Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Elara tidak langsung mendorong pintu pesta itu. Dia berdiri di balik celah pintu yang sedikit terbuka, mengamati suasana aula dari kegelapan koridor. Dia melihat Duke Alaric berdiri dengan angkuh, Duchess Beatrice yang tersenyum palsu kepada para Lady, dan Lilian... yang terlihat sangat mual dengan segala kepalsuannya saat mencoba merayu Pangeran Kaelen.
"Tertawalah dan nikmati panggung kalian, aku sudah akan menerima konsekuensi dari perbuatanku ini, setelah pesta ini aku akan pergi dan tidak akan membiarkan kalian menangkapku dengan mudah dan menyiksa Elara Mirabel seperti dulu lagi" bisik Elara dingin.
Dia menunggu. Dia butuh momen di mana semua perhatian terpusat pada satu titik.
Di dalam aula suara terompet kerajaan berbunyi. Pembawa acara berteriak dengan lantang "Waktunya untuk dansa pembuka! Yang Mulia Pangeran Mahkota Kaelen akan berdansa dengan Lady Lilian Astoria!"
Seluruh tamu undangan membentuk lingkaran besar menyisakan area kosong di tengah aula yang berkilauan. Pangeran Kaelen mengulurkan tangannya dengan wajah datar sementara Lilian menyambutnya dengan wajah yang memerah karena bangga. Musik mulai mengalun lembut, detik-detik di mana Lilian merasa telah menjadi ratu dunia.
Elara memegang linggis kecil yang masih dia bawa dari gudang lalu menyembunyikannya di balik lipatan gaun midnight blue nya yang lebar. Dia menarik napas panjang dan menenangkan detak jantungnya. Dia tahu, setelah pintu ini terbuka tidak ada jalan pulang. Dia mungkin akan disiksa, dipenjara di bawah tanah, atau benar-benar dibuang ke perbatasan.
"Siksa aku? Buang aku?" Elara menyeringai "Silakan coba. Aku sudah pernah mati sekali, kehilangan keluarga Astoria yang busuk ini tidak ada apa-apanya dibanding kehilangan harga diriku"
Tepat saat Pangeran Kaelen baru saja melingkarkan tangannya di pinggang Lilian untuk memulai putaran pertama, Elara menendang pintu aula dengan satu gerakan mantap.
BRAKKKK!
Suara pintu yang menghantam dinding bergema jauh lebih keras daripada musik orkestra. Musik mendadak berhenti secara kacau. Ratusan pasang mata termasuk Pangeran Kaelen yang biasanya tidak peduli pada apa pun langsung terlempar ke arah pintu masuk.
Elara melangkah masuk. Lampu kristal yang terang benderang menyambar kain Aurora Silk di gaunnya membuat efek cahaya galaksi yang bersinar ungu biru itu meledak di depan mata semua orang. Dia tidak menunduk dan dia tidak takut. Dia berjalan dengan punggung tegak lurus dan dagu terangkat tinggi membiarkan bunyi sepatu hak tingginya, hasil curian dari Nina, mengetuk lantai marmer dengan irama yang mengancam.
"Maaf mengganggu dansa romantisnya" suara Elara jernih dan sangat tenang membelah kesunyian yang mencekam.
Dia berhenti tepat beberapa langkah di depan keluarga Astoria yang membeku. Tatapan matanya yang tajam langsung menusuk Duke Alaric lalu beralih ke Lilian yang wajahnya kini sudah sepucat kertas.
"Aku baru sadar, undangan ulang tahun untuk Putri Pertama sepertinya terselip di bawah gembok gudang yang berkarat " lanjut Elara sambil melempar senyum yang sangat meremehkan "Jadi aku datang sendiri untuk mengambil porsiku"
Duke Alaric mengepalkan tangan hingga gemetar wajahnya memerah karena malu dan amarah yang meledak "Elara! Apa yang kau lakukan—"
"Aku?" Elara memotong ucapan ayahnya tanpa rasa takut sedikit pun "Aku hanya ingin menyapa tamu istimewa kita Pangeran Mahkota. Dan memastikan semua orang di sini tahu... bahwa Astoria tidak hanya punya satu putri"
Elara membungkuk hormat dengan sangat elegan ke arah Pangeran Kaelen mengabaikan Lilian yang kini gemetar hebat karena kemarahan dan rasa malu yang luar biasa.
Keheningan di aula itu begitu pekak hingga suara detak jam besar di sudut ruangan terdengar seperti dentuman drum. Duke Alaric melangkah maju, rahangnya mengeras dan tangannya sudah siap memberi isyarat pada pengawal untuk menyeret Elara keluar.
"Pengawal! Bawa orang gila ini kembali ke—"
"Tunggu"
Suara rendah dan bariton itu memotong perintah Duke. Pangeran Kaelen melepaskan tangan Lilian yang gemetar. Dia melangkah maju mendekati Elara. Sepatu bot militernya beradu dengan lantai marmer menciptakan suasana yang makin mencekam.
