Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.
Nantikan Perjalanan Kedua nya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
POV: WAHYU
Sabtu pagi pukul enam, Wahyu sudah berada di halaman kampus satu. Langit masih agak gelap, udara dingin, embun masih menempel di rerumputan. Beberapa petugas kebersihan kampus sedang menyapu halaman, dan satpam sedang membuka gerbang utama.
Hari ini adalah hari H acara Donor Darah dan Bakti Sosial yang diselenggarakan BEM Universitas.
Dan Wahyu adalah koordinator lapangan.
Artinya, semua teknis pelaksanaan ada di tangannya—mulai dari setup tempat, koordinasi vendor, pengaturan jadwal, hingga troubleshooting kalau ada masalah.
Tanggung jawab besar.
Tapi Wahyu suka tanggung jawab. Karena tanggung jawab itu jelas, terukur, dan bisa dikontrol—berbeda dengan hubungan antarmanusia yang... chaos dan unpredictable.
Wahyu berjalan menuju area parkir belakang kampus, di mana truk vendor konsumsi sudah menunggu. Supir truk—seorang bapak paruh baya berkumis tebal—sedang merokok sambil bersandar di badan truk.
"Pak, sudah siap?" tanya Wahyu.
"Siap, Mas. Tiga ratus box nasi sudah disiapkan. Mau diturunkan sekarang?"
"Tunggu sebentar. Saya cek lokasi penyimpanan dulu."
Wahyu berjalan ke gedung serba guna kampus—tempat acara akan diadakan. Pintunya sudah dibuka oleh petugas. Di dalam, beberapa volunteer BEM sudah datang, sedang mengatur meja dan kursi sesuai denah yang Wahyu buat minggu lalu.
"Pagi, Yu!" sapa Bagas, wakil ketua BEM, sambil mengangkat tangan. "Gue baru sampai. Gimana, semuanya on track?"
"Sejauh ini iya," jawab Wahyu sambil mengecek clipboard di tangannya—checklist panjang yang berisi semua hal yang harus dilakukan pagi ini. "Vendor konsumsi sudah datang. Sound system dijadwalkan datang jam tujuh. Tim PMI untuk donor darah jam delapan. Registrasi peserta dibuka jam sembilan."
"Perfect. Lu emang reliable, Yu." Bagas menepuk bahu Wahyu.
Wahyu hanya mengangguk. Dia tidak suka pujian—pujian membuatnya tidak nyaman, seperti ada ekspektasi yang harus dipenuhi.
"Oke, gue bantu koordinasi setup meja ya. Lu handle vendor," Bagas langsung bergerak.
Wahyu kembali ke truk, membantu supervisi penurunan box nasi. Satu per satu box diturunkan dan dibawa ke ruang penyimpanan di belakang gedung. Wahyu menghitung—dua ratus sembilan puluh delapan box.
Kurang dua.
"Pak, harusnya tiga ratus box. Ini cuma dua sembilan delapan," Wahyu memberitahu supir.
Supir bingung, cek manifest. "Wah, bener juga Mas. Mungkin tertinggal di gudang. Gimana ya?"
Wahyu berpikir cepat. "Bisa kirim tambahan dua box sekarang? Atau kalau nggak sempat, kami bisa jemput sendiri."
"Waduh, gudang masih tutup Mas. Baru buka jam delapan."
"Oke, nggak apa. Kami beli sendiri untuk backup." Wahyu mencatat di clipboard—note untuk beli dua box nasi cadangan di warteg terdekat nanti.
Masalah kecil. Tapi Wahyu sudah terbiasa dengan masalah kecil seperti ini—yang penting ada solusi cepat.
Pukul tujuh lewat lima belas menit, truk sound system datang. Tim teknisi turun, mulai pasang speaker, mixer, microphone. Wahyu supervisi, memastikan semua sesuai denah panggung yang dia buat.
Pukul delapan, tim PMI tiba dengan mobil unit donor darah—semacam klinik keliling. Mereka mulai setup peralatan donor: tempat tidur lipat, kantong darah steril, alat cek golongan darah.
Saat Wahyu sedang membantu mengatur flow registrasi donor darah, ponselnya berdering.
Ardi.
"Yu, gue di jalan. Macet parah. Mungkin telat setengah jam. Lu handle pembukaan dulu ya?"
Wahyu mengerutkan kening. "Pembukaan? Bukannya kamu yang sambutan pembukaan?"
"Iya, tapi kalau gue telat, lu yang gantiin. Lu kan koordinator lapangan, harusnya nggak masalah."
Masalah.
Wahyu tidak suka berbicara di depan orang banyak. Apalagi sambutan formal. Itu... di luar zona nyamannya.
