NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: BUNGA SEDAP MALAM

Suara isakan itu bukan datang dari Alisa. Ia duduk di pangkuan Ayahnya, Kapten Cakrawala Pradipta Yudha, merasa tubuhnya kaku di antara keramaian orang dewasa. Ia baru berumur sepuluh tahun, dan bau yang paling dominan dalam ingatannya hari itu adalah bau bunga sedap malam yang menusuk, bercampur dengan bau minyak kayu putih dari ibu-ibu perwira yang terus berdatangan.

Alisa tahu Ibunya, Shifa, sudah pergi. Kalimat itu diucapkan oleh Neneknya pagi tadi, "Ibumu sekarang sudah damai di tempat yang indah." Tapi bagi Alisa, 'tempat yang indah' itu tidak masuk akal. Tempat indah yang Alisa tahu hanyalah taman belakang rumah dinas mereka, tempat Ibunya menanam bunga mawar dan sering membacakan dongeng.

Ayahnya, Cakra, adalah satu-satunya benteng di ruangan penuh duka ini. Seragam hijaunya tampak begitu tegap, bahkan di saat yang paling hancur sekalipun. Wajahnya, yang biasa tegas saat memberi perintah di markas, kini hanya menjadi topeng datar yang dingin. Ia tidak menangis. Tidak setetes pun.

Alisa mencengkeram saku seragam Cakra. Jemarinya yang kecil merasakan tekstur kasar kain itu.

Sejak subuh, Cakra hanya berdiri. Ia menyalami setiap tamu yang datang, menjawab setiap ucapan belasungkawa dengan suara yang serak dan parau, "Terima kasih, mohon doanya."

Tante Mia, adik mendiang Shifa, datang mendekat dengan mata sembab. "Cakra, kamu harus makan. Dan Alisa, kasihan dia seharian belum minum susu. Ayo Tante suapi."

Cakra menggeleng pelan. "Kami baik-baik saja, Mia. Kami akan tunggu sampai semua selesai."

Tante Mia akhirnya menarik Alisa dari pangkuan Cakra. "Kamu itu anak yang kuat, Nak. Tapi kamu harus jaga Ayahmu. Jangan biarkan dia terus berdiri begini."

Alisa hanya mengangguk kecil. Ia memperhatikan Ayahnya ketika ia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air. Cakra terlihat seperti robot. Setiap gerakannya diatur, dipaksakan, tanpa ada emosi yang bocor. Alisa merasa kasihan, bukan karena Ibunya pergi, tapi karena ia melihat Ayahnya berjuang sendirian.

Saat keramaian mulai surut, menjelang waktu Ashar, hanya tersisa beberapa rekan dekat Cakra dan keluarga inti. Cakra akhirnya duduk di sudut sofa, bersandar pada bantal, menarik napar panjang.

Alisa duduk di sampingnya. Ia meraih tangan Cakra yang besar dan penuh urat. Tangan yang biasa memegang senjata, kini hanya menggenggam kekosongan. Tangan itu terasa dingin.

"Ayah," panggil Alisa pelan.

Cakra menoleh. Alisa menatap mata Ayahnya. Kali ini, tanpa ada yang melihat, di matanya yang tajam itu, Alisa melihat badai. Ada kesedihan yang tak terucapkan, rasa sakit yang terlalu besar untuk dikeluarkan.

"Nak," balas Cakra, suaranya sangat rendah.

"Ayah capek?"

Cakra menggeleng. "Tidak. Ayah hanya... bersyukur."

"Bersyukur untuk apa?"

"Bersyukur karena masih punya kamu, Nak. Kamu itu warisan terindah yang Ibumu tinggalkan." Cakra menarik Alisa, memeluknya erat-erat, menenggelamkan wajah Alisa di bahunya. Bau seragam dan keringat Cakra menjadi satu-satunya aroma aman yang Alisa kenal.

Saat mereka berpelukan, Alisa menangkap momen kecil: Cakra memejamkan mata, dan napasnya bergetar sangat halus. Itu bukan isakan, itu adalah upaya keras untuk menahan segala yang ada di dalam dadanya.

Momen itu membuat Alisa mengerti sesuatu yang melampaui usianya. Ibunya mungkin sudah pergi, tapi Ayahnya yang masih ada. Dan kini, Ayahnya adalah orang yang paling rentan.

