Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Prang!
Bunyi piring keramik yang pecah menghantam lantai dapur memecah ketenangan. Pecahannya berhamburan ke segala arah, serupa dengan keadaan batin Aisya yang telah lama porak-poranda.
Marni, ibu mertuanya, berdiri tegak di depan meja makan, napasnya memburu, matanya menatap tajam penuh kemarahan yang ditujukan kepada Aisya.
“Kamu pikir aku ini kambing, hah?! Tahu, tempe, kangkung Setiap hari menunya ini melulu! Apa-apaan, sih?!” seru Marni.
Aisya gemetar. Jantungnya berdenyut nyeri. Tangannya terulur perlahan, mulai mengumpulkan pecahan piring dengan hati-hati.
Perlakuan buruk dan cacian Ibu mertuanya telah menjadi rutinitas yang menyakitkan. Ia sudah kebal, namun setiap kata yang terucap tetap terasa menusuk dan menghancurkan harga dirinya.
“Dasar istri nggak becus! Masak begini aja nggak bisa enak! Pantesan aja nggak bisa kasih cucu! Mandul!”
Kata mandul selalu menjadi senjata andalan Marni. Wanita itu tidak tahu jika ucapannya menghantam telak ke ulu hati Aisya.
Aisya menggigit bibirnya, berusaha keras menahan luapan air mata yang sudah menggenang.
Hendra, suaminya, yang sedari tadi hanya terdiam, akhirnya angkat bicara.
“Bu, sudah, Bu. Aisya sudah capek. Jangan ngomong begitu, Bu.”
“Oh, sekarang kamu belain dia?!” Ibu Marni melotot ke arah putranya. “Kamu ini kenapa, Hendra?! Baru dua tahun nikah sama perempuan mandul ini, kamu sudah berani durhaka sama Ibu?! Kenapa kamu malah bela istri yang nggak ada gunanya ini?!”
Mendengar suaminya dituduh durhaka hanya karena membelanya, pertahanan emosi Aisya runtuh. Air mata yang selama ini ia tahan, kini mendesak keluar, mengalir deras membasahi pipi.
Aisya sudah tidak sanggup lagi berada di ruangan itu.
Dengan langkah gontai, Aisya berbalik menuju kamar. Itu adalah satu-satunya tempat ia bisa menemukan sedikit kedamaian dan ruang untuk menyembunyikan penderitaannya.
“Lihat tuh! Nggak sopan, cengeng pula! Nangis aja kerjanya! Makanya, kalau nggak mau dimarahi, kasih cucu! Jangan cuma tahu tempe kangkung!” teriakan Marni terdengar jelas menembus dinding kamar, melukai jiwa Aisya yang sudah terlanjur basah oleh air mata.
Aisya masuk dan mengunci pintu dari dalam. Ia bersandar di pintu, merosot ke lantai, dan membenamkan wajahnya di antara kedua lutut.
Isaknya pecah, menunjukkan betapa sesak dadanya. Mengapa ia harus menjalani hidup yang penuh kepahitan ini?
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan pelan.
“Sayang, Aisya, mas masuk, ya?” itu suara Hendra yang terdengar khawatir. Lagipula mana mungkin Marni mau datang ke kamarnya.
Aisya tak menjawab. Ia masih tersedu-sedu. Hatinya terlalu sakit untuk merespons.
“Aisya, jangan nangis, Sayang. Buka pintunya. Lupakan omongan Ibu, ya? Nanti Mas beliin kamu martabak kesukaanmu,” rayu Hendra.
Aisya tersenyum kecut. Setiap ia bertengkar dengan ibunya, Hendra selalu menyogok dengan makanan kesukaannya.
Akhirnya, dengan sisa tenaga, Aisya membuka pintu. Wajahnya sembab, matanya merah.
Hendra langsung meraih tubuhnya, memeluknya erat-erat.
“Maafin Ibu, ya, Sayang. Maafin Mas juga karena nggak bisa melindungi kamu lebih baik. Ibu kan memang begitu, kamu tahu sendiri. Keras kepala.” Hendra mengusap rambut Aisya dengan lembut.
Aisya membalas pelukan itu, namun ia merasa hampa. Kata-kata Hendra terasa seperti angin lalu. Ia lelah dengan janji yang tak pernah terwujud.
“Mas,” ucap Aisya dengan tercekat. “Sampai kapan aku harus kayak gini, Mas? Dikatain mandul, dihina-hina terus. Aku capek banget.”
Hendra mencium kening Aisya lama. “Sabar, ya, Sayang. Mas janji, nanti Mas akan lebih tegas lagi sama Ibu. Mas nggak suka lihat kamu nangis begini. Kamu harus tahu, Mas nggak pernah peduli soal anak. Mas cuma butuh kamu. Jadi, tolong jangan dengarkan Ibu, ya? Jangan bikin Mas ikut sedih.”
Aisya sadar, Hendra memang mencintainya. Namun, cinta itu tidak cukup kuat untuk melindunginya dari amukan ibu mertuanya.
Di rumah ini, ia akan selalu menjadi pihak yang harus menerima segala perlakuan pahit.
Aisya menghela napas, bersandar kembali di dada Hendra.
“Iya Mas, aku ngerti kok.”
“Nah, gitu dong. Mas makin sayang sama kamu.” Hendra menoel hidung mancung Aisya.
Di luar kamar, suara televisi dan omelan Marni masih terdengar lirih. Dunia tetap berjalan, seolah tak peduli dengan hati Aisya yang sudah remuk, yang harus kembali mengumpulkan kekuatannya untuk menghadapi hari esok.
lanjut thor 💪💪bnykin bab nya🤣🤣
itu si kaisar tau gak y bapaknya gundik bawahannya jg... 🤔
Hendra jg dipecat biarin dia melihat aisyah bahagia...
jadikan aisyah sekertaris mu biar Hendra dilema
pas sdh tau kebenarannya tth aisyah mau balik jg gk bs karena karir taruhannya sebab aisyah sdh dijaga oleh big boss nya🤣🤣🤣
kau tau bulan aisyah yh seperti sampah tapi kau seperti binatang jd bersyukurlah kau aisyah lepas sr binatang karena hanya binatang lah yg bersenggama tampa menikah dan tanpa mandi junub mengucapkan talak🤣
bersyukur lah kepada Allah krn mata mu dibuka selebarnya dan Allah sayang padamu bahwa kamu tidak di biarkan tidur dengan binatang yg berupa manusia🤣🤣
lebih baik buat Hendra seyakin yakinnya untuk menceraikan mu... percaya aja sma Allah kebenaran itu pasti ada jalannya untuk membuka siapa yg jahat