NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Pengembara

Pendekar Naga Pengembara

Status: tamat
Genre:Action / Reinkarnasi / Hari Kiamat / Tamat
Popularitas:93.7k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.

Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.

Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.

Mampukah sang legenda menggapai impiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Reinkarnasi

𝗣𝗥𝗢𝗠𝗢𝗦𝗜 𝗡𝗢𝗩𝗘𝗟 𝗕𝗔𝗥𝗨

𝗝𝗨𝗗𝗨𝗟𝗡𝗬𝗔 "𝗣𝗘𝗡𝗗𝗘𝗞𝗔𝗥 𝗡𝗔𝗚𝗔 𝗣𝗘𝗡𝗚𝗘𝗠𝗕𝗔𝗥𝗔 (𝗭𝗛𝗘𝗡𝗚 𝗦𝗛𝗘𝗡)

.

“𝗔𝗸𝘂 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗶𝗯𝘂𝗸𝘂!”

𝗭𝗵𝗲𝗻𝗴 𝗦𝗵𝗲𝗻 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗹𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗶𝗯𝘂𝗻𝘆𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗼𝗿𝗯𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗻𝘆𝗮𝘄𝗮 𝗱𝗲𝗺𝗶 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮. 𝗗𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗸𝗮𝗱 𝘀𝗲𝗸𝘂𝗮𝘁 𝗯𝗮𝗷𝗮, 𝗶𝗮 𝗺𝗲𝗺𝘂𝗹𝗮𝗶 𝗽𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗲𝗺𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗺𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗰𝗮𝗿𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗻𝗴 𝗶𝗯𝘂 𝗸𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶.

“𝗝𝗶𝗸𝗮 𝘀𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗲𝗴𝗲𝗻𝗱𝗮 𝘀𝗮𝗷𝗮 𝗺𝗮𝗺𝗽𝘂 𝗺𝗲𝗺𝘂𝘁𝗮𝗿 𝘄𝗮𝗸𝘁𝘂… 𝗺𝗮𝗸𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗸𝗮𝗻 𝗶𝗯𝘂𝗸𝘂 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻𝗹𝗮𝗵 𝗵𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝘂𝘀𝘁𝗮𝗵𝗶𝗹!”

𝗞𝗶𝗻𝗶, 𝘀𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗻𝗱𝗲𝗸𝗮𝗿 𝗡𝗮𝗴𝗮 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗲𝗺𝗯𝗮𝗿𝗮 𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽𝗶 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗵 𝗯𝗮𝗵𝗮𝘆𝗮, 𝗿𝗮𝗵𝗮𝘀𝗶𝗮 𝗸𝘂𝗻𝗼, 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝘂𝘀𝘂𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻. 𝗔𝗸𝗮𝗻𝗸𝗮𝗵 𝗭𝗵𝗲𝗻𝗴 𝗦𝗵𝗲𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗵𝗮𝘀𝗶𝗹 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗮𝗽𝗮𝗶 𝘁𝘂𝗷𝘂𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮?

𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗕𝗔𝗖𝗔 𝗬𝗔 🙏🙏

...****************...

Kehidupan adalah tentang pilihan. Begitulah prinsip yang dipegang teguh oleh pria yang pernah mengguncang dunia, sosok yang dijuluki Legenda Naga, sang anomali yang berdiri di puncak kekuatan.

​Dahulu, ia melangkah di jalan lurus karena mandat gurunya. Namun, ironi takdir menghantamnya tepat di ulu hati: ia mampu menyelamatkan banyak nyawa asing, namun gagal melindungi beberapa orang yang paling berharga di hidupnya.

​Titik itulah yang mengubah segalanya. Tian Shan berhenti menjadi pahlawan.

Ia menjelma menjadi iblis yang rela membantai seluruh penghuni alam abadi demi menyempurnakan teknik terlarang: Memutar Balik Waktu.

Setelah memanen nyawa di alam atas dan mengorbankan setiap napas di dunia fana sebagai bahan bakar, ia berdiri di tengah kehampaan.

​"Inilah pilihanku!"

