NovelToon NovelToon
Penguasa Agung

Penguasa Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 19 — Kembali Bertemu

Darah segar yang mengucur dari kelima mayat tanpa kepala itu menciptakan genangan merah yang amis, memantulkan langit kelabu di dalam Formasi Segel Bumi.

Jeritan histeris dari murid-murid junior disekitar begitu mencekam. Bagi mereka yang belum pernah merasakan kerasnya pertarungan hidup dan mati, maupun darah seorang manusia pemandangan brutal ini adalah mimpi buruk yang nyata.

Qin Mu sendiri takut namun ia berdiri tegak di antara kekacauan itu. Napasnya teratur. Ia mengabaikan kepanikan di sekitarnya dan memusatkan seluruh indra pandangannya untuk mencari tahu siapa sosok yang telah menghabisi kelima pengawas dalam sepersekian kedipan mata.

"Apakah orang itu membantu kami?" batin Qin Mu menebak-nebak.

Belum sempat ia menemukan petunjuk, sebuah sentuhan halus mendarat di punggungnya.

Bukan. Itu bukan kehangatan tangan Qin Lian. Sentuhan itu sangat ringan, namun membawa getaran dingin yang membuat bulu kuduknya merinding.

Qin Mu tersentak ke belakang, lengannya tetap sigap melindungi dan menutup mata Qin Lian agar gadis itu tidak melihat pemandangan mengerikan di hadapan mereka.

Ketika ia menoleh, matanya melebar. Di depannya berdiri seorang wanita dengan pakaian serba hitam yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Tahi lalat kecil tepat di bawah bibirnya memberikan kesan anggun sekaligus menggoda. Namun, mata wanita itu memancarkan ketenangan yang dingin, seolah pembantaian keji barusan hanyalah sesuatu yang sepele.

Qin Mu langsung mengenali wajah itu. Dia adalah sosok misterius yang menemuinya sehari sebelum upacara pengujian spiritual dimulai, wanita yang tiba-tiba memberikannya sebuah kotak hitam yang hingga kini belum berani ia buka.

"Kau..." bisik Qin Mu, suaranya tertahan karena terkejut.

Wanita itu tersenyum manis, memamerkan deretan gigi putih yang kontras dengan pakaian hitamnya. "Kita bertemu lagi, Tuan Muda Qin Mu," sapanya dengan suara yang lembut namun terdengar jelas di tengah keriuhan.

"Kelihatannya kau sedikit terkejut, ya?"

Sementara itu, di tribun atas, beberapa kultivator dari Sekte Segitiga Hitam tampak kebingungan. Mereka mengawasi pergerakan dari semua orang, mereka merasa bosan hanya bisa menunggu tanpa membunuh orang-orang disekitar mereka, namun tiba-tiba menyadari bahwa salah satu rekan mereka menghilang dari posisi.

Seorang wanita dengan tato segitiga di dahi, Tetua Songqian, menoleh dengan kerutan di keningnya, tidak memahami mengapa salah satu bawahannya bergerak sendiri tanpa perintah darinya maupun perintah dari Tetua Keempat, Qin Chukai.

Di tengah kekacauan, Qin Changin yang sejak tadi berlari menembus kepanikan akhirnya tiba di lokasi. Matanya terbelalak melihat genangan darah dan mayat yang tergeletak diantara kerumunan yang panik.

"Mu'er!" teriak Qin Changin dengan napas terengah-engah dan wajah pucat. Ia sempat diliputi rasa takut yang luar biasa, mengira putra Patriark itu telah tewas.

Namun, saat matanya berfokus lebih tajam, ia melihat Qin Mu dalam keadaan utuh berdiri kokoh, sedang menutup mata Qin Lian, dan berhadapan dengan wanita misterius berpakaian hitam.

Dalam benak Qin Changin, wanita itu tidak lain adalah bagian dari komplotan musuh, mungkin salah satu petinggi atau pembunuh bayaran dari Sekte Segitiga Hitam yang sedang mengincar nyawa pewaris utama keluarga. Perihalnya hanya wanita ini yang berani turun ketika semua orang berbaju serba hitam hanya berdiam diri mengawasi.

