Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.
Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.
Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ponakan Kaisar
Yan bergegas ke dapur begitu Wu Zetian menyebutkan peralatan makan. Langkahnya tergesa, seolah takut membuat gadis itu menunggu terlalu lama. Di dapur kecil itu, Yan bergerak cekatan, meski jelas terlihat bahwa dapur tersebut masih baru digunakan. Ia mengambil piring-piring tanah liat yang sederhana namun bersih, sumpit kayu yang tersusun rapi, serta sebuah kendi air yang masih dingin.
Tak sampai dua menit, Yan sudah kembali. Napasnya sedikit terengah, namun wajahnya berseri.
“Kak, semuanya sudah aku bawa,” ucapnya sambil menata peralatan makan di atas tikar satu per satu dengan hati-hati, seakan benda-benda itu adalah barang berharga.
Wu Zetian memandangnya dengan senyum tipis yang hangat.
“Oke siap. Karena semuanya sudah lengkap, sudah saatnya kita makan. Silahkan makan semuanya.” ucap Wu Zetian ceria sambil mempersilahkan semuanya untuk mengambil piring mereka masing-masing.
Aroma makanan seketika memenuhi ruangan kecil itu. Ayam bakar dengan bumbu meresap sempurna mengeluarkan aroma gurih-manis yang menggoda, sayur santan berwarna kuning keemasan tampak lembut dan hangat, telur balado merah menyala dengan sambal yang menggoda, serta cumi asam manis yang aromanya segar dan tajam. Nasi putih mengepul, butirannya pulen dan berkilau.
Mereka bertiga, Yin, Yan, dan Han Lei duduk mengelilingi tikar dengan raut muka yang hampir sama. Yaitu terlihat meneguk air liurnya.
Begitu suapan pertama masuk ke mulut mereka, dunia seolah berhenti sesaat. Yin membeku. Matanya melebar, tangannya berhenti di udara. Ia mengunyah perlahan, lalu menelan dengan perlahan, seakan takut rasa itu menghilang terlalu cepat.
“Ajaib…” ucapnya lirih, hampir berbisik. “Makanan ini sungguh ajaib.”
Yan mengangguk berulang kali, bahkan sebelum sempat menelan suapannya sendiri. “Iya… ini sangat enak sekali. Aku… aku belum pernah makan makanan seperti ini seumur hidupku.”
Han Lei, yang terbiasa dengan jamuan mewah, justru terdiam paling lama. Ia menatap sumpit di tangannya, lalu ke makanan di hadapannya, seolah mencoba memahami apa yang membuat hidangan ini terasa berbeda. Akhirnya ia tersenyum kecil, senyum yang tulus dan jarang muncul di wajahnya.
“Ini luar biasa,” katanya jujur. “Bahkan di tempatku, aku belum pernah memakan makanan seenak ini. Rasanya sungguh sangat enak. Bukan hanya di perut, tapi di sini.” Ia menyentuh dadanya pelan sambil menatap Wu Zetian. “Kau benar-benar jenius, Nona.”
Wu Zetian terkekeh kecil, pipinya sedikit memerah. “Kalian berlebihan,” katanya sambil mengibaskan tangan. “Sudah, cepat habiskan saja. Kalau dingin, rasanya akan berkurang.”
Tak ada lagi percakapan setelah itu. Hanya suara kunyahan, helaan napas puas, dan sesekali dengusan kecil karena kepedasan atau kelezatan. Piring demi piring kosong. Nasi habis tanpa sisa.
“Terima kasih, Kak,” ucap Yin dengan mata berbinar.
“Terima kasih,” sambung Yan cepat, senyumnya lebar.
“Terima kasih banyak, Wu Zetian,” kata Han Lei dengan nada yang lebih serius.
“Ya, sama-sama,” jawab Wu Zetian ringan.
Setelah beristirahat sejenak, Wu Zetian berdiri dan menepuk tangannya perlahan. “Baiklah, sekarang saatnya kita bekerja.”
Ia membuka tas besar dan mulai mengeluarkan pil-pil obat serta bungkusan herbal kering. Aroma khas obat memenuhi ruangan, bercampur dengan sisa aroma makanan.
“Yin, Yan,” katanya sambil menunjuk lemari kayu di sisi kios. “Tolong rapikan obat-obatan ini dan masukkan ke dalam setiap kotak sesuai jenisnya.”
