istrinya saat itu, namun ia pura-pura tak tahu. Ia meyakini diri sendiri bahwa ia hanya bersikap realistis.

"Kan memang harus ada yang mikirin keluarga, bukan?" begitu pikirnya waktu itu.

Tapi kini, duduk di ruangan sepi ini, rasa munafiknya terasa sangat menyesakkan.

Di satu sisi ia hancur karena gagal promosi, merasa harga dirinya diremehkan. Tapi di sisi lain, ia bahkan tak pernah membiarkan Vandini merasakan kebahagiaan itu walau sesaat.

Terbayang sudah berapa kali Vandini selalu ada untuknya, merayakan setiap keberhasilan tanpa ragu. Vandini tak pernah memintanya berhenti bermimpi demi keluarga.

"Tapi pas giliran dia, Aku malah bikin dia ngerasa bersalah karena punya ambisi," batinnya tertampar keras.

Satura mengusap wajahnya keras. Ia ingin sekali menebus kesalahan, ingin membuktikan bahwa ia bisa berubah menjadi pasangan yang setara.

"Aku bakal buktiin ke kamu, Van. Sekarang dan selamanya," bisiknya tegas.

...***...

Vandini membereskan sisa barang yang harus dibawa untuk perjalanan dinasnya. Hari masih sangat pagi, namun ia sudah mendengar suara anak-anak di dapur yang sedang mengobrol ria bersama Satura.

Untuk pertama kalinya, bukan Vandini yang sibuk memastikan tugas sekolah Connan masuk tas atau sepatu Cia terpasang dengan benar. Perasaan lega bercampur ragu menyelimuti dirinya saat melihat Satura mulai mengambil alih semua urusan di rumah.

Ia menutup koper lalu menuruni tangga. Aroma kopi langsung tercium, dan di sana Satura sudah berdiri dengan dua cangkir di tangan.

"Kopinya," ucap Satura santai seraya menyodorkan salah satu cangkir yang masih mengepul.

"Makasih," jawab Vandini sambil menerima cangkir itu. Hangatnya cairan terasa menenangkan saat ia menyesap sedikit.

Suasana pagi itu terlihat sangat tenang. Itu bukti nyata kalau Satura benar-benar berusaha keras agar semuanya berjalan lancar.

Satura bersandar di meja dapur dengan tatapan serius. "Aku tahu kamu harus pergi, tapi aku cuma mau bilang kalau aku bangga banget sama kamu. Promosi ini penting banget, dan aku minta maaf soalnya dulu aku nggak pernah sadar."

Ia terdiam sejenak, sorot matanya tampak menyesal. "Dulu aku nggak ngerti betapa beratnya harus tampil maksimal di kantor tapi tetep harus urus semua hal di rumah. Aku tahu sih nggak gampang, tapi... ya, sekarang aku baru paham rasanya."

Vandini menatap cangkir di tangannya, dadanya terasa sesak namun hangat. Sudah lama ia menanti kata-kata itu keluar dari mulut Satura.

Akhirnya pria itu mengerti beban yang ia pikul selama ini. Ketulusan dalam suara suaminya menyentuh hati lebih dalam dari yang ia duga.

Vandini menarik napas panjang lalu menatap wajah Satura lekat-lekat. "Memang berat," ucapnya pelan. "Aku nggak pernah mau kamu merasa bersalah... aku cuma mau kamu sadar dan ngerti."

Satura mengangguk pelan. Raut wajahnya terbuka, dan ada pemahaman di sana yang dulu tak pernah ada. "Sekarang aku ngerti, beneran."

Ia melirik anak-anak yang sedang asyik sarapan, lalu kembali menatap Vandini. "Beberapa bulan terakhir ini aku banyak belajar. Aku tahu aku terlambat sadarnya, tapi... aku ada di sini sekarang. Dan aku beneran bangga sama kamu."

Jantung Vandini berdegup kencang. Perasaan syukur bercampur harap yang masih diselimuti keraguan berputar di dalam dada. Mendengar pengakuan itu, beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan. Tembok pertahanan yang dulu tinggi mulai runtuh sedikit demi sedikit.

"Makasih, Satura," bisiknya. Vandini sebenarnya ingin mengatakan banyak hal, tapi ia tak yakin bisa menahan emosinya.

Akhirnya, ia menyesap kopinya sekali lagi lalu tersenyum tipis. "Yaudah, aku berangkat ya, nanti ketinggalan pesawat."

Satura mengangguk, matanya tak lepas memandang Vandini saat wanita itu merapikan barang bawaannya. Saat Vandini berbalik menuju pintu, ia mendengar Satura memanggil anak-anak dan mengatur mereka dengan sangat luwes. Sebuah bayangan kecil muncul, mungkin kali ini segalanya akan berbeda.

Dengan satu kali lagi menoleh ke belakang, Vandini melangkah keluar. Hatinya dipenuhi perasaan campur aduk, namun hangatnya ucapan Satura terus membekas lama setelah ia pergi.

1
Eva Rosita
bagus
phiiiew: makasi,kak 🥰
total 1 replies
Uthie
bertahan wanita hebat 👍👍😡
Uthie
bangkit lah wanita-wanita hebat yg tersakiti oleh pasangan gak tau diri kalian 👍😡😡
Uthie
mungkin kondisi di jaman sekarang yaa... yg sewajarkan apa yg terlihat saja, namun main di belakang ☹️
Uthie
sakit banget itu pasti... sesak 😢
Uthie
Mampir 👍👍👍👍
phiiiew: makasih kak, udah berkenan mampir🙏😍
total 1 replies
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
phiiiew: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!