NovelToon NovelToon
Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Lili di Atas Bukit ​

​Suara deru mesin kapal selam itu perlahan digantikan oleh kesunyian hutan pinus yang menenangkan.

Perjalanan dari lepas pantai menuju lereng gunung di Jawa Tengah memakan waktu hampir dua belas jam, tapi bagi Elena, rasanya seperti melintasi ribuan tahun cahaya.

​Ia duduk di kursi belakang mobil jip tua yang dikemudikan Paman Han.

Di sampingnya, Reza tertidur lelap dengan kepala bersandar di bahu Elena—sebuah pemandangan yang langka, melihat pria tangguh itu bisa tampak begitu rapuh dan damai.

​"Nona, kita hampir sampai," bisik Paman Han, memecah kesunyian.

​Elena menatap koordinat di ponselnya.

Mereka berada di sebuah desa yang bahkan tidak muncul di Google Maps versi terbaru.

Jalanannya sempit, hanya cukup untuk satu mobil, dikelilingi oleh kabut tebal yang menyelimuti perkebunan teh.

​Di ujung jalan, berdiri sebuah rumah joglo tua yang sangat terawat.

Halamannya penuh dengan bunga lili putih—bukan lili plastik yang sering Elena lihat di acara duka, tapi lili asli yang aromanya begitu kuat hingga menembus kaca mobil.

​Elena turun dari mobil dengan langkah ragu.

Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia menghadapi moncong senjata Julian di London.

Ia memegang kunci kecil pemberian Paman Han, kunci yang terasa begitu berat di telapak tangannya.

​Pintu joglo itu terbuka perlahan sebelum Elena sempat mengetuk.

​Seorang wanita paruh baya berdiri di sana.

Rambutnya sudah beruban sebagian, namun guratan wajahnya adalah peta masa depan Elena.

Tanpa kata, wanita itu merentangkan tangannya.

​"Kau pulang, Elena," suara itu lembut, bergetar karena emosi yang terpendam selama puluhan tahun.

​Elena jatuh ke pelukan wanita itu.

Air matanya tumpah—bukan air mata kemarahan, tapi air mata seorang anak yang akhirnya menemukan akarnya. "Ibu... Sarah..."

​"Haryo bilang kau sudah meninggal," bisik Elena di sela isaknya.

​"Dia harus bilang begitu, Nak. Agar 'The Origin' berhenti memburumu sebagai alat negosiasi," Sarah mengusap rambut Elena.

"Ibu menghabiskan setiap malam di bukit ini, berdoa agar kau menemukan jalan pulang dengan kekuatanmu sendiri. Dan kau berhasil. Kau lebih dari sekadar apa yang mereka ciptakan di lab."

​Di dalam rumah yang hangat itu, mereka duduk mengelilingi meja kayu besar.

Sarah menyajikan teh melati hangat.

Paman Han dan Reza—yang sudah bangun dengan mata waspada—duduk di sudut ruangan, menjaga privasi pertemuan itu sambil tetap siaga.

​"Ibu tahu tentang Dante?" tanya Elena, mencoba menstabilkan suaranya.

​Wajah Sarah sedikit mengeras.

"Dante adalah luka pertama Haryo. Dia adalah bukti bahwa keserakahan tidak bisa menciptakan kehidupan yang sempurna. Jika dia bersamamu sekarang, itu berarti lingkaran setan ini mulai tertutup."

​Tiba-tiba, suara kepakan baling-baling helikopter terdengar di kejauhan, membelah kesunyian malam pegunungan.

​Reza langsung berdiri, tangannya meraih pistol di pinggangnya.

"Mereka tidak akan membiarkan kita tenang, ya?"

​Paman Han memeriksa tabletnya.

"Tiga helikopter tempur ringan, Nona. Tidak ada tanda pengenal, tapi frekuensinya milik sisa-sisa 'The Origin'. Sepertinya penghancuran satelit kemarin membuat mereka putus asa dan melakukan serangan bunuh diri."

​"Ibu, masuk ke ruang bawah tanah. Sekarang!" perintah Elena, mode tempurnya kembali aktif dalam hitungan detik.

​"Tidak, Elena. Rumah ini dibangun bukan cuma untuk ditinggali," Sarah berjalan menuju sebuah lemari buku besar dan menarik salah satu jilid tua.

​KREEEKK.

​Dinding di belakang lemari itu bergeser, menyingkapkan sebuah ruang kendali senjata otomatis yang sangat canggih.

Elena tertegun.

Ternyata ibunya tidak hanya berkebun lili selama ini.

​"Haryo pikir dia yang paling pintar, tapi dia lupa siapa yang mengajarinya cara bertahan hidup," Sarah tersenyum tipis, matanya berkilat penuh tekad.

