Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sesampainya di rumah, Umi Aisyah langsung membukakan pintu untuk ketiganya agar masuk. Begitu melihat setumpuk barang belanjaan yang mereka bawa, ia menggelengkan kepala sambil berkata, "Astaghfirullah, kalian belanja apa sekaligus beli seluruh isi mal, ya?"
Umi Aisyah mengarahkan pandangannya pada menantu perempuannya dan menambahkan, "Ini pasti gara-gara kamu, ya, Putri?"
Putri langsung merespons sambil menunjukkan dua kantong belanjaan di tangannya. "Ih, Umi! Nggak boleh gitu dong, menuduh sebelum tahu yang sebenarnya. Barang Putri cuma ini aja."
Nathan, yang berdiri di sebelah, tak mau ketinggalan berkomentar. "Iya, pasti ulah Putri nih yang ngajarin istriku jadi boros."
Zira, mendengar itu, langsung melirik suaminya dengan tatapan gemas sambil berkata, "Mas ini, ya, kayak anak kecil aja ngadu ke Umi."
"Baik, Umi. Nathan dan Zira mau ke kamar dulu ya. Umi juga istirahat, pasti sudah capek banget," kata Nathan.
"Iya, Nak. Pergilah istirahat biar besok energinya kembali untuk beberes," jawab Umi Aisyah lembut.
Zira menimpali, "Iya, Umi. Terima kasih ya," ucapnya dengan suara pelan dan penuh hormat.
Nathan menggenggam tangan Zira, dan keduanya berjalan menuju kamar mereka. "Akhirnya bisa istirahat juga," ujar Nathan dengan nada lega.
"Iya, Mas. Aku juga capek banget," balas Zira sambil tersenyum kecil ke arahnya.
Keesokan harinya, Nathan dan Zira mulai bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta karena masa libur kuliah mereka telah usai dan jadwal aktivitas kuliah menunggu. Dengan koper-koper yang sudah tertata rapi, mereka mendatangi Umi Aisyah dan keluarga untuk berpamitan. Zira, yang merasa berat meninggalkan keluarga, berbicara dengan lembut dan penuh rasa hormat, "Umi, Abi, Putri, Zira dan Mas Nathan pamit dulu ya untuk kembali ke Jakarta."
Umi Aisyah menatap anak dan menantunya dengan mata penuh kasih. "Baiklah nak, kalian hati-hati di perjalanan ya. Jangan lupa jaga kesehatan dan titip salam dari Umi buat Mama sama Aryan di sana. Maaf ya, Umi belum bisa ke Jakarta untuk berkunjung."
Zira tersenyum kecil sambil mengangguk, "Iya, Umi. Salamnya nanti Zira sampaikan ke Mama. Jangan khawatir."
Namun, suasana mendadak terasa haru ketika Putri, yang tak kuasa menahan rasa sedihnya, tiba-tiba menangis sejadi-jadinya. Hubungan Putri dan Zira memang sangat dekat, bahkan lebih dari sekadar hubungan kakak ipar. Dengan suara lirih yang bercampur isakan, Putri berkata, "Mbak, tolong jangan pernah lupakan Putri ya. Putri pasti akan sangat merindukan Mbak Zira... hikss... hikss..."
Mendengar itu, Zira berusaha menenangkan adik iparnya sambil menahan tangis yang hampir saja pecah. "Sudah ya, Put. Nanti kalau kamu terus menangis begini, aku juga pasti ikut nangis," ujar Zira dengan nada bercanda, meskipun matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Melihat kedua perempuan yang ia sayangi mulai tenggelam dalam keharuan, Nathan mencoba mencairkan suasana dengan cara khasnya. "Eh jangan pada mewek dong. Kan kalau kamu rindu sama Mbak Zira, bisa video call kapan saja," katanya seraya tersenyum untuk menghibur.
