NovelToon NovelToon
Pijar Hati

Pijar Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.

Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.

yuk baca kisahnya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1 pertemuan

Sore ini hujan turun cukup lebat dan Ratih baru saja keluar dari gedung kantor tempatnya bekerja.

Ratih berdiri di depan sebuah cafe yang terletak tak jauh dari gedung kantornya itu, dia mengibas-ngibaskan lengannya yang sedikit basah terkena percikan air hujan yang sempat membasahi tubuhnya tadi sewaktu berjalan ke arah cafe.

Setelah selesai mengibas-ngibaskan lengannya, dengan perlahan wanita cantik yang berusia sekitar tiga puluh tahunan itu berjalan ke arah pintu masuk cafe dan kemudian dia masuk ke dalam cafe tersebut sekedar untuk mencari tempat berteduh dari guyuran air hujan yang makin lama semakin deras membasahi tanah di sekitar cafe tersebut.

Ratih duduk di kursi yang menghadap ke arah jendela tembus pandang ke halaman cafe yang rumputnya dan dedaunan pohonnya basah tersiram air hujan. Ratih menikmati kopi latte nya sambil menikmati air hujan yang tak kunjung reda itu.

Sedikit demi sedikit kopi latte yang ada di tangannya dia seruput pelan-pelan sambil mengedarkan pandangannya pada hujan di luar sana.

Pikirannya jauh menerawang pada pekerjaan kantor yang masih belum kelar juga padahal dia sudah bekerja keras selama seminggu ini untuk menyelesaikan tugasnya itu namun belum selesai juga.

Ratih mendengus perlahan dan kembali menyeruput kopi latte nya lagi.

Dari arah pintu masuk cafe terlihat seorang pria yang sedang berdiri sambil membersihkan jaket kulitnya yang basah tersiram air hujan di luar.

Lalu pria itu mulai masuk ke dalam cafe dan berjalan ke arah kasir untuk memesan kopi sekedar menghangatkan tubuhnya dari cuaca dingin sore ini.

"Pesan apa mas?" tanya pelayan cafe ramah pada laki-laki yang berpostur tinggi sedang dengan tubuh yang proporsional dengan tingginya itu.

"Americano dua shot," ucap laki-laki ganteng itu yang membuat cewek kasir cafe sedikit salah tingkah.

"Baik, silahkan di tunggu mas," ucap cewek kasir tersebut pada laki-laki yang masih berdiri di hadapannya itu.

Laki-laki itu tersenyum tipis pada cewek kasir itu dan dia pergi mencari tempat duduk setelah menyelesaikan pembayaran kopi yang di pesannya tadi.

Pria itu berjalan ke arah bangku-bangku kosong yang berjajar di sebelah tempat duduk Ratih.

"Kriet," terdengar suara bangku yang di tarik oleh pria itu tepat di samping Ratih duduk.

Ratih sedikit terhenyak dari lamunannya saat mendengar ada seseorang yang sedang menarik bangku di sampingnya.

"Permisi," ucap laki-laki itu pada Ratih dengan suara ramah dan tegas.

Dengan segera Ratih menoleh ke samping ke arah suara yang tidak asing baginya itu.

Ratih menatap laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya itu dan pandangan mereka berdua beradu untuk beberapa saat yang terasa sangat lama bagi Ratih.

Jantung Ratih berdegup kencang ketika melihat wajah laki-laki itu dan dari sorot mata laki-laki itu juga terlihat keterkejutan yang dalam saat menatap Ratih.

"Ratih," ucap laki-laki itu dengan suara lirih, parau dan hampir tersekat di tenggorokan saat dia mengucapkan nama wanita yang mampu membuat hatinya berguncang keras itu.

"Dimas," ucap Ratih juga sambil mencoba menata hatinya yang saat ini sedang bergejolak melihat pria yang menghilang sepuluh tahun lalu itu tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.

Dimas menganggukkan kepalanya pelan dan mengulas sebuah senyuman ramah pada Ratih tapi senyuman Dimas yang dulu bisa membuat dirinya hangat kini sudah hambar rasanya bagi Ratih.

