Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 10
Enam bulan lalu Amelia datang ke kantor Best Idea Design dengan kemarahan dalam dirinya. Ia marah pada Caelan karena pria itu tidak bertanggung jawab terhadap Emi sehingga menyebabkan Olivia menderita trauma pasca melahirkan.
Gangguan emosi yang dialami Olivia berupa depresi, ketakutan, kemarahan, hingga mati rasa emosional akhirnya membuat adik Amelia itu memutuskan mengakhiri hidup.
Kemarahan, kekecewaan, dan rasa bersalah membuat Amelia menyalahkan Caelan atas kematian adiknya. Namun, ia tetap datang pada Caelan untuk meminta pertanggungjawaban alias bantuan. Karena ketidakmampuan Amelia memberikan kehidupan layak pada Emi.
Nyatanya, Caelan bukanlah orang yang harus disalahkan atau dimintai pertanggungjawaban. Sebab Caelan bukan ayah Emi, melainkan paman Emi. Walaupun ada kewajiban bertanggung jawab, karena memiliki hubungan keluarga. Namun, Caelan bisa saja mengelak.
Meskipun demikian, Caelan tetap bertanggung jawab. Memberikan batuan yang lebih dari cukup pada Amelia agar bisa mengurus Emi dengan baik. Bahkan menyediakan waktu untuk bisa bersama dengan Emi.
Caelan Harrison terbukti adalah pria yang sangat baik, tidak seperti yang Amelia pikirkan. Bahkan Caelan tidak mempermasalahkan tuduhan salah Amelia sebelumnya.
Kebaikan Caelan membuat Amelia jatuh hati pada pria itu. Sekarang muncul ketergantungan serta ketakutan pada kemungkinan Caelan akan meninggalkannya dan Emi.
Amelia sangat berharap hasil tes DNA membuktikan Emi adalah anak Henry sehingga Caelan tidak akan pergi dari hidup Amelia.
Amelia mengemudikan mobil hingga sampai di depan kantor Best Idea Design. Namun, tidak kunjung turun dari mobil meskipun sudah berada di parkiran lebih dari seperempat jam. Amelia sibuk dengan pikirannya sendiri. Kekhawatiran dan ketakutan berputar di kepalanya. Berbagai scenario muncul yang semuanya berakhir pada kepergian Caelan.
Amelia benar-benar takut akan ditinggalkan lagi. Ia takut Caelan akan pergi dari hidupnya dengan membawa Emi, dan ia akan merasakan kehilangan itu lagi. Namun, kali ini untuk mengobati kehilangan itu pasti akan sangat sulit.
Ketukan di kaca pintu mobil menarik Amelia dari lamunan. Wajah Caelan tampak khawatir dari balik kaca tembus pandang itu.
“Buka pintunya, Amelia,” kata Caelan karena Amelia tidak kunjung membuka pintu.
Amelia buru-buru menurunkan kaca mobil, tapi gerakannya tersendat karena gugup. Akhirnya ia hanya membuka kunci mobil sehingga Caelan dapat membuka pintu dari luar.
“Kau baik-baik saja?” Caelan menatap Amelia khawatir.
Amelia mengangguk lalu menggeleng.
“Turunlah, kita bicara di dalam,” ujar Caelan dengan tenang membimbing Amelia turun dari mobil.
“Emi …,” ujar Amelia teringat pada keponakan kecilnya yang tertidur di dalam mobil.
“Akan kuurus.” Caelan beralih ke kursi belakang untuk mengeluarkan Emi dari car seat lalu menggendong Emi yang terlelap dan menghampiri Amelia.
“Tolong bawakan tas merah muda itu ke ruanganku dan parkirkan mobil ini dengan benar,” perintah Caelan pada seorang pria yang bergegas masuk ke dalam mobil melakukan perintah Caelan.
Amelia tidak menyadari kehadiran pria itu sebelumnya dan tidak mengenal pria asing itu.
“Dia David, asistenku.” Caelan memberi tahu sembari membimbing Amelia agar mengikuti langkahnya.
Caelan tidak membawa Amelia memasuki gedung kantor, langsung mengarah ke lift. Caelan singgah sebentar di meja resepsionis berpesan agar tidak diganggu untuk sementara.
Lift beranjak naik menuju lantai tertinggi yaitu kantor Caelan. Namun, di koridor Caelan mengarahkan Amelia agar berbelok ke kiri, bukannya langsung memasuki kantor pria itu. Caelan membimbing Amelia menaiki tangga yang mengarah ke sebuah pintu dengan kunci otomatis. Setelah Caelan memasukkan kode, pintu terbuka, Caelan mengajak Amelia masuk.
“Selamat datang di rumahku,” ujar Caelan.
Amelia mengamati apartemen studio yang menjadi tempat tinggal Caelan. Luas keseluruhannya tidak lebih dari 25 meter persegi. Apartemen dengan ruang terbuka itu memuat semua kebutuhan hidup manusia. Mulai dari area tidur, ruang tamu, dan dapur, dilengkapi kamar mandi terpisah.
Desainnya minimalis, praktis, dan efisien dengan warna hitam putih dan cokelat mendominasi. Memang sangat cocok untuk tempat tinggal satu orang dewasa yang mengutamakan kenyamanan dan kepraktisan. Hanya saja, Amelia tidak mengira kalau Caelan tinggal di rumah yang seperti ini.
