NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Labirin Beton dan Gema Hati yang Terluka

​Dengung mesin motor trail tua itu terasa seperti gergaji yang membelah keheningan fajar di Sektor Utara. Angin laut yang asin kini berganti menjadi aroma solar, karat, dan debu industri yang mencekik. Aku merapatkan tubuhku pada punggung Devan, mencoba mencari perlindungan dari tamparan angin yang terasa seperti ribuan jarum es menusuk pori-poriku. Punggung itu, yang dulu dalam ingatanku yang samar adalah tempat bersandar yang paling hangat, kini terasa seperti dinding beton yang retak—kokoh namun penuh dengan luka yang tersembunyi.

​Kami memasuki kawasan gudang distribusi tua yang telah lama mati. Bangunan-bangunan raksasa dari beton dan baja ini berdiri seperti kerangka monster purba yang membusuk di bawah langit pagi yang abu-abu. Tidak ada kehidupan di sini, kecuali beberapa ekor anjing liar yang menggonggong jauh di kejauhan dan tumpukan peti kemas yang sudah berkarat dimakan usia.

​Devan memelankan laju motornya saat kami mendekati sebuah gudang di ujung blok. Ia tidak langsung masuk, melainkan memutar tiga kali di blok yang sama, matanya yang tajam terus memindai spion, memastikan tidak ada sorot lampu atau bayangan yang membuntuti. Paranoia Devan bukan lagi sekadar sikap waspada; itu adalah insting binatang buruan yang sudah terlalu sering dikepung.

​"Kita sampai," bisiknya. Suaranya terdengar lebih parau daripada satu jam yang lalu.

​Ia menuntun motornya masuk ke dalam celah sempit di antara dua gudang, lalu turun untuk membuka pintu besi raksasa yang sudah miring engselnya. Suara derit logam yang bergesekan dengan lantai semen bergema di dalam ruangan luas itu, terdengar seperti jeritan kesakitan yang memilukan. Devan segera menarikku masuk, lalu menutup kembali pintu itu dan menguncinya dengan rantai besar yang sudah ia siapkan.

​Di dalam, kegelapan terasa lebih pekat dan berat. Hanya ada satu celah cahaya di langit-langit yang bocor, menyorot ke bawah seperti lampu panggung yang kesepian, memperlihatkan partikel debu yang menari-nari di udara pengap. Devan menyalakan sebuah lampu senter taktis, cahayanya yang putih dingin menyapu ruangan yang dipenuhi oleh palet kayu tua dan sisa-sisa boks kargo.

​"Di sini tidak ada sinyal. Benar-benar mati," Devan memeriksa ponsel burner-nya, lalu melemparkannya ke atas meja kayu yang rapuh. "Ayahmu tidak akan bisa melacak GPS motor ini lewat menara seluler mana pun di radius lima kilometer."

​Aku turun dari motor, kakiku sedikit gemetar saat menyentuh lantai semen yang dingin. Aku melepaskan helm, membiarkan rambutku yang berantakan jatuh menutupi wajahku yang pucat. Bau lembap dan oli bekas menyerbu inderaku. Ini sangat jauh dari kamar tidurku yang harum lavender dan beralaskan karpet bulu domba. Ini adalah realitas yang selama ini disembunyikan dariku: sebuah dunia di mana keselamatan diukur dari seberapa dalam kau bisa bersembunyi di dalam bayang-bayang.

​Aku menatap Devan yang sedang melepaskan jaket kulitnya. Di bawah cahaya senter yang terpantul ke dinding, aku melihat kaus abu-abunya kini benar-benar basah oleh darah di bagian bahu kiri. Luka itu pasti terbuka kembali saat ia menendang kick-starter motor tadi.

​"Devan, bahumu... biarkan aku melihatnya," aku melangkah mendekat, tanganku terulur ragu.

​"Aku bisa mengurusnya sendiri, Anya. Duduklah di sana," ia menunjuk ke arah kasur lantai yang tertutup plastik kusam di sudut ruangan.

​"Berhenti bersikap keras kepala!" suaraku meninggi, memecah kesunyian gudang. "Kau terluka karenaku. Kau membawa pistol, kau memalsukan identitas, kau bahkan dipenjara... semuanya karenaku. Jadi setidaknya, biarkan aku melakukan sesuatu yang berguna daripada hanya berdiri di sini seperti boneka rusak!"

