Di saat Alice selalu merasakan kekecewaan dari keluarga dan hubungan asmaranya, Carlos datang dalam hidup Alice untuk mengantikan rasa kecewanya menjadi kebahagiaan.. Namun di saat Alice sudah percaya dan memberanikan dirinya untuk berharap bisa bahagia di tengah kecewanya terhadap keluarganya, Carlos menghilang.. Carlos pergi tanpa meninggalkan jejak, seketika membuat Alice mempercayai jika di dunia ini tidak ada yang bisa membuatnya bahagia
Bab 10
Tante Ririn dan Nenek Rose sangat malu, marah dan kecewa dengan kelakuan Silvie dan Natalie. Tidak pernah berubah, padahal sudah pernah di masukan ke dalam sel tahanan. Tapi tidak membuat mereka sadar malah semakin membuat gebrakan agar Alice tidak di sukai oleh semua orang.
“Ternyata masih tidak tahu diri juga ya, kenapa? Kamu tidak senang kalau cerita tentang diri kamu dan adik kamu itu di up ke bloger itu? Kamu pikir Alice yang menyebarkannya kan?” Tanya tante Ririn.
Belum sempat Nenek Rose dan tante Ririn bersuara.. dari arah ruang VIP Kelvin dan Bryan keluar..
“Aku.. aku yang menyerahkan sebagian rekamanan itu agar cerita kami di up ke media.” Ucap Kelvin tegas
“Aku menemukan media yang pas untuk mempublikasikan cerita itu semua.. agar adik kami tidak lagi menderita karena fitnahan mulut sampah kamu itu.” Ucap Bryan
Nenek Rose dan Kakek Arman sangat terkejut dengan apa yang di katakan Kelvin dan Bryan..
“Kapan?” Tanya kakek Arman.
“Semalam kek, Kelvin meminta bantuan ku semalam.. begitu aku memasukan cerita beserta bukti rekaman itu blogger itu langsung membuat videonya untuk di upload langsung dan menjadi booming tadi pagi.” Ucap Bryan.
Kakek Arman mengagguk puas.. Silvie menggelengkan kepalanya, “kalian pasti edit rekaman itu kan.. itu bukan suara ku!!!” Ucap Silvie dengan berteriak.
Tapi tidak ada yang memperdulikannya.
“Adik ku sampai memanggil mama dengan sebutan tante karena waktu ia menelepon mama ingin mengatakan kalau dia sudah lulus.. mama tidak percaya padanya dan bersikap sinis jika skripsinya Alice menyuruh orang untuk membuatnya. Padahal aku saksinya dia berjuang keras untuk membuat skripsinya. Tapi karena Natalie memberikan foto Alie menerima skirpsinya dari asisten dosennya untuk di revisi, mama jadi seperti itu.” Ucap Kelvin sambil mengepalkan tangannya.
“Dia sudah sangat kecewa, dari kecil selalu di salahkan dengan apa yang bukan kesalahannya dan itu di sebabkan oleh Silvie dan Natalie. Mereka yang memberitahukan mamanya nona dengan cerita bohong tentang nona Alice, Jane dan Nicolle.” Ucap Maria sambil menunjuk Silvie
“Kamu tahu dari mana nak?” Tanya Nenek Rose terkejut
“Aku anak dari Widie, nyonya besar. Dulu saya satu sekolah dengan Alice dan Natalie, sepulang dari sekolah saya membantu ibu. Tapi setiap kali pulang sekolah yang bercerita ke nyonya Rosaline bukan nona Alice dan nona Jane melainkan mereka berdua dan saya juga selalu mendengar mereka berdua berbicara yang tidak - tidak tentang nona Alice, Jane dan Nicolle.” Ucap Maria yang tersenyum ke arah nenek Rose..
Semua pengunjung sudah di amankan oleh satpam atas perintah sang kakek.. setelah menyelesaikan pembayaran mereka. Ada yang langsung pulang dan ada yang masih bertahan di sana karena penasaran dengan ceritanya.
“Karena sudah tidak tahan teman - teman saya selalu di fitnah saya marah ke mereka.. mereka tidak senang karena saya membela nona Alice, Jane dan Nicolle. Mereka mengarang cerita ke Nyonya Rosaline kalau saya melukai mereka padahal tidak, waktu saya memarahi mereka ada ibu saya.. ibu saya yang mendukung agar saya memarahi mereka tapi tidak untuk di pukul.” Ucap Maria dengan menatajam tajam ke arah Silvie.
“Tapi nyonya Rosaline tidak terima karena mereka ini selalu memanas- manasin Nyonya Rosaline kalau apa yang saya katakan itu bohong dan tidak benar, dia hanya menempelkan plester di tangan yang sama sekali tidak ada lukanya.” Ucap Maria sambil menujuk ke Silvie.
