NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Balas Dendam

Setelah selesai berganti pakaian, Selena berjalan menyusuri bibir pantai Uluwatu dengan langkah gusar, menendang kerikil kecil yang menghalangi jalannya. Ia kini mengenakan gaun maxi longgar berlengan panjang yang menutup hampir seluruh kulitnya—pakaian yang menurutnya lebih cocok untuk acara pengajian daripada ke pantai.

​"Dasar bos diktator! Katanya jangan jatuh cinta, tapi mengatur bajuku seolah aku ini miliknya!" gerutu Selena.

​Ia sengaja mematikan ponselnya. Ia tidak butuh panggilan dari Cakra atau perintah baru dari Biru. Selena menemukan sebuah batu karang besar yang agak tersembunyi dari keramaian dan duduk di sana, menatap hamparan Samudra Hindia yang biru pekat.

​Baginya, tindakan Biru tadi pagi benar-benar merusak integritasnya sebagai wanita bebas. Ia mulai merenung, apakah uang dua miliar itu sepadan dengan kebebasannya yang dikebiri? Di dunia tulisannya, ia selalu menciptakan tokoh wanita yang berani melawan, namun di dunia nyata, ia justru terjebak dalam kontrak dengan pria yang emosinya sedingin es namun posesif secara tidak logis.

​"Apa dia pikir aku sengaja menggodanya? Percaya diri sekali," gumam Selena sambil mencoret-coret pasir dengan ranting kayu.

​Namun, di tengah kemarahannya, bayangan wajah pucat Biru di meja makan tadi kembali muncul. Ada rasa bersalah yang sedikit mencubit. Selena teringat bagaimana tangan Biru gemetar saat mencengkeram meja.

​"Apa dia sakit?" pikirnya sejenak, sebelum kemudian menggeleng kuat. "Ah, tidak mungkin. Dia pasti hanya terlalu emosional karena seleraku tidak sesuai dengan standar keluarga Hermawan yang kaku itu."

​Selena mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya. Di tengah suara deburan ombak, ia mulai menuliskan kekesalannya menjadi sebuah adegan novel.

​“Sang pahlawan wanita berdiri di tepi jurang, lebih memilih angin laut yang liar daripada pelukan emas yang menyesakkan dari sang raja yang tak punya hati...”

​Selena tidak tahu bahwa di atas tebing sana, di balkon vila, Biru sedang berdiri dengan bantuan Cakra, memegang teropong hanya untuk memastikan sosok gaun longgar itu tetap berada dalam jangkauan penglihatannya.

Biru menatap Selena dari jauh dengan dada yang masih terasa nyeri, bukan karena penyakitnya, tapi karena rasa perih melihat istrinya lebih memilih kesunyian pantai daripada duduk bersamanya.

​"Dia marah, Tuan," ujar Cakra datar.

​"Biarkan saja," sahut Biru serak, matanya tetap tertuju pada Selena. "Lebih baik dia marah di tepi pantai daripada dia tersenyum di depanku dengan baju itu. Jantungku tidak akan sanggup melewatinya lagi."

Cakra tertawa rendah. Ia yakin sekali kalau tuannya yang dia anggap seperti kakak sendiri benar-benar telah jatuh ke dalam lumpur hidup yang bernama Cinta.

"Nyonya memang beda dari semua wanita yang pernah dekat dengan anda. Tapi...ingat katup jantung anda tuan. Emosi yang terlalu intens bisa mengakibatkan hal yang fatal."

"Untuk itu aku ingin hidup lebih lama Cakra. Aku ingin bertemu dengan terapis itu, racikan obatnya sepertinya sangat bagus..."

Cakra mengangguk patuh, meski gurat kecemasan tetap tidak hilang sepenuhnya dari wajah kakunya. Ia segera menghubungi tim logistik untuk mengatur pertemuan privat dengan sang terapis di sebuah vila tersembunyi, jauh dari keramaian dan—yang paling penting—jauh dari jangkauan Selena.

​"Saya akan atur sore ini, Tuan. Tapi sebelum itu, sebaiknya Anda beristirahat. Tubuh Anda sudah cukup bekerja keras hanya dengan melihat Nyonya dari kejauhan," ujar Cakra sambil membantu Biru melangkah masuk ke dalam kamar yang sejuk.

Di tempat lain, Selena yang tadinya sedang asyik merangkai kalimat dramatis di buku catatannya, mendadak membeku. Pena di tangannya berhenti bergerak saat nama "Biru Hermawan" disebut dengan nada genit dari balik batu karang besar di belakangnya.