​Devan membeku. Ia menoleh perlahan, menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca—ada kilat amarah yang tertahan, namun di baliknya, ada kelelahan yang luar biasa dalam. Perlahan, ia menghela napas panjang, lalu merosot duduk di atas salah satu boks kayu. Ia membiarkanku mendekat.

​Aku merogoh tas medis kecil yang tadi kubawa dari gubuk nelayan. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, aku menggunting kain kausnya yang menempel pada darah yang mulai mengering. Luka sayatan itu cukup dalam, merah dan berdenyut. Saat aku membersihkannya dengan alkohol, Devan sama sekali tidak mengeluarkan suara, hanya rahangnya yang mengeras dan tangannya yang mencengkeram pinggiran boks kayu hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Kenapa kau tidak pernah menyerah mencari aku?" tanyaku pelan, konsentrasi penuh pada luka di depanku. "Tiga tahun itu lama, Devan. Kau bisa saja memulai hidup baru di luar kota. Kau bisa melupakan gadis yang bahkan tidak ingat cara memanggil namamu."

​"Melupakanmu berarti membiarkan ayahmu menang, Anya," jawabnya rendah, matanya menatap ke kegelapan gudang. "Dan aku tidak akan pernah membiarkan pria itu mengambil segalanya dariku. Dia sudah mengambil rumahku, dia mengambil ibuku, dan dia mengambil masa depanku. Jika aku membiarkan dia memilikimu juga, maka aku benar-benar sudah mati."

​Aku berhenti sejenak, menatap profil wajahnya dari samping. Di balik kesan ketus dan berbahayanya, ada seorang pemuda yang seluruh hidupnya didorong oleh satu tujuan tunggal yang menyakitkan. Aku merasa sebuah beban yang sangat berat menindih dadaku. Selama tiga tahun ini, aku hidup dalam kemewahan hasil dari penderitaannya. Setiap suap makanan yang kumakan, setiap senyum yang kuberikan pada Ayah, adalah pengkhianatan bagi Devan yang sedang membusuk di penjara.

​"Maafkan aku," bisikku, air mata mulai menggenang. "Maaf karena aku sangat lambat untuk bangun."

​Devan memutar kepalanya, menatapku tepat di mata. Ia mengangkat tangan kanannya yang kasar, lalu dengan sangat pelan—seolah takut aku akan hancur jika ia menyentuhku terlalu keras—ia menyeka air mata di pipiku. "Jangan minta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahanmu. Ayahmu adalah ahli dalam memanipulasi realitas. Kau adalah korban, sama seperti ibuku."

​Setelah aku selesai membalut lukanya, Devan memakai kembali jaketnya. Suasana menjadi canggung sejenak, hanya diisi oleh suara detak jantungku yang berpacu liar. Untuk mengalihkan perhatian, aku berjalan menuju meja kayu tempat laptop dan harddisk berada.

​"Kita harus melihat dokumen itu," ujarku, mencoba mengembalikan fokus kami pada misi utama. "Jika ini benar-benar tentang Proyek Sudirman, kita butuh bukti yang kuat sebelum Ayah mengirim orang lebih banyak lagi untuk memburu kita."

​Devan mengangguk, ia menyalakan laptop. Cahaya dari layar monitor terpantul di wajah kami, menciptakan bayangan yang dramatis di dinding gudang. Jarinya bergerak cepat di atas touchpad.

​"Ini dia," gumam Devan. "Folder 'OrenMahendra'. Butuh kunci enkripsi kedua."

​Aku mendekat, menatap layar yang meminta kata sandi berupa kombinasi angka enam digit. Pikiranku kembali berdenyut. Ingatanku tentang sandi ini tidak ada dalam bentuk visual, melainkan dalam bentuk sensasi fisik. Aku mencoba memejamkan mata, membayangkan diriku duduk di depan laptop perak lamaku, jari-jariku bergerak secara otomatis.

​Apa yang paling berharga bagiku tiga tahun lalu? Apa yang ingin aku sembunyikan dari Ayah?

​"Tanggal 14 Juli," bisikku. "Bukan hanya tanggal kita lari. Itu adalah tanggal Ayah meresmikan peletakan batu pertama Proyek Sudirman. Tanggal di mana semuanya dimulai."

​Aku mengetik angka: 1-4-0-7-2-1.

​Enter.