Putri menganggukkan kepala sambil berusaha menghapus air matanya. "Iya, Bang. Nanti kalau sudah sampai di Jakarta kabarin ya. Hati-hati di jalan, jangan lupa makan di perjalanan," katanya dengan nada pelan tapi tulus.
Dengan perasaan campur aduk antara haru dan bahagia, Nathan dan Zira pun akhirnya melangkahkan kaki mereka menuju perjalanan baru ke Jakarta, membawa serta kenangan manis bersama keluarga yang mereka tinggalkan sementara waktu. Setiap langkah mereka diiringi doa-doa dari Umi Aisyah dan Putri yang masih melambaikan tangan sambil mencoba menyembunyikan kesedihannya di balik senyuman kecil. Semuanya berharap agar waktu mendekatkan mereka kembali secepat mungkin.
Zira menatap Putri dengan lembut, lalu menjawab dengan suara penuh sayang, "Iya, Putri sayang. Aku juga pasti akan sangat merindukan kamu. Tapi tolong ya, jangan sedih atau menangis lagi. Aku janji akan menghubungimu melalui video call setiap hari supaya kita tetap bisa berbicara dan saling kabar," ujarnya sambil memeluk Putri erat, memberikan rasa hangat dan nyaman.
Di sisi lain, Umi Aisyah turut menambahkan dengan nada yang tenang namun penuh kehangatan, "Iya, nak. Hati-hati ya selama di perjalanan nanti. Jangan lupa juga titipkan salam Umi untuk mama dan Aryan di sana. Semoga semuanya baik-baik saja," ucapnya sambil menatap anak-anaknya dengan penuh kasih.
Nathan pun tersenyum kecil melihat suasana yang penuh emosional itu, lalu menyahut, "Iya, Umi, jangan khawatir. Kami akan segera berangkat sekarang. Dan Putri," dia berhenti sejenak menatap adiknya yang tampak masih berkaca-kaca, "jangan lagi menangis, ya. Mbak Zira sudah bilang tadi bahwa dia juga pasti akan kangen sama kamu seperti kamu kangen sama dia." Senyuman hangat Nathan seolah menenangkan suasana sebelum mereka benar-benar pergi.
Putri perlahan menganggukkan kepala, berjuang keras untuk meredam tangis yang hampir pecah dari dalam dirinya. Dengan suara serak dan hampir nyaris tak terdengar, ia berkata dengan penuh haru, "Iya, Bang... Mbak Zira... hati-hati di jalan ya." Tatapannya penuh dengan perasaan yang sulit dijelaskan, campuran antara sedih dan harapan agar semuanya berjalan baik-baik saja.
Mendengar itu, Zira tersenyum lembut meskipun ia sendiri terlihat enggan berpisah. Ia membalas sambil mengulurkan tangan seolah menggapai dari kejauhan, "Iya, Put. Aku akan hati-hati di perjalanan. Nih, aku kirim ciuman buat kamu dari jauh," katanya dengan nada manis, lalu melayangkan gestur ciuman ke udara ke arah Putri.
Di samping Zira, Nathan yang sudah bersiap membantu mempercepat pergerakan mereka menyentuh lembut tangan Zira untuk mengingatkan waktu yang semakin mendesak. "Iya, kita harus berangkat sekarang," ujarnya, nadanya tenang tetapi tegas. Setelah itu, ia menoleh pada Putri yang masih berdiri mematung di ambang pintu. "Putri, kami pergi dulu ya. Ingat, jaga diri baik-baik di sini," imbuh Nathan dengan penuh perhatian.
Dari sisi lain ruangan, terdengar suara Umi Aisyah yang juga menyampaikan pesan hangatnya untuk keberangkatan mereka. "Iya, sayangku. Hati-hati di jalan ya. Semoga kalian sampai tujuan dengan selamat," ucap Umi dengan senyuman lembut yang sarat kasih sayang. Sebuah doa tersemat dalam setiap kata-katanya.