"Ardi, aku nggak—"
"Yu, please. Gue percaya sama lu. Tinggal bilang 'selamat datang, terima kasih sudah datang, semoga acaranya lancar.' Nggak usah panjang-panjang. Oke?"
Wahyu menghela napas. "Oke."
"Thanks, Yu! Lu the best!"
Sambungan terputus.
Wahyu menatap ponselnya dengan perasaan tidak enak. Public speaking. Salah satu hal yang paling dia hindari.
Tapi tidak ada pilihan.
Pukul sembilan pagi, acara dimulai.
Ratusan peserta sudah berkumpul—mahasiswa, dosen, bahkan warga sekitar kampus yang ikut donor darah. Suasana ramai tapi terkontrol. Volunteer BEM dengan rompi oranye membantu mengarahkan peserta ke meja registrasi.
Wahyu berdiri di samping panggung, memegang microphone dengan tangan yang sedikit gemetar—tidak terlihat dari luar, tapi dia merasakannya.
Bagas menepuk bahunya. "Yu, waktunya. Ardi belum datang. Lu yang buka."
Wahyu menaiki panggung.
Ratusan pasang mata menatapnya.
Dadanya sesak. Napasnya terasa berat.
Tapi dia tidak bisa mundur sekarang.
Wahyu menarik napas dalam, lalu berbicara ke microphone.
"Selamat pagi. Perkenalkan, saya Wahyu, koordinator lapangan acara Donor Darah dan Bakti Sosial hari ini." Suaranya pelan tapi jelas—microphone menangkap dengan baik.
"Terima kasih kepada seluruh peserta yang sudah datang. Acara hari ini bertujuan untuk membantu sesama melalui donor darah, sekaligus memberikan bantuan sembako kepada warga sekitar kampus yang membutuhkan."
Wahyu berhenti sebentar. Matanya scanning kerumunan—mencoba tidak fokus pada siapa pun, hanya menatap ke arah umum.
Tapi matanya tanpa sengaja bertemu dengan seseorang di barisan tengah.
Riani.
Dia berdiri di sana, mengenakan kaos putih dan jeans, rambut dikuncir kuda, tersenyum sambil melambaikan tangan kecil ke arah Wahyu.
Wahyu terdiam sesaat.
Kenapa Riani ada di sini?
Acara ini terbuka untuk umum, jadi siapa pun bisa datang. Tapi... kenapa dia?
Wahyu cepat mengalihkan pandangan. Fokus. Jangan terdistraksi.
"Registrasi donor darah ada di meja sebelah kiri. Pembagian sembako untuk warga dimulai jam sepuluh. Mohon kerja samanya agar acara berjalan tertib. Terima kasih."
Singkat. To the point.
Wahyu turun dari panggung secepat mungkin, menyerahkan microphone ke Bagas.
"Bagus, Yu! Simpel tapi efektif," Bagas memuji.
Wahyu tidak menjawab. Dia langsung berjalan ke area registrasi, mengecek apakah semua berjalan lancar.
Tapi dari sudut matanya, dia melihat Riani berjalan mendekat.
Wahyu pura-pura tidak lihat. Dia sibuk-sibukan diri dengan mengecek daftar registrasi di laptop.
"Wahyu!"
Suara Riani.
Wahyu terpaksa mengangkat kepala.
Riani berdiri di depannya dengan senyum cerah. "Halo! Aku nggak nyangka kamu yang koordinator acara ini. Keren!"
Wahyu menatapnya dengan datar. "Kenapa kamu ada di sini?"
"Aku mau donor darah. Boleh kan?"
"Ini acara terbuka. Siapa pun boleh."
"Oke, bagus!" Riani tetap senyum meskipun nada Wahyu dingin. "Aku daftar ya. Oh iya, Dinda sama Karin juga datang. Mereka lagi parkir motor."
Wahyu tidak menjawab. Dia kembali fokus ke laptop.
Tapi Riani tidak pergi. Dia berdiri di sana, menatap Wahyu dengan tatapan yang... kagum?
"Wahyu, tadi kamu bagus banget di atas panggung. Tenang dan jelas."
"Itu cuma sambutan biasa."
"Tapi tetap bagus. Aku tahu kamu nggak suka public speaking, tapi kamu tetap bisa lakuin dengan baik."
Wahyu mengangkat kepala. "Kenapa kamu tahu aku nggak suka public speaking?"
Riani terdiam. Seperti tersadar dia terlalu banyak bicara.
"Aku... tebakan aja," jawabnya gugup. "Karena kamu orangnya pendiam."
Wahyu menatapnya dengan curiga. Tapi dia tidak mengejar topik itu.
"Kalau mau donor darah, daftar di sana," Wahyu menunjuk meja registrasi.
"Oke. Eh, setelah acara selesai... kamu ada waktu nggak? Mungkin bisa ngobrol sebentar?"