Deg
“Tidak.. itu enggak benar.. kamu memang mencakar tangan ku waktu itu.” Jerit Silvie yang seperti orang gila.
Maria tersenyum sinis.. lalu tiba - tiba ia mengeluarkan handphonenya, tidak lama sebuah rekaman terdengar. Rekaman yang ia dapat dari sahabat ibunya yang sama - sama bekerja di rumah Rosaline, Widie sudah tahu bagaimana watak keponakan majikannya, jadi ia meminta tolong ke Ani untuk merekam suara mereka.
“Untung saja di tas aku ada plester ini, kalau tidak kakak tidak akan bisa berbohong kalau Maria mencakar tangan kakak ke tante Rosaline.” Ucap Natalie
“Iya kamu benar, siapa dia mau memarahi kita.. rasakan sekarang dia sudah di suruh pulang sama tante Rosaline pasti tidak akan bisa sekolah lagi.. jadi Alice dan Nicolle di sekolah tidak ada teman yang bisa membela mereka lagi.” Ucap Silvie.
Tante Ririn dan Nenek Rose sangat terkejut mendengar rekaman suara itu. Silvie langsung menggelengkan kepalanyanya.. ‘tidak.. bukan yang seperti ini, harusnya Alice yang malu bukan seperti ini. Ini semua pasti gara - gara Alice, dia yang membuat ini semua terjadi.’ Ucap Silvie dalam hati yang semakin membenci Alice.
“Gara - gara mereka Nyonya Rosaline menyuruh mamaku untuk memulangkan aku, tapi karena mama tidak terima karena aku tidak membuat salah tapi harus pulang ke rumah nenek, mama juga ikut pulang dan memilih berhenti bekerja di rumah Nyonya Rosaline.. dan aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan nona Alice dialah yang membawaku untuk bekerja di sini.” Ucap Maria setelah memperdengarkan rekaman suara itu.
“Memalukan.. sungguh kalian sangat memalukan!!!” Bentak Nenek Rose sambil menunjuk ke Silvie
Silvie Menggelengkan kepalanya..
“Apa yang mereka ceritakan tidak benar nek, rekaman itu pasti di edit.. aku tidak mungkin melakukan itu.. ini benar - benar karena Alice nek bukan aku. Dia yang membenci kami dari dulu.” Ucap Silvie ingin menarik simpati neneknya.
Clap … Clap.. Clap..
“Bravo.. bravo.. bagus banget aktingnya anda, harusnya anda casting jadi artis saja. Pasti bisa dapat piala Oscar dan akan di puja puji oleh semua orang. Jadi anda tidak perlu berusaha keras untuk memfitnahku habis - habisan demi membangun citra mu yang baik itu di mata orang - orang.” Ucap Alice dengan tatapan datar dan suaranya menjadi lebih dingin daripada biasanya tidak seperti Alice yang ceria.
Semua terkejut mendengar nada suara Alice yang seperti itu.. karena semarah apa pun dia, Akuce tidak akan mengeluarkan suara yang dingin seperti itu.
Di samping itu, Silvie tidak bisa berkelit lagi. Dia semakin pucat dan pias mendengar apa yang di katakan oleh Alice.
“Oh iya.. bagaimana dengan kesepakatan kita tadi nona Silvie? Apa anda sudah menemukan bukti kalau saya yang menyebarkan rekaman dan cerita itu ke bloger itu?” Tanya Alice dengan suaranya masih dingin..
Silvie menggelengkan kepalanya menajawab pertanyaan Alice, para orang tua dan abang - abangnya di buat bingung dengan apa di katakan Alice. Tapi tidak dengan Maria. Maria mengetahui apa yang di maksud oleh Alice.
“Baiklah karena sudah lewat dari 4 jam, sesuai dengan kesepakatan kita tadi ya nona.” Ucap Alice melihat gelengan kepala Silvie
Deg
‘Gawat.. tidak… aku tidak ingin masuk penjara.’ Ucap Silvie dalam hati panik.
“Maria tolong hubungi pengacara yang biasa menangi segala urusan saya, untuk membuat laporan pencemaran nama baik yang di lakukan oleh nona Silvie dan Natalie. Akan saya kirimkan bukti - buktinya, dan tolong tegaskan ke pengacara saya. Saya tidak ingin menerima ada mediasi apa pun untuk berdamai.” Ucap Alice dengan tegas.
“Dan satu lagi, kalian beranggapan keterdiaman ku adalah kelemahanku kan.. kamu tidak mengenal ku dengan baik nona.” Ucap Alice lagi sambil berjalan lebih dekat ke Silvie.
“Aku diam untuk mengumpulkan bukti kalian memfitnah ku habis - habisan.. jangan kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu ucapkan ke mamanya bang James, sampai bang Kelvin menjadi musuhan dengan bang James karena mamanya melabrak ku dengan ucapan p*****r.” Bisik Alice
Mendengar ucapan Alice membuat Silvie membulatkan matanya karena ia merasa tidak percaya apa yang di katakan oleh Alice.
