NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 Gamelan Kematian

Gamelan itu semakin keras.

Tabuh. Tung. Nang. Ning. Nong.

Iramanya bukan gending Jawa biasa yang menenangkan. Ini cepat, tidak beraturan, seperti dimainkan oleh tangan-tangan yang terburu-buru. Mengiringi kematian.

Sinta terus berjalan. Punggungnya lurus, langkahnya mantap, menembus pekarangan posko yang gelap. Selendang merah milik Mbak Dewi kini melilit di pinggangnya, ujungnya menyapu tanah, meninggalkan jejak basah.

Kami bertujuh masih terpaku di posko. Kaki ini bukan milik kami lagi. Rasanya seperti disemen ke lantai tanah. Mulut mau teriak memanggil Sinta, tapi suara tidak ada yang keluar. Hanya napas satu-satu yang tersengal.

“Anjing... badanku gak bisa gerak!” akhirnya Bayu berhasil mendesis, urat di lehernya keluar semua karena berusaha melawan.

Sama. Kami semua sama.

Di luar, siluet Sinta semakin kecil, tertelan kegelapan di bawah pohon beringin raksasa. Pohon yang menurut Paklik Joyo adalah gerbang. Gerbang ke ‘sana’.

Gong dipukul keras sekali. GOOONGGG...

Bersamaan dengan itu, ikatan yang membelenggu tubuh kami lepas. Tujuh orang ambruk berbarengan ke lantai seperti boneka yang talinya putus.

“SINTA!!” Ini baru suara kami keluar. Rendi yang pertama kali bangkit, langsung lari menerjang pintu. Kami semua ikut. Takut, iya. Tapi meninggalkan Sinta sendirian? Tidak mungkin.

Udara di luar posko beda. Lebih dingin, lebih berat, dan bau anyir tanah kuburan itu sekarang bercampur dengan bau kemenyan yang dibakar. Pekat sekali.

Di bawah beringin, pemandangan yang membuat jantungku berhenti berdetak.

Sinta berdiri di tengah. Matanya tetap terpejam. Di sekelilingnya, melingkar, ada tujuh sosok. Bukan manusia. Tinggi, kurus kering, kulitnya hitam legam seperti arang, memakai beskap Jawa kuno yang compang-camping. Wajahnya... tidak ada wajah. Hanya topeng kayu polos dengan lubang untuk mata yang kosong melompong.

Para Penabuh Gamelan.

Mereka tidak punya alat musik. Mereka menabuh paha mereka sendiri. Plak. Plak. Plak. Tapi dari situ, suara gamelan yang nyaring itu berasal. Setiap tepukan di paha kurus mereka menghasilkan suara kenong, saron, kendang.

Dan di depan Sinta, membelakangi kami, berdiri sosok Mbak Dewi. Kebaya merahnya melambai tanpa angin. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas, seperti seorang sinden yang akan memulai sebuah kidung.

Kami mau maju, tapi sebuah garis melingkar di tanah menghalangi kami. Garis yang terbuat dari beras kuning dan bunga kantil. Garis gaib. Saat ujung kaki Rendi menyentuhnya, dia terlempar mundur tiga meter seperti kesetrum listrik.

“Tidak bisa masuk!” serak Rendi sambil memegangi dadanya.

Mbak Dewi mulai berkidung. Suaranya melengking tinggi, menyayat malam. Bukan bahasa Jawa yang kami mengerti. Bahasanya kuno, berat, setiap katanya seperti mantra.

Bersamaan dengan kidung itu, dari dalam tanah di sekeliling kaki Sinta, muncul tangan-tangan pucat. Banyak. Puluhan. Merayap naik, mencengkeram betis, paha, pinggang Sinta. Menariknya pelan-pelan ke bawah.

Sinta akhirnya membuka mata. Tapi bukan mata Sinta. Bola matanya putih semua, dan dari sudut matanya mengalir air mata darah. Dia tidak teriak. Dia tidak meronta. Dia hanya menatap kami, bibirnya bergetar mengucapkan satu kata tanpa suara: “Tolong”.

Aku tidak kuat. Aku harus melakukan sesuatu.

“SINTA! LAWAN! JANGAN MAU!” Aku teriak sekuat tenaga, air mataku tumpah. Percuma. Dia tidak dengar.

Tiba-tiba, dari arah belakang kami, terdengar suara adzan.

“Allahu Akbar... Allahu Akbar...”

Suara Paklik Joyo. Tua, serak, tapi lantang. Dia berlari dari arah rumahnya sambil menenteng toa kecil dan segenggam garam kasar.

“Kalian! Cepat masuk lingkaran! Buat lingkaran sendiri!” teriaknya ke kami.

Kami bertujuh langsung ngumpul, saling melingkar, berpegangan tangan. Paklik Joyo menaburkan garam kasar mengelilingi kami. Cres... cres... cres...

Aneh. Saat lingkaran garam itu sempurna, suara gamelan dari para penabuh itu jadi sedikit teredam. Seperti ada di dalam akuarium.

Paklik Joyo terus adzan sambil tangannya komat-kamit membaca sesuatu. Wajahnya tegang.