Pangeran berhenti tepat di depan Elara. Dia jauh lebih tinggi membuat Elara harus sedikit mendongak. Bukannya marah karena dansanya diganggu Pangeran justru menatap Elara dengan binar ketertarikan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
"Gembok gudang yang berkarat ya?" Pangeran Kaelen mengulangi ucapan Elara dengan nada geli yang tersamar "Sangat disayangkan jika kecantikan dan keberanian seperti ini harus disembunyikan di balik besi tua"
Lilian yang berdiri di belakang Pangeran memekik pelan dan wajahnya merah padam "Yang Mulia! Jangan dengarkan dia! Dia hanya ingin mencari perhatian karena dia iri padaku! Dia tidak punya sihir, dia hanya sampah keluarga—"
"Lady Lilian" Pangeran memotong tanpa menoleh sedikit pun, suaranya sedingin es yang membekukan suasana "Seseorang yang tidak memiliki mana namun mampu berdiri tegak di depanku tanpa gemetar... jauh lebih menarik daripada ribuan penyihir yang hanya tau cara merayu"
Elara menyeringai tipis, sebuah senyum kemenangan yang sangat tipis. Dia menatap langsung ke mata tajam Pangeran Kaelen "Terima kasih atas pujiannya Yang Mulia, tapi aku ke sini bukan untuk mencari perhatian. Aku ke sini untuk memberi adik kesayangan ku ini hadiah yang tak akan pernah dia lupakan"
Elara kemudian berbalik menatap tamu undangan yang mulai berbisik-bisik. Dengan suara lantang yang sengaja dia keraskan dia memulai "serangan" reputasinya.
"Semuanya perkenalkan. Saya Elara Mirabel Astoria Putri Pertama dari keluarga ini. Mohon maaf jika penampilan saya mengejutkan, maklum... ventilasi gudang agak sempit untuk dilewati gaun semahal ini" Elara mengibaskan kain Aurora Silk nya yang berpendar indah.
"Ayahku Duke Alaric sepertinya terlalu sibuk mengurus pesta mewah ini sampai lupa kalau putri sulungnya masih terkurung di antara tumpukan jerami"
"ELARA! CUKUP!" bentak Duke Alaric. Wajahnya sudah berubah menjadi ungu karena menahan malu yang luar biasa di depan rekan bisnis dan bangsawan lainnya.
"Kenapa Ayah? Takut?" Elara melangkah mendekati Duke tidak ada lagi rasa takut di matanya "Takut orang-orang tau kalau Duke yang agung ini membiarkan anak kandungnya kelaparan sementara anak angkatnya...." Elara melirik Lilian dengan hina "....dimanjakan dengan gaun sutra yang harganya bisa memberi makan satu desa?"
Beatrice yang sedari tadi membeku akhirnya berteriak histeris "Dia berbohong! Dia sudah gila! Pengawal tangkap dia!"
Para pengawal bergerak maju tapi Pangeran Kaelen mengangkat tangannya sedikit, sebuah gerakan kecil yang langsung membuat seluruh pengawal terhenti di tempat. Kekuatan intimidasi Pangeran Mahkota tidak ada tandingannya.
"Biarkan dia bicara Duchess" ucap Pangeran Kaelen santai tapi matanya menatap Beatrice dengan tajam "Aku sangat tertarik mendengar kelanjutan cerita tentang gudang berkarat ini. Bukankah begitu Duke?"
Duke Alaric berkeringat dingin. Dia tahu jika dia menyeret Elara sekarang dia akan terlihat bersalah di mata Pangeran Mahkota. Namun jika dibiarkan Elara akan menghancurkan nama Astoria sampai ke akar-akarnya.
Lilian yang sudah tidak tahan melihat Pangeran Mahkota membela Elara tiba-tiba maju dan mencoba mendorong Elara "PERGI KAU DARI SINI, ANAK TIDAK TAHU DIRI!"
Tapi Elara sudah siap. Dengan gerakan gesit yang dia pelajari dari latihan dua hari ini dia menghindar dengan anggun. Lilian yang menggunakan sepatu hak tinggi yang terlalu tinggi kehilangan keseimbangan dan...
PRANGGG!
Lilian jatuh tersungkur menabrak meja kue tingkat tujuh yang sangat besar. Kue tart pink itu hancur berantakan mengotori gaun pink mahalnya dengan krim dan sirup cokelat.
Seluruh aula terdiam. Elara berdiri di atas Lilian yang menangis di lantai penuh krim lalu menunduk pelan.
