Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Terik matahari menyengat kulit di lapangan terbuka SMA Nusa Bangsa. Bunyi decit sepatu di atas lantai semen dan pantulan bola basket yang beradu dengan papan pantul menjadi latar suara yang bising. Arga berdiri di pinggir lapangan, mencoba mengatur napasnya yang menderu setelah sesi pemanasan. Kaus olahraganya sudah lembap oleh keringat, menempel di punggungnya yang tegap namun sering kali ia bungkukkan seolah ingin menghilang dari pandangan orang-orang.
Matanya, seperti memiliki magnet otomatis, bergerak mencari satu titik di tengah kerumunan siswa kelas dua belas itu. Di sana, di dekat tiang net voli yang tidak terpakai, Nala sedang tertawa bersama Rara. Rambut Nala yang dikuncir kuda bergerak lincah mengikuti gerakannya saat bercanda. Ia tampak begitu hidup di bawah sinar matahari, sangat berbeda dengan Arga yang lebih suka bersembunyi di balik bayang-bayang pohon besar di sudut sekolah.
"Arga, jangan melamun terus," tegur Dimas sambil menepuk bahu sahabatnya itu dengan keras.
Arga tersentak, lalu membuang muka ke arah lain. "Siapa yang melamun? Aku cuma sedang mengatur napas," jawabnya dengan nada datar yang berusaha ia pertahankan.
Dimas mendengus pelan, lalu menyeka keringat di dahinya. "Kamu itu transparannya bukan main kalau sudah melihat Nala. Sudahlah, mumpung jam olahraga begini, sekali-kali dekati dia. Jangan cuma jadi patung penjaga lapangan."
"Aku tidak tertarik," bohong Arga singkat.
Di tengah lapangan, pertandingan basket persahabatan antar-kelompok sedang memanas. Satria memimpin timnya dengan dominasi yang luar biasa. Ia berlari, mendribel bola dengan lincah, lalu melakukan lay-up yang disambut sorak-sorai siswi di pinggir lapangan. Nala pun ikut bertepuk tangan saat Satria berhasil mencetak poin. Arga melihat itu, dan ada rasa nyeri yang lebih tajam daripada sekadar kelelahan fisik yang menusuk dadanya.
"Ayo, oper ke sini!" teriak salah satu teman Satria di sisi lain lapangan.
Satria yang sedang dalam posisi terdesak mencoba melakukan operan jarak jauh yang sangat kuat. Namun, bola itu meleset dari target. Pantulannya mengenai bagian atas ring dengan keras dan memantul liar ke arah luar lapangan dengan kecepatan tinggi.
"Awas!" teriak seseorang dengan histeris.
Arah bola itu tepat menuju Nala yang sedang membelakangi lapangan karena tengah mengambil botol minum di dalam tasnya. Rara yang berada di sampingnya pun tak sempat bereaksi, hanya bisa mematung dengan mata terbelalak.
Arga tidak berpikir. Tubuhnya bergerak lebih cepat daripada logika yang selalu ia agungkan. Dalam dua detik, ia sudah melompat di depan Nala, mengangkat lengan kanannya untuk menghalau laju bola basket yang datang seperti peluru itu.
Bugh!
Suara benturan keras terdengar jelas. Bola itu berhasil ditepis menjauh, namun dampak hantamannya membuat pergelangan tangan Arga tertekuk dengan sudut yang tidak alami. Arga meringis, giginya beradu menahan erangan yang hampir lolos dari tenggorokannya.
Nala berbalik dengan wajah pucat. Ia melihat Arga berdiri tepat di hadapannya, masih dengan napas memburu dan tangan kanan yang terkulai lemas di samping tubuh.
"Arga? Kamu tidak apa-apa?" tanya Nala dengan nada cemas yang sangat nyata.
Arga mencoba menarik napas panjang, berusaha menstabilkan detak jantungnya yang menggila karena rasa sakit dan karena jarak mereka yang kini hanya terpaut beberapa jengkal. "Aku tidak apa-apa," ujarnya pelan, meski keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
"Tangan kamu merah sekali, Arga," seru Rara yang kini ikut mendekat.
