NovelToon NovelToon
BATAS 2 TAHUN

BATAS 2 TAHUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:965
Nilai: 5
Nama Author: Ainun masruroh

Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.

Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.

Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pak Darman

Matahari sore itu menggantung rendah di cakrawala, menyebarkan warna jingga yang tampak seperti luka yang meradang di atas atap Sekolah Harapan. Di dalam ruang guru yang merangkap sebagai ruang administrasi, aku sedang meninjau laporan kemajuan belajar para siswa. Namun, ketenangan itu pecah ketika suara teriakan kasar bergema dari halaman depan, memantul di antara dinding-dinding kelas yang baru saja dicat putih bersih.

"Keluar kamu, Siti! Pulang!"

Aku berdiri, jantungku berdegup kencang. Dari balik jendela, aku melihat seorang pria paruh baya dengan pakaian lusuh dan wajah yang dikeraskan oleh amarah. Itu adalah Pak Darman, ayah dari Siti, salah satu siswi kami yang paling berbakat dalam literasi. Di sampingnya, Siti berdiri gemetar, air mata menyapu debu di pipinya, sementara tangan kecilnya memeluk erat buku catatan yang baru saja kuberikan pagi tadi.

Aku segera melangkah keluar. Di sana, Pak Agus dan beberapa guru muda sudah mencoba menenangkan keadaan, namun Pak Darman tampak menutup telinga.

"Pak Darman, ada apa ini? Mari kita bicara di dalam dengan tenang," ucapku, mencoba menjaga nada suaraku tetap rendah dan stabil, meskipun kemarahan mulai merayap di dadaku.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Mbak Penulis!" teriaknya, menunjuk wajahku dengan telunjuk yang kasar. "Sekolah ini cuma bikin anak saya jadi pembangkang. Dia harus pulang sekarang. Urusan keluarga kami lebih penting daripada buku-buku tidak berguna ini!"

Siti terisak, "Bapak, tolong... Siti mau ujian bulan depan."

"Ujian tidak bisa bayar utang, Siti!" bentak ayahnya.

Kalimat itu adalah kunci yang membuka kotak pandora yang selama ini kami takuti. Di balik alasan "tradisi" atau "kepatuhan anak," selalu ada jeratan ekonomi yang mencekik. Aku memberi isyarat kepada Pak Agus untuk membawa Siti ke ruangan khusus bayi agar dia bisa tenang bersama teman-temannya, sementara aku mengajak Pak Darman duduk di bangku kayu di bawah pohon beringin, jauh dari jangkauan telinga anak-anak lain.

Pak Darman duduk dengan gelisah. Napasnya masih memburu. Aku tidak langsung bicara; aku menyodorkan segelas air putih dingin kepadanya. Sebagai seorang pebisnis, aku tahu bahwa dalam negosiasi yang paling panas sekalipun, manusia butuh diakui keberadaannya sebelum mereka mau mendengar logika.

"Pak Darman," mulaku setelah dia meneguk air itu. "Saya tahu Bapak sayang pada Siti. Tidak ada ayah yang ingin anaknya menderita. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Pertahanannya mulai retak. Dengan suara yang gemetar, dia menceritakan kenyataan pahitnya. Pak Darman telah terjebak utang pada seorang tengkulak desa yang juga pemilik lahan pertanian luas. Utang itu menumpuk karena gagal panen tahun lalu, dan sekarang, sang tengkulak menawarkan "solusi": hapus semua utang, ditambah mahar yang cukup untuk memperbaiki rumah, asal Siti mau dinikahkan dengan anak sang tengkulak.

"Anak tengkulak itu sudah kepala tiga, Mbak. Saya tahu itu salah," bisiknya, kepalanya tertunduk dalam. "Tapi kalau saya tidak setuju, minggu depan kami diusir dari tanah tempat kami tinggal. Saya harus memilih: satu anak dikorbankan, atau satu keluarga hancur di jalanan."

Ini adalah benturan nyata antara kemanusiaan dan kemiskinan yang mengakar. Inilah alasan mengapa Sekolah Harapan didirikan—untuk memutus rantai di mana anak-anak dijadikan komoditas untuk membayar kegagalan sistemik orang tua mereka.

Aku menarik napas panjang. Aku bisa saja menawarkan uang untuk melunasi utang itu saat itu juga, namun sebagai seseorang yang sedang membangun perubahan jangka panjang, aku tahu itu bukan solusi. Jika aku membayar utang Pak Darman, besok akan ada sepuluh orang tua lain yang datang dengan skenario yang sama. Aku harus mengubah cara pandangnya terhadap nilai seorang anak perempuan.

"Pak," kataku, kini dengan nada yang lebih tegas namun penuh empati. "Bapak melihat Siti sebagai beban atau sebagai cara melunasi utang. Tapi izinkan saya memperlihatkan sesuatu yang tidak Bapak lihat."

Aku mengajaknya masuk ke dalam ruang produksi tekstil yang baru saja kuresmikan sebagai bagian dari unit bisnis busanaku. Di sana, mesin-mesin jahit berderu halus. Aku mengambil sebuah gaun yang sedang dikerjakan oleh kelompok Siti.

