NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penguasa Gagak Hitam

Kubah cahaya merah dari Segel Matahari Mutlak membakar langit Ibukota Suci, mengubah malam menjadi lautan senja yang mencekam.

Di bawah cahaya yang menindas itu, Chu Chen berjalan menuruni bukit dengan langkah yang tenang dan teratur. Jubah abu-abunya berkibar pelan. Di belakangnya, Meng Fan terus menoleh ke langit dengan wajah pucat pasi, sementara Bai melangkah dalam diam, merapatkan kerudungnya untuk menutupi wajahnya.

"Ibukota Suci terbagi menjadi tiga lapisan," Bai mulai menjelaskan tanpa diminta, suaranya sangat pelan agar tidak menarik perhatian. Ia tahu, di tempat ini, nyawanya sepenuhnya bergantung pada pemuda di depannya. "Lingkar Dalam adalah tempat Istana Kekaisaran dan Sembilan Pelindung bersemayam. Lingkar Tengah dikuasai oleh klan-klan bangsawan dan sekte-sekte penyokong. Dan tempat kita menuju sekarang... adalah Lingkar Luar."

Chu Chen menatap hamparan bangunan di bawah bukit. Berbeda dengan kemegahan istana melayang di pusat kota, Lingkar Luar adalah sebuah lorong sesat raksasa yang terdiri dari bangunan batu padat, jalan-jalan gelap, dan pasar malam yang sangat kumuh.

Namun, kata 'kumuh' di Ibukota Suci memiliki tolok ukur yang berbeda. Dinding-dinding bangunan di sini dilapisi oleh baja spiritual tingkat rendah, dan para pengemis yang berkerumun di sudut jalan setidaknya memancarkan aura Lapis Kesembilan Penempaan Raga.

"Lingkar Luar adalah tempat pembuangan, pasar gelap, dan surga bagi perkumpulan penjahat," lanjut Bai. "Tetapi, sekumuh apa pun tempat ini, Kekaisaran Matahari Suci sangat ketat. Setiap penduduk, dari bangsawan hingga pengemis, memiliki Plakat Pengenal Darah. Saat penyisiran besar-besaran seperti sekarang terjadi, siapa pun yang tidak memiliki plakat itu akan langsung dihukum mati di tempat sebagai penyusup."

"Berapa lama sebelum pasukan kekaisaran menyisir tempat ini?" tanya Chu Chen.

"Mengingat Jenderal Agung yang mati, mereka tidak akan menunggu sampai pagi. Pasukan Berzirah Emas pasti sudah mulai menyisir dari gerbang Lingkar Luar sekarang juga."

Chu Chen mengangguk pelan. Niat Spiritual naganya yang menyebar dalam jangkauan satu mil menangkap gejolak kekacauan. Ratusan prajurit berzirah emas dengan aura Istana Jiwa sedang menendang pintu-pintu penginapan dan rumah pelesiran, menyeret keluar kultivator-kultivator liar yang tidak bisa menunjukkan tanda pengenal mereka. Jeritan kematian mulai terdengar dari kejauhan.

"Kita butuh wajah baru," ucap Chu Chen datar.

Ia membelokkan langkahnya, menyusuri gang sempit yang memancarkan bau arak murahan dan darah kering. Matanya mengunci sebuah bangunan batu besar di ujung gang yang dijaga oleh enam pria berwajah beringas. Di atas pintu bangunan itu, terdapat lambang seekor gagak hitam yang tertusuk pedang.

"Perkumpulan Gagak Hitam," Bai membaca lambang itu, ingatannya sebagai mantan petinggi sekte bekerja cepat. "Mereka adalah salah satu penguasa pasar gelap di kawasan ini. Mengendalikan perdagangan gelap pil beracun dan penjualan budak fana. Pemimpin mereka, Hei Ya, adalah seorang Raja Fana Tahap Awal."

"Sempurna. Ukuran yang pas untuk rumah baru kita," Chu Chen tersenyum tipis.

"Hei! Berhenti di sana!" salah satu penjaga berwajah beringas membentak saat melihat tiga sosok asing mendekati markas mereka. Ia mencabut golok besarnya, memancarkan aura Inti Emas Tahap Akhir. "Ini wilayah Perkumpulan Gagak Hitam! Pengungsi dilarang mendekat!"

Chu Chen tidak berhenti. Ia hanya menatap penjaga itu sekilas.

Di mata sang penjaga, pupil hitam pemuda itu mendadak berubah menjadi celah emas vertikal. Sebuah gunung Niat Membunuh purba seolah jatuh menimpa jiwanya. Penjaga itu bahkan tidak sempat berteriak. Jantungnya berhenti berdetak karena kengerian mutlak, dan ia ambruk ke tanah dengan mata terbelalak, mati seketika hanya karena tatapan.