“Siap, Kak! Dilaksanakan!” jawab mereka kompak dengan gaya hormat tangan di depan ubun-ubun dan dada dibusungkan. Keduanya membuat Wu Zetian tertawa kecil.
“Hahaha.. Kalian ini lucu juga ,” katanya sambil tertawa.
Sementara mereka sibuk menyusun obat, Wu Zetian mengeluarkan selembar kain panjang dari dalam tasnya. Kain itu sederhana, namun bersih dan kokoh yang telah ia siapkan dengan baik sebelum berangkat kemari. Ia mengambil sebuah kursi dan hendak memasangnya di depan kios sebagai penanda toko.
Namun sebelum ia sempat naik, Han Lei sudah berdiri di hadapannya.
“Biar aku saja,” katanya sambil mengambil kain itu dengan sigap.
“Tidak perlu, Tuan.” jawab Wu Zetian.
Han Lei tersenyum santai. “Aku juga ingin membantu. Sebelumnya kau sudah membantuku. Jadi supaya impas aku juga akan membantumu. oke?
Wu Zetian menatapnya sejenak, lalu menghela napas pasrah. “Baiklah.”
Tak lama kemudian, spanduk itu terpasang rapi, bergoyang pelan tertiup angin sore.
“Sudah selesai,” ucap Han Lei sambil melompat turun.
“Terima kasih,” balas Wu Zetian.
“Sama-sama,” jawabnya ringan.
Ada keheningan singkat sebelum Han Lei membuka suara lagi. “Boleh aku tahu namamu, Nona?”
“Sudahlah. Tidak perlu seformal itu,” kata Wu Zetian. “Namaku Wu Zetian. Dan kau?”
“Han Lei,” jawabnya sambil sedikit membungkuk. “Salam kenal.”
“Salam kenal,” balas Wu Zetian. Lalu ia mengernyit tipis. “Eh, tunggu.. Han Lei?"
"Iya?"
"Jika margamu adalah Han, maka kalau aku tidak salah tebak, berarti kau berasal dari Kekaisaran Han bukan?”
Han Lei tertawa kecil, agak gugup. “Iya. Tapi aku hanyalah anak kemanakan kaisar Han.”
Wu Zetian mengangguk. “Ah, begitu.”
“Dan yaa.. Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.
“Hanya berjalan-jalan,” jawab Han Lei singkat.
Wu Zetian tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk, seolah menerima jawaban itu sepenuhnya. Mereka bekerja hingga sore tanpa terasa. Kios itu kini benar-benar siap dibuka.
Namun dari kejauhan, dua pasang mata mengamati.
Di atas atap, seorang prajurit bayangan berkata dengan pelan, “Sepertinya Tuan menyukai gadis itu. Aku belum pernah melihatnya sedekat ini dengan wanita lain kecuali Permaisuri.”
Di sisi lain jalan, Tang Ming berdiri dengan wajah muram. Matanya terpaku pada sosok Wu Zetian dan pria di sampingnya. Ia nampak cemburu dengan pria yang berada di samping Wu Zetian. Awalnya ia ingin mendekati mereka. Namun saat ia melihat wajah pria itu dengan jelas, ia menghentikan langkahnya.
“Itu… Han Lei?” gumamnya pelan.
Dadanya terasa panas. Ia ingin maju dan melabrak Han Lei dan melemparkannya pertanyaan mengenai ada hubungan apa dia dengan Wu Zetian. Namun ia mengurungkan niatnya.
Han Lei adalah sahabat baik Tang Ming sejak kecil. Kedatangan Han Lei saat ini adalah tidak lain dan tidak bukan hanya untuk bertemu dengan sahabat kecilnya. Namun karena insiden yang terjadi padanya kemarin, ia memutuskan untuk menunda pertemuannya dengan Tang Ming.
_____________
Dengan sihir angin, Tang Ming mendengarkan percakapan mereka. Saat Han Lei mengaku kepada Zetian bahwa dia “hanya anak kemanakan”, Tang Ming tertawa dalam hati.
Dasar pembohong.
“Sepertinya kau akan bernasib sama denganku,” batinnya sinis melihat sahabatnya itu dekat dengan Wu Zetian. “Tunggu saja sampai Zetian tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Ia tersenyum miring.
“Bajingan,” gumamnya. "Berani sekali dia mendekati gadis pilihanku." Namun di balik senyum narsis itu, ada kegelisahan yang tak bisa ia tepis.
_____________
Yuhuuu~🌹
Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author💖
See you~💓