NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Langit yang Terbakar dan Tangisan Tak Bersuara

Fajar di Kerajaan Valeria menyingsing dengan lambat. Kabut tipis masih menyelimuti jalanan berbatu yang mulai berdenyut oleh aktivitas perniagaan. Di dalam kamar penginapan Bulan Sabit Berdarah, Ajil berdiri di depan cermin. Ia menyentuh pipi kanannya. Sebuah garis luka tipis yang sudah menutup berkat sihir penyembuhan Erina dan Mana Tak Terbatas miliknya masih meninggalkan jejak merah. Itu adalah pengingat visual bahwa di dunia ini, kelengahan satu milidetik berarti kematian.

Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya telah memperbaiki diri dari robekan sabit Mantis semalam. Kain hitam legam itu kembali tanpa cela. Ajil menuruni tangga, di mana Erina, Rino, dan Richard telah menunggunya di meja sudut.

Pagi ini, mereka menyantap Roti Panggang Keju Manticore—roti gandum tebal yang diisi dengan keju leleh beraroma tajam dan gurih, disajikan bersama Teh Hitam Pegunungan Es yang uapnya menenangkan saraf. Rino dan Richard makan dengan tertunduk, masih diliputi rasa segan yang luar biasa setelah menyaksikan pertarungan mengerikan semalam. Mereka sadar bahwa mereka tak lebih dari beban, namun tekad mereka untuk terus mengikuti bayangan Ajil telah mengakar kuat.

"Makanlah yang banyak," ucap Ajil tiba-tiba, memecah keheningan yang kaku. Suaranya datar, namun tak ada lagi nada mengusir di dalamnya. "Tulang kalian terlalu rapuh untuk menahan serangan monster Kelas S."

Rino mendongak, matanya berbinar. "B-Baik, Tuan Ajil! Kami akan berlatih lebih keras!"

Setelah sarapan, keempatnya berjalan menuju Guild Petualang Valeria. Begitu mereka melangkah masuk, keheningan hormat menyelimuti aula. Ajil berjalan lurus menuju meja resepsionis, di mana Karin sedang berjaga.

Melihat Ajil datang, wajah Karin yang tegas seketika melembut. Matanya berbinar, dan seperti biasa, rona merah yang sangat pekat langsung menjalar di kedua pipinya. Namun, saat tatapan Karin menangkap bekas luka tipis di pipi kanan Ajil, kepanikan langsung menggantikan rona merahnya.

"T-Tuan Ajil! W-Wajah Anda!" Karin setengah berteriak, mencondongkan tubuhnya ke depan meja kaca mahoni dengan tangan bergetar, nyaris menyentuh pipi pria itu. "A-Anda terluka! Siapa yang berani melukai Anda?! S-Saya akan segera memanggil penyembuh tingkat tinggi Guild—"

Brak!

Erina melangkah maju, menepis udara di antara tangan Karin dan wajah Ajil. Mata zamrud sang High Elf itu berkilat penuh ancaman, sementara senyum di bibirnya memancarkan aura arogansi yang membekukan.

"Turunkan tangan kasarmu itu, Resepsionis Manusia," desis Erina dengan nada merdu yang berbisa. "Aku adalah penyembuh pribadinya. Kulitnya sudah kembali sempurna di bawah sihir angin suciku. Tugasmu hanyalah mengurus kertas-kertas kotor ini, bukan mencampuri urusan fisik pria yang berjalan di sampingku."

Karin menggertakkan giginya. Ia menarik tangannya kembali, wajahnya memerah antara rasa malu dan cemburu yang membara. Perang dingin kembali pecah.

"Sebagai staf Guild, kesehatan petualang Kelas S adalah prioritas saya, Nona Elf yang terhormat," balas Karin dengan nada sinis, menekan kata terakhirnya. "Sihir Anda mungkin hebat, tapi terkadang perawatan manusia jauh lebih... hangat.".

Erina tertawa meremehkan, memutar bola matanya. "Kehangatan manusia? Maksudmu kelemahan yang rapuh? Jangan membuatku tertawa."

