Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iblis Menjenguk Tawanannya
Hari ke-33
Pintu baja kebuka. Bukan jam nampan.
Florence refleks bangun dari lantai, nyiut ke sudut. Badannya kurus, rambut kusut, gaun kotor. Dia udah nggak kenal kaca. Nggak mau. Takut lihat mayat hidup yang jadi dirinya.
Yang masuk bukan pengawal.
Lucifer.
Sebulan nggak lihat muka itu. Masih sama. Tampan, tinggi, kekar, mata biru. Tapi sekarang, di mata Florence, itu muka malaikat pencabut nyawa.
Lucifer diem di ambang pintu. Hidungnya mengerut halus. Kamarnya bau. Bau keringat, bau darah kering dari kuku Florence yang mengaruk dinding, bau putus asa.
Matanya nyapu seluruh ruangan. Ke 33 goresan di dinding. Ke nampan pecah yang belum dibersihin. Ke mawar kering. Terakhir, ke Florence yang lagi gemeteran di pojok kayak binatang kelaparan.
“Keluar,” perintah Lucifer ke pengawal di belakangnya. Pintu ditutup. Sekarang cuma mereka berdua. Tawanan sama sipirnya.
Hening. Sakit.
Lucifer jalan mendekat. Setiap langkahnya bikin Florence makin nyiut. Dia berhenti 1 meter di depan Florence. Nggak jongkok. Nggak sejajar. Dia tetap di atas. Selalu di atas.
“Katanya mayat,” suaranya datar. Dingin. “Mayat masih bisa nafas ya?”
Florence nggak jawab. Nggak berani natap mata itu. Matanya fokus ke sepatu Lucifer. Mengkilap. Mahal. Nginjek lantai yang jadi tempat dia tidur.
Lucifer jongkok. Akhirnya. Tapi bukan buat nyaingin. Buat Mengangkat dagu Florence paksa pake dua jari. Sama kayak di kapel. Tapi sekarang, nggak ada ragu. Cuma kuasa.
Kondisi Florence bikin rahang Lucifer menegang sepersekian detik. Pipi tirus, mata cekung, bibir pecah. Aset rusak.
“Aku ke sini mau lihat,” bisik Lucifer, “separah apa barangku rusak kalau nggak diurus.”
Brang. Itu lagi.
Air mata Florence jatuh. Nggak bersuara. Dia udah nggak punya energi buat nangis kejer.
“Puas?” suaranya serak, hancur. “Puas lihat aku kayak gini? Ini mau kamu kan? Mawar layu. Dibuang.”
Lucifer lepas dagunya. Jijik? Mungkin. “Belum. Mawar layu masih bisa jadi pupuk. Kamu? Kamu bahkan nggak guna buat pupuk.”
Kata-kata itu nancep. Dalam. Florence ketawa. Histeris. Pelan. Ketawa orang yang udah lewat batas waras.
“Terus... ngapain kamu ke sini?” Dia angkat wajah, mata coklatnya nyala benci. “Mau mastiin aku belum mati? Takut utang nyawa nggak lunas? Tenang aja, Tuan. Aku nggak bakal mati sebelum...”
Dia berhenti. Hampir keceplosan. Sebelum aku kabur.
Tapi Lucifer nangkep. Mata biru itu nyipit. Bahaya.
“Sebelum apa, Florence?”
Florence gigit bibirnya yang pecah sampe berdarah lagi. Darah netes ke dagu.
Lucifer lihat darah itu. Sesuatu di matanya gerak. Bukan kasihan. Gangguan.
Dia berdiri. Ngerogoh saku jasnya. Ngeluarin sapu tangan putih bersih. Mahal. Terus... dilempar. Ke lantai. Di depan Florence.
“Lap. Jorok.”
Itu lebih sakit dari tamparan. Disuruh lap darah sendiri pake barangnya, tapi dilempar kayak ke anjing.
Florence Tidak nyentuh sapu tangan itu. Dia malah ngelap darah pake punggung tangan kotornya. Nantang.
Bibir Lucifer melengkung. Bukan senyum. “Masih galak. Bagus. Berarti belum rusak total.”
Dia jalan ke meja nakas. Ngambil mawar kering itu. Meremasnya sampai hancur jadi bubuk di tangannya. Debunya jatuh ke lantai.
“Lihat? Gini jadinya kalau nggak nurut.” Dia buka tangannya, nunjukin bubuk mawar. “Hancur. Tidak ada yang ingat. Tidak ada yang nangisin.”
Terus dia jalan ke pintu. Mau pergi. Kunjungan iblis selesai. Tujuannya tercapai: mastiin Florence hancur, mastiin Florence Tidak lupa siapa yang berkuasa.
Tapi di pintu, dia berhenti. Tidak menoleh.
“Kata dokter,” suaranya balik lagi ke datar, ke dingin, “kalau seminggu lagi kamu nggak makan bener, orgamu mulai gagal. Mati pelan-pelan.”
Hening.
“Kalau kamu mati, Florence,” lanjutnya, “aku rugi $287,450. Plus waktu. Plus...” Dia nggak lanjutin.
Cuma satu kalimat terakhir sebelum pintu kebanting.
“Makan. Jangan bikin aku rugi dua kali.”
BRAK!
Pintu baja ketutup. Kunci diputer dua kali. Lebih kenceng dari sebelumnya.
Florence masih di lantai. Napasnya putus-putus. Badannya gemeter. Bukan takut. Marah. Frustasi.
Aset. Rugi. Rusak. Pupuk.
Itu yang dia lihat. Bukan gadis. Bukan manusia.
Dia ngerayap ke sapu tangan putih Lucifer yang tadi dilempar. Dipungut. Digenggam erat. Terus... dia robek. Kuat-kuat. Sampe suaranya keras. Sobek jadi dua, jadi empat, jadi delapan.
Setiap sobekan, dia bisik: “Kabur. Kabur. Kabur. Kabur.”
Air matanya udah kering. Sekarang yang ada cuma dendam. Dendam yang ngasih tenaga.
Dia natap pintu baja itu. 33 hari dia dikurung. 33 hari dia dibunuh pelan-pelan.
Cukup.
Malam ini. Atau besok. Atau kapan pun pengawal lengah sedetik aja. Dia bakal keluar.
Bukan buat hidup. Buat ngebuktiin ke iblis itu... mawar layu pun bisa jadi duri. Dan duri bisa nusuk Raja Neraka sampai berdarah.
Di luar kamar, Lucifer bersandar di pintu. Kepalan tangannya berdarah. Bukan karena mukul tembok. Karena Meremas bubuk mawar terlalu kuat tadi.
Sial. Kenapa lihat dia hancur... rasanya gue yang dibakar?
Dia ngusap wajah kasar. Jangan lemah. Dia musuh. Dia ngungkit kuburan Mama. Dia harus bayar.
Tapi di saku jasnya, ada satu kelopak mawar kering yang nggak sengaja ikut kegenggam. Nggak dia buang.