"Ini adalah hasil kerja tangan Siti dan teman-temannya. Minggu lalu, saya membawa draf desain Siti ke butik saya di kota. Bapak tahu berapa harga yang orang kota mau bayar untuk keterampilan seperti ini?"

Aku menyebutkan sebuah angka yang membuat mata Pak Darman membelalak. Angka itu jauh lebih besar dari mahar yang dijanjikan tengkulak tersebut.

"Siti bukan hanya pintar membaca, Pak. Dia punya bakat di tangannya. Jika Bapak memaksanya menikah sekarang, Bapak mendapatkan uang sekali, lalu Siti akan menjadi ibu rumah tangga yang terperangkap dalam kemiskinan yang sama dengan Bapak. Tapi jika Bapak membiarkannya lulus dari Sekolah Harapan, dalam satu tahun ke depan, dia bisa bekerja di lini busana saya dengan gaji tetap."

Aku menjeda untuk membiarkan informasi itu meresap. "Siti bisa melunasi utang Bapak dengan keringatnya sendiri, dengan martabatnya yang utuh. Dia tidak perlu dijual. Dia akan menjadi penyelamat keluarga Bapak, bukan korbannya."

Pak Agus, sebagai Ketua Dinas Pendidikan, kemudian ikut bergabung. Beliau memberikan jaminan hukum bahwa pihak dinas akan membantu mediasi dengan pihak desa terkait tekanan dari tengkulak tersebut. Kami menjelaskan bahwa pernikahan dini adalah pelanggaran hukum dan kami memiliki kekuatan untuk melaporkannya jika intimidasi terus berlanjut.

"Kami tidak hanya memberi Siti ilmu, Pak Darman," tambah Pak Agus. "Kami memberi keluarga Bapak perlindungan. Jika Bapak setuju, Siti tetap di sini, dan kami akan membantu Bapak mencari skema cicilan utang yang manusiawi melalui koperasi sekolah yang sedang kami bangun."

Diskusi itu berlangsung hingga azan Magrib berkumandang. Itu adalah "rapat alot" dalam skala mikro yang paling melelahkan bagiku. Aku melihat pergolakan di mata Pak Darman—antara ketakutan pada tengkulak dan harapan baru yang aku tawarkan.

Akhirnya, dia menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang seolah mengangkat beban berton-ton dari pundaknya. "Saya tidak mau Siti bernasib sama dengan ibunya," suaranya parau. "Dulu ibunya juga menikah di usia 15 tahun karena alasan yang sama. Sampai meninggal, dia tidak pernah tahu rasanya punya uang sendiri."

Pak Darman bangkit dan memanggil Siti. Gadis kecil itu mendekat dengan ragu. Ketika ayahnya mengusap kepalanya dan berkata, "Belajarlah yang rajin, Bapak tunggu kamu jadi orang sukses," Siti tumpah dalam tangis di pelukan ayahnya.

Aku menyadari bahwa perjuangan melawan kemiskinan bukan hanya soal membangun gedung sekolah atau membagikan bantuan pangan. Ini adalah perang melawan pola pikir yang telah diwariskan turun-temurun.

Sebagai penulis yang sedang mempersiapkan diri untuk kembali ke publik, aku menyadari bahwa tulisanku tahun depan harus menjadi suara bagi Siti-Siti lainnya. Aku mulai mengetik dengan jemari yang lebih mantap, menyusun dialog-dialog yang baru saja kupelajari dari kenyataan pahit di bawah pohon beringin tadi.

Sekolah Harapan bukan lagi sekadar proyek sosial; ia adalah laboratorium kehidupan di mana takdir ditulis ulang. Konflik dengan Pak Darman mengajarkanku bahwa untuk menyelamatkan seorang anak, kita seringkali harus menyelamatkan orang tuanya terlebih dahulu dari rasa putus asa.

Besok, aku akan kembali memimpin rapat dengan tim operasional dan juga pak Agus untuk mempercepat pembentukan koperasi sekolah. Kita tidak boleh membiarkan ada lagi tengkulak yang merasa bisa membeli masa depan seorang gadis dengan harga sepetak tanah.

Lampu di kamarku masih menyala hingga larut. Di satu sisi meja, ada sketsa busana yang akan dijahit oleh tangan-tangan penuh harapan. Di sisi lain, ada naskah novel yang kini memiliki ruh yang lebih kuat. Dan di tengah-tengahnya, ada aku—seorang wanita yang belajar bahwa iba saja tidak cukup; dibutuhkan keberanian untuk berdiri di depan badai tradisi demi sebuah perubahan yang abadi.

Siti tetap sekolah. Dan bagiku, itu adalah kemenangan yang lebih manis daripada penghargaan literasi mana pun yang pernah kuterima. Perjalanan ini masih sangat panjang, dan mungkin akan ada ratusan Pak Darman lainnya yang datang menggedor gerbang sekolah ini. Tapi malam ini, setidaknya di satu sudut kecil di Indonesia, satu rantai pernikahan dini telah berhasil diputuskan. Dan pena di tanganku akan terus bergerak untuk memastikan cerita ini tidak berakhir di sini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!