Ajil tidak memedulikan pertikaian kekanak-kanakan itu. Ia meletakkan karung berisi Inti Bayangan Eksekutor di atas meja. "Proses ini. Aku butuh uangnya dicairkan ke sistemku."

"B-Baik, Tuan Ajil," Karin buru-buru menunduk, menghindari tatapan tajam Erina, dan mulai memproses bukti misi tersebut dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Setelah urusan Guild selesai, mereka melangkah keluar. Langit Valeria yang tadinya cerah, tiba-tiba tertutup oleh bayangan raksasa. Angin panas mendadak berhembus kencang, membawa bau belerang dan abu vulkanik yang sangat pekat, jauh lebih pekat daripada Kawah Api Penyucian.

[SISTEM: PERINGATAN BENCANA KERAJAAN! ANCAMAN PEMUSNAHAN MASSAL TERDETEKSI!]

[Nama: Naga Api Neraka (Hellfire Dragon)]

[Level: 115]

[Kelas: SS (Monster Legendaris)]

Suara dentang lonceng peringatan berbunyi bersahutan dari menara-menara penjaga kastel. Para petualang dan warga sipil di jalanan menatap ke langit dengan wajah pucat pasi.

Seekor naga bersisik merah darah legam dengan rentang sayap mencapai lima puluh meter melayang di atas kota Valeria. Matanya menyala kuning terang, dan dari sela-sela sisiknya, lahar cair terus menetes, membakar atap-atap rumah penduduk yang kejatuhan tetesannya. Ini adalah Naga Api Neraka, monster yang konon hanya terbangun setiap ratusan tahun sekali untuk memakan separuh populasi benua.

"Dewa-dewa Ridokan..." bisik Leon, Sang Master Guild, yang baru saja berlari keluar dari gedung dengan pedang cahayanya terhunus. Wajah jenderal perang itu pias. "Level 115... Monster ini akan meratakan Valeria menjadi lautan abu!"

Sang naga meraung. Suaranya memecahkan kaca-kaca jendela di seluruh penjuru kota. Ia menukik turun ke arah distrik perumahan di dekat gerbang timur, membuka rahangnya lebar-lebar untuk menyemburkan api neraka.

Ajil, Erina, Rino, dan Richard berlari kencang menuju lokasi jatuhnya sang naga. Di tengah kepanikan massal, orang-orang berlarian saling injak. Gerobak-gerobak hancur.

Tepat di jalanan setapak yang akan menjadi pusat semburan api sang naga, Ajil melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Di tengah jalanan yang ditinggalkan, seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun berpakaian lusuh sedang terduduk menangis. Di pelukannya, ia melindungi erat-erat adik perempuannya yang baru berusia dua tahun. Anak laki-laki itu gemetar hebat, menatap kematian yang datang dari langit tanpa bisa berlari lagi karena kakinya terkilir.

Deg.

Jantung Ajil berhenti berdetak. Waktu seakan melambat. Siluet anak laki-laki dan balita perempuan itu tumpang tindih dengan wajah Arzan dan Dara di dalam ingatannya. Ingatan saat Arzan memeluk Dara di atas tikar pandan pada hari ia pergi mencari kerja.

Napas Ajil tercekat. Trauma masa lalunya menghantamnya dengan sangat keras. Udara di sekitarnya terasa hampa. Ia ingin melesat, tapi jaraknya masih terlalu jauh. Semburan api neraka bersuhu puluhan ribu derajat itu telah keluar dari mulut sang naga, meluncur deras layaknya tsunami api ke arah kedua anak malang tersebut.

"TIDAK!!" Ajil berteriak parau.

Namun, sebelum api itu menyentuh kedua anak tersebut, dua bayangan melesat melewati Ajil.

TRANGGG!!

WUUUSSSHH!

Rino, sang raksasa berzirah merah, melompat dan berdiri tepat di depan kedua anak itu. Ia menancapkan pedang besarnya ke tanah sebagai pasak, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menjadikan punggung dan zirah beraknya sebagai perisai daging absolut.