​Layar laptop berkedip hijau. Puluhan file PDF dan gambar hasil pindaian (scan) muncul di hadapan kami. Aku membuka salah satu dokumen teratas yang diberi judul "Laporan Audit Internal - Rahasia".

​Mataku membelalak lebar saat membaca baris-baris angka dan narasi di dalamnya. Dokumen itu menunjukkan perbandingan antara anggaran yang dikeluarkan oleh perusahaan "Kusuma Jaya" dan kualitas material yang sebenarnya diterima di lapangan. Ada selisih hampir empat puluh persen. Besi struktur yang seharusnya memiliki standar ketahanan gempa tertentu, diganti dengan besi daur ulang dari vendor ilegal yang tidak bersertifikat.

​"Lihat ini," Devan menunjuk ke sebuah lampiran foto. "Foto retakan pada tiang penyangga utama, diambil dua minggu sebelum bangunan itu runtuh. Di bawahnya ada memo dengan tanda tangan ayahmu: 'Abaikan. Tutup dengan semen ekspos. Audit akan diurus secara internal.'"

​Aku merasa mual. Perutku melilit seolah aku baru saja menelan racun. "Dia tahu... Ayah tahu bangunan itu akan runtuh. Dia membiarkan orang-orang itu bekerja di sana setiap hari, tahu bahwa tiang itu bisa hancur kapan saja."

​"Belasan orang meninggal, Anya. Salah satunya adalah ayah dari sahabatku sendiri," suara Devan terdengar sangat tajam, dipenuhi dengan kebencian yang murni. "Dan saat ibuku menyerahkan laporan ini ke kepolisian, ayahmu menggunakan kekuasaannya untuk memutar balikkan fakta. Dia menanam bukti palsu di rekening ibuku, seolah-olah ibuku yang menerima suap dari vendor besi itu."

​Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Duniaku benar-benar terbalik. Pria yang selama ini membacakanku cerita sebelum tidur, yang memelukku saat aku mimpi buruk, adalah seorang monster yang menukar nyawa manusia dengan saldo rekening. Dan sekarang, dia sedang memburu putrinya sendiri karena putrinya memegang kebenaran yang bisa menghancurkannya.

​"Ini bukan sekadar sayembara dua miliar, Anya," Devan bersandar pada kursinya, menatap layar laptop dengan mata yang dingin. "Ini adalah hukuman mati bagi siapa pun yang memiliki data ini. Ayahmu tidak akan berhenti sampai gudang ini terbakar habis bersama kita di dalamnya."

​"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanyaku putus asa. "Kita tidak bisa selamanya lari. Kita tidak punya siapa-siapa di pihak kita. Polisi, media... semuanya bisa dia beli."

​"Kita punya satu orang," Devan menatapku. "Jaksa Satria. Dia adalah jaksa muda yang memimpin penyelidikan Proyek Sudirman sebelum kasusnya ditutup paksa tiga tahun lalu. Dia satu-satunya orang yang masih mencoba menggali kasus ini secara diam-diam. Aku sudah menghubunginya lewat jalur aman sebelum kita lari dari apartemen."

​"Kau percaya padanya?"

​"Aku tidak percaya pada siapa pun di dunia ini selain diriku sendiri," Devan menjawab datar. "Tapi Satria punya dendam pribadi pada ayahmu. Karirnya hancur karena mencoba melawan Kusuma Jaya. Musuh dari musuhku adalah temanku, untuk saat ini."

​Tiba-tiba, suara derum mesin mobil yang sangat berat terdengar dari luar gudang. Suaranya bukan seperti mobil pribadi, melainkan truk kargo besar atau SUV bertenaga tinggi.

​Devan seketika melompat berdiri. Ia mematikan laptop dalam satu gerakan cepat dan mencabut senternya. Gudang kembali tenggelam dalam kegelapan. Ia meraih pistol di pinggangnya, lalu menarikku ke belakang tumpukan palet kayu.

​"Jangan bersuara," desisnya tepat di telingaku.

​Aku bisa merasakan tubuh Devan menegang. Napasnya sangat pendek dan teratur. Di dalam kegelapan, aku bisa melihat sorot lampu mobil yang menerobos celah-celah pintu besi gudang yang miring. Cahaya itu menyapu ruangan, bergerak perlahan, seolah sedang mencari sesuatu yang bersembunyi di dalam sana.