"Boleh aku duduk di sini?" tanya Dimas pada Ratih sedikit sungkan dan gugup.

"Silahkan," ucap Ratih sambil mengalihkan pandangannya dari Dimas.

"Terimakasih," lalu Dimas duduk di bangku di samping Ratih.

Tak lama seorang pelayan cafe datang ke arah tempat duduk Dimas sembari membawa nampan kecil yang berisi kopi americano pesanan Dimas tadi.

"Permisi mas, ini kopinya," ucap pelayan cafe itu sambil meletakan cangkir yang berisi Americano dua shot itu.

"Terimakasih," kata Dimas.

Sebelum menyeruput kopi Americano nya Dimas sempat menoleh pada Ratih yang sedang minum kopi late nya sambil menatap ke arah luar jendela cafe itu.

Dimas menarik nafas panjang sejenak, lalu dia mulai menyeruput kopinya perlahan dan setelah itu dia berusaha memberanikan diri untuk membuka obrolan dengan Ratih, wanita yang sempat dia tinggalkan sepuluh tahun lalu itu dan dia tahu mungkin saat ini Ratih sangat membencinya dan dengan hati-hati sekali Dimas mulai membuka perbincangan.

"Sudah lama sekali kita tidak bertemu Rat," ucap Dimas sambil menoleh pada Ratih yang masih saja menatap ke arah luar jendela cafe tempat mereka duduk.

"Ya, sepuluh tahun empat bulan," kata Ratih tegas dan jelas tanpa menoleh pada Dimas yang duduk di sampingnya itu.

"Kamu masih mengingatnya?" Dimas kembali menatap Ratih.

Ratih menggigit bibirnya dia tidak menyadari apa yang barusan saja dia katakan pada Dimas, dia terlalu mengenang hari di mana saat pertama kalinya Dimas menghilang dari hidupnya dan dia tidak pernah melupakan bulan itu sampai sekarang dia terus menghitungnya.

"Bagaimana kabarmu selama ini Rat?" tanya Dimas lagi dengan hati-hati sambil tetap menatap Ratih yang tidak bergeming dari pandangannya ke luar jendela itu.

"Baik," jawab Ratih singkat tanpa menoleh pada Dimas yang masih menatapnya itu.

"Syukurlah kalau selama ini kamu baik-baik saja," Dimas mengalihkan pandangannya keluar jendela juga sambil menghela nafas berat.

Ratih masih tak bergeming dari pandangannya keluar jendela dia sama sekali tidak menoleh pada Dimas yang sedari tadi mengajaknya bicara.

"Maafkan aku Ratih, aku tahu perasaanmu kamu pasti marah melihatku hadir kembali di hadapanmu setelah sepuluh tahun lalu aku pergi meninggalkan kamu," batin Dimas sambil menatap hujan yang tak kunjung reda juga.

Ratih dan Dimas terdiam untuk beberapa lamanya mereka sibuk dengan hati dan pikiran mereka yang tak karuan saat ini.

Berisiknya suara hujan tak mengalahkan berisiknya hari Ratih saat ini saat dia duduk di samping laki-laki yang sudah membuat hatinya rapuh selama ini.

"Dimas, kenapa kamu kembali dan kenapa kita harus bertemu lagi, kenapa?" sebuah pertanyaan yang terlontar dalam hati Ratih.

Dimas membulatkan tekad untuk memberitahu Ratih alasan dia pergi sepuluh tahun lalu itu, dengan perlahan Dimas menoleh pada Ratih.

"Rat, aku tahu kamu pasti sangat membenciku selama ini karena aku meninggalkan kamu begitu saja tanpa ada sepatah katapun dan asal kamu tahu Ratih aku pergi itu....," belum sempat Dimas melanjutkan kata-katanya tiba-tiba saja ponsel Ratih berdering dan dengan segera Ratih menerima telepon yang masuk ke ponselnya itu.

"Maaf Dim, aku sudah di jemput. Aku pulang dulu," ucap Ratih tanpa ingin tahu apa yang akan Dimas sampaikan padanya tadi.

"Ya," ucap Dimas lirih menatap kepergian Ratih dari hadapannya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!