“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Jejak yang Kau Tinggalkan
Langit tertutup awan. Hujan mengguyur kota disertai angin kencang. Sesekali kilat menyambar, disusul guntur yang menggelegar.
Ayza berdiri di depan jendela kaca, menatap ke arah gerbang rumah.
“Apa malam ini Abi tak pulang lagi?” gumamnya pelan.
Ia menghela napas yang terasa berat. Tatapannya jatuh pada ranjang. Ingatan itu datang tanpa diundang.
Malam itu juga hujan deras. Tubuh Ayza dan Kaisyaf tertutup selimut tebal.
“Abi… aku sudah capek,” keluh Ayza saat Kaisyaf kembali mengecup pipinya dan jemarinya mulai bergerak nakal.
“Sekali lagi, Sayang,” bujuk Kaisyaf dengan wajah memelas. Ia melirik box bayi di dekat ranjang. “Beberapa hari ini Alvian rewel. Aku tersiksa menahannya.”
Ayza menyipitkan mata.
“Abi selalu bilang sekali lagi. Tapi ujung-ujungnya bukan cuma sekali.”
“Kali ini benar-benar cuma sekali.”
Kaisyaf langsung menarik selimut menutupi tubuh mereka.
“Abi… pelan…”
“Sayang, nanti Alvian keburu bangun.”
DUAAR!
Suara guntur membuat Ayza tersentak dari lamunannya.
Selama sepuluh tahun, malam-malam hangat bersama Kaisyaf membuatnya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Namun akhir-akhir ini Kaisyaf berubah.
Ayza refleks tersenyum saat melihat mobil Kaisyaf memasuki halaman rumah. Ia bergegas keluar dari kamar.
Saat tiba di pintu depan, pintu itu terbuka. Kaisyaf muncul dari baliknya dengan wajah sedikit pucat.
Tanpa berkata apa pun, Ayza meraih tangan suaminya untuk disalimi dan dikecup. Namun Kaisyaf buru-buru menarik tangannya.
Pria itu berjalan melewati Ayza tanpa sepatah kata.
Ayza menatap punggungnya beberapa detik.
"Kenapa sikapnya makin dingin?" batinnya. Dadanya terasa seperti dihimpit batu.
Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum buru-buru menyusul suaminya ke kamar.
“Abi, kenapa pulang malam sekali? Abi jangan terlalu banyak bekerja. Istirahat juga penting.”
Seperti biasa, Ayza membantu melepaskan jas suaminya.
“Kau tak perlu menunggu aku pulang,” ucap Kaisyaf datar.
“Aku tak bisa tidur sebelum Abi pulang,” jawab Ayza sambil menggantung jas itu.
“Ayza…” panggil Kaisyaf pelan tanpa menatapnya. “Kita cerai.”
DUAAR!
Guntur kembali menggelegar.
Bahu Ayza terangkat. Bukan hanya karena suara guntur, tetapi karena tiga kata yang baru saja menghancurkan sepuluh tahun pernikahannya.
“Bi…” ucap Ayza akhirnya, nyaris tak terdengar. Ia menatap Kaisyaf dengan tatapan tak percaya.
“Akan kuurus surat-suratnya,” ujar Kaisyaf dingin. “Dan jangan khawatir, kau akan mendapatkan separuh hartaku.”
Ayza menggeleng cepat. “Tidak. Aku tidak mau cerai. Katakan padaku, Bi. Kenapa? Kenapa Abi ingin bercerai? Apa salahku?”
Ayza meraih tangan suaminya. “Katakan, Bi. Aku akan berusaha memperbaikinya.”
Kaisyaf kembali menarik tangannya. “Kamu tidak salah. Hanya saja, aku merasa pernikahan kita terlalu monoton,” katanya lagi, tetap tanpa menatap Ayza.
“Monoton?”
Ayza terdiam sejenak, berusaha mengingat bagian mana dari pernikahan mereka yang terasa monoton. Namun ia tidak menemukan apa pun.
Setiap libur mereka selalu bepergian bersama ke tempat berbeda. Mereka sering berbincang tentang hal-hal kecil, bahkan yang paling random sekalipun. Mereka juga membesarkan putra mereka, Alvian, dengan penuh kasih.
Apa semua itu dianggap monoton?
“Katakan padaku, Bi,” pinta Ayza akhirnya. “Bagian mana yang monoton? Apa yang harus kulakukan agar bisa memperbaikinya?”
“Tidak ada yang perlu diperbaiki,” sahut Kaisyaf singkat. “Aku sudah jenuh dengan rumah tangga ini. Aku akan mengajukan perceraian.”
Tanpa menunggu jawaban Ayza, Kaisyaf berlalu masuk ke kamar mandi.
Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Matanya terpejam, napasnya terdengar berat.
Di luar, Ayza masih berdiri mematung. Menatap pintu yang tertutup rapat.
Ia terdiam menatap pintu kamar mandi.
Akhir-akhir ini Kaisyaf sering pulang malam, bahkan kerap tidak pulang dengan alasan pekerjaan. Mereka semakin jarang menghabiskan waktu bersama.
Bahkan Alvian, putra mereka, sering menanyakan papanya yang kini jarang pulang.
Beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka.
Kaisyaf keluar. Tanpa menatap, apalagi berbicara dengan Ayza, ia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, membelakangi sisi tempat Ayza berbaring.
Ayza menatap punggung pria itu. Dadanya terasa seperti diremas.
"Besok saja aku bicarakan," batinnya saat menyadari malam telah larut. Ia tidak ingin waktu istirahat suaminya terganggu, meski masalah ini terasa begitu menghimpit dada.
