NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Sore itu, suasana di rumah terasa lengang. Cahaya matahari yang mulai redup masuk melalui jendela ruang tamu, menyisakan bayangan panjang di lantai. Aira duduk di sofa dengan posisi setengah bersandar, satu kaki dilipat, sementara tangannya sibuk menggulir layar ponsel. Wajahnya terlihat datar, namun matanya menyiratkan kegelisahan yang tidak bisa disembunyikan.

Sudah lebih dari seminggu ia menganggur.

Satu minggu mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang, tetapi bagi Aira, itu terasa seperti waktu yang terlalu panjang. Tabungannya semakin menipis, dan setiap kali melihat dompetnya, ada rasa tidak nyaman yang perlahan berubah menjadi tekanan.

Ia menghela napas pelan.

“Tidak bisa terus seperti ini…” gumamnya lirih.

Ia melirik ke arah dapur yang kosong. Bibinya belum pulang dari belanja. Rumah terasa sunyi, dan keheningan itu justru membuat pikirannya semakin berisik.

Aira kembali fokus ke layar ponselnya. Lowongan demi lowongan ia buka, membaca syarat, melihat lokasi, lalu menutupnya lagi dengan ekspresi yang semakin tidak puas.

“Terlalu jauh… pengalaman tidak cukup… gaji terlalu kecil…” gumamnya pelan, seolah menghakimi setiap peluang yang ada.

Tiba-tiba—

Suara mesin mobil terdengar berhenti tepat di depan rumah.

Aira mengerutkan kening.

“Itu siapa?”

Ia tahu betul suara mobil pamannya. Dan ini… jelas bukan milik pamannya.

Rasa penasaran bercampur waspada membuatnya berdiri. Ia melangkah mendekati jendela dan sedikit mengintip ke luar.

Detik berikutnya, wajahnya langsung berubah.

“Serius?” bisiknya, nada kesalnya langsung muncul.

Di luar, seorang pria baru saja keluar dari mobil dengan santai, mengenakan pakaian kasual yang rapi. Wajahnya tenang, seolah tidak ada beban sedikit pun.

Bima.

Aira langsung menjauh dari jendela dengan ekspresi jengkel.

“Ngapain dia ke sini…”

Belum sempat ia memutuskan untuk mengabaikan atau mengusir, suara ketukan pintu sudah terdengar.

Tok. Tok. Tok.

“Aira,” suara Bima terdengar santai dari luar, “buka sebentar.”

Aira memejamkan mata sejenak, mencoba menahan emosinya. Namun pada akhirnya, ia tetap berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan cepat.

“Apa maumu?” tanyanya tanpa basa-basi.

Bima tersenyum.

Di tangannya, ia membawa sebuah kantong berisi berbagai macam makanan ringan berwarna-warni.

“Sore,” ucapnya ringan, seolah mereka tidak sedang bermusuhan. “Aku bawa sesuatu.”

Aira melirik kantong itu dengan tatapan tidak suka.

“Kamu tidak perlu datang ke sini,” katanya dingin. “Pulang saja.”

Bima tidak langsung menjawab. Ia justru mengangkat kantong tersebut sedikit lebih tinggi.

“Aku bawa snack,” katanya santai. “Buat kamu.”

Aira menatapnya beberapa detik, lalu mengernyit.

“Snack?”

“Iya.” Bima membuka sedikit isi kantong itu, memperlihatkan berbagai makanan ringan yang biasanya disukai anak-anak. “Lumayan, kan?”

Ekspresi Aira berubah dari kesal menjadi tidak percaya.

“Kamu serius?” tanyanya pelan, nadanya mulai meninggi. “Itu… makanan anak-anak.”

Bima mengangguk tanpa ragu.

“Anak-anak biasanya suka,” jawabnya santai.

Aira menatapnya tajam.

“Kamu kasih itu ke aku?”

Bima berpikir sejenak, lalu mengangguk lagi dengan wajah polos.

“Mungkin nanti kamu tidak marah lagi.”

Kalimat itu seperti menyulut api.

Tanpa banyak bicara, Aira langsung mendorong bahu Bima ke luar.

“Pergi!” katanya tegas.

Pintu langsung ditutup dengan keras.

Brak!

Di luar, Bima hanya berdiri beberapa detik. Tidak ada tanda-tanda marah. Tidak ada ekspresi tersinggung. Ia justru tersenyum kecil, lalu duduk santai di kursi teras seolah itu memang tempat yang ia tuju sejak awal.

Beberapa menit berlalu.

Suasana kembali sunyi.

Hingga akhirnya suara langkah kaki terdengar mendekat, diiringi bunyi kantong belanja.

Bibi Aira.

“Loh?” ucapnya kaget saat melihat seseorang duduk di teras. “Bima?”

Bima langsung berdiri dan menundukkan kepala sedikit sebagai salam.

“Sore, Tante.”

Bibi Aira tersenyum ramah, meski terlihat sedikit heran.

“Kamu ke sini? Ada apa?”

Bima segera mengambil satu kotak dari mobilnya.

“Saya bawakan ini,” katanya sambil menyerahkan kotak tersebut. “Martabak manis.”