“Kenapa?” tanya Caelan karena Amelia sama sekali tidak berkomentar.
“Rumahmu kelihatan nyaman,” jawab Amelia beberapa saat kemudian, karena bingung memilih kata yang tepat akhirnya kata ‘nyaman’ yang Amelia pilih.
“Cukup nyaman memang dan juga praktis. Namun, rumahmu lebih terasa seperti rumah. Kau mengerti, kan?”
Amelia mengangguk setuju. Rumahnya memang cocok untuk sebuah keluarga. Namun, apartemen studio yang Caelan tinggali cocok untuk orang modern yang tinggal sendiri.
“Aku menghabiskan banyak waktu untuk bekerja. Daripada bolak-balik ke rumah orangtuaku yang berjarak satu jam dari sini atau membeli apartemen baru, aku memilih merombak lantai teratas kantor untuk menjadi tempat tinggalku. Bisa memudahkan mobilitasku juga.”
Amelia hanya mendengarkan, tidak berkomentar karena sibuk memerhatikan sekeliling.
“Duduklah di mana pun,” kata Caelan sembari meletakkan Emi di tengah-tengah tempat tidur. “Kau mau minum kopi atau teh?”
“Air putih dingin,” jawab Amelia. Ia masih tidak beranjak dari posisinya di dekat pintu.
Caelan mulai melangkah ke dapur kecil yang terpisah sekat dengan ruang tidur. Ada meja dengan dua kursi di dekat jendela, Amelia memutuskan untuk duduk di salah satu kursi. Pemandangan jalan dan parkiran di depan kantor menjadi yang pertama Amelia lihat dari jendela. Caelan menghampiri dan meletakkan botol air mineral di depan Amelia.
“Terima kasih.”
“Kau terlihat terkejut melihat tempat tinggalku,” kata Caelan.
Amelia meringis. “Memang tidak seperti yang kusangka.”
“Rasanya aku pernah bilang kalau tinggal di apartemen di lantai atas kantorku.”
“Memang, tapi kukira kau menempati satu lantai penuh. Ada ruang tamu luas, ruang kerja, kamar berukuran besar dengan kasur king size. Dapur luas bergaya modern yang biasa digunakan chef profesional.”
Caelan tertawa setelah mendengar ekspektasi Amelia mengenai tempat tinggal pria itu.
“Jangan tertawa, menurutku orang sepertimu akan tinggal di tempat seperti itu. Bukannya apartemen studio yang biasa digunakan orang yang ingin berhemat,” protes Amelia.
Caelan berusaha menghentikan tawanya, kemudian setelah benar-benar bisa mengendalikan diri, pria itu berkata, “Aku memilih tinggal di sini karena praktis dan efisien, hemat juga.”
“Kau tidak seperti orang yang hemat saat berbelanja untukku dan Emi. Kau membeli segalanya tanpa berpikir, bahkan tidak melihat label harga.”
“Begitu menurutmu?” Caelan berpikir sesaat. “Kupikir aku hanya membeli yang benar-benar diperlukan dengan kualitas terbaik. Soal harga … aku memang tidak terlalu memikirkannya. Aku hanya berpikir tentang kesejahteraanmu dan Emi. Berapa pun harganya tidak masalah selama aku mampu.” Caelan berkata dengan enteng seolah menghabiskan uang untuk Emi dan Amelia bukan masalah besar.
Amelia tak habis pikir, Caelan bisa begitu royal pada Amelia, tapi berhemat untuk diri sendiri.
“Maaf, kau jadi menghabiskan banyak uang untuk Emi dan aku. Sementara kau sendiri-“
“Jangan berpikiran macam-macam. Uang yang kuhabiskan untukmu dan Emi sudah sewajarnya. Hanya mengeluarkan biaya kebutuhan dasar yang memang kewajibanku.”
“Kewajibanmu hanya pada Emi, bukan padaku,” sahut Amelia. “Kau tidak memiliki kewajiban untuk membiayaiku, tapi kau tetap melakukannya. Karena kasihan, bukan?”
“Apa salahnya jika aku melakukannya karena kasihan padamu?” Caelan balas bertanya.
“Aku tidak ingin dikasihani.” Amelia menjawab dengan bibir bergetar. “Terutama, aku tidak ingin dikasihani olehmu.”
“Kenapa?”
“Tidak mau saja.”
Caelan menghela napas. “Lalu kau mau aku bagaimana?”
Amelia menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku hanya tidak ingin kau kasihan padaku. Bukan itu yang kuharapkan darimu.”
Caelan tidak bereaksi sementara Amelia menunduk, tidak berani menatap pria itu. Takut mendapatkan reaksi yang tidak diharapkannya.
Terdengar helaan napas Caelan, lalu pria itu berkata pelan, “Amelia, rasa kasihan merupakan akar dari empati mendalam, ketulusan untuk memberi tanpa syarat, dan komitmen bertahan meski dalam kondisi sulit.”
Kata-kata Caelan membuat Amelia mengangkat wajah. Perlahan Amelia mengarahkan pada Caelan. Tatapan mata mereka bertemu.
“Kasihan bisa mendasari sebuah perasaan kompleks yang disebut cinta, Amelia.”