NovelToon NovelToon
AKHIR DARI PENYESALAN

AKHIR DARI PENYESALAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Rumah Tangga / Selingkuh
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.

"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.

Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.

Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.

Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.

Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEMBILAN

"Nggak usah, nikmatin aja waktu kalian selama di sana ya. Nggak usah repot mikirin apa yang harus dibawa buat orang lain." Samira menjawab sebelum Kanaya sempat membuka mulut.

"Oleh-olehnya calon cucu buat Ibu aja, ya."

Lanjut Samira dengan senyum manis dan hangat yang sudah lama sekali tak pernah ia berikan pada menantu pertamanya.

"Sayang,.... Mas pergi, ya. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan buat telfon aku." Ucap Andra, ia berjalan mendekat ke arah Kanaya yang mati-matian berusaha untuk tidak lari terbirit-birit menjauh dan menjaga jarak darinya.

"Hmm, santai." Ucap Kanaya, ia menggeser posisi duduknya.

Dengan sengaja menciptakan jarak antara ia dan sang suami yang justru malah tetap semakin mendekat.

'Nggak usah deket-deket! Shooh, shooh!'

Rasanya Kanaya ingin meneriakan kalimat di dalam kepalanya keras-keras.

"Ya udah, aku pergi dulu."

Kanaya hampir meninju wajah Andra saat pria itu lagi-lagi menariknya mendekat dan mencium puncak kepala Kanaya tanpa sempat dirinya menghindar.

"Hmm,... Jangan pulang cepet-cepet, kalai bisa nggak usah balik sekalian." Gumam Kanaya pelan, sangat pelan hingga nyaris terdengar seperti desisan.

"Kenapa, Sayang? Kamu bilang sesuatu?"

"Ah? Nggak,.... Nggak kok. Aku nggak bilang apa-apa"

Kanaya melambaikan tangannya cepat sambil tertawa canggung.

"Oh, okay. Kalau gitu,.... Bye. I'll miss you." Andra melepas senyum tipis ke arang sang istri kemudian berjalan pergi menuju pintu keluar.

Pria itu sempat berbalik badan dan kembali menatap Kanaya seolah enggan meninggalkannya, ia memperhatikan wajah istri pertamanya lekat-lekat seolah sedang merekam wajah Kanaya di dalam ingatannya.

"Tunggu apa lagi, Andra? Itu istri kamu udah masuk ke mobil, kasian dia nunggu lama." Suara Samira membuyarkan lamunan Andra, pria itu berdehem pelan dan mengangguk singkat.

Ia menyeret paksa kakinya untuk melangkah pergi dan meninggalkan kediamannya dengan hati yang cukup berat entah kenapa.

***

"Kanaya!" Kanaya memutar bola matanya saat lagi-lagi mendengar suara Samira yang memanggilnya.

Ia yang baru saja berbaring mau tidak mau memaksa dirinya untuk kembali bangun dan beranjak dari ranjang.

"Mau apa lagi sih dia?!" Kanaya mengeluh pelan, ia membuka pintu dan berusaha memasang wajah tenang seolah tak merasa terganggu.

Ibu mertuanya itu sudah berdiri tepat di depan pintu kamarnya, kedua tangan Samira tampak terlipat angkuh di atas dada.

"Kenapa, Bu?" Tanya Kanaya ramah. Ia tau senyum manisnya membuat Samira kesal setengah mati dan karena itu lah ia sengaja terus memasang senyum tersebut di wajahnya hanya agar wanita tua itu semakin kesal.

"Dari pada cuma males-malesan, leyeh-leyeh nggak jelas di kasur, mending sekarang kamu beresin kamar tamu. Kamar itu bakal dipake Andra sama Nisrin setelah pulang nanti, biar mereka bisa langsung istirahat tanpa repot nunggu diberesin dulu. Beresin gih sana!"

"Ya nanti aja, Bu. Toh Mas Andra sama Nisrin juga kan baru pergi, mereka pulangnya masih lama. Nanti aja kalau udah mau pada pulang baru diberesin,..."