Ayza pun merebahkan tubuhnya. Perlahan ia beringsut mendekat, lalu memeluk Kaisyaf dari belakang.
Kaisyaf tidak menolak. Namun ia juga tidak menyambutnya. Pria itu hanya diam, seolah pelukan Ayza tidak pernah ada.
Padahal Ayza yakin Kaisyaf belum tidur.
Ayza menyandarkan kepalanya di punggung pria itu, berusaha mencari kehangatan yang selama sepuluh tahun selalu ia rasakan. Namun malam ini terasa berbeda.
Kaisyaf membuka matanya. Ia melirik lengan Ayza yang melingkar di pinggangnya.
Pria itu kembali memejamkan mata, tetapi dadanya terasa sesak, seolah udara di kamar itu menipis.
"Maaf."
Kata itu hanya terucap dalam hatinya.
Di luar sana hujan masih turun deras tanpa henti. Di dalam kamar ini, kehangatan yang pernah ada kini berubah menjadi dingin.
-
Fajar mulai menyingsing ketika Kaisyaf terbangun. Ia masih merasakan hangat tubuh Ayza di punggungnya. Tangan wanita itu masih melingkar di pinggangnya.
Perlahan Kaisyaf melepaskan pelukan itu. Ia turun dari ranjang dengan hati-hati, tak ingin Ayza terbangun.
Sejenak ia terdiam menatap wajah wanita yang selama sepuluh tahun ini mendampinginya. Wajah teduh yang tak pernah bosan ia pandang.
"Maaf."
Kata itu lagi-lagi hanya terucap dalam hati.
Kaisyaf merapikan selimut Ayza. Setelah itu ia melangkah keluar dari kamar, menutup pintu tanpa menimbulkan suara.
Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu. Pelan ia membukanya.
Alvian, putranya, tampak terlelap.
Kaisyaf mendekat tanpa suara. Tangannya mengusap rambut bocah itu dengan lembut, menatap wajah kecil itu seolah ingin mengingat setiap detailnya.
Ia menggenggam tangan kecil itu. Hangat.
Setelah beberapa saat, Kaisyaf mengecup kening putranya, lalu keluar dari kamar.
Tak lama setelah pintu tertutup, Alvian terbangun. Bocah itu menatap seisi kamarnya, lalu menatap pintu.
"Apa aku bermimpi?" batinnya. "Aku seperti merasa ada Abi di sini."
-
Di kamar lain, Ayza terbangun saat azan subuh berkumandang.
Semalam ia merasa tenang. Tidur sambil memeluk Kaisyaf, hal yang akhir-akhir ini jarang ia rasakan karena suaminya semakin sering pulang larut, bahkan tak pulang sama sekali. Perlahan Ayza menoleh ke sisi ranjang.
Kosong.
Tangannya meraba permukaan kasur itu.
Dingin.
"Abi sudah lama bangun?" gumamnya dengan suara serak, khas bangun tidur.
Ayza langsung bangkit. Ia berjalan cepat ke kamar mandi.
Tok… tok…
“Bi… Abi… apa Abi di dalam?”
Tak ada sahutan. Tak ada suara air. Ayza membuka pintu.
Tak ada siapa pun. Lantai kering.
Jantungnya mulai berdegup tak nyaman. Ia keluar kamar, menyusuri ruang tengah, ruang kerja, dapur…
Tidak ada.
“Abi…?” panggilnya pelan, hampir seperti bisikan.
Tapi tak ada jawaban.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ayza berlari ke garasi.
Mobil Kaisyaf tidak ada.
“Dia… sudah pergi?” gumamnya lirih.
Tubuhnya mendadak lemas. Dengan langkah pelan, Ayza kembali ke kamar.
Ia menunaikan shalat subuh dengan hati gelisah, memohon agar rumah tangganya baik-baik saja.
Namun setelah selesai dan meletakkan mukenanya, langkah Ayza terhenti.
Di dekat kaki ranjang, ada selembar kertas.
Napasnya tercekat. Kakinya terasa goyah saat melangkah mendekat. Tangannya bergetar saat meraih kertas itu. Matanya mulai membaca.
Satu baris. Dua baris. Lalu berhenti.
Pupilnya membesar. Kertas itu gemetar di tangannya.
“Tidak…” bisiknya nyaris tak terdengar.
Ayza merasa dunianya runtuh dalam sekejap.
-
...🔸🔸🔸...
...'Kadang yang paling menyakitkan bukan perpisahan, tapi ketika seseorang berubah tanpa alasan yang kau mengerti."...
..."Sepuluh tahun terasa nyata, sampai suatu malam semuanya berubah menjadi pertanyaan."...
..."Yang pergi tak selalu meninggalkan kata-kata… kadang hanya sebuah bukti yang menghancurkan segalanya."...
..."Tidak semua perpisahan diawali dengan pertengkaran… kadang hanya dengan diam yang perlahan menjauh."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Ridho berharap kamu jujur sama Ayza tentang penyakit Kaisyaf,kasihan Ayza dan Al....
Nara jadi mengerti pilihan Kaisyaf.
Reza ini mencari kesempatan lagi. Sekarang yang didekati Alvian. Benar-benar muka tembok ini orang 😄. Urat malunya sudah putus.
Pinternya Alvian - menolak ajakan Reza.
Dikasih mainan saja bilang "Gak usah" - Alvian ingat larangan dari Umi-nya, gak boleh terima apa-apa dari orang.
Jelas orang lain. Sudah menjadi orang lain.
Alvian perasaannya peka - Om di depannya orang yang kurang baik - Alvian sampai mundur walaupun cuma setengah langkah. Itu tanda penolakan.