Di detik yang sama, Richard meluncur dan berdiri di depan Rino. Ia memutar tombak esnya dengan kecepatan gila, menguras seluruh sisa mana di dalam nyawanya untuk menciptakan dinding es abadi setebal tiga meter.

BLAAAAARRRR!!!

Tsunami api neraka itu menghantam pertahanan Richard dan Rino.

Dinding es Richard mencair dan menguap dalam hitungan dua detik. Api neraka itu menerobos, menghantam zirah merah Rino. Zirah baja yang tebal itu seketika memerah membara, lalu perlahan meleleh. Kulit Rino melepuh, dagingnya terbakar. Richard yang berada di depannya menjerit kesakitan saat kulit lengannya hangus hingga menghitam.

Namun, mereka berdua tidak bergeser satu milimeter pun. Mereka menggertakkan gigi, berteriak menahan siksaan neraka demi melindungi dua anak yang berlindung di bawah kaki mereka.

Melihat pemandangan itu, dinding es di dalam hati Ajil yang telah membeku selama setahun terakhir, hancur berkeping-keping. Pria yang tak pernah menunjukkan emosi apa pun selain amarah dan kekosongan itu... matanya kini memerah. Pelupuk matanya memanas. Setetes air mata, air mata pertama sang algojo sejak kematian istrinya, jatuh membasahi pipinya yang kasar.

Erina yang berdiri di sebelah Ajil melihat air mata itu. Sang peri menahan napasnya, hatinya ikut teriris melihat keputusasaan dan keindahan dari sisi rapuh pria yang dicintainya.

Di tengah deru api, Rino menoleh ke belakang dengan wajah separuh hangus terbakar, menatap Ajil sambil tersenyum menahan sakit yang tak terbayangkan.

"K-Kami tidak lari, Tuan..." erang Rino, darah mendidih keluar dari sudut mulutnya. "Kami... melindunginya untuk Anda!"

Air mata Ajil menguap oleh hawa panas yang meledak dari dalam tubuhnya. Kesedihannya telah bermutasi menjadi kemurkaan murni yang melampaui batas dimensi.

"Persahabatan sejati bukanlah tentang siapa yang paling kuat di medan perang," suara Ajil bergema, rendah dan bergetar hebat, menembus deru api naga. Ia berjalan maju selangkah demi selangkah. "Melainkan tentang siapa yang rela membakar tubuhnya sendiri menjadi abu, hanya agar kau tidak perlu lagi merasakan kehilangan."

VZZZMMMMMM!!!

Pusaran dimensi terbuka lebar di samping Ajil. Ia menarik Pedang Petir Hijau Abadi dengan kasar. Begitu bilah zamrud itu keluar, segel kedua yang telah terbuka merespons kemarahan mutlak tuannya.

[SISTEM: Otoritas Segel Kedua Diaktifkan: 'Sayap Badai Kehancuran'.]

Aura hijau pekat dan petir ungu tidak hanya menyelimuti pedangnya, tapi meledak keluar dari punggung Ajil, membentuk sepasang sayap petir raksasa yang menyilaukan mata.

Bumi bergetar. Langit yang dipenuhi abu vulkanik tersapu bersih oleh tekanan mana yang meluap dari tubuh Ajil.

"MUNDUR!" raung Ajil.

Ia melesat ke depan dengan kecepatan yang merobek ruang hampa. Sayap petirnya mengepak satu kali, menciptakan dentuman sonik yang menghancurkan aspal batu di bawahnya.

Dalam sepersekian milidetik, Ajil telah berada tepat di depan Richard dan Rino. Ia mengayunkan pedangnya ke depan.

ZRAAAASHHH!

Tebasan God-Tier itu membelah tsunami api neraka bersuhu puluhan ribu derajat itu menjadi dua bagian yang terpisah rapi, melewatkan api itu di sisi kiri dan kanan mereka tanpa menyentuh Rino, Richard, maupun kedua anak yang menangis di belakang mereka.

