NovelToon NovelToon
Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Alya Senja

Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.

Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.

Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.

Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MELARIKAN DIRI

Speedboat melaju cepat sedangkan dibelakangnya 2 speedboat mengejar. Didalam speedboat depan mister Chow dan Santi dengan dada berdegub kencang terus memandang ke depan. Mister Chow tidak ingin Santi menjadi orang yang dikurung tuan Mican karena tidak bisa pulang untuk anaknya. Dia harus selalu bantu tuan Mican selama tuan Mican senang sehingga bisa jadi seumur hidup ada dalam kekuasaan tuan Mican. Tuan Mican memang orang paling ditakuti di semenanjung K sampai kawasan A. bahkan mister Smith juga tidak berani perbuat sembrono kepada tuan Mican.

Speedboat kemudian memutar ke kanan dan menerobos dua speedboat yang mengejar. Orang yang dispeedboat terkejut sehingga tidak sempat menghindar. Kedua speedboat bertabrakan dan orang-orang terjatuh. Tampak Josas yang dulunya patuh padanya berusaha berenang dan menggapai tepi pinggir speedboat.

Mister Chow hanya memandangi saja Josas kemudian secepat kilat mengemudikan speedboat kearah timur. Sedangkan orang-orang yang jatuh ke laut masih berusaha meraih tepi pinggir speedboat dan naik ke speedboat.

Mister Chow terus mengemudikan speedboat sekencang-kencangnya. Walaupun dia terpaksa harus menentang bossnya sendiri tuan Mican.

“Mister…”

“Mister…”

Mister Chow menoleh kepada Santi ditengah  mesin speedboat yang menderu.

“Ya, Santi. Ada apa. Kamu mau ngomong apa.”

“Aku menyusahkan mister. kalau mister membiarkan aku tetap bersama tuan Mican tentu mister tidak perlu repot-repot seperti ini membawaku pergi.”

“Nggak pa Santi. Yang penting kamu bisa ketemu anakmu. Anakmu membutuhkanmu. Kamu ibunya.”

Speedboat terus melaju kencang. Didepan tampak pulau kecil. Pulau W. Penduduknya nelayan. Mereka biasa mencari ikan lalu dijual kepada pedagang. Dari kerja itu mereka mencukupi kebutuhan  hidup mereka.

Dengan cepat mister Chow mendekatkan speedboat ke pantai. Speedboat itu ditinggalkan begitu saja. Lalu mister Chow mengajak Santi pergi.

Ada seorang nelayan yang sedang menghela jalanya kedarat. Tampak ikan-ikan berkeriapan dipermukaan jala. Nelayan itu segera memunguti ikan-ikan itu dan memasukkannya ke ember besar. Mister Chow dan Santi mendekati nelayan itu.

“Pak.”

Orang itu tidak mengangkat kepalanya dia masih sibuk mengambil ikan-ikan tersebut.

“Paaak.”

Mister Chow berteriak lantang. Orang itu mendongakkan kepalanya.

“Ya.”

Nelayan itu menjawab singkat.

“Minta tolong.”

“Apa.”

“Miiinta tooolong.”

Mister Chow berteriak keras.

“Minta tolong. Apa yang bisa aku bantu.”

“Biiiisa aaaantar kami ke pelabuhan T.”

“O, antar. Jauh.”

Mister Chow merogoh sakunya. Lalu memberikan sesuatu kepada nelayan itu. Mata nelayan berbinar. Emas. emas batangan berwarna keemasan tertimpa matahari.

“Baik. Tunggu aku selesai.”

‘Sekarang pak. Kami tak bisa tunggu. Ini mendesak.”

“Tapi ni.”

Nelayan itu menunjuk ikan-ikan itu.

“Tinggalkan. Bukankah bapak dapat emas.”

“Yyyyaaa.”

Jawab nelayan itu terbata-bata karena tangan mister Chow menariknya keras.

Dengan perahu bermesin mereka pergi meninggalkan pulau W. mister Chow dan Santi berlindung di tempat berlindungan darurat di perahu yang khusus melindungi nelayan itu bila ingin berteduh atau istirahat di laut.

Terdengar suara deru helikopter diatas mereka. Helikopter bertanda KCL besar dilambungnya. Melihat itu mereka segera merapatkan tubuhnya ke tempat perlindungan. Tempat perlindungan itu melindungi mereka dari penglihatan dari atas helikopter. Di pintu helikopter tuan Mican dengan muka marah melihat ke bawah. Dia membawa alat kerja pendek. Dia kelihatan sangat marah.

Tuan Mican tidak menyangka orang kepercayaannya membelakangi dirinya. 10 tahun mereka bekerja bersama. Tuan Mican selalu beri bonus-bonus banyak pada mister Chow karena kinerjanya yang bagus. Baru hari ini tuan Mican kecewa pada mister Chow. Hanya gara-gara perempuan, mister Chow membelakangi dirinya.

Helikopter itu mengitari perahu itu beberapa kali untuk memastikan apakah ada mister Chow dan Santi. Tuan Mican hanya melihat satu orang saja di perahu. Seorang nelayan yang sedang menebarkan jalanya. Tuan Mican coba tengok lagi dengan teliti. Hanya nelayan itu saja tidak ada yang lain.

