NovelToon NovelToon
Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Aku Melepaskanmu Bukan Melupakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Dokter / Menikah Karena Anak
Popularitas:70.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.

Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.

Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Pagi datang perlahan bersama cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai kamar rawat inap.

Suasana rumah sakit belum terlalu ramai. Hanya terdengar suara langkah perawat di koridor dan sesekali bunyi troli medis yang berlalu.

Di atas ranjang, Sahir masih tertidur pulas. Demamnya sudah mulai turun dibanding tadi malam, membuat napas Sahira sedikit lebih lega. Semalaman ia hampir tidak tidur. Selain karena terus mengawasi kondisi anaknya, pikirannya juga terlalu penuh untuk benar-benar beristirahat.

Tentang Saga, tentang pertemuan mereka semalam. Dan tentang tatapan dingin pria itu yang masih terus terbayang di kepalanya.

Tok … tok…

Pintu kamar diketuk pelan sebelum akhirnya terbuka. Dua orang perawat masuk sambil membawa alat pemeriksaan.

“Selamat pagi, Bu,” sapa salah satu dari mereka ramah.

“Pagi…” jawab Sahira pelan sambil berdiri dari kursinya.

Perawat itu mulai memeriksa suhu tubuh Sahir, sementara perawat lain mengecek cairan infus yang masih menetes perlahan.

“Syukurlah, suhunya sudah turun,” ujar salah satu perawat lega. “Semoga nanti siang sudah makin stabil.”

Sahira mengangguk kecil.

“Terima kasih…”

Kedua perawat itu tampak santai karena Sahir masih tertidur. Sambil membereskan alat, mereka mulai berbicara pelan satu sama lain. Namun, suasana kamar yang tenang membuat percakapan mereka terdengar jelas.

“Eh, kamu tahu nggak?” bisik salah satu perawat. “Dokter Saga semalam nginep di rumah sakit.”

“Serius?” perawat satunya tampak terkejut. “Padahal jam kerja beliau habis dari siang, kan?”

“Iya, makanya aku heran. Biasanya dokter spesialis mana mau stay kalau nggak ada operasi atau pasien darurat.”

“Apalagi kalau ada dokter umum,” sambung yang lain. “Harusnya nggak perlu menetap di rumah sakit.”

Sahira yang sejak tadi berdiri di dekat ranjang langsung menundukkan wajahnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Entah kenapa, hanya mendengar nama itu saja sudah cukup membuat perasaannya kembali kacau.

“Dokter Saga memang beda, sih,” ujar salah satu perawat lagi sambil tersenyum kecil. “Ramah, nggak sombong, padahal beliau itu tuan muda keluarga Mahendra.”

“Iya, semua orang juga tahu,” sahut temannya pelan. “Keluarga kaya raya, tampan, pendidikan luar negeri pula. Tapi anehnya, aku belum pernah dengar beliau punya pasangan.”

Perawat satunya terkekeh kecil.

“Orang kaya kayak mereka biasanya udah disiapin jodoh sama keluarganya kali.”

“Iya juga, ya. Mana mungkin keluarga Mahendra sembarangan pilih calon menantu.”

Mendengar itu, tangan Sahira perlahan mencengkeram ujung bajunya sendiri, sampai jemarinya memutih. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Padahal jelas itu bukan urusannya lagi.vLima tahun lalu, ia sendiri yang memilih pergi. Ia sendiri yang mengatakan membenci Saga. Dan sekarang, apa haknya merasa terganggu mendengar kemungkinan pria itu akan bersama wanita lain.

Namun, meski berusaha menyangkal tetap saja terasa sakit.

“Bu?” Suara salah satu perawat membuat Sahira tersadar dari lamunannya.

“Iya?” sahutnya cepat.

“Kondisi anaknya sudah lebih baik. Nanti Dokter Saga kemungkinan akan datang pagi ini untuk pemeriksaan terakhir kalau beliau belum pulang.”

Sahira memaksakan senyum tipis.

