NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Tautan Suhu dan Janji di Tepi Hutan Jati

​Daun-daun jati yang mengering di bawah telapak sepatu mereka menjadi saksi bisu atas sebuah anomali yang menentang hukum alam. Di tengah Hutan Jati yang gersang dan berbau kematian, sebuah keajaiban purba baru saja meretas jalan keluar dari kutukan yang membelenggu klan Harimau Putih selama berabad-abad.

​Tangan besar Indra Bagaskara masih bertengger mantap di atas bahu Dara Kirana. Pemuda itu tidak mencengkeramnya dengan keras, melainkan dengan sebuah kehati-hatian yang lahir dari rasa takjub yang absolut.

​Selama delapan belas tahun hidupnya, bernapas bagi Indra sama artinya dengan menelan bara api. Darah Cindaku yang mengalir di nadinya adalah kutukan yang terus-menerus mendidih, membakar emosinya, dan memaksanya untuk membangun benteng es di wajahnya agar tidak ada satu manusia pun yang menyadari penderitaan monsternya. Bahkan di musim hujan yang paling ekstrem di Lembah Marapi, Indra tidak pernah merasakan apa itu 'dingin'. Yang ia rasakan hanyalah panas yang sedikit tertahan.

​Namun detik ini, saat kulit telapak tangannya bersentuhan dengan kain jaket wol Dara, seluruh siksaan neraka itu menguap lenyap.

​Bukan karena Dara memaksakan pendar biru dari segel Pawangnya seperti saat di dalam Gua Batu Larangan. Tidak ada ledakan energi gaib yang menguras tenaga gadis itu. Kali ini, murni karena keberadaan Dara itu sendiri. Tubuh Dara memancarkan resonansi pasif yang secara otomatis menyerap sisa-sisa hawa panas Indra, mengubahnya menjadi suhu tubuh manusia normal yang hangat dan menenangkan.

​Indra memejamkan mata hazel-nya. Dadanya naik turun dengan ritme yang lambat dan teratur. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak perlu berperang melawan dirinya sendiri. Ia merasa... utuh.

​"Ini tidak masuk akal," gumam Indra, suaranya sangat rendah, serak oleh emosi yang tertahan. Ia membuka matanya, menatap wajah Dara yang masih berjongkok di hadapannya dengan pandangan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. "Selama beratus-ratus tahun, tetua kami mengajarkan bahwa Darah Penengah adalah senjata penunduk. Sesuatu yang harus dipanggil paksa untuk merantai insting kami. Mereka tidak pernah memberitahuku bahwa kau... kau adalah penawarnya."

​Dara menatap mata pemuda itu lekat-lekat. Kengerian akan Ajag liar buangan yang baru saja diusir oleh Indra kini memudar, digantikan oleh pemahaman baru yang menggetarkan hatinya.

​"Kakekku juga tidak pernah memberitahuku soal ini," bisik Dara, meletakkan tangan kirinya di atas punggung tangan Indra yang masih berada di bahunya. Sentuhan balasan itu mengirimkan sensasi riak air murni yang membuat Indra nyaris memejamkan matanya lagi. "Mungkin karena ibuku dan para Pawang terdahulu selalu menjaga jarak dari kaummu. Mereka menekan energi mereka karena takut. Mereka tidak pernah membiarkan ikatan ini terjalin."

​"Tapi kau melakukannya," sela Indra cepat. Jari-jarinya tanpa sadar mengusap pelan pangkal leher Dara. "Kau masuk ke dalam gua itu. Kau menyentuh jantungku saat aku berada di titik paling mematikan. Ikatan itu sudah terpatri, Dara. Alam bawah sadarku... insting harimauku... telah mengakui wibawamu. Dan sebagai bayarannya, tubuhmu merespons kehadiranku secara otomatis untuk melindungiku dari diriku sendiri."

​Dara menelan ludah. Pemahaman itu terasa indah sekaligus mengerikan. Mereka bagaikan dua kepingan teka-teki yang diciptakan untuk saling melengkapi. Indra adalah pedang api yang tak terkendali, dan Dara adalah sarung pedang berlapis es yang mampu meredamnya. Namun, ketergantungan ini adalah pedang bermata dua.