Lima penjaga lainnya membeku. Sebelum mereka bisa bereaksi, bayangan Chu Chen telah melesat melewati mereka.

Tuk. Tuk. Tuk.

Dengan ketukan jari yang sangat pelan di tengkuk mereka, Niat Pedang Purba yang setipis rambut menembus sumsum tulang kelima penjaga itu, memadamkan kehidupan mereka tanpa mengeluarkan setetes darah pun. Mereka jatuh bergelimpangan layaknya boneka yang tali pemutusnya digunting.

Chu Chen menendang pintu batu berat itu hingga terbuka, melangkah masuk seolah-olah ia adalah pemilik tempat tersebut.

Di dalam aula yang luas dan diterangi lampion temaram, puluhan anggota perkumpulan sedang sibuk mengemas Batu Roh dan barang selundupan ke dalam peti. Di ujung aula, duduk di atas kursi yang dilapisi kulit harimau spiritual, adalah seorang pria paruh baya dengan jubah bulu hitam pekat. Wajahnya dihiasi rajah bulu gagak di sebelah kiri.

Itu adalah Hei Ya, sang penguasa perkumpulan.

Mendengar pintu didobrak, Hei Ya mendongak. Matanya menyipit tajam melihat seorang pemuda berjubah abu-abu melangkah masuk diikuti oleh pria tua dan wanita berkerudung.

"Siapa kalian? Bagaimana kalian bisa melewati penjagaku?!" raung Hei Ya. Aura Raja Fana Tahap Awalnya meledak, membuat puluhan anak buahnya di aula itu langsung menghunus senjata mereka.

Chu Chen tidak membuang waktu untuk berbasa-basi. Telinganya sudah mendengar derap langkah sepatu besi prajurit kekaisaran yang semakin dekat di jalanan luar. Ia butuh plakat pengenal mereka sekarang juga.

"Aku adalah pemilik baru tempat ini," suara Chu Chen terdengar dingin, mengiris udara aula.

"Sombong! Cincang dia!" perintah Hei Ya, wajahnya berkerut penuh amarah.

Puluhan ahli Inti Emas dan Istana Jiwa menerjang serempak. Namun, bagi Chu Chen yang kini berada di Alam Istana Jiwa Tahap Menengah dengan fisik Zirah Tulang Naga, mereka hanyalah gerombolan lalat yang beterbangan lambat.

Chu Chen tidak menggunakan Pusaran Ketiadaan agar tidak menciptakan gejolak Qi yang mencolok. Ia murni menggunakan kecepatan fisiknya.

WUSH!

Ia menghilang dari pandangan. Suara patahan tulang terdengar beruntun seperti petasan. KRAK! KRAK! KRAK! Setiap kali bayangan Chu Chen berhenti selama sepersekian kedipan mata, tiga atau empat anggota perkumpulan terlempar ke dinding dengan dada remuk atau leher patah. Ia tidak membunuh semuanya, hanya melumpuhkan mereka yang berani mengangkat senjata, membiarkan sisanya menjerit kesakitan di lantai.

Dalam sepuluh tarikan napas, aula itu bersih dari rintangan.

Hei Ya terbelalak. Ia baru saja bersiap mengeluarkan pusaka andalannya, namun tiba-tiba saja, sepasang mata emas telah berada tepat di depan wajahnya.

Tangan kiri Chu Chen melesat, mencekik leher sang Raja Fana, mengangkat pria bertubuh besar itu dari kursi kulit harimaunya.

"K-Kau... ugh!" Hei Ya meronta, memompa seluruh Hukum Raja Fananya untuk menghancurkan lengan Chu Chen. Namun, hukum fana itu hancur berantakan saat bersentuhan dengan sisik hitam legam yang berkedip samar di bawah kulit Chu Chen.

"Raja Fana di Ibukota Suci ternyata sama lemahnya dengan yang di perbatasan," bisik Chu Chen kecewa.

Chu Chen tidak menghisapnya. Ia membutuhkan wujud utuh pria ini untuk sebuah sandiwara. Sebaliknya, Chu Chen mengalirkan seutas Niat Pedang Purba ke dalam leher Hei Ya, langsung menghancurkan Dantian pria itu secara permanen.

"AAAAAAARRRGH!" Hei Ya melolong histeris saat ratusan tahun kultivasinya menguap dalam sedetik. Ia kini hanya manusia cacat yang tak berdaya.

Chu Chen melemparkan Hei Ya ke lantai, tepat di bawah kaki Meng Fan.

"Ambil Plakat Pengenal Darah mereka," perintah Chu Chen tanpa menoleh. "Cepat. Prajurit kekaisaran akan tiba dalam tiga puluh detik."