​Suaranya menggelegar, merobek keteraturan dunia. Tian Shan menyatukan paksa dua alam yang berbeda, menciptakan sebuah dunia baru yang lahir dari kekacauan.

Banyak hal yang akan berubah dalam realitas ini, namun baginya hanya satu yang penting: mereka yang ingin ia selamatkan kini memiliki kesempatan untuk bernapas kembali.

​Suasana di dalam kamar utama paviliun keluarga bangsawan Tian begitu mencekam. Bau amis darah dan keringat bercampur dengan aroma dupa penenang.

Di atas ranjang, seorang wanita cantik dengan wajah pucat pasi tengah berjuang di ambang batas kekuatannya.

​"Sedikit lagi, Nyonya Lin! Tarik napas dalam-dalam!" seru sang tabib wanita dengan nada mendesak.

​Lin Xia, istri dari pemimpin keluarga Tian, mencengkeram kain seprai hingga jemarinya memutih. "Aaakh! Sakit ... hnggh ... hancurkan saja tubuhku, tapi biarkan anak ini selamat!"

​Suaminya, Tian Zhen, berdiri mematung di luar pintu dengan kepalan tangan bergetar.

Tak lama kemudian, pekikan tajam Lin Xia memudar, digantikan oleh keheningan yang janggal. Tidak ada suara tangisan bayi.

​"Kenapa dia diam?" gumam Lin Xia lemah, matanya yang sayu menatap sosok bayi di pelukan tabib.

​Tabib itu menyerahkan sang bayi dengan ragu. Saat Tian Zhen masuk dan mendekat, ia terpaku. Bayi itu tidak menangis, tidak meronta. Ia hanya diam dengan mata terbuka lebar.

​"Sayang, kenapa mata anak kita tampak ... kosong? Apa dia baik-baik saja?" bisik Lin Xia, ada nada ngeri dalam suaranya.

Mata itu tidak seperti mata bayi; itu adalah sepasang lubang hitam yang seolah mampu menelan jiwa siapa pun yang menatapnya.

​"Tabib bilang fisiknya sempurna," jawab Tian Zhen, mencoba menenangkan diri meski hatinya diliputi kegelisahan yang tak dapat dijelaskan. "Mungkin dia hanya ... terlalu tenang."

​Namun, ketenangan itu adalah kutukan. Tian Shan, yang kini terperangkap dalam tubuh mungil itu, merasa asing.

Bukan hanya karena sifat Tian Shan yang dingin. Tapi saat ini jiwanya belum sepenuhnya pulih sehingga emosinya belum kembali.

Menghisap air susu dari wanita yang kini menjadi ibunya terasa canggung bagi jiwa yang telah berumur lebih dari dua abad.

Ia jarang bersuara hanya karena tidak ingin, tidak pernah merengek, dan hanya menatap langit-langit dengan pandangan datar.

Lambat laun, desas-desus tentang "Anak Tanpa Jiwa" menyebar, menjadi noda bagi reputasi keluarga Tian yang agung.

​Hari yang dinanti sekaligus ditakuti itu tiba. Tian Shan berdiri di belakang dua adiknya, Tian Feng dan Tian Mei, yang lahir dua tahun setelahnya.

Berbeda dengan Tian Shan, kedua adiknya tumbuh dengan keceriaan dan bakat yang tampak menonjol.

​"Letakkan tangan kalian di atas batu ini. Biarkan takdir memperlihatkan jalan kultivasi kalian," ucap seorang tetua dengan suara berat.

​Tian Feng melangkah maju terlebih dahulu, disusul Tian Mei. Begitu telapak tangan mereka menyentuh permukaan dingin monolit, cahaya keemasan meledak, menyilaukan mata semua orang yang hadir.

​"Luar biasa! Bakat Tingkat Surgawi! Dua sekaligus!" teriak sang tetua kegirangan.

​Tian Zhen dan Lin Xia tersenyum bangga, disambut tepuk tangan riuh dari anggota klan. Mereka sejenak melupakan keberadaan putra sulung mereka yang berdiri seperti bayangan di sudut area.