​"Indra," panggil Dara lembut, memutuskan kontak mata sejenak untuk menatap tanah berbau busuk di bawah kaki mereka. Ia mengambil sekop kecilnya yang tadi terjatuh. "Kalau Willem van Deventer mengetahui hal ini... kalau dia tahu bahwa tubuhku secara pasif merespons energi kalian tanpa perlu kutarik secara paksa... dia akan menggunakan segala cara untuk menjadikanku baterai hidupnya. Dia tidak akan pernah melepaskanku."

​"Opsir Darah itu harus melewati mayatku dulu sebelum bisa menyentuh bayanganmu," geram Indra, nada suaranya kembali menajam, namun tanpa memicu kenaikan suhu tubuhnya. Ketenangan yang diberikan Dara membuat Indra bisa berpikir jernih tanpa diracuni oleh Nafsu Rimba-nya.

​Indra melepaskan tangannya dari bahu Dara dengan enggan. Ia membantu gadis itu memasukkan sampel tanah berbau amis darah ke dalam kantong plastik klip, menguncinya rapat-rapat agar baunya tidak tercium oleh guru maupun teman sekelas mereka.

​"Cepat kumpulkan daun dan jamur sialan itu," titah Indra, berdiri tegak dan memindai kembali kanopi hutan jati yang gelap. "Ajag buangan tadi hanyalah anjing pengintai. Willem sedang menguji air. Ia ingin melihat apakah Ratu Penengah akan mengeluarkan energinya di tempat terbuka. Beruntung aku tidak perlu bertransformasi untuk mengusirnya."

​Dara mengangguk cepat. Ia bergegas mengumpulkan sampel daun jati yang setengah membusuk dan mencabut jamur epifit kecil dari batang pohon terdekat. Ia memasukkan semuanya ke dalam tas kainnya.

​Tepat saat ia mengikat tali tasnya, suara peluit melengking nyaring membelah kesunyian Hutan Jati.

​PRIIIIIIT!

​"Waktu habis, anak-anak! Semua berkumpul kembali ke titik awal!" teriak Pak Budi dari kejauhan, suaranya terdengar sangat lega seolah ia sendiri sudah tidak sabar untuk keluar dari zona mati ini.

​Dara dan Indra berjalan berdampingan kembali menuju rombongan. Saat mereka tiba, Santi langsung berlari menghampiri Dara, menatapnya dari atas ke bawah seolah Dara baru saja selamat dari zona perang—yang pada kenyataannya memang benar.

​"Kamu nggak apa-apa kan, Ra? Kalian nggak berantem kan?" bisik Santi beruntun, matanya terus melirik waspada ke arah Indra yang berdiri menjulang bagaikan menara baja di sebelah Dara.

​"Nggak, San. Kami cuma ngambil sampel tanah, kok. Semuanya aman," Dara memaksakan tawa kecil untuk menenangkan sahabatnya.

​Saat Pak Budi mulai mengabsen murid-murid dan memandu mereka berjalan keluar dari Hutan Jati, Dara menyadari sesuatu. Tidak ada satu pun murid yang menyinggung tentang hawa panas Indra, atau mengeluhkan udara yang mendadak sesak seperti saat mereka pertama kali berangkat.

​Karena hawa panas itu memang telah lenyap.

​Indra berjalan dengan ritme langkah yang tenang, bahunya rileks, dan tidak ada lagi jarak aman yang biasanya dikosongkan oleh murid-murid lain karena takut terbakar. Beberapa murid bahkan berjalan cukup dekat di belakang Indra tanpa menyadari bahwa mereka sedang berada di dekat predator mematikan.

​Indra menoleh sekilas ke arah Dara, sudut bibirnya berkedut membentuk senyum paling tipis yang nyaris tak terlihat, namun Dara bisa membacanya dengan jelas. Itu adalah senyum rasa syukur. Kehadiran Dara di sisinya telah memberinya kebebasan langka untuk bernapas sebagai remaja normal tanpa harus menahan rasa sakit.

