Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAK MILIK
"Bareng saya saja, saya sudah tidak ada jadwal praktik," ujar Salman sengaja mendatangi kamar rawat inap Tania, mendengar dari perawat bahwa hari ini Tania sudah boleh pulang. Pun demikian, Salman sempat bertanya pada dokter Ula, dokter kandungan yang menangani Tania, perihal obat dan vitamin yang harus diminum oleh Tania.
Tania hanya tersenyum kecil, tak enak rasanya merepotkan Tante Lusi dan Salman, jadi saat Tante Lusi pulang dari luar kota, Salman memberi tahu sang mama bahwa Tania dirawat di rumah sakit, beliau langsung meluncur dan sampai menginap untuk menemani Tania. Ibu hamil itu langsung berkaca-kaca, terharu dengan perhatian beliau. Ibu kandungnya saja tak gupuh, bila Tania melapor sakit, ini hanya tetangga baru tapi sudah sangat seperhatian ini. Rasanya Tania ingin memeluk Tante Lusi dan menangis hebat atas bebam hatinya sekarang.
Mungkin Salman tak memberi tahu kondisi Tania sebenarnya, sehingga Tante Lusi tak pernah menyinggung kehamilan. Syukurlah, Tania khawatir pandangan Tante Lusi padanya berubah, ya sadar diri lah, perempuan hamil tanpa seorang suami masih dianggap tabu.
"Saya bisa sendiri dokter," ucap Tania menolak ajakan Salman, ia tak mau bergantung pada siapa pun. Hidupnya sudah disetting untuk sendiri, dan saat mengharapkan pada seseorang malah ia ditinggal nikah, Tania tak mau mengulang lagi.
Sejak dirawat pun, Tania sama sekali tak memegang ponsel, memang sengaja. Paling Lingga juga sudah memberitahu Yovi kalau dirinya opname, ada untungnya dia pingsan dan tak membawa ponsel, sehingga teror dari Siska pun tak ada. "Oh oke, kalau bisa sendiri. Hati-hati," ucap Salman kemudian keluar kamar inap Tania, tanpa memaksa. Tania tak berniat tarik ulur, ia hanya membatasi orang lain masuk dalam ranah hidupnya, apalagi seorang laki-laki, siapa tahu dokter Salman punya pasangan juga, khawatir dipandang pelakor.
Tania pun keluar rumah sakit sendiri, pulang sendiri, dia hanya memegang perutnya sembari menatap langit siang yang begitu cerah, "Rencana Tuhan untuk hidupku selanjutnya apa, sampai anak ini tak mau hilang dari rahimku?" gumam Tania merenungi jalan takdirnya.
Sesampainya di rumah, ia langsung memesan makanan, teringat kata Tante Lusi tempo hari menjadi wanita single itu tak mudah, dunia itu kejam, yang bisa menghandle hidup kita ya kita sendiri. Jaga kesehatan dan fokus pada pengembangan diri saja, agar mimpi yang kita idamkan bisa terwujud.
Tania pun sedikit demi sedikit mulai menata dirinya, sudah cukup terpuruk. Saatnya mulai hidup yang baik, karena sekarang ada nyawa yang tiap hari tumbuh dalam dirinya.
Makan sehat.
Pikiran tenang.
Minum vitamin.
Side job.
List keempat yang dipikirkan Tania bukan tanpa alasan. Kehamilannya yang belum membesar tentu tidak akan diketahui oleh banyak orang, tapi kalau sudah membesar Tania akan menghadapi gelombang hujatan, bahkan Siska sendiri bisa menjauhinya. Kalau sudah begitu, akankah dia nyaman kerja di kantor Yovi. Tentu tidak? Sehingga ada baiknya dia mulai mencari side job sejak hari ini.
Setelah makan, ia menuliskan daftar belanjaan untuk memenuhi lemari esnya. Ingat pesan dokter kandungan kemarin, porsi makan harus mengandung sayur, buah dan protein. Maka Tania akan beli bahan-bahan sehat tersebut.
Ia pergi ke supermarket sendiri, memilih bahan makanan real food, sekalian cuci mata. Ternyata pikiran tenang itu sangat baik ya, fokus pada diri sendiri membuat Tania tak mau berpikir aneh-aneh.