Tanpa membuang waktu dan tanpa bertanya, Qin Changin mengalirkan Qi ke dalam pedangnya hingga memancarkan pendar kemerahan yang halus namun mematikan.

"Mundur, Mu'er!" seru Qin Changin.

Ia melesat ke depan dengan kecepatan penuh, mengayunkan pedangnya langsung mengarah ke leher wanita berpakaian hitam tersebut. Serangan itu sarat akan tekad seorang kultivator ranah tinggi, berniat mengakhiri ancaman dalam satu tebasan.

Wanita itu tidak panik. Senyum di bibirnya bahkan tidak memudar sedikit pun. Dengan gerakan yang tampak sangat lambat namun mustahil untuk dihindari, dua jari lentiknya terangkat dan menangkap ujung tajam pedang Qin Changin tepat di udara.

Dentang!

Suaranya seperti dua logam beradu bergema pelan, namun getaran dari benturan tersebut membuat Qin Changin terdorong mundur tiga langkah, wajahnya berubah drastis karena menyadari jurang kekuatan yang sangat jauh di antara mereka.

"Siapa kau sebenarnya?!" bentak Qin Changin, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya saat ia bersiap memasang kuda-kuda pertarungan yang lebih serius.

Qin Changin menatap dua jari lentik wanita berpakaian hitam di depannya dengan perasaan campur aduk antara keterkejutan dan ketakutan yang luar biasa.

Sebagai seorang kultivator yang telah mencapai Ranah Lautan Qi jauh-jauh hari, ia tahu betul berapa besar energi yang ia kerahkan dalam tebasan tersebut. Menggunakan tujuh puluh persen dari kekuatan penuhnya tanpa ada rasa menahan diri, tebasan itu seharusnya mampu membelah batu besar atau menghancurkan besi dingin berusia puluhan tahun hingga berkeping-keping.

Namun, yang terjadi di depan matanya sangat di luar nalar. Bukan sekadar menahan tebasan itu dengan jari telanjang, ia bahkan merasakan ada lapisan pelindung transparan, sebuah penghalang Qi yang sangat padat dan halus yang melayang beberapa milimeter dari kulit wanita tersebut sebelum pedangnya membentur.

"Penghalang qi yang sedemikian tipis namun tak tertembus... Ranah kultivasi apa yang telah diraih wanita ini?" batin Qin Changin, keringat dingin membasahi punggungnya.

Jika wanita di depannya ini adalah bagian dari kelompok Sekte Segitiga Hitam, nyawa mereka bertiga tidak akan tertolong bahkan dalam hitungan detik. Di dalam pikirannya yang kalut, ia mencoba menyusun rencana darurat. Jika ia harus mengorbankan nyawanya sendiri untuk membuka jalan agar Qin Mu dan Qin Lian bisa melarikan diri dari formasi penyegelan, apakah ia bisa memercayakan nasib Patriark kepada orang lain?

Saat pikiran-pikiran tersebut saling berkejaran di kepalanya, Qin Mu melangkah maju satu langkah, berdiri sedikit di depan Qin Changin sambil tetap menjaga pandangan Qin Lian tetap tertutup.

"Tetua Chang, tenanglah," ucap Qin Mu dengan suara yang tenang dan berwibawa, jauh lebih tenang dibandingkan reaksi para murid junior lainnya.

"Wanita ini..."

Sebelum Qin Mu sempat menyelesaikan kalimatnya, wanita di depannya terkekeh pelan. Gerakan bibirnya sangat anggun, namun sorot matanya dingin menatap Qin Changin.

"Tuan Muda Qin Mu, biarkan aku yang memperkenalkan diri," sela wanita itu. Suaranya terdengar merdu namun menusuk, beresonansi dengan udara di dalam Formasi Segel Bumi.

"Namaku adalah Luo Yan. Dan untuk menjawab kebingungan Tetua Kelima... ya, aku bukan bagian dari sekte sampah itu."

Sebuah transmisi suara batin langsung meluncur ke dalam pikiran Qin Changin, terdengar sangat cepat dan hanya ditujukan kepadanya.