"Aku sibuk."
"Cuma sebentar kok."
"Riani, aku bilang aku sibuk."
Nada suara Wahyu sedikit naik—tidak sampai kasar, tapi cukup untuk memberikan tanda: jangan push.
Riani mengangguk pelan. "Oke. Maaf."
Dia berbalik, berjalan menuju meja registrasi.
Wahyu menatap punggungnya sebentar, lalu kembali fokus ke pekerjaan.
Tapi ada perasaan tidak enak di dadanya.
Kenapa dia harus kasar seperti itu?
Riani cuma ingin ngobrol.
Tapi Wahyu tidak bisa. Dia tidak bisa membiarkan Riani semakin dekat. Karena semakin dekat Riani, semakin besar risiko dia... tahu.
Dan Wahyu tidak siap untuk itu.
Acara berjalan lancar. Donor darah mencapai target—tiga ratus dua puluh peserta, melebihi target awal tiga ratus. Pembagian sembako juga sukses—seratus paket sembako dibagikan kepada warga sekitar kampus yang membutuhkan.
Pukul dua siang, acara resmi selesai.
Wahyu masih sibuk koordinasi bongkar peralatan, cek invoice vendor, dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal.
Saat dia sedang menurunkan banner acara dari panggung, seseorang menyodorkan sebotol air mineral dingin ke arahnya.
Riani.
"Istirahat dulu. Kamu dari pagi belum duduk," ujar Riani lembut.
Wahyu menatap botol air itu, lalu menatap Riani.
"Aku nggak haus."
"Bohong. Kamu keringetan." Riani tidak menurunkan tangannya. "Ambil. Gratis kok."
Wahyu diam beberapa detik, lalu mengambil botol itu. "Thanks."
Dia membuka tutupnya, minum setengah botol sekaligus—ternyata dia memang haus.
Riani tersenyum kecil. "Acaranya sukses banget. Kamu hebat bisa koordinasi semuanya sendirian."
"Aku nggak sendirian. Ada tim."
"Tapi kamu yang handle sebagian besar. Aku lihat kok dari tadi." Riani duduk di tepi panggung. "Kamu... sering banget kerja kayak gini ya? Ngerjain semuanya sendirian?"
Wahyu tidak menjawab. Dia melanjutkan menurunkan banner.
"Wahyu," Riani memanggil lagi. "Boleh aku bilang sesuatu?"
"Apa?"
"Kamu... nggak harus selalu kuat sendirian."
Wahyu berhenti bergerak.
"Maksudku," Riani melanjutkan hati-hati, "nggak apa-apa kalau sesekali minta bantuan. Atau... sekadar cerita sama orang lain. Nggak harus tanggung semuanya sendiri."
Wahyu berbalik, menatap Riani dengan tatapan yang... lelah.
"Kamu nggak ngerti."
"Lalu jelaskan. Biar aku ngerti."
"Aku nggak perlu kamu ngerti."
"Kenapa? Kenapa kamu nggak mau orang lain ngerti kamu?"
Wahyu melempar banner ke lantai dengan agak keras—bukan marah, tapi frustrasi.
"Karena begitu orang lain ngerti... mereka jadi kasihan. Dan aku nggak butuh kasihan."
Riani berdiri. Melangkah mendekat. "Aku nggak kasihan sama kamu."
"Bohong."
"Aku serius. Aku nggak kasihan. Aku cuma... peduli."
"Beda tipis."
"Nggak. Kasihan itu dari atas ke bawah. Peduli itu setara."
Wahyu menatap Riani—menatap matanya yang... tulus.
Dan untuk sesaat, Wahyu ingin percaya.
Ingin percaya bahwa ada orang yang benar-benar peduli tanpa agenda tersembunyi.
Tapi pengalaman hidupnya bilang sebaliknya.
"Aku harus selesaikan ini," ujar Wahyu akhirnya, mengalihkan pandangan. "Kamu pulang saja."
Riani tidak bergerak. "Biarkan aku bantu."
"Riani—"
"Please. Aku nggak minta kamu buka hati atau cerita apa pun. Cuma... biarkan aku bantu beresin ini. Oke?"
Wahyu menatapnya lagi.
Riani menatap balik dengan tatapan yang... gigih.
Wahyu menghela napas panjang.
"Oke. Angkat kursi-kursi itu ke gudang."
Riani tersenyum lebar. "Siap!"
Dan untuk satu jam berikutnya, mereka bekerja bersama dalam diam.
Tidak banyak bicara. Hanya sesekali Wahyu memberi instruksi, dan Riani mengikuti.
Tapi entah kenapa... keheningan itu tidak awkward.
Malah... nyaman.
Dan Wahyu membenci dirinya sendiri karena merasakan itu.
Bersambung.....