Setelah memberikan salam perpisahan itu, Zira dan Nathan pun akhirnya melangkahkan kaki menuju mobil yang sudah menunggu di depan rumah. Di belakang mereka, berdiri Putri yang tetap terpaku di ambang pintu, matanya nanar menatap punggung kedua orang yang disayanginya itu makin menjauh. Air mata kini menggantung di pelupuknya, berkilauan terkena cahaya pagi.
Sesaat sebelum membuka pintu mobil, Zira spontan berbalik badan dan kembali melambaikan tangannya ke arah Putri sambil tersenyum lebar meski dihiasi sedikit kesedihan. "Dadah, Put! Aku kirim ciuman lagi ya!" serunya ceria, sekali lagi menggerakkan tangannya seolah melemparkan ciuman yang mengudara.
Putri pun tak kuasa menahan tangisnya lebih lama. Namun demikian, ia tetap mencoba memasang wajah tegar sembari melambaikan tangan sebagai balasan terakhir. Ketika kendaraan mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan, Putri masih berdiri di tempatnya dengan sejuta rasa yang bercampur aduk memenuhi hatinya. Langit pagi itu menjadi saksi perpisahan sementara yang penuh dengan emosi mendalam.
Nathan dengan sigap membuka pintu mobil dan merendahkan tubuhnya sedikit untuk membantu Zira masuk dengan nyaman ke dalam kendaraan. Setelah memastikan Zira sudah duduk dengan aman, ia menutup pintu, bergegas menuju sisi kemudi, dan mengambil tempat di sebelahnya. Suasana terasa hangat meskipun malam mulai menyelimuti. Sembari memutar kunci dan menghidupkan mesin mobil, Nathan menoleh sejenak ke arah Zira sambil berkata dengan nada tenang, "Baiklah, kita berangkat sekarang."
Zira, yang masih setengah termenung, melambaikan tangan dengan pelan ke arah Putri. Tatapan matanya mengikuti sosok saudara perempuannya itu hingga akhirnya bayangan Putri lenyap di balik keremangan malam. Nathan, merasakan atmosfer hening yang tiba-tiba muncul di dalam mobil, melirik Zira dan bertanya dengan suara lembut yang sarat dengan perhatian, "Kamu nggak apa-apa? Semuanya baik-baik saja, kan?" Tersentuh oleh kepeduliannya, Zira mengangguk kecil sembari menarik napas panjang, lalu menjawab dengan senyuman yang menenangkan, "Iya kok, Mas. Aku baik-baik aja. Nggak usah khawatir."
Melihat senyum Zira yang dipaksakan namun tetap anggun, Nathan tersenyum kecil dan meraih tangannya dengan lembut. Kehangatan yang terpancar dari genggaman itu seolah menjadi penghubung antara kegelisahan keduanya. Dengan nada suara yang lebih pelan namun penuh ketulusan, Nathan berkata, "Aku tahu kamu seorang perempuan yang kuat, Sayang. Tapi tetap aja, aku nggak bisa berhenti khawatir sama kamu. Aku cuma pengen kamu tahu kalau aku ada di sini buatmu."
Zira mendengarkan setiap kata itu seperti musik penghantar dalam perjalanan malam mereka. Ia menatap Nathan dengan pandangan penuh kasih sayang dan membalas sambil meremas tangannya pelan, "Aku ngerti, Mas. Aku juga begitu. Tapi mungkin aku lebih khawatir sekarang sama Putri... setelah semua yang baru aja terjadi." Suaranya lirih, penuh kehangatan dan rasa peduli.
Setelah percakapan singkat itu, kesunyian menyelimuti mereka berdua. Namun, keheningan itu bukan sesuatu yang canggung atau tak nyaman itu adalah keheningan yang dipenuhi oleh pemahaman dan rasa saling menguatkan. Tanpa perlu kata-kata lagi, mereka menikmati perjalanan panjang menuju Jakarta. Gemerlap lampu kota dari kejauhan perlahan mulai terlihat di cakrawala, seolah menyambut mereka pulang setelah hari yang penuh cerita dan emosi.