Bai dan Meng Fan bergerak cepat, merampas tiga plakat perunggu dari sabuk Hei Ya dan dua petinggi perkumpulan yang pingsan. Plakat itu tidak memiliki nama, hanya merekam gejolak darah pemiliknya untuk memastikan mereka adalah penduduk Lingkar Luar.

Tepat saat Meng Fan mengalungkan plakat itu di pinggangnya, suara gedoran keras mengguncang pintu aula yang baru saja setengah tertutup.

BRAAAAK!

Pintu hancur. Dua belas Prajurit Berzirah Emas melangkah masuk, dipimpin oleh seorang panglima di Alam Raja Fana Tahap Menengah. Tombak mereka memancarkan cahaya menyilaukan.

"Pemeriksaan Kekaisaran! Tidak ada yang boleh berge—"

Sang Panglima menghentikan kalimatnya saat melihat pemandangan di dalam aula. Puluhan anggota perkumpulan terkapar merintih. Darah mengotori lantai. Dan di tengah aula, berdiri seorang pemuda berjubah abu-abu yang sedang membersihkan debu dari tangannya, sementara Hei Ya—sang pemimpin kelompok yang dikenal—meringkuk menangis di lantai dengan Dantian hancur.

Panglima kekaisaran itu menyipitkan matanya, mengarahkan tombaknya ke arah Chu Chen. "Apa yang terjadi di sini? Siapa kau?!"

Chu Chen membalikkan badannya dengan sangat santai. Plakat Pengenal Darah milik salah satu petinggi Gagak Hitam menggantung jelas di pinggangnya. Matanya telah kembali berwarna hitam pekat, auranya ia tekan hingga persis menyerupai Istana Jiwa Tahap Menengah.

"Hanya masalah perselisihan kepemimpinan dari dalam, Panglima," ucap Chu Chen dengan nada datar namun penuh hormat yang dipalsukan dengan sempurna. "Hei Ya terlalu rakus dan mencoba memotong jatah kami. Jadi, aku mengambil alih perkumpulan ini."

Sang Panglima mengerutkan kening. Pertikaian antar kelompok berdarah di Lingkar Luar adalah kejadian sehari-hari. Selama tidak ada pengungsi gelap yang disembunyikan, kekaisaran tidak peduli siapa yang menjadi anjing penguasa selokan.

Pusaka pelacak di tangan Panglima itu berkedip hijau saat memindai plakat di pinggang Chu Chen, Bai, dan Meng Fan. "Plakat kalian asli. Tapi kami sedang mencari penyusup yang membunuh Jenderal Huang Jin. Apakah ada orang asing bersayap tulang hitam yang melewati kawasan ini?"

"Bersayap tulang?" Chu Chen tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. "Jika makhluk buas seperti itu lewat sini, kami pasti sudah menjadi abu, Panglima. Kami terlalu sibuk mengurus sampah kami sendiri malam ini."

Panglima itu menatap Hei Ya yang terus merintih di lantai, lalu meludah jijik. "Urus sampah kalian dengan cepat. Segel Matahari Mutlak tidak akan diangkat sampai penyusup itu ditemukan."

Dengan satu lambaian tangan, Panglima dan kedua belas prajuritnya berbalik dan meninggalkan markas Gagak Hitam, melanjutkan perondaan ke bangunan sebelah.

Begitu derap langkah mereka menjauh, Meng Fan merosot ke lantai, kakinya benar-benar kehabisan tenaga. "Dewa Agung... jantungku nyaris meledak. Kau berbohong di depan prajurit kekaisaran tanpa berkedip sedikit pun."

Bai menatap Chu Chen dengan tatapan rumit. Kebrutalan pemuda ini diimbangi dengan kelicikan yang mematikan. Ia tidak selalu menggunakan kekuatan untuk menghancurkan dinding; terkadang ia memilih untuk membuka pintunya.

Chu Chen berjalan menuju kursi kulit harimau yang sebelumnya diduduki Hei Ya, lalu duduk di sana dengan keanggunan seorang tiran. Matanya yang gelap menyapu sisa-sisa anggota perkumpulan yang masih sadar dan gemetar ketakutan di lantai.

"Mulai malam ini, Perkumpulan Gagak Hitam adalah milikku," suara Chu Chen menggema di aula yang sunyi. "Kumpulkan semua keterangan rahasia yang kalian miliki tentang pelelangan pusaka, pasar pertukaran sumber daya, dan pergerakan para Pelindung Kekaisaran di Lingkar Dalam."

Chu Chen menyeringai tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan lautan darah di masa depan.

"Kita akan menggunakan kelompok kecil ini sebagai akar, untuk mengisap Ibukota Suci ini dari bawah hingga ke puncak menaranya."

1
black swan
...
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!