Sang naga terkejut, menghentikan semburan apinya. Mata kuningnya menatap pria kecil bersayap petir yang baru saja membelah nafas apinya dengan mudah.

Ajil menoleh sedikit ke arah Rino dan Richard yang kini ambruk di tanah dengan luka bakar parah. Mata Ajil tidak lagi kosong; matanya kini dipenuhi oleh kehangatan seorang sahabat dan murka seorang ayah.

"Kalian melakukan tugas kalian dengan baik," ucap Ajil pelan. "Sekarang, biarkan aku yang membunuh kadal ini."

Ajil mengepakkan sayap badai kehancurannya. Tubuhnya terangkat dari tanah, melesat ke angkasa layaknya komet berwarna hijau dan ungu yang menantang langit.

Pertarungan epik udara pun dimulai.

Naga Api Neraka meraung marah. Ia mengepakkan sayap besarnya, menciptakan pusaran angin tornado yang bercampur lahar, mencoba menyedot Ajil ke dalamnya.

Ajil tidak menghindar. Ia terbang lurus menembus pusaran lahar itu. Setelan Malam Abadi dan aura segel keduanya menangkis setiap tetes lahar. Ajil muncul tepat di atas kepala sang naga.

"Tebasan Pembelah Batas!"

Ajil mengayunkan pedang zamrudnya ke bawah. Bilah itu menghantam sisik naga di bagian leher yang konon lebih keras dari mithril.

TRANGGG!!

Sisik itu retak. Darah naga yang mendidih menyembur ke udara. Sang naga melolong kesakitan, memutar tubuhnya di udara, dan menghantamkan ekor raksasanya yang berduri api ke arah punggung Ajil.

BUMMM!

Hantaman itu sangat keras, cukup untuk meratakan sebuah bukit. Namun, sayap petir di punggung Ajil meredam benturan tersebut. Ajil terpental sejauh seratus meter di udara, namun ia segera menyeimbangkan tubuhnya.

Di bawah sana, seluruh warga Kerajaan Valeria, termasuk Master Leon, Karin, dan Erina, menatap ke angkasa dengan mulut terbuka. Mereka menyaksikan pertarungan mitologi; seorang manusia bersayap badai beradu kekuatan murni dengan Naga Level 115.

Sang naga mengumpulkan seluruh inti energinya. Dada monster itu memerah terang. Ia bersiap menembakkan Supernova Neraka, sebuah bola api raksasa yang bisa memusnahkan separuh kota.

"Kau terlalu lama menatap ke bawah," desis Ajil dari kejauhan.

Ajil menyalurkan Mana Tak Terbatas-nya secara gila-gilaan ke dalam bilah Pedang Petir Hijau Abadi. Sayap di punggungnya membesar dua kali lipat, memancarkan fluktuasi gravitasi jiwa dan petir ungu secara bersamaan. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke atas kepalanya.

Ujung pedang itu menciptakan pusaran badai petir yang menyedot awan dan listrik statis di udara, membentuk sebuah pedang energi raksasa berwarna zamrud dan ungu yang panjangnya mencapai ratusan meter di langit Valeria.

"MATI KAU, KADAL SIALAN!" raung Ajil.

Ia mengepakkan sayapnya ke depan dengan kecepatan cahaya, melesat lurus ke arah sang naga yang baru saja melepaskan bola Supernova Neraka-nya.

Ajil tidak menghindar. Ia menebaskan pedang energi raksasanya lurus ke bawah, membelah bola api raksasa itu, dan terus melaju hingga pedang aslinya menembus tengkorak keras sang Naga Api Neraka.

JLEEEB!!

Pedang God-Tier itu tertanam dalam di kepala sang naga. Ajil menahan tubuhnya di atas dahi monster itu, lalu melepaskan kekuatan destruktif terdalam dari senjatanya.

ZDAAAAAAAARRRRRRR!!!!!!!

Ledakan energi yang melampaui nalar meledak dari dalam kepala naga tersebut. Langit Ridokan seolah terbelah. Tubuh raksasa Naga Api Neraka itu meledak di angkasa, bukan seperti ledakan darah yang menjijikkan, melainkan meledak seperti kembang api raksasa.