"Ayah," bisik Alisa, menatap lurus ke arah bingkai foto Shifa yang diletakkan di atas peti mati. "Ayah jangan sedih, ya."

Cakra membuka matanya. "Ayah tidak sedih, Nak. Ayah tegar."

"Iya, Ayah tegar. Tapi kalau Ayah tegar sendirian, nanti Ayah lelah," kata Alisa polos. Ia kemudian meniru kalimat Ayahnya yang pernah diucapkan saat ia ketakutan di tengah badai. "Aku akan jadi back-up Ayah."

Cakra menatap Alisa. Matanya dipenuhi rasa bangga yang menyakitkan. Ia menunduk, mencium kening Alisa lama sekali.

"Kamu ksatria Ayah," bisik Cakra, suaranya tercekat. Ia menggunakan kalimat itu lagi, kali ini bukan untuk menguatkan Alisa, tetapi untuk menguatkan dirinya sendiri. "Ksatria tidak menangis untuk hal yang sudah takdir."

Alisa mengangguk, ia menelan gumpalan di tenggorokannya. Ia tahu, mulai sekarang, ia tidak boleh lagi menjadi anak yang cengeng. Ia harus menjadi 'ksatria' yang tidak menangis, yang tidak rewel, yang tidak menambah beban pada Ayahnya yang sudah sangat berat.

Ia berjanji pada dirinya sendiri:

Ia tidak akan menangisi Ibunya di depan Ayahnya. Ia akan mandiri, sehingga Cakra tidak perlu khawatir meninggalkannya saat bertugas.Ia harus kuat, demi Cakra.  Janji itu terasa berat, seperti baju zirah yang harus ia kenakan mulai hari ini. Tapi ia harus melakukannya. Sebab di mata Alisa, yang kini benar-benar hancur dan rentan bukan lagi Ibunya yang sudah damai. Melainkan pria berseragam loreng di sampingnya, satu-satunya tempat ia pulang, yang kini berdiri di ujung jurang kesedihan.

Malam itu, setelah semua tamu pergi dan rumah kembali sunyi senyap, Cakra menggendong Alisa yang tertidur ke kamar. Ia kemudian kembali ke ruang tamu.

Alisa, yang setengah sadar, mendengar suara langkah kaki Ayahnya kembali ke sana. Ia memaksakan diri bangkit. Mengintip dari balik pintu kamar.

Cakra duduk sendirian di sofa, di sudut yang sama tempat ia bersandar tadi sore. Ia memegang bingkai foto Shifa. Cahaya temaram dari lampu teras jatuh di wajahnya, menunjukkan setiap garis kelelahan dan kesedihan.

Cakra memeluk foto itu ke dadanya. Dan untuk pertama kalinya sejak kematian Shifa, Cakra tidak lagi berpura-pura.

Di ruangan yang sepi itu, di hadapan foto istrinya, Cakra menangis. Bukan tangisan keras, tapi tangisan tanpa suara. Bahunya bergetar hebat. Ia mencium foto itu berkali-kali, seperti orang yang kehilangan pegangan.

Alisa, di balik pintu kamar, menahan napas. Air matanya kini tumpah, bukan karena ia sedih Ibunya meninggal, tetapi karena ia melihat betapa Ayahnya benar-benar hancur. Ia tahu, di dunia militer Ayahnya, kelemahan dilarang. Tapi di sana, Ayahnya sedang berduka, sendirian.

Alisa kembali ke tempat tidur, ia memeluk boneka pemberian Ibunya dan menyeka air mata. Janji itu semakin kuat. Ia harus menjaga rahasia ini. Rahasia bahwa Kapten Cakrawala Pradipta Yudha, sang perwira yang tegar dan berwibawa, pernah menangis di tengah malam.

Sejak saat itu, Alisa tahu, tugasnya bukan hanya menjadi putrinya. Tugasnya adalah menjadi ksatria pelindung, yang melindungi kelemahan Ayahnya. Dan ia akan melakukan apa pun agar Ayahnya tidak pernah hancur lagi. Meskipun itu berarti ia harus memendam kesedihannya sendiri selamanya.

1
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!