Di bawah beringin, kidung Mbak Dewi terhenti. Tujuh penabuh gamelan itu serentak menoleh ke arah kami. Lubang mata di topeng kayu mereka seperti menyala merah.

Mereka tidak suka diganggu.

Salah satu penabuh, yang paling tinggi, melangkah keluar dari lingkaran beras kuning. Dia berjalan ke arah kami. Setiap langkahnya membuat tanah yang diinjak menghitam dan rumputnya mati.

“Mundur, Le! Jangan lepas tangan!” perintah Paklik Joyo.

Penabuh itu berhenti tepat di luar lingkaran garam kami. Dia mengangkat tangannya yang kurus kering dengan kuku sepanjang jari. Lalu dia menunjuk kami, satu per satu.

Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.

Kurang lima. Dia menghitung tumbal yang tersisa.

Setelah menunjuk orang kelima, yaitu Dina, dia berhenti. Lalu kepalanya mendongak ke atas, ke arah purnama. Dari lubang di topengnya, keluar suara. Bukan gamelan. Tapi suara tawa. Melengking, berat, menggema. “Hihihihihihi...”

Buluku merinding semua. Ini bukan lagi soal takut. Ini teror level dewa.

Tawa itu berhenti tiba-tiba. Si Penabuh Tinggi menoleh lagi ke bawah beringin. Mbak Dewi mengangguk pelan.

Lalu, tanpa aba-aba, tanah di bawah kaki Sinta ambles. Bleg.

Sinta menjerit untuk pertama kalinya. Jeritan yang sangat manusiawi, jeritan Sinta yang asli. “TOLOOONG!!”

Hanya kepalanya yang masih di atas permukaan. Tangan-tangan pucat itu menariknya lebih kuat. Dia sudah sampai leher.

“RENDI! AKU GAK MAU MATI! TOLOOONG!”

Rendi meraung. Dia mau melepas pegangan tangan kami untuk lari ke Sinta.

“JANGAN, REN! KALO KAU LEPAS, KITA SEMUA MATI!” Aku menahannya sekuat tenaga.

Paklik Joyo membaca doa semakin cepat, keringat dingin membasahi kening tuanya. “Sebentar lagi, Le... tahan sebentar lagi...”

Apa yang dia tunggu?

DOORRR!!!

Suara petir menggelegar membelah langit, padahal tidak ada mendung. Kilatnya menyambar tepat ke pucuk pohon beringin.

Byarrr!!

Pohon beringin itu terbakar. Apinya bukan merah, tapi biru.

Aaaaaarrrrrggghhhh!!!

Tujuh penabuh gamelan itu menjerit bersamaan. Jeritan yang bukan suara manusia. Mereka menggeliat, topeng kayu di wajah mereka retak, mengeluarkan asap hitam. Mbak Dewi menjerit paling keras, tubuhnya mengepulkan asap seperti sate yang dibakar.

Garis beras kuning di tanah hangus. Lingkaran garam kami memercikkan api kecil.

Dan Sinta...

Tangan-tangan pucat yang mencengkeramnya meleleh seperti lilin terkena api. Sinta berhasil mengangkat tangannya, meraih ke atas.

“CEPAT TARIK DIA!!” teriak Paklik Joyo.

Rendi dan Bayu yang paling dekat langsung menerjang maju, melompati lingkaran garam yang sudah padam. Mereka menarik lengan Sinta sekuat tenaga.

Srettt...

Tubuh Sinta terangkat dari lubang yang sekarang berasap itu. Begitu seluruh tubuhnya keluar, lubang itu menutup sendiri. Bum. Rapat. Seperti tidak pernah ada.

Sinta pingsan di pelukan Rendi. Napasnya satu-satu. Tapi dia hidup. Badannya hangat. Dia kembali.

Di bawah beringin, api biru padam secepat dia muncul. Pohon beringin itu utuh, tidak gosong sedikitpun. Tujuh penabuh dan Mbak Dewi sudah hilang. Gamelan berhenti. Malam kembali sunyi, hanya menyisakan bau kemenyan dan tanah terbakar.

Paklik Joyo ambruk terduduk, napasnya sengal. Toa kecilnya jatuh. “Purnama pertama... sudah selesai.”

Kami menatapnya, bingung. Selesai?

“Sinta... gagal jadi tumbal. Kalian... selamat malam ini,” jelasnya terputus-putus. “Tapi... tumbal untuk 10 tahun ini... tetap kurang enam.”

Dingin lagi. Jadi kami belum aman?

“‘Mereka’ akan kembali... purnama depan. Mencari pengganti Sinta. Dan mencari... kalian berlima.” Dia menunjuk kami, kecuali Sinta yang pingsan.

Kurang lima. Jumlah kami yang selamat.

Jadi kami hanya menunda kematian satu bulan. Purnama depan, teror ini akan terulang lagi. Dan mungkin, tidak akan ada petir yang menyelamatkan kami lagi.

Rendi menggendong tubuh Sinta. Kami bertujuh berjalan kembali ke posko dengan kaki lemas. Menang malam ini, tapi perang belum usai.

Di langit, purnama masih pucat kebiruan. Menatap kami. Menghitung hari.

Kurang lima.

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!