"Lilian sayang" bisik Elara yang terdengar sampai ke telinga Pangeran "Sepertinya warna cokelat kue ini lebih cocok untukmu daripada warna pink. Selamat ulang tahun"
Julian yang sedari tadi berdiri di dekat meja anggur dengan wajah angkuh langsung menerjang maju saat melihat Lilian tersungkur. Matanya menyala kemerahan tanda sihir apinya mulai bereaksi karena emosi.
"ELARA! Kau benar-benar sudah bosan hidup ya?!" teriak Julian sambil menunjuk wajah Elara "Kau sengaja mencelakai Lilian di depan Yang Mulia?! Mana sopan santunmu sebagai bangsawan hah?!"
Elara menoleh pelan, menatap jari Julian seolah-olah itu hanya sebatang ranting kering "Sopan santun? Lucu sekali mendengarnya dari mulut orang yang membiarkan adiknya makan makanan sisa karena pelayan yang kau manjakan terlalu malas mengantar makanan ke gudang"
Julian ternganga dan wajahnya memerah "Itu karena kau tidak berguna! Kau hanya mempermalukan nama Astoria!"
"Lalu apa bedanya denganmu sekarang Julian?" Elara melangkah satu tindak lebih dekat yang membuat Julian mundur selangkah tanpa sadar "Berteriak seperti orang kesurupan di depan Pangeran Mahkota, menyerang adik perempuanmu sendiri demi seorang adik pungut yang baru saja menghancurkan kue ulang tahunnya sendiri karena ceroboh... Siapa sebenarnya yang mempermalukan nama keluarga di sini?"
"KAU—!" Julian baru saja akan melepaskan percikan api dari tangannya saat sebuah pedang bersarung perak menghalangi jalannya.
Cassian akhirnya angkat bicara. Suaranya dingin dan berat namun matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan kebingungan yang luar biasa.
"Cukup Julian. Simpan sihirmu" perintah Cassian. Dia lalu menatap Elara dengan pandangan menyelidik "Elara... apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau menghancurkan pesta ini, mempermalukan Ayah, Ibu, dan Lilian. Apa kau pikir dengan cara rendah seperti ini kau akan mendapatkan kasih sayang kami kembali?"
Elara tertawa. Suara tawanya begitu renyah tapi menusuk membuat Cassian mengerutkan kening.
"Kasih sayang?" Elara menyeka air mata imajiner di sudut matanya "Cassian kau terlalu percaya diri. Aku tidak butuh kasih sayang dari orang-orang yang bahkan tidak tahu apakah adiknya masih bernapas atau tidak di dalam gudang selama bertahun-tahun"
Elara mendekati Cassian, berdiri tepat di depan ujung pedangnya "Aku ke sini bukan untuk meminta cinta. Aku ke sini untuk menunjukkan bahwa rantai yang kalian pasang padaku sudah putus. Mulai malam ini aku bukan lagi Elara yang malang, aku adalah Elara yang akan membuat kalian gemetar setiap kali mendengar namaku"
Cassian tertegun. Dia tidak melihat setitik pun keraguan atau ketakutan yang biasanya menghuni mata Elara. Wanita di depannya ini terasa seperti orang asing yang sangat berbahaya.
"Lihat itu Yang Mulia" Elara menoleh ke arah Pangeran Kaelen sambil menunjuk kedua kakaknya "Satu jenius sihir yang temperamental dan satu jenius pedang yang buta akan realita. Keluarga Astoria benar-benar luar biasa dalam mendidik pahlawan, tapi gagal total dalam mendidik manusia"
Pangeran Kaelen menyunggingkan senyum tipis yang mematikan "Sangat menarik. Sepertinya aku datang ke pesta yang benar malam ini Duke" Pangeran menoleh ke Duke Alaric yang sudah lemas di kursinya "Putri pertamamu ini... dia memiliki lidah yang lebih tajam daripada pedang terbaik milik putra sulungmu"
Lilian yang masih terduduk di lantai dengan wajah berlumuran krim berteriak histeris melihat semua perhatian tertuju pada Elara "AYAH! KAK CASSIAN! USIR DIA! DIA PENYIHIR JAHAT! DIA PASTI PAKAI SIHIR HITAM UNTUK MEMIKAT PANGERAN!"
"Sihir hitam?" Elara berjongkok di depan Lilian mengambil sedikit krim dari pipi Lilian dengan jarinya lalu menjilatnya santai "Manis, sama seperti mimpimu yang akan segera berakhir Lilian. Aku tidak butuh sihir untuk membuatmu terlihat menyedihkan, kau sudah melakukannya sendiri dengan sangat baik"......
_______________________________________________
Haii teman-teman jangan lupa tinggalin like sama komen yaaa biar aku tambah semangat update🌹
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
⊂_ヽ
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🗿
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* moga-moga nggak ada genre haramnya
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* hancurkan dan bumi hanguskan wanita murahan itu
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 👍
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* up
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Smile/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🙂
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Shy/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/