​Perjalanan kembali ke SMA Nusantara Lereng Marapi memakan waktu sekitar tiga puluh menit dengan menggunakan bus sekolah tua yang disewa khusus untuk praktikum. Sepanjang perjalanan di dalam bus, Indra duduk di kursi paling belakang sendirian, sementara Dara duduk bersama Santi di baris tengah.

​Meski terpisah jarak beberapa kursi, Dara bisa merasakan tatapan hazel itu terus menjaganya. Ia juga menyadari bahwa setiap kali jarak mereka menjauh dari satu meter, hawa hangat yang menenangkan di sekelilingnya sedikit memudar, menandakan bahwa efek pasif 'pendinginan' itu memiliki batasan radius.

​Begitu bus memasuki gerbang sekolah, lonceng tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi nyaring. Para siswa berhamburan turun, berebut menuju parkiran kendaraan untuk segera pulang menembus kabut sore yang mulai turun.

​Dara berpamitan pada Santi, lalu berjalan menuju area parkir sepeda di bawah pohon beringin.

​Namun, sebelum tangannya menyentuh setang sepeda ontelnya, sebuah siluet tinggi melesat dari balik bayang-bayang pilar sekolah.

​Bumi Arka berdiri menghalangi jalannya.

​Napas pemuda Ajag itu memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Seragamnya acak-acakan, dipenuhi oleh daun pinus dan lumpur kering, tanda bahwa ia benar-benar berlari memutari Hutan Jati sepanjang praktikum berlangsung.

​Matanya yang memancarkan pendar merah kecokelatan menatap Dara dengan intensitas yang menggetarkan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bumi melangkah maju, meraih kedua bahu Dara, dan memutar tubuh gadis itu ke kiri dan ke kanan, memeriksanya dengan kepanikan yang luar biasa.

​"Kau tidak terluka? Ada yang tergores? Apa kau digigit?!" cecar Bumi beruntun, hidungnya mengendus udara di sekitar leher dan lengan Dara dengan sangat cepat.

​"Bumi, aku tidak apa-apa," Dara menahan lengan pemuda itu, menghentikan gerakannya. "Aku sama sekali tidak terluka."

​Bumi menghentikan endusannya. Rahang pemuda itu mengeras. Pendar di matanya menyala semakin terang.

​"Aku mencium baunya dari perbatasan timur," geram Bumi, suaranya bergetar menahan emosi. "Bau darah basi dan air liur membusuk. Ada siluman Ajag liar yang masuk ke zona kalian. Jaraknya kurang dari dua puluh meter darimu, Dara! Aku dan Tio nyaris menerobos garis demarkasi untuk menghabisinya, tapi makhluk itu tiba-tiba lari terbirit-birit."

​Bumi menatap mata Dara dalam-dalam. "Kucing Besar itu... dia mengusirnya, kan?"

​Dara mengangguk pelan, tidak bisa membohongi insting tajam sang Alpha serigala. "Indra mengeluarkan auranya. Dia melindungiku, Bumi. Dia tidak bertransformasi, jadi tidak ada murid yang tahu."

​Bumi melepaskan tangannya dari bahu Dara, mundur selangkah. Ia mengusap wajahnya yang kotor oleh lumpur dengan kasar. Rasa lega karena gadis di hadapannya selamat bertabrakan hebat dengan rasa frustrasi dan harga diri kelelakiannya yang terluka. Ia, sang penjaga perbatasan, tidak bisa berada di samping Ratu Penengahnya saat bahaya mengancam, dan justru rival abadinya yang mengambil peran pahlawan.

​Namun, yang membuat insting serigala Bumi semakin gelisah bukanlah fakta bahwa Indra mengusir monster itu.

​Hidung Bumi kembali berkedut. Ia menatap lekat-lekat ke arah Dara, lalu pandangannya beralih menatap ke arah ujung koridor, di mana sosok Indra Bagaskara baru saja muncul dan berdiri bersandar pada pilar beton, mengawasi mereka dari kejauhan.

​Bumi mematung. Matanya menyipit tajam.