"Kok gak istirahat saja?" sebuah suara yang mengagetkan Tania saat memilih apel. Spontan ia menoleh, dokter Salman sudah berada di sampingnya dan tersenyum ramah.
"Hah? Kok bisa di sini?" tanya Tania heran, dokter itu tersenyum sembari menunjuk ke satu tempat, bagian ikan. Tania ikut tersenyum, ternyata dokter Salman bersama Tante Lusi.
"Loh, Tania sudah di sini aja. Sehat, Nak?" tanya Tante Lusi sembari memegang lengan Tania.
"Sudah sehat, Tante. Tante sendiri baru sampai?" balas Tania tak kalah ramah, setelah menemani Tania di rumah sakit, Tante Lusi pergi ke luar kota lagi, biasa urusan pekerjaan, sebagai narasumber woman preuner.
"Iya, bolak-balik ke luar kota, pulang-pulang lihat kulkas melompong, meski punya dokter tinggal di rumah, tapi gak peka," sindir Tante Lusi pada Salman, yang membuat Tania ikut tersenyum.
Tante Lusi pun mengajak Tania makan malam selepas belanja, ingin menolak tapi Tante Lusi terus memaksa. Mereka bertiga makan di restoran Jepang, Tania memilih ramen lebih awan daripada sushi, apalagi Salman berbisik jangan pesan sushi, kamu hamil gak boleh makan makanan mentah.
Selama makan malam, Tante Lusi yang mendominasi obrolan, karena Salman bukan tipe yang mudah berbaur. "Tante itu kalau sudah pegang mic, rasanya sejam gak kerasa loh, Tan, makanya sudah terbiasa ngoceh!" ucap beliau yang sempat minta maaf karena terlalu banyak cerita, Tania hanya tersenyum saja.
"Gak pa-pa Tante, sudah lama loh saya tidak mendengar seorang obrolan seorang ibu," ucap Tania yang memang sekangen itu akan kehadiran seorang ibu dalam hidupnya.
Tante Lusi langsung memegang tangan Tania, memberi support agar Tania tak merasa kesepian. Obrolan pun mengalir begitu saja sehingga ada celetukan dari Tante Lisa yang membuat Tania tertawa lebar begitu juga dengan Salman.
Bagi siapa saja yang melihat mereka, pasti mengira keluarga bahagia, itu pun yang dipikirkan Lingga. Tidak sengaja, ia keluar dari ruangan VIP bersama keluarga Calista disuguhi pemandangan menyesakkan hati. Jelas tak terima, kalau saja tidak ada mertuanya, mungkin Lingga sudah menghampiri Tania.
Semakin menyesakkan saat melihat lelaki itu lagi, Lingga yakin, keduanya sudah punya hubungan. Lingga tahu Tania bukan tipe perempuan yang mudah dekat dengan laki-laki lain. Calista mengoceh di dalam mobil, tapi tak disahuti Lingga sama sekali. Pikirannya terbanyang pada Tania, kalau sampai Tania membuka hati pada pria itu, entah sehancur apa Lingga.
Sebagai laki-laki yang menyentuh Tania pertama kali, tentu tak terima Tania harus disentuh laki-laki lain. Harus dengan cara apa Lingga meyakinkan Tania bahwa keduanya masih bisa berhubungan. Lama-lama Lingga akan keluar dari ahli waris si Wijaya itu, sepertinya lebih baik.
"Lingga, antarkan aku ke apartemen pacarku dong, sudah waktunya setor nih!" pinta Calista tak tahu malu. Bisa-bisanya membahas hal inti bersama lelaki lain pada sang suami. Lingga hanya menatap tajam pada Calista. "Kenapa sih? Gak rela aku lebih intim sama pacar aku?" tanya Calista masih tak tahu malu.
"Murahan aja sih," sebut Lingga seperti biasa, tajam dan pedas.
"Setidaknya aku normal, gak kaya kamu, masa' umur segini itunya cuma dibuat pipis doang," sindir Calista.
"Gak pa-pa, asalkan punyaku tahu mana hak milik orang mana hak milik sendiri," balas Lingga dengan maksud pacar Calista adalah suami orang, yang tak patut bersama Calista.
"Udah buruan antar aku, lama-lama emosi kalau dekat kamu!" ucap Calista kesal.
GO go Tania semangat