"Gila, ya? Biru itu makin hari makin hot. Padahal katanya dia kaku banget, tapi justru itu yang bikin penasaran," suara tawa renyah seorang wanita terdengar, disusul aroma parfum mahal yang menusuk hidung.

"Halah, kamu cuma bisa liat dari jauh. Aku dong," sahut suara lain dengan nada sangat percaya diri, "minggu lalu dia sempat kirim pesan ke aku. Katanya dia lagi jenuh sama urusan kantor. Kita bahkan punya rencana buat private dinner setelah dia balik dari Bali. Biru itu... kalau sudah sama aku, dinginnya hilang, Sayang."

Darah Selena mendidih. Integritasnya sebagai "istri sah"—meskipun hanya kontrak—terinjak-injak. Ia tahu Biru pria yang sulit ditebak, tapi mendengar wanita lain mengklaim hubungan khusus dengan suaminya di depan matanya sendiri adalah penghinaan level tinggi.

Lupa dengan janji "jangan jatuh cinta" dan lupa bahwa ia sedang dalam mode "penulis gembel" dengan gaun longgar yang mirip daster ibu-ibu, Selena berdiri dan melangkah lebar memutari batu besar itu.

"Oh, ya? Private dinner di mana? Di mimpi kamu?" semprot Selena ketus.

Tiga gadis dengan bikini branded dan kacamata hitam mahal itu tersentak. Mereka menatap Selena dari ujung rambut hingga ujung kaki. Selena saat itu memang tampak sangat kontras; rambutnya sedikit kusut terkena angin laut, tanpa makeup, dan gaun maxi pilihannya yang terlalu sopan membuatnya terlihat seperti turis salah kostum di pantai eksotis itu.

"Siapa sih kamu? Datang-datang nggak sopan banget," ujar si gadis yang tadi mengaku dekat dengan Biru sambil membetulkan letak tali bikininya.

"Aku? Aku istrinya Biru Hermawan," jawab Selena tegas, meski hatinya sedikit ragu.

Detik berikutnya, tawa pecah dari mulut ketiga gadis itu. Tawa yang sangat merendahkan.

"Istri? Biru Hermawan punya istri yang penampilannya kayak gembel begini?" Gadis itu mendekat, menatap cibiran ke arah gaun Selena yang kedodoran.

"Heis, jangan mimpi ketinggian. Biru itu punya standar tinggi. Selera dia itu yang kelas atas, bukan yang kelihatan kayak asisten rumah tangga yang nyasar ke pantai begini. Ngaca dulu sana!"

"Kamu pikir dengan pakai baju tertutup begini kamu bisa narik perhatian pria sekelas Biru? Kasihan banget halu-nya," timpal teman satunya sambil tertawa sinis.

Selena mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Ia ingin sekali meneriakkan bahwa dia baru saja berbagi ranjang dengan pria itu semalam, tapi tenggorokannya tercekat oleh rasa malu. Penampilannya yang "sopan" atas paksaan Biru pagi ini justru menjadikannya bahan tertawaan.

"Dengar ya, Mbak Gembel," si gadis itu menunjuk wajah Selena dengan kukunya yang panjang, "mending kamu pergi sebelum aku panggil security karena udah ganggu privasi kami. Biru itu milik dunia kelas atas, bukan milik remahan rengginang kayak kamu."

Selena terdiam, bukan karena takut, tapi karena rasa marah yang sudah sampai ke ubun-ubun. Ia baru menyadari betapa jahatnya aturan Biru pagi tadi. Pria itu menyuruhnya menutup diri, hanya untuk menjadikannya sasaran hinaan seperti ini, sementara Biru tetap menjadi idola yang dipuja-puja.

Tanpa kata, Selena berbalik dan berjalan pergi dengan langkah cepat. Matanya memanas bukan karena sedih, tapi karena amarah yang meledak. Ia tidak akan tinggal diam. Jika Biru ingin dia menjadi "istri yang sopan", maka Biru harus siap menerima konsekuensi dari seorang penulis yang sedang membalas dendam melalui tindakannya.

***

1
Rahmah Salam
hummmm....💪💪
Rahmah Salam
egoisss....emang anda tau kebahagian seseorang...😎
Rahmah Salam
tdk enak di posisi selena yg mengalami kebingungan dan ketidak pastian...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Bhebz: wkwkwk
total 1 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
Rahmah Salam
jenis penyakit langka😎
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
penuh lika liku naik turun jurang dan tebing... hihihi....
Titin Riani
nunggu update lagi dong 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!