​Sebagai seekor Ajag, Bumi bisa membaca hawa tubuh dan emosi makhluk lain dari jarak jauh. Biasanya, melihat Indra dari jarak sejauh ini sudah cukup untuk membuat kulit Bumi terasa gerah oleh radiasi panas sang Cindaku. Ia selalu bisa mencium bau amarah yang mendidih, bau api yang tertahan dari tubuh pewaris Harimau Putih itu.

​Tapi hari ini... tidak ada api.

​Indra berdiri di ujung koridor itu dengan ketenangan absolut. Suhu tubuhnya normal. Tidak ada uap yang mengepul. Aromanya bersih, hanya berbau daun cemara yang diguyur hujan.

​Bumi menoleh kembali pada Dara. Ia menatap gadis itu dengan mulut sedikit terbuka, menyadari kebenaran yang baru saja terjadi di Hutan Jati.

​"Baunya..." bisik Bumi, nyaris tak terdengar. Matanya melebar penuh ketidakpercayaan. "Kau... kau menjinakkannya."

​"Bumi, aku..." Dara mencoba menjelaskan, namun kata-katanya tertahan.

​"Bukan sekadar menyalurkan energi saat Bulan Baru di dalam gua," potong Bumi cepat, nada suaranya dipenuhi oleh rasa takjub sekaligus kengerian eksistensial. "Suhu tubuhnya normal, Dara. Di siang bolong. Tanpa ada kontak fisik. Kehadiranmu... kau telah menjadi katup pengamannya secara pasif."

​Bumi tertawa sumbang, sebuah tawa getir yang mencerminkan rasa hormat sekaligus kekalahan. "Pantas saja dia begitu tenang. Selama delapan belas tahun harimau itu hidup di dalam neraka, dan kini kau memberinya surga secara cuma-cuma."

​Pemuda varsity itu menundukkan wajahnya sejenak, mengambil napas panjang. Saat ia mengangkat wajahnya kembali, sorot mata Bumi telah berubah. Ia memancarkan kedewasaan seorang pemimpin kawanan yang menyadari bahwa dinamika kekuasaan di Lembah Marapi telah berubah secara permanen hari ini.

​"Kau benar-benar seorang Pawang, Dara Kirana," ujar Bumi serius. "Kutukan darah yang membakar Cindaku bisa padam hanya dengan berjalan di sisimu."

​"Aku tidak merencanakan ini, Bumi. Aku sendiri baru menyadarinya tadi," jawab Dara jujur.

​"Dan Willem juga akan segera menyadarinya," potong Bumi tajam. "Jika Opsir Darah itu tahu bahwa kau bisa memberikan stabilitas pasif pada Cindaku, dia tidak akan hanya menginginkan darahmu untuk diminum. Dia akan menginginkanmu hidup-hidup untuk dijadikan 'perisai penyejuk' bagi pasukan mayat hidupnya agar mereka tidak membusuk di bawah matahari."

​Ancaman itu membuat darah Dara berdesir dingin. Kakek Danu mengatakan hal yang sama.

​"Kau harus lebih waspada, Dara," Bumi melangkah maju, meletakkan tangannya di atas tangan Dara yang menggenggam setang sepeda, memberikan satu remasan hangat yang menenangkan. "Jika Harimau Putih itu bisa menggunakan kekuatannya secara maksimal tanpa perlu takut terbakar oleh nafsunya sendiri karena ada kau di sisinya... maka Willem akan menyadari bahwa klan Bagaskara baru saja mendapatkan senjata pemusnah massal yang sempurna."

​Bumi melepaskan tangannya, menatap Dara dengan senyum tipis yang sarat makna. "Kawananku akan menggandakan patroli malam ini. Beristirahatlah. Besok adalah akhir pekan, kan? Konon kudengar balai desa akan mengadakan Pasar Malam. Pergilah ke sana, berbaurlah dengan manusia normal, dan lupakan sejenak tentang taring dan darah. Kau butuh ruang untuk bernapas."

​Tanpa menunggu jawaban Dara, Bumi berbalik dan berlari menjauh menuju area belakang sekolah, menghilang di balik rimbunnya pohon beringin untuk kembali bergabung dengan kawanannya.

​Dara menatap kepergian pemuda itu. Kemudian, ekor matanya menangkap pergerakan dari arah koridor.