​Elena menatap Reza dan Paman Han.

"Oke, kalau mereka mau perang di kebun lili, mari kita beri mereka sambutan yang tak terlupakan."

​Pertempuran pecah di lereng gunung itu.

Pasukan elite 'The Origin' turun menggunakan tali dari helikopter, mencoba mengepung joglo.

Namun, mereka tidak menyangka bahwa bunga lili di halaman itu bukan sekadar hiasan.

​"Reza, tekan tombol merah di meja!" teriak Sarah.

​Saat Reza menekannya, pot-pot bunga lili itu mengeluarkan gas pembius yang sangat kuat.

Para tentara yang baru mendarat seketika limbung dan jatuh pingsan sebelum sempat menarik pelatuk.

​Elena keluar melalui pintu belakang, bergerak seperti hantu di antara kabut.

Ia menggunakan belati keramiknya untuk melumpuhkan sisa-sisa pasukan yang mencoba masuk melalui dapur.

Gerakannya presisi, efisien, dan mematikan.

​Di tengah kekacauan, satu sosok pria berpakaian rapi turun dari helikopter terakhir.

Dia adalah Maximilian, kepala dewan tertinggi 'The Origin' yang tersisa.

​"Elena! Berhenti melawan!" teriak Maximilian melalui pengeras suara.

"Darahmu adalah milik kami! Tanpa kami, kau hanyalah tumpukan daging di laboratorium!"

​Elena muncul dari balik kabut, tepat di depan Maximilian.

Ia tidak menembak, ia hanya berdiri dengan tenang sementara hujan mulai turun membasahi bumi.

​"Darahku mungkin kau yang buat," ucap Elena, suaranya terdengar jernih di tengah suara desing peluru.

"Tapi jiwaku... jiwaku ditempa oleh pengkhianatanmu, rasa sakit yang kau berikan, dan cinta yang akhirnya kutemukan kembali. Kau tidak memiliki apa-apa lagi, Maximilian."

​Elena mengangkat ponselnya. "Detik ini, seluruh dana abadi 'The Origin' di bank Swiss sudah kualihkan ke rekening kemanusiaan global. Kau bangkrut. Pasukanmu tidak akan dibayar. Dan helikopter di belakangmu? Paman Han baru saja meretas sistem navigasinya."

​Wajah Maximilian memucat. Ia mencoba mengeluarkan pistol, tapi Reza lebih dulu melepaskan tembakan tepat di bahunya, membuat senjata itu terpental.

​Subuh mulai menyingsing. Sisa-sisa pasukan 'The Origin' telah menyerah dan dibawa oleh otoritas lokal yang sudah dikontak Paman Han melalui jalur rahasia.

Helikopter yang tadinya mengancam kini hanya menjadi puing yang diamankan.

​Elena berdiri di balkon joglo, menatap matahari terbit yang muncul dari balik Gunung Merapi.

Sarah berdiri di sampingnya, memegang tangan putrinya.

​"Apa yang akan kau lakukan sekarang, Nak?"

​Elena menoleh ke arah Reza yang sedang membantu Paman Han merapikan halaman.

Ia juga melihat Dante yang baru saja tiba dengan jip lain, tampak kelelahan tapi selamat.

​"Aku akan menghapus nama Adiguna dari dunia bisnis, Ibu. Kita akan memulai sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak dibangun di atas kebohongan," jawab Elena.

"Dan aku... aku mau belajar cara menanam lili yang benar."

​Sarah tertawa kecil. "Itu akan butuh waktu lama."

​"Aku punya banyak waktu sekarang," Elena tersenyum tulus.

​Reza menghampiri mereka, membawa dua cangkir kopi baru.

"Jadi, Nona Elena... atau haruskah aku panggil Alana lagi?"

​Elena mengambil kopi itu, menyesapnya, dan menatap jauh ke depan.

"Panggil aku Elena. Elena yang baru. Wanita yang tidak lagi terbuang, tapi wanita yang memilih jalannya sendiri."

​Di lereng gunung yang sunyi itu, kisah Sang Nyonya yang Terbuang akhirnya mencapai titik balik terakhirnya.

Dendam telah padam, rahasia telah terungkap, dan cinta telah menang.

​Elena Adiguna tidak lagi lari dari bayangannya.

Ia telah menjadi cahaya bagi dirinya sendiri.

​Bersambung...

1
gaby
Aq baru gabung thor, sepertinya menarik. Smoga upnya rajin jgn kelamaan, biar pembaca ga kabur
Alya Alya
Saya baru saja rilis Karya baru....
Ayo buruan baca...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!