“Tetua Kelima, aku berada di ranah yang jauh diatasmu. Jika aku adalah musuhmu, kalian semua sudah menjadi mayat sejak lima menit yang lalu. Jangan gunakan tenagamu untuk melawanku, karena itu hanya akan membuang-buang waktu.”

Mata Qin Changin melebar. Transmisi suara batin atau telepati pada tingkat tersebut hanya bisa dilakukan oleh kultivator yang telah meraih pencapaian untuk bisa menggunakan Indra Ilahi, jauh melampaui standar kultivator di dalam klan Keluarga Qin.

Meski keraguan di dalam hati Qin Changin mulai memudar, ia masih menatap wanita itu dengan waspada.

"Lalu, apa alasanmu berada di sini? Mengapa kau membunuh lima pengawas klan kami di depan mata?" tanya Qin Changin dengan nada rendah dan penuh selidik. Ia tidak tahu bahwa lima pengawas yang terpenggal adalah bawahan yang diperintah Qin Chong untuk membunuh Qin Mu.

Qin Mu menimpali, "Tetua Changin, percayalah. Wanita ini yang telah membunuh kelima pengawas itu untuk melindungi kita dari perintah keparat Qin Chong. Jika bukan karena bantuannya, mungkin Saudara Chen dan Lian'er saat ini sudah berada dalam bahaya."

Mendengar penjelasan dari Qin Mu, Qin Changin menghela napas panjang, meredakan kuda-kuda bertarungnya sedikit demi sedikit. Di tengah situasi yang sangat genting dan pilihan yang terbatas, ia tidak memiliki banyak waktu untuk mencari tahu kebenaran mutlak. Satu-satunya harapan adalah menyelamatkan sang Patriark yang saat ini terkepung di podium kehormatan.

Dengan nada suara yang memohon dan putus asa, Qin Changin menangkupkan tangannya ke arah Luo Yan.

"Nona Luo Yan," ucap Qin Changin dengan suara berat.

"Melihat kekuatanmu yang luar biasa dan niat baikmu melindungi pewaris utama kami, aku memohon kepadamu. Bisakah kau... membantu Patriark Qin Feiyan kami? Situasinya di atas sana sangat berbahaya, dan kami tidak memiliki tenaga yang cukup untuk menghadapi para pengkhianat itu."

Namun, di luar dugaan, raut wajah Luo Yan berubah drastis.

Seringai manis dan anggun yang sejak tadi menghiasi wajahnya lenyap seketika. Alisnya berkerut tajam, dan matanya memancarkan kemarahan yang dingin dan pekat. Dalam sekejap, pendar energi spiritual berwarna biru kebiruan meletus dari tubuhnya, menciptakan gelombang tekanan udara yang sangat kuat dan dingin di sekitar mereka.

Brak!

Tekanan energi itu begitu mendadak hingga Qin Changin dan Qin Mu terdorong mundur satu langkah. Udara di sekitar mereka terasa membeku.

"Nona Luo Yan? Apa yang terjadi?" tanya Qin Mu, bingung melihat reaksi yang tiba-tiba dari wanita itu saat nama ayahnya disebutkan.

Qin Changin juga menatapnya dengan tatapan tidak mengerti.

"Mengapa kau bereaksi seperti ini ketika nama Patriark Qin Feiyan disebut?"

1
TGT
CERITANYA LMBAT TAPI BGUS
Putu Gunastra
seharus nya di cantumkan urutan Kultivasi nya Thor ..di bab2 awal..ato mungkin di bab setelah ini yaa..
Blueria: Terimakasih sudah memberikan saran, sudah author tambahkan tingkatan kultivasi di Chapter 1.😄💪
total 2 replies
T28J
sama sama👍
Blueria: sama-sama👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
yg bnyk tor up ya
Blueria: Siap💪 Gaskan. Vote dan Like ataupun gift agar author tambah semangat 👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
update
Blueria: Besok pagi ya updatenya, author lagi ada kerjaan. Terimakasih udah hadir Kak Roy👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
up
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Blueria: Siap, semoga terhibur. 👋😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!