“Baik…”

Kedua perawat itu akhirnya keluar dari kamar setelah selesai memeriksa Sahir. Suasana kembali sunyi, Sahira perlahan duduk di kursi samping ranjang. Tatapannya jatuh pada wajah kecil anaknya yang masih tertidur tenang. Namun, pikirannya justru jauh melayang. Ia teringat Saga semasa SMA dulu.

Pria itu selalu berkata kalau dirinya tidak peduli soal status atau kekayaan. Bahkan, berkali-kali Saga meyakinkannya bahwa keluarga Mahendra tidak akan mengubah perasaannya. Tapi sekarang semuanya sudah berbeda. Saga bukan lagi remaja yang mengejar cinta dengan sederhana. Ia adalah Dokter Saga Mahendra. Pewaris keluarga besar yang hidupnya pasti sudah diatur dengan sempurna.

Sementara dirinya, hanya seorang ibu tunggal dengan kehidupan yang berantakan.

Sahira menunduk pelan, bibirnya bergetar menahan sesuatu yang sesak di dada.

“Harusnya aku nggak boleh berharap apa-apa lagi…” bisiknya lirih. Karena sejak malam perpisahan itu dia tahu. Dirinya sudah kehilangan Saga untuk selamanya.

Sinar matahari pagi semakin memenuhi kamar rawat inap itu, menghadirkan suasana hangat yang perlahan mengusir dinginnya malam.

Di atas ranjang, Sahir bergerak pelan. Bulu mata kecilnya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya terbuka sempurna.

“Ibu…”

Suara kecil itu langsung membuat Sahira yang sedang melamun tersadar. Wajahnya berubah lembut seketika saat melihat anaknya sudah bangun.

“Iya, Sayang…” jawabnya pelan sambil mendekat ke sisi ranjang. “Gimana sekarang? Masih pusing?”

Sahir menggeleng kecil. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya masih pucat, tapi jauh lebih baik dibanding semalam.

“Sahel udah baikan…” ucapnya dengan suara cadel khas anak kecil.

Sahira tersenyum tipis mendengarnya.

Sejak kecil, Sahira memang meminta Sahir memanggilnya Ibu, bukan Mama atau Bunda. Menurutnya, panggilan itu terdengar lebih hangat dan lembut.

Sahir mengangkat tangan kecilnya, lalu memegang pipi Sahira pelan.

“Ibu jangan kawatir…” katanya lagi dengan pengucapan yang belum sempurna. “Sahel kuat…”

Kalimat sederhana itu justru membuat dada Sahira terasa hangat sekaligus sesak. Anak kecil ini selalu berusaha menenangkannya, bahkan saat dirinya sendiri sedang sakit.

Sahira mengusap lembut rambut Sahir.

“Iya … anak ibu memang hebat,” bisiknya penuh kasih sayang. Sahir tersenyum kecil dengan mata yang masih setengah mengantuk. Namun, beberapa detik kemudian ponsel Sahira tiba-tiba berdering.

Sahira melirik layar ponselnya dan langsung mengernyit kecil saat melihat nama salah satu karyawannya muncul. Dengan hati-hati, ia menjauh sedikit dari ranjang sebelum mengangkat telepon itu.

“Halo?”

Suara panik langsung terdengar dari seberang.

[Mbak Sahira, Mbak bisa datang nggak? Mas Aldo datang lagi ke toko.]

Wajah Sahira langsung berubah tegang.

"Aldo?” ulangnya pelan.

[Iya, Mbak. Dia minta uang lagi. Dari tadi bikin ribut dan marah-marah ke pegawai.]

Sahira memejamkan mata sejenak, napasnya terasa berat. Aldo anak dari ibu tirinya. Setelah ibu kandung Sahira meninggal, ayahnya menikah lagi dengan seorang janda yang membawa seorang anak laki-laki bernama Aldo. Namun, beberapa tahun kemudian, ayahnya pun meninggal menyusul ibunya. Sejak saat itu, kehidupan Sahira berubah berantakan. Aldo tumbuh menjadi pria yang kasar dan sering datang hanya untuk meminta uang. Dan setiap kali keinginannya tidak dituruti, keributan pasti terjadi.