Setelah berputar beberapa kali helikopter itu pergi menjauh. Hanya derunya saja yang terdengar sedangkan helikopternya semakin lama semakin mengecil akhirnya tidak kelihatan.

Mister Chow dan Santi menghela nafas lega. Sudah tidak perlu takut lagi. Tadi Santi benar-benar ketakutan karena mereka melihat tuan Mican yang marah sempat melihatnya dari lubang-lubang kecil pelindung.

Mister Chow mengacungkan jempolnya kepada nelayan tadi. Nelayan itu tersenyum. Setelah beberapa lama kemudian perahu itu sampai di dermaga Pelabuhan T. sebelum pergi mister Chow menengok kiri kanan memastikan tidak ada tuan Mican dan orang-orangnya disana. Setelah dirasa aman mister Chow mengajak Santi meninggalkan perahu.

Mereka keluar pelabuhan dan coba menghentikan kendaraan di jalan. Biasanya ada truk-truk pengangkut barang yang melalui jalan dekat pelabuhan. Truk-truk itu biasa memuat barang-barang yang diangkut dari kapal kemudian dengan crane dimasukkan ke truk-truk pengangkut. Kemudian truk-truk itu mengangkut barang-barang itu ke luar pelabuhan.

Setelah coba beberapa kali akhirnya ada truk yang mau berhenti.

“Lewat jalan besar dekat rumah sakit K.”

Sopir truk mengangguk. Mereka segera naik ke belakang truk. Truk segera melaju. Didalam truk ada banyak barang import dari negara-negara lain untuk dikirim perusahaan yang mengimportnya. Barang-barang itu suku cadang kendaraan  yang dibutuhkan untuk perakitan mobil. Negara I sedang gencar-gencarnya untuk membuat mobil dalam negeri I yang dapat menyaingi mobil-mobil import dari negara-negara lain. Hanya suku cadangnya belum bisa buat sehingga sementara masih import. Perusahaan Omsus Deici karena mister Chow sempat membaca di dalam truk PT Omsus Deici yang menjadi perantara yang mengimportnya.

Truk berhenti di jalan. Mister Chow dan Santi keluar truk. Mister Chow mengucapkan terima kasih kepadda sopir truk.

Mereka berteduh di halte tunggu bus. Karena saat itu matahari bersinar Terik. Di kejauhan tampak rumah sakit K namanya terpampang besar di depan rumah sakit itu. Mereka segera menyebrang jalan ke arah rumah sakit.

Santi segera menuju lobby rumah sakit.

“Santi.”

Santi menoleh. Pak Dody dan temannya.

“Pak.”

Sikap pak Dody dingin. Tidak menyahut. Tidak menatap. Hanya diam saja. Santi heran selama beberapa hari yang lalu pak Dody sudah tidak dingin kepadanya kenapa sekarang berubah dingin. Santi memandang Ritonga.

Ritonga tersenyum. Dia mengulurkan tangannya kepada Santi.

“Ritonga. Aku temannya pak Dody.”

Santi menganggukkan kepalanya. Dia tidak menyambut uluran tangan Ritonga.

“Bagaimana keadaannya Nonik pak.”

Santi berbicara kepada pak Dody.

“Nonik hilang.”

Jawab pak Dody datar tanpa menoleh pada Santi.

“Nonik hilang.”

Santi berteriak. Dia kelihatan kalut.

Mister Chow yang sedari tadi hanya diam saja menyadari sesuatu. Mungkinkah ada kesalahpahaman antara pak Dody dengan Santi yang Bersama mister Chow. Mister Chow tersenyum.

“aku hanya temannya Santi. Dia kuantar dari laut T.”

Mendengar laut T pak Dody terkejut. Bagaimana Santi bisa sampai ke laut T padahal jaraknya jauh dari rumah sakit T.

“Bapak bilang apa. laut T.”

“Ya mas.”

“Bagaimana bisa sampai ke laut T.”

“dia diikutkan  orang ke kapalku untuk dibawa pada bossku.”

Dody terkejut. Santi dibawa kapal orang itu. Khok bisa.

“Aku diambil paksa pak oleh orang.”

Pak Dody tidak melihat kearah Santi.

Santi cepat-cepat melangkah ke lift rumah sakit. Dia ingin tahu benarkah apa yang dikatakan pak Dody Nonik hilang. Mereka meyusul Santi dibelakangnya.

Sampailah mereka ke ruang ICU. Mereka bertemu dokter Bram.

“Dok.”

“Nyonya.”

“Gimana anak saya dok.”

Dokter Bram menggelengkan kepala.

“Anak itu tak ada di tempat nyonya.”

“Nonik….”

Santi menangis keras. Dia sudah berusaha menjumpai anaknya. Walaupun kondisi lelah ditubuhnya dia tidak mempedulikannya. Ternyata sampai di rumah sakit K anaknya hilang. Tiba-tiba sekitarnya seperti berputar. Santi limbung. Pak Dody segera menangkap Santi sebelum jatuh ke lantai. Santi pingsan.

Bersambung

1
gendiz
semangat ya
Alya Senja: Terima kasih kak sudah mampir
total 1 replies
MayAyunda
keren
Alya Senja: Makasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
Alya Senja
ya terima kasih mau mampir kak. Kita langsung ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!