Dimas berlari menghampiri mereka, diikuti oleh Satria yang tampak merasa bersalah. "Wah, parah ini. Arga, coba gerakkan jari kamu," perintah Dimas dengan nada serius.
Arga mencoba menggerakkan jemarinya, namun rasa panas yang menjalar dari pergelangan tangan hingga ke siku membuatnya refleks menarik napas tajam. Ia tidak bisa menyembunyikan getaran di tangannya.
"Maaf, Ga. Gue benar-benar tidak sengaja. Tadi operannya terlalu kencang," ujar Satria sambil memegang bahu Arga. Sorot matanya menunjukkan penyesalan, namun Arga hanya memberikan anggukan kecil tanpa melihat wajah cowok itu.
"Ayo ke UKS. Biar aku antar," kata Nala tiba-tiba. Ia melangkah maju, tangannya ragu-ragu seolah ingin memegang lengan Arga namun ia menahannya.
Arga menatap mata Nala. Ada rasa khawatir di sana, sebuah emosi yang selama bertahun-tahun ia rindukan. Namun, ia juga ingat bahwa ia telah memutuskan untuk menjadi orang asing di hidup Nala. Ia tidak ingin Nala merasa berutang budi padanya hanya karena insiden ini.
"Tidak perlu, Nala. Dimas bisa mengantarku," jawab Arga dingin.
Nala tampak tertegun mendengar penolakan itu. Ia mengerutkan kening, merasa heran dengan sikap Arga yang selalu membangun tembok tinggi setiap kali mereka berinteraksi. "Tapi ini karena kamu menolongku, Arga. Setidaknya biarkan aku bantu membawakan tas kamu."
"Jangan," sahut Arga lebih tegas dari yang ia maksudkan.
Tania yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan akhirnya memberanikan diri mendekat. Ia membawa sebuah sapu tangan bersih yang sudah dibasahi dengan air dingin dari kantin. "Biar aku saja yang bantu mengompresnya sambil jalan ke UKS," tawarnya dengan suara lembut, menatap Arga dengan penuh perhatian.
Arga hanya diam, membiarkan Tania berdiri di sampingnya. Ia melirik Nala sekali lagi. Gadis itu kini berdiri mematung, seolah baru saja disadarkan bahwa keberadaannya memang tidak diinginkan oleh Arga. Ada kilat kebingungan dan sedikit rasa kecewa di mata Nala sebelum ia akhirnya mundur selangkah.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak sudah menolongku," ucap Nala dengan nada yang lebih formal, kembali ke sifat realistisnya yang tidak suka memaksakan kehendak.
"Ayo, Ga. Sebelum makin bengkak," ajak Dimas sambil merangkul bahu Arga yang tidak cedera.
Arga berjalan meninggalkan lapangan dengan langkah yang terasa berat. Setiap langkahnya membuat pergelangan tangannya berdenyut menyakitkan, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan kekosongan yang ia rasakan saat ia menjauh dari Nala. Ia tahu ia baru saja melewatkan kesempatan untuk berbicara lebih lama dengan gadis itu, namun egonya yang terluka karena dilupakan selama delapan tahun terus memaksanya untuk menjauh.
Di belakangnya, Nala masih berdiri menatap punggung Arga yang perlahan menghilang di koridor sekolah. Rara menyentuh lengan sahabatnya itu. "Kamu merasa dia aneh tidak, Nal?" tanyanya pelan.
Nala mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya. "Dia selalu bersikap seolah aku ini orang asing yang berbahaya baginya. Padahal, saat dia menepis bola tadi, tatapannya... entahlah. Rasanya sangat familiar."
Satria kembali memungut bola basketnya dengan wajah muram. "Sudahlah, Nal. Mungkin dia memang tipe orang yang tidak suka keramaian. Nanti biar aku yang minta maaf lagi secara resmi ke dia," ujarnya mencoba mencairkan suasana.
Nala tidak menjawab. Ia hanya menatap tangannya sendiri, membayangkan jika bola basket itu benar-benar mengenainya tadi. Ia merasa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar aksi heroik spontan yang baru saja dilakukan Arga. Sesuatu yang tersembunyi di balik sikap dingin cowok itu, yang seolah-olah sedang menjaga sebuah rahasia besar yang tidak ingin ia ketahui.