NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fosil Naga Hitam

Malam merangkak menuju fajar ketika Chu Chen dan Meng Fan kembali menyusup masuk ke dalam gubuk reyot nomor 4044 di Puncak Luar.

Meng Fan langsung menjatuhkan dirinya ke atas dipan kayu. Napasnya terengah-engah, seluruh pakaiannya basah oleh keringat dingin. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit gubuk. Akal sehatnya masih menolak mencerna apa yang baru saja ia saksikan di Lorong Kematian. Seorang Murid Dalam Lapis Kedelapan dan dua pengawal Lapis Kesembilan... dihapus dari keberadaan seolah mereka tidak pernah dilahirkan.

"Tidurlah, Meng Fan," ucap Chu Chen datar. Ia duduk bersila di atas dipannya sendiri. "Besok pagi, Puncak Utama akan jauh lebih kacau dari hari ini. Kau butuh tenagamu untuk berpura-pura bodoh."

"B-Bagaimana aku bisa tidur?" suara Meng Fan bergetar. "Kau membunuh pewaris Klan Lu! Begitu mereka sadar Plakat Nyawanya pecah tanpa jejak, mereka akan membongkar seluruh Kota Perdagangan dan Puncak Luar!"

"Biarkan mereka membongkar langit sekalipun. Jejaknya sudah tidak ada," Chu Chen memejamkan matanya, mengabaikan ketakutan temannya itu.

Chu Chen merogoh balik jubahnya dan mengeluarkan sebongkah batu hitam legam yang permukaannya dipenuhi rongga. Fosil Tulang Naga Hitam Primordial.

Begitu batu itu bersentuhan dengan telapak tangannya, Darah Naga di jantung Chu Chen kembali berdenyut liar, memukul tulang rusuknya dari dalam seolah ingin merobek dada Chu Chen untuk menyambut fosil tersebut. Pertalian ini sangat kuat, membuktikan bahwa meskipun saripati kehidupannya telah mati jutaan tahun lalu, hukum kehancuran yang terukir di dalam tulang ini masih utuh.

Saatnya makan, batin Chu Chen dengan senyum tipis.

Seni Kaisar Naga: Pusaran Ketiadaan.

Berbeda dengan saat menelan esensi manusia atau Inti Kalajengking yang langsung berubah menjadi Qi, kali ini daya hisap Chu Chen bekerja dengan cara yang jauh lebih ganas. Cairan Lautan Qi di Dantiannya yang memancarkan panas Api Teratai Merah dialirkan langsung ke telapak tangannya, memanggang fosil hitam tersebut.

KRETAK... KRETAK...

Fosil yang dikatakan juru lelang tidak bisa dilebur oleh api biasa itu, kini mulai meleleh di bawah panas mutlak Api Surgawi milik Chu Chen. Batu hitam itu mencair menjadi cairan kental berwarna hitam gelap yang memancarkan aura kuno dan mematikan.

Tanpa membuang waktu, Chu Chen menarik cairan hitam itu masuk melalui pori-pori telapak tangannya.

"Ugh!"

Chu Chen mendengus tertahan. Rasa sakit yang tajam dan menusuk menjalar dari lengannya, merambat lurus ke tulang selangkanya, lalu menyebar ke seluruh kerangka tubuhnya. Cairan legam itu bertindak seperti benalu purba; ia tidak masuk ke dalam meridian atau Lautan Qi, melainkan mengebor langsung ke dalam sumsum tulang putih Chu Chen!

Di bawah kulitnya, tulang-tulang Chu Chen mulai hancur dan secara bersamaan ditempa ulang oleh kekuatan Fosil Naga Hitam dan pemulihan mutlak Darah Naga Primordialnya.

Warna tulang Chu Chen perlahan berubah dari putih kusam menjadi hitam baja yang memantulkan cahaya. Kerangkanya menjadi lebih padat, lebih berat, dan dialiri oleh pola-pola ukiran alami yang menyerupai sisik naga.

Selama dua jam penuh, Chu Chen duduk mematung menahan siksaan pembentukan ulang tulang tersebut. Keringat hitam berbau amis mengalir dari tubuhnya, menandakan ampas duniawi terakhir di dalam tulangnya telah dipaksa keluar.

Ketika fajar menyingsing dan sinar matahari pagi yang pucat menembus celah gubuk, Chu Chen membuka matanya. Sepasang mata hitam pekatnya kini memancarkan kedalaman yang tak terukur.

Ia mengangkat tangan kanannya. Kulitnya masih terlihat seperti kulit perunggu biasa, namun Chu Chen bisa merasakan perubahan mutlak di bawahnya.

Untuk mengujinya, ia mengambil pedang baja tingkat spiritual milik salah satu berandal Harimau Hitam yang tertinggal di gubuk beberapa hari lalu. Tanpa menggunakan energi Qi sedikit pun, Chu Chen mengayunkan pedang baja tajam itu lurus ke lengan kirinya sendiri.

TRAAANG!

Bunga api memercik dengan terang.