[Mbak?] suara pegawainya kembali terdengar cemas. [Kami takut pelanggan jadi nggak nyaman…]

“Iya … aku datang,” jawab Sahira cepat. “Tolong jangan diladenin dulu. Aku ke sana sekarang.”

Telepon terputus.

Sahira menghembuskan napas panjang sambil memijat pelipisnya pelan.

“Ibu…” Suara Sahir membuatnya kembali menoleh.

Anak kecil itu sedang menatapnya dengan polos.

“Ibu mau pelgi?” tanyanya cadel.

Sahira memaksakan senyum kecil, lalu kembali duduk di samping ranjang.

“Iya, Sayang. Ibu pulang sebentar ke toko bunga.”

“Sekalang?”

“Iya, tapi cuma sebentar kok,” ujarnya lembut sambil membelai pipi Sahir. “Paling tiga puluh menit, habis itu ibu balik lagi.”

Sahir terlihat berpikir beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Sahel ditemenin sustel?”

“Iya,” jawab Sahira lembut. “Nanti ibu titip Sahir sama perawat jaga dulu.”

Sahir kembali mengangguk kecil, meski wajahnya tampak sedikit enggan.

“Ibu jangan lama-lama…” Kalimat itu membuat hati Sahira kembali mencelos. Ia mencium kening anaknya pelan.

“Nggak akan lama,” bisiknya. “Sahir anak baik, jadi jangan rewel, ya?”

“Iya…”

Sahira tersenyum tipis. Namun di balik senyum itu, kecemasan perlahan memenuhi pikirannya lagi.

1
lalah rodilah
semoga sahiraa dan sahir selamat dari orang orang yang mau berbuat jahat..kasihan udah 5 tahun menderita
lalah rodilah
jahat banget si ulat berbulu clara../Doge/
Naufal Affiq
bagus tuan cerai istri mu yang gak berguna itu,alasan banyak banget jadi orangtua.dan satu lagi tilong jaga cucu dan anak menantumu,karena clara lagi mencari mereka
Lilis Yuanita
semoga revano msh d situ mlindungi mreka
Nar Sih
semoga rencana clara ngk berhasil
Ita rahmawati
berarti saga blm tau ya kalo yg ngasih obat MLM itu Clara SM Aldi,,dn Revano blm cerita kah 🤦
mama
tuan Mahendra tolong lindungan sahir dan sahira dri Clara,semoga aj bodyguard atau anak buah tuan Mahendra yg ngawasi gerak gerik clara, atau setidak buat ngilndungi sahir dan sahira..clara orgny nekat bgt soalnya 🤣
dyah EkaPratiwi
semoga saga bisa melindungi Shir n sahira
TiWi
Jangan buat Sahira dan Sahir menderita karena Clara ya Thor.
Lianty Itha Olivia
bilang aja kmu Aldy ke papamu atau telp saga kmu bilang KLO Clara mau berusaha ngehancurin hidupmu dg Sahira
Oma Gavin
kenapa saga ngga peka terkait obsesi clara terhadap dirinya padahal gerak gerik nya sudah terbaca apa saking goblok usaha sampai oon
ardiana dili
lanjut
Tri Handayani
lama"obsesi clara bisa membuat dirinya jadi gila dan semoga rencananya gagal semua y thorrr
K16e K16e
lanjut kk
neny
bagus cerita nya,,merelakan orang yg kita cintai sukses emng perlu pengorbanan,,disini pengorbanan sahira sangat besar buat saga
neny
semoga ya kak,,kasihan sahir,,anak itu butuh ayah nya,,jng sampe rencana clara berhasil memisahkan mereka,,aq baca nya sesak banget di dada😭😭
TiWi
Clara terobsesi, itu bukan cinta.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.
TiWi
Clara berbahaya, dia bisa nyuruh orang buat celakain Sahira dan Sahir.....ayo Aldi jujur sama dokter Mario, terus kasih tau Saga biar waspada
Nar Sih
😭😭😭sahir ya yg gk mau ditinggal ayah nya ,sabar sahira dan sahir pasti ayah saga cpt balik lgi
Lilik24
gak tau aja si saga lagi ditunggu sama ulat bulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!