​Indra masih berdiri di sana. Pemuda itu tidak mendekat selama Bumi berbicara dengan Dara. Ia menepati janjinya untuk tidak memancing keributan di wilayah manusia. Begitu Bumi menghilang, Indra hanya memberikan satu anggukan kecil nan berwibawa pada Dara—sebuah salam perpisahan rahasia—sebelum akhirnya ia berbalik dan berjalan menyusul Maya serta Raka yang sudah menunggu di gerbang depan.

​Malam harinya, di dalam kamarnya yang hangat dan aman di balik pagar garam Kakek Danu, Dara duduk termenung di tepi ranjang.

​Ia membuka perban elastis di telapak tangan kanannya. Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, segel berbentuk kelopak bunga itu tampak berdenyut dengan pendar biru yang luar biasa halus. Energi di dalamnya tidak lagi terasa liar atau meledak-ledak. Ia terasa seperti aliran sungai yang tenang dan stabil.

​Dara telah menemukan kepingan besar dari teka-teki identitasnya hari ini. Kekuatan Pawang Rimba bukanlah sekadar merapal mantra atau menembakkan cahaya gaib. Kekuatannya adalah harmoni. Ia adalah titik nol yang menyeimbangkan ekstremitas di sekelilingnya.

​Bagi Indra yang hidup di dalam bara api, Dara adalah bongkahan es yang menyelamatkan jiwanya. Bagi Bumi yang hidup dalam kewaspadaan liar serigala, Dara adalah oase yang membuatnya merasa utuh.

​Namun, seiring dengan pemahaman itu, beban yang dipikul Dara pun semakin berat.

​Ia memikirkan ucapan Bumi tentang Pasar Malam besok. Sebuah acara desa yang dipenuhi oleh lampu warna-warni, suara musik dangdut, wangi gulali, dan gelak tawa manusia normal. Sebuah kemewahan yang rasanya sudah berabad-abad tidak ia rasakan sejak kecelakaan pesawat itu.

​Dara menoleh menatap ke arah jendela kamarnya. Tirai beludru marun itu tertutup rapat. Malam ini tidak ada kabut yang terlalu pekat, dan ia bisa mendengar suara sayup-sayup gamelan dari arah balai desa di kejauhan, tanda warga sedang mempersiapkan tenda-tenda untuk esok hari.

​Aku butuh ruang untuk bernapas, batin Dara, membenarkan ucapan Bumi.

​Jika Willem memang berniat menyatakan perang terbuka, dan jika Sutan Agung mengawasi setiap gerak-geriknya... maka ia harus mengambil kesempatan sekecil apa pun untuk merasakan kembali bagaimana rasanya menjadi gadis berusia delapan belas tahun.

​Dara membaringkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang empuk, menarik selimut hingga sebatas dada. Ia memejamkan mata, membiarkan energi biru di telapak tangannya meninabobokannya dalam kedamaian.

​Namun, di sudut tergelap Lembah Marapi, di bawah fondasi benteng peninggalan Belanda yang tertutup rapat oleh semak belukar beracun, persiapan yang sangat berbeda sedang dilakukan.

​Meneer Willem van Deventer duduk di atas kursi kebesarannya yang terbuat dari kayu eboni. Di hadapannya, seekor Ajag buangan tergeletak tak bernyawa dengan mulut berbusa—makhluk sama yang lari ketakutan dari Hutan Jati siang tadi.

​Mata sehitam jelaga sang Opsir Darah menyipit saat menyentuh sisa-sisa energi di tubuh monster itu. Ia tidak mencium bau api sang Harimau Putih, melainkan aroma es murni yang sangat kuat.

​Senyum kejam mengembang di bibir pucat Willem, memperlihatkan taring-taring panjangnya yang berkilat. Ratu Penengah telah menguasai kekuatannya, dan waktu untuk bersembunyi di balik bayang-bayang kini telah resmi berakhir. Pasar Malam esok hari akan menjadi panggung yang sempurna bagi sang mayat hidup untuk memperkenalkan diri secara langsung kepada seluruh penduduk lembah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!