​Jantungku berdegup sangat kencang hingga aku takut orang di luar sana bisa mendengarnya. Ketakutan ini berbeda dengan serangan panik yang biasa kualami. Ini adalah ketakutan yang nyata, ketakutan akan kematian yang hanya berjarak beberapa meter dari kami.

​Lampu mobil itu mati. Terdengar suara pintu mobil dibuka, disusul dengan langkah kaki yang berat di atas tanah berbatu di luar.

​Tuk. Tuk. Tuk.

​Langkah itu berhenti tepat di depan pintu besi. Hening selama beberapa detik yang terasa seperti satu abad.

​"Devan Mahendra," sebuah suara bariton yang berat dan berwibawa menggema dari luar pintu. "Aku tahu kau di dalam. Aku datang bukan untuk mengambil dua miliar itu. Aku datang untuk menagih janji."

​Devan tidak menurunkan senjatanya. Ia menatap ke arah pintu dengan mata yang menyipit tajam.

​"Jaksa Satria?" tanya Devan, suaranya sangat rendah, nyaris menyerupai geraman.

​"Hanya aku sendiri. Tanpa pengawal," jawab suara di luar. "Jika kau ingin menghancurkan Hendra Kusuma, sekarang adalah satu-satunya kesempatanmu. Besok pagi, dia akan terbang ke luar negeri untuk 'urusan bisnis' yang tidak akan pernah berakhir."

​Devan terdiam, menimbang-nimbang risiko yang ada. Ia menatapku sejenak, mencari afirmasi di mataku. Aku hanya bisa mengangguk pelan, menyadari bahwa di titik ini, kita tidak punya pilihan selain bertaruh pada satu-satunya kartu yang tersisa.

​Perlahan, Devan melangkah menuju pintu, tetap dengan pistol yang siaga di tangannya. Elegi kami baru saja memasuki babak yang paling berdarah.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​INT. RUANG KERJA AYAH ANYA (HENDRA) - MALAM HARI (3 TAHUN LALU)

​Suasana ruangan sangat megah namun dingin. AYAH ANYA (Hendra) sedang duduk di meja kerjanya yang luas, menatap sebuah map merah di depannya. Di seberang meja, berdiri DOKTER FRANS.

​HENDRA

"Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai dia benar-benar 'bersih'?"

​DOKTER FRANS

"Prosedur blokade memori ini menggunakan regimen dosis tinggi, Pak Hendra. Kita harus melakukannya secara bertahap. Jika terlalu cepat, otaknya bisa mengalami kerusakan permanen. Tapi saya jamin, dalam enam bulan, dia tidak akan ingat pernah mengenal anak itu."

​Hendra menyesap wiskinya perlahan, matanya tidak lepas dari sebuah foto di atas meja—foto Anya dan Devan yang sedang tertawa di depan bengkel.

​HENDRA

"Lakukan saja. Aku tidak peduli pada risiko medisnya. Aku tidak membesarkan putriku selama enam belas tahun hanya untuk melihatnya jatuh ke tangan sampah jalanan seperti dia. Anya adalah mahakaryaku. Dan mahakarya tidak boleh memiliki cacat."

​Tiba-tiba, terdengar suara keributan di luar ruangan. Pintu terbuka kasar. ANYA (16 tahun) berdiri di sana, matanya merah karena menangis, tangannya memegang laptop perak.

​ANYA

"AYAH! Apa yang Ayah lakukan pada ibu Devan?! Aku sudah membaca semuanya! Ayah yang memalsukan laporan audit itu!"

​Hendra tidak terlihat panik. Ia meletakkan gelasnya dengan sangat pelan, lalu berdiri dengan wibawa yang mengintimidasi.

​HENDRA

"Anya, sayang... kau masuk ke tempat yang salah di waktu yang salah. Berikan laptop itu pada Ayah."

​ANYA

"TIDAK! Aku akan membawanya ke kantor polisi! Aku benci Ayah!"

​Anya berbalik dan lari menuju pintu keluar.

​HENDRA

(Berteriak dingin pada pengawalnya di koridor)

"KEJAR DIA! Ambil laptop itu, dan bawa dia ke Klinik Dokter Frans malam ini juga! SEKARANG!"

​Kamera fokus pada wajah Hendra yang berubah menjadi sangat menyeramkan di bawah cahaya lampu temaram, sebelum layar perlahan-lahan memudar menjadi warna merah pekat yang bergetar.

​FADE OUT.

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!