Bibi Aira tampak semakin bingung, namun tetap menerimanya.

“Aduh, tidak perlu repot-repot…”

“Tidak apa-apa, Tante.”

Bibi Aira kemudian membuka pintu.

“Ayo masuk dulu.”

Namun Bima tidak langsung bergerak. Ia justru tersenyum tipis.

“Sepertinya tidak bisa, Tante.”

“Kenapa?”

Bima melirik ke arah pintu.

“Di dalam ada kucing galak.”

Beberapa detik hening.

Lalu—

Pintu tiba-tiba terbuka dengan cepat.

Aira berdiri di sana dengan wajah kesal.

“Siapa yang kamu bilang kucing galak?” tanyanya tajam.

Bima menatapnya santai.

“Memangnya kamu kucing galak?”

Aira mendengus.

“Aku manusia.”

Bibi Aira segera menengahi sebelum suasana semakin memanas.

“Sudah, sudah… masuk saja dulu,” katanya sambil menarik Bima masuk ke dalam rumah.

Aira memutar badan dengan kesal.

“Aku tidak mau bicara dengan dia,” katanya sebelum berjalan menuju kamarnya.

Bima hanya tersenyum tipis.

“Tenang saja,” katanya santai. “Aku ke sini memang bukan untuk bicara dengan kamu.”

Aira berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan tajam.

“Oh ya?”

Bima mengangkat bahu.

“Aku mau bicara dengan Tante.”

Lalu, dengan nada sedikit menggoda, ia menambahkan,

“Kecuali kamu mau ikut bicara juga.”

Aira mendecakkan lidah.

“Tidak.”

Ia langsung masuk ke kamar dan menutup pintu.

Di ruang tamu, suasana menjadi lebih tenang. Bibi Aira duduk di sofa, sementara Bima duduk di seberangnya.

“Ada apa sebenarnya, Bima?” tanya Bibi Aira dengan nada lembut.

Bima menarik napas pelan.

“Saya ke sini… ingin meminta maaf,” katanya.

Bibi Aira terlihat sedikit terkejut.

“Masalah yang dulu?” tanyanya hati-hati.

Bima mengangguk.

“Saya tahu mungkin Tante merasa itu sudah selesai,” lanjutnya, “tapi bagi saya… belum.”

Nada suaranya tetap tenang, tetapi ada kesungguhan yang tidak bisa disembunyikan.

“Saya tidak akan tenang sebelum Tante benar-benar menerimanya.”

Bibi Aira terdiam sejenak, memperhatikan wajah Bima.

“Kamu ini keras kepala ya,” katanya sambil tersenyum kecil.

Bima tidak menyangkal.

“Saya hanya ingin memperbaiki apa yang bisa saya perbaiki.”

Bibi Aira menghela napas.

“Lalu… apa yang ingin kamu lakukan?”

Bima duduk sedikit lebih tegak.

“Saya ingin memberikan sesuatu… sebagai bentuk permintaan maaf.”

Bibi Aira mengangkat alis.

“Apa itu?”

Bima menjawab dengan tenang.

“Saya ingin memberangkatkan Tante dan Om untuk umroh.”

Suasana langsung hening.

“Semua biaya sudah saya tanggung,” lanjut Bima. “Kalau Tante bersedia… minggu depan bisa berangkat.”

Bibi Aira benar-benar terkejut.

“Itu… terlalu berlebihan, Bima,” katanya pelan.

Namun sebelum Bima sempat menjawab—

Pintu kamar terbuka.

Aira keluar dengan wajah tegas.

“Aku menolak,” katanya tanpa ragu.

Bima menoleh, masih dengan ekspresi santai.

“Aira…”

“Aku bilang tidak,” potong Aira. “Paman dan Bibi tidak butuh apa pun dari kamu.”

Bima menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis.

“Kamu tidak perlu iri.”

Aira mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Bima mengangkat kantong snack tadi.

“Aku juga sudah siapkan liburan buat kamu,” katanya ringan. “Ke wahana anak-anak.”

Itu jelas bukan membantu.

Tanpa pikir panjang, Aira melangkah cepat dan memukul pundak Bima.

“Jangan bercanda!”

Bima hanya sedikit bergeser, lalu menatapnya dengan santai.

“Seperti digigit semut,” katanya.

Kalimat itu membuat Aira semakin marah.

“Aku serius!”

Namun sebelum Aira melakukan sesuatu lagi, Bibi Aira segera menahannya.

“Sudah, Aira!”

Bima berdiri, lalu meletakkan kantong snack di meja.

“Ini buat kamu,” katanya.

Aira langsung menolak.

“Aku tidak mau.”

“Ambil saja.”

“Tidak.”

“Lumayan, kan.”

“Bawa pergi.”

Bima tidak menyerah. Ia justru mengambil kantong itu lagi, lalu menggoyangkannya sedikit ke arah Aira.

“Pus, pus,” katanya santai, seolah sedang memanggil kucing.

Suasana hening sejenak.

Aira menatapnya dengan ekspresi campuran antara marah, tidak percaya, dan ingin meledak.

Dan Bima?

Masih tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.

1
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Black Rascall: siap kak jangan lupa dukungannya
total 1 replies
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!