Mata Meng Fan, yang ternyata tidak bisa tidur dan terus mengawasi dari dipan seberang, hampir melompat keluar.

Pedang baja spiritual itu... terbelah menjadi dua! Saat bilah pedang itu menyentuh kulit Chu Chen, bayangan sisik hitam legam—Zirah Tulang Naga Hitam—muncul sekelebat di bawah permukaan kulitnya, memantulkan serangan fisik itu dengan daya tolak yang mengerikan, hingga menghancurkan senjata si penyerang. Tidak ada segores luka pun di lengan Chu Chen.

"Kekuatan fisik murni ini... bahkan tanpa Lautan Qi, tubuhku kini kebal terhadap segala bentuk serangan tajam dari ranah fana. Hanya senjata pusaka tingkat tinggi atau serangan energi Alam Lautan Qi ke atas yang bisa menembus tulangku," gumam Chu Chen puas.

Ia berdiri dan meregangkan tubuhnya. Suara tulang-tulangnya bergemeretak, terdengar seperti benturan lempengan baja yang sangat berat.

TENG! TENG! TENG!

Suara gong peringatan sekte kembali bergema, namun kali ini iramanya berbeda dari malam pencurian api. Ini adalah gong pemanggilan darurat untuk seluruh murid.

"Ada apa lagi sekarang?" Meng Fan melompat berdiri, wajahnya pucat pasi. "Apakah mereka menemukan sisa-sisa Lu Jian?!"

"Tenanglah," Chu Chen merapikan jubah abu-abunya. "Hanya ada ketiadaan di lorong itu. Mereka mungkin baru sadar anjing emas mereka hilang. Ayo kita ke pelataran."

Ketika Chu Chen dan Meng Fan tiba di Pelataran Puncak Luar, ribuan murid sudah berkumpul dan berbisik-bisik tegang. Di atas peron batu, berdiri beberapa Penatua dengan raut wajah sehitam arang, didampingi oleh sekelompok pria berjubah mewah dengan lambang Klan Lu di dada mereka.

"Dengarkan baik-baik, kalian semua!" suara salah satu Penatua yang dipenuhi Qi menggelegar ke seluruh penjuru pelataran. "Malam tadi, Plakat Nyawa dari Murid Dalam pilihan, Lu Jian, telah hancur! Sisa Niat Spiritual terakhirnya menunjukkan bahwa ia berada di sekitar Kota Perdagangan Kaki Gunung sebelum mati!"

Kerumunan langsung meledak dalam keterkejutan.

"Lu Jian? Pendekar berbakat istimewa dengan Akar Roh Tingkat Enam itu mati?!"

"Bagaimana mungkin? Dia selalu dikawal oleh dua ahli Lapis Kesembilan!"

"Tadi malam pencurian di Tanah Terlarang, sekarang pembunuhan Murid Dalam pilihan. Apakah ada sekte musuh yang sedang memproklamasikan perang terbuka pada Sekte Awan Suci?!"

Di atas peron, perwakilan dari Klan Lu melangkah maju dengan wajah penuh Niat Membunuh. "Klan Lu kami menawarkan hadiah lima ribu Batu Roh Tingkat Menengah bagi siapa saja yang bisa memberikan kabar berita atau petunjuk mengenai kematian Tuan Muda kami! Kami telah menyisir seluruh kota semalaman, tetapi tidak ada jejak pertarungan, tidak ada mayat, bahkan tidak ada setetes darah pun! Siapapun pelakunya, ia memiliki ilmu penghilang jejak tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh pembunuh Alam Istana Jiwa!"

Mendengar itu, Meng Fan menunduk dalam-dalam, tubuhnya bergetar hebat. Ia melirik dari sudut matanya ke arah Chu Chen yang berdiri santai di sebelahnya dengan tangan bersedekap.

Pembunuh Alam Istana Jiwa? batin Meng Fan panik. Pembunuhnya berdiri tepat di sampingku, menyamar sebagai Murid Luar Lapis Kelima yang miskin!

Chu Chen hanya menguap pelan, merasa bosan dengan pidato ancaman tersebut.

Tatapannya justru menyapu ke arah gugusan bangunan megah yang menjulang di lereng Puncak Dalam. Sekarang setelah ia memiliki Lautan Qi dan tulang sekeras batu cadas hitam, langkah selanjutnya bukanlah bersembunyi. Alam Lautan Qi membutuhkan tata cara penyaluran energi yang lebih rumit dari sekadar meninju musuh.

Paviliun Bela Diri, batin Chu Chen. Seni Kaisar Naga adalah ilmu pelahapan mutlak, tapi aku membutuhkan ilmu serangan luar dari sekte ini untuk menyalurkan Api Teratai Merahku sebagai senjata tanpa mengungkap jati diri nagaku.

"Meng Fan," bisik Chu Chen memecah lamunan temannya.

"Y-Ya?"

"Setelah mereka selesai mendongeng, antarkan aku ke Paviliun Bela Diri Puncak Luar. Sudah saatnya aku meminjam beberapa buku dari sekte ini."

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!