Rasanya lidah Kanaya terasa pahit saat mengucapkan nama istri kedua sang suami.

Begitu pahit sampai rasanya ia ingin memotong lidahnya sendiri.

"Ya nggak ada salahnya diberesin sekarang, biar mereka bisa langsung pake setelah pulang. Kalau dinanti-nanti kamu nanti malah kelupaan!"

Kanaya mencengkeram erat handle pintu hingga buku-buku jarinya memutih, ia sedang mati-matian menahan diri agar tak mencekik wanita tua di hadapannya.

"Iya, Bu. Nanti aku beresin. Tenang aja, kamar itu pasti rapi sebelum Mas Andra sama Nisrin pulang. Ibu nggak usah khawatir, mending sekarang Ibu pulang dulu ke rumah Ibu. Ini udah sore mau maghrib, keburu hujan."

Kanaya secara halus mengusir ibu mertuanya. Lagi pula apa yang dilakukan wanita tua ini di rumahnya lama- lama, membuat dirinya tidak betah saja kesal Kanaya di dalam hati.

"Lho! Kamu ngusir Ibu?! Emang makin kurang ajar ya kamu Naya dari hari ke hari."

'Dan Ibu makin ngeselin dari hari ke hari.'

Jawab Kanaya yang tentu saja saat ini hanya bisa ia suarakan di dalam hati saja.

"Bukan begitu, Bu. Aku cuma khawatir nanti kalau keburu hujan, berkendara pas cuaca buruk kan kurang baik dan bahaya. Aku cuma khawatir kalau nanti Ibu malah kenapa-kenapa di perjalanan pulang, itu aja Bu."

Bohong, tentu saja bukan itu alasan Kanaya menyuruh ibunya pergi. Ia memang muak saja melihat wajah Samira.

"Heleh,... Alesan aja. Kamu pikir Ibu nggak tau kamu

nyuruh Ibu pergi tu karena pengen males-malesan, kan? Maunya ongkang-ongkang kaki aja di rumah keenakan, nggak ada kerjaan."

Jujur saja, Kanaya cukup heran dengan perubahan sikap Samira yang bisa dibilang cukup drastis.

Ibu mertuanya itu memang bukan ibu mertua paling baik sedunia sebelum ini, tapi juga bukan mertua menyebalkan yang suka membuat keributan dengan menantunya sendiri.

"Kamu itu kalau nggak bisa ngasih anak, ya minimal bikin diri kamu berguna. Beres-beres, atau kerjain apa kek begitu jangan cuma diem aja. Apalagi kalau bisanya cuma jalan-jalan, belanja dan ngabisin duit Andra. Jangan dipikir kamu bisa seenaknya pake duit Andra buat foya- foya cuma karena dia sekarang udah kasih semua hartanya ke kamu."

Kanaya yang sejak tadi berusaha untuk tetap bersikap tenang tak tergoyahkan pun akhirnya tak bisa ia pungkiri merasa sangat sakit hati dengan ucapan Samira yang lagi-lagi menyinggung perihal anak.

Selain itu, kanaya akhirnya mengerti dengan perubahan sikap Samira yang cukup drastis.

Ternyata wanita itu masih murka karena Andra memindahkan semua kepemilikan harta dan asset pada Kanaya.

"Iya, Bu." Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Kanaya.

Bukan karena ia takut pada Samira, tapi karena ia takut pada dirinya sendiri yang mungkin tak akan bisa lagi menahan diri dan berujung benar-benar melenyapkan nyawa ibu mertuanya dari muka bumi.

"Jangan iya-iya aja tapi masih nggak berubah. Heran, kenapa Andra masih aja mau sama kamu. Berguna aja nggak jadi perempuan,..."

Samira berucap tajam sambil berlalu pergi, meninggalkan Kanaya yang menatap punggungnya dengan delikan tajam penuh rasa tidak suka.

"Sebentar lagi,.... Sebentar lagi aku pastiin perempuan tua itu ada di posisi yang sama seperti aku."

1
Nuna_Pena
😁😁
Anonim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!