Percikan api berwarna merah, hijau, dan ungu menyebar ke segala penjuru langit sore Valeria. Bunga-bunga api yang indah namun mematikan itu menerangi seluruh wilayah kerajaan yang sangat luas, menciptakan pemandangan epik yang akan diceritakan selama ribuan generasi. Hujan abu dan cahaya turun perlahan bagai salju di musim panas.

[SISTEM: Berhasil mengeksekusi Naga Api Neraka (Lv.115). EXP Absolut Ditambahkan!]

[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 105.]

[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 110.]

[Mendeteksi drop material Legendaris: 1x Jantung Api Neraka (Kelas SS), 1x Sisik Induk Naga. Disimpan ke Cincin Ruang.]

Ajil membiarkan tubuhnya melayang turun secara perlahan di bawah rintikan cahaya kembang api naga tersebut. Sayap petirnya memudar seiring kakinya menyentuh aspal batu Valeria.

Kerumunan warga dan petualang terdiam membisu selama beberapa detik, sebelum akhirnya sorak-sorai yang menggelegar memecah keheningan. Mereka meneriakkan nama Ajil, menangis bahagia karena terselamatkan dari kiamat.

Namun, Ajil tidak memedulikan sorakan itu. Ia menyimpan pedangnya, lalu berlari kecil menghampiri Rino dan Richard yang terkapar di tanah, dirawat oleh sihir angin suci Erina dan sihir penyembuhan darurat dari para staf Guild.

Kondisi kedua pria itu sangat mengenaskan. Kulit mereka melepuh, dan zirah mereka hancur. Namun, mereka masih bernapas, dan kedua anak kecil yang mereka lindungi selamat tanpa luka gores sedikit pun, kini menangis memeluk ibu mereka yang baru saja berlari mendekat.

Ajil berlutut di sebelah Rino. Tangan kasarnya yang masih memercikkan sisa petir menyentuh pundak raksasa yang terluka itu.

Rino membuka matanya yang bengkak, memaksakan sebuah senyuman. "A-Apakah kami... lulus ujian menjadi anjing penjaga Anda, Tuan...?"

Ajil menatap Rino dan Richard bergantian. Dinding es di matanya benar-benar runtuh, memancarkan kehangatan dan rasa hormat yang mendalam. Ia menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak," jawab Ajil, suaranya parau. Ia menepuk pundak Rino dengan lembut. "Anjing penjaga hanya berlari demi sepotong tulang. Kalian berdiri untuk melindungi nyawa. Mulai hari ini... kalian berdua adalah sahabatku. Kalian adalah anggota dari Algojo Dimensi.".

Mendengar kata-kata itu, air mata kebahagiaan mengalir dari mata Rino dan Richard yang terluka. Mereka menangis tersedu-sedu, bukan karena rasa sakit fisik, melainkan karena rasa haru telah diakui oleh pria yang paling mereka kagumi.

Di sebelah Ajil, Erina menghentikan sihir penyembuhannya sesaat. Ia menutupi mulutnya dengan kedua tangan, air mata ikut mengalir di wajah cantiknya. Ia melihatnya. Ia melihat pria berhati es yang menolak dunia itu, akhirnya membuka pintu hatinya untuk manusia lain.

"Luka di jiwamu mulai menyembuh, Ajil," bisik Erina dalam hati, tersenyum dengan kebahagiaan yang membuncah. "Dan aku berjanji, aku akan terus berada di sini untuk memastikan senyuman itu tidak akan pernah hilang lagi."

Di bawah langit Valeria yang masih dihiasi sisa-sisa kembang api naga, sebuah ikatan persahabatan yang tak terpisahkan telah lahir. Sang Algojo Dimensi tidak lagi berjalan sendirian. Ia kini memiliki pedang dan perisai yang akan menemaninya membakar jalan menuju Prasasti Dimensi, demi sebuah janji untuk pulang ke pelukan anak-anaknya.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!