​"Sekarang, giliranmu. Majulah, Tian Shan," panggil Tian Zhen, nadanya mendingin.

​Dengan ekspresi yang tetap kosong, seolah dunia di sekitarnya hanyalah panggung sandiwara yang membosankan, Tian Shan melangkah maju. Ia meletakkan tangannya.

​Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik.

​Batu monolit itu tetap hitam legam. Tidak ada getaran Qi, tidak ada pendaran cahaya. Sunyi yang mematikan menyelimuti lapangan.

​"Kenapa? Apa batunya rusak?" tanya seseorang dari kerumunan.

​"Bukan batunya yang rusak!" seorang pemuda lain berteriak sinis. "Lihatlah anak aneh itu! Dia benar-benar sampah! Jangankan bakat, dia bahkan tidak memiliki pondasi untuk mengumpulkan energi alam!"

​Tatapan memuja dari kerumunan berubah menjadi hinaan dalam sekejap.

Tian Zhen membuang muka, sementara Lin Xia hanya bisa menunduk layu.

Di tengah badai cemoohan itu, Tian Shan hanya berdiri diam. Ia tidak terluka, tidak juga marah.

Ia tahu persis apa yang terjadi: tubuh ini tidak rusak, hanya saja energi di dunia baru ini terlalu kotor untuk beresonansi dengan jiwanya yang kompleks. Ia butuh waktu untuk memperbaikinya dari dalam.

​Waktu adalah sungai yang kejam bagi mereka yang dianggap tidak berguna. Di usia lima belas tahun, Tian Shan telah menjadi hantu di rumahnya sendiri.

Ia diasingkan ke paviliun belakang yang kumuh, hidup dalam kesunyian yang ia ciptakan sendiri.

​Sore itu, ia berdiri di tepi lapangan latihan, memperhatikan adik-adiknya yang kini telah menjadi jenius kebanggaan klan.

Pedang mereka bergerak lincah, membelah udara dengan aliran Qi yang stabil.

​"Hei, lihat siapa yang keluar dari lubangnya!" Sebuah suara kasar memecah konsentrasi. Itu adalah Tian Yu, sepupu jauh yang selalu mencari gara-gara. "Si sampah bisu sedang apa di sini? Belajar cara memegang pedang dengan mata?"

​Tian Shan tidak bergeming. Ia hanya menatap Tian Yu dengan pandangan datar yang biasanya membuat orang merasa tidak nyaman.

​"Ck, kau ini benar-benar aib! Sedari kecil sampai sekarang, kau bahkan tidak pernah bicara. Apa lidahmu sudah membusuk karena tidak pernah digunakan?" geram Tian Yu, merasa terhina karena diabaikan.

​Tanpa peringatan, Tian Yu melayangkan tinju yang dilapisi sedikit energi Qi. Tian Shan berniat menghindar, namun tubuh fisiknya yang belum terbangun tidak mampu mengikuti reaksi otaknya.

​BUGH!

​Tubuh Tian Shan terpental, punggungnya menghantam dinding batu hingga retak. Darah segar merembes dari sudut bibirnya, menetes ke tanah.

Tian Feng dan Tian Mei, yang berada tidak jauh dari sana, hanya melirik sekilas dengan tatapan jijik sebelum kembali berlatih.

Bagi mereka, pria yang bersandar di dinding itu bukan lagi kakak mereka.

​"Hahaha! Apa itu sakit? Apa kau ingin membalas dendam, hah?" tantang Tian Yu sombong.

​Perlahan, Tian Shan bangkit. Ia mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan.

Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, ia menatap langsung ke mata Tian Yu. Tekanan udara di sekitar mereka seolah menurun drastis.

​"Baiklah jika itu keinginanmu," ucap Tian Shan. Suaranya rendah, parau karena jarang digunakan, namun mengandung wibawa yang membuat bulu kuduk berdiri. "Jangan menyesal."

​Ia berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Semua orang di lapangan terdiam membatu.

Bukan karena ancamannya, tapi karena fakta bahwa "si bisu" itu akhirnya berbicara—dan kata-katanya tidak terdengar seperti ucapan seorang pecundang.

​Di dalam kamarnya yang dingin, Tian Shan duduk bersila. Cahaya bulan masuk melalui celah atap, menyinari wajahnya.

Jiwanya yang berasal dari masa depan terlalu besar untuk tubuh yang rapuh ini, menyebabkan kerusakan pada meridiannya.

​‘Energi di dunia ini memang kotor, tapi cukup untuk memulai,’ batinnya.

​Ia mulai membentuk segel tangan yang rumit. Gerakannya sangat cepat hingga menciptakan bayangan. Ia mulai menarik paksa energi alam yang liar, menyaringnya melalui proses pemurnian yang hanya diketahui oleh seorang Legenda Naga.

​KRETEK.

​Suara tulang yang bergeser terdengar menyakitkan. Keringat hitam berbau busuk—kotoran tubuh yang menghambat kultivasi—keluar dari pori-porinya.

Rasa sakitnya seperti disayat ribuan pisau, namun ekspresi wajahnya tetap sedatar permukaan air.

​Perlahan, transformasi itu terjadi. Rambut hitamnya mulai kehilangan pigmen, berubah menjadi seputih salju yang berkilau di bawah cahaya bulan.

Pupil matanya yang semula kosong kini memancarkan cahaya perak yang tajam.

Emosi manusianya yang selama ini ia tekan agar tidak gila dalam ketidaberdayaan, kini mulai stabil dan selaras dengan kekuatannya.

​Tian Shan membuka matanya. Tekanan energi di dalam kamarnya membuat meja kayu di dekatnya hancur menjadi abu.

Sambil tersenyum tipis Tian Shan bermata, "Sudah waktunya untuk siap-siap."

1
Asiana Tyas
apakah akan sad ending
Agen One: /Slight/
total 1 replies
Asiana Tyas
menjijikan
Agen One: /Scowl/
total 1 replies
Asiana Tyas
mantap thor
Agen One
Mungkin ini Bittersweet Ending
septian arista
apakah akan berakhir dengan kehancuran lagi
Agen One: happy
total 1 replies
septian arista
habis sih semua yang berniat untuk menghalangimu
septian arista
Apakah tiada akhir yang bahagia
Didi h Suawa
baik
Agen One: terima kasih banyak, jangan lupa baca karya baruku ya🙏🙏🙏
total 1 replies
Didi h Suawa
maju terus,, and thak,s,,🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Agen One: jangan lupa baca "Pendekar pengembara Zheng Shen" 🙏🙏🙏
total 1 replies
kute
cerita terasa hidup d alam kenyataan
Agen One: Terima kasih banyak atas B5 nya🙏🙏🙏💪💪/Pray//Ok/
total 1 replies
kute
terima kasih thor di tunggu cerita selanjutnya 2 kopi meluncur
Agen One: 🙏🙏🙏🙏. terima kasih kopii nya. jadi melek/Coffee//Coffee//Coffee/
total 1 replies
Nanik S
Makasih Tor...dan kami menunggu karya terbaru
Agen One: masih ada Bab bonus ya.
total 3 replies
Nanik S
Tian Shan... apakah tega meninggalkan Bai Yaoji
Nanik S
Kenapa Mo Tian masih hidup dan jadi Monster
Nanik S
Maaantaap Tor 👍👍👍
Agen One: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nanik S
Kenapa Tian Shan menggila lagi
Agen One: baca lanjutannya ya. judulnya "Pendekar Naga pengembara(Zheng Shen) 🙏
total 1 replies
Nanik S
Akankah Tian Shan selamat dari petir Malapetaka
Nanik S
Zhao .. kenapa mesti memuja kegelapan
Nanik S
Hancurkan mereka Tian....
Nanik S
Lanjut terus Tor
septian arista: Tidak adakah bantuan yang datang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!