“Dan aku punya semua buktinya, aku memang diam nona.. tapi telinga dan mata ku ada di mana - mana.” Bisik Alice lagi lalu ia kembali ke ruangan VIP di mana tempat semua sepupunya sudah menunggu.
Sedangkan Silvie sudah seperti mayat hidup, ia tidak berani membalas atau sekedar melihat nenek dan tantenya.
“Tolong kamu segera proses permintaan Alice, Maria.” Ucap Bryan dengan tegas.
“Baik Tuan, segera saya telepon pengacara nona.” Ucap Maria sambil berlalu menuju ruangannya untuk menjalankan apa yang Alice inginkan.
“Jangan biarkan mereka keluar kalau mereka tidak mau membayar, bila perlu seret mereka ke bagian dapur agar mereka yang mencuci semua piring sebagai konsekuensi mereka tidak ingin membayar.” Ucap Kelvin dengan nada dingin.
“Baik tuan muda.” Ucap Icha dengan senang hati menerima tenaga tambahan gratis.
Setelahnya Kelvin membawa Tante, Nenek dan Kakeknya menuju ruangan VIP sambil menunggu papa mereka datang.
Yang di mana papa Indra, Tante Kiana dan suaminya sudah berada di sana tidak lama dari Tante Ririn dan orang tuanya sampai.. mereka mendengar dan melihat apa yang terjadi..
Karena sudah tidak tahan lagi, tante Kiana langsung menampar Silvie
PLAK
“Tamparan itu untuk kamu yang sudah menjauhkan keponakan ku dari ibu kandungnya.” Ucap tante Kiana
Silvie memegangi pipinya yang kena tampar itu sambil menatap tajam ke tante Kiana.
“Apa?! Kamu tidak senang aku tampar, hah?!” Bentak tante Kiana.
“Jangan ikut campur urusan ku dengan perempuan sialan itu.” Ucap Silvie dengan marah.
PLAK
“Siapa yang kau sebut sialan? Hah?!” Bentak Indra yang menampar Silvie
Deg
“P…p..-.” Belum Selvie menyelesaikan kalimatnya.
Dari samping Jane menarik rambut Selvie.
ARGH..
“Lepasin sialan.” Bentak Silvie ketika melihat siapa yang menarik rambutnya
“Kamu yang sialan, dasar tidak tahu diri.. kalau bukan karena mama ku kamu tidak akan kuliah, sudah di biayai malah tak tamat - tamat kamu.. yang berujung kamu di DO dari kampus, tapi dengan sialannya kamu membuat aku dan kakak ku jauh dari ibu kami yang membiayai sekolah dan hidup kalian.” Ucap Jane sambil menarik rambut Silvie
Tepat saat Rosaline sampai, ia sangat terkejut dengan fakta yang dia dengar. Ia langsung menghampiri Silvie dan Jane.
PLAK
Rosaline menampar Jane, yang membuat Jane terkejut.. bukannya sedih malah dia mengencangkan tarikan tangannya di rambut Silvie.
ARGH…
Silvie kembali menjerit kesakitan..
“Jerit kesakitan kamu ini tidak sebanding dengan apa yang aku dan kakakku rasakan selama ini.” Ucap Jane dengan nada dingin.
Papa Indra melarang Kiana dan suaminya untuk mendekati sang putri, ia mau Jane mengeluarkan semua unek uneknya.
“Ternyata anda tidak akan pernah berubah ya Nyonya, tetap saja anda membela keponakan anda ini walaupun kami sudah menunjukkan bahwa keponakan anda ini seperti apa.” Ucap Jane dengan nada dingin.
“Tidak.. bukan begitu Jane.. mama..–.” Ucap Rosaline tidak bisa membela dirinya.
“Anda bukan MAMA saya!!!” Teriak Jane
Mendengar apa yang di katakan Jane membuat Rosaline menggelengkan kepalanya..
“Sejak kami keluar lagi nereka yang kamu sebut rumah.. sejak itulah kami tidak lagi punya mama, karena mama saya sudah saya anggap meninggal dalam artinya haknya sudah tidak ada walaupun orangnya masih hidup.” Ucap Jane
“Dan satu lagi jangan sekali - kali anda menelepon kakak saya untuk menyalahkannya seperti dulu.. semua yang terjadi pada keponakan tersayang anda itu bukan salah saya, kakak maupun adik saya.” Ucap Jane yang langsung melepaskan tarikan tangannya dari kepala Silvie.
Jane langsung pergi dari sana tanpa merespon panggilan ibunya.
...****************...
Halo semua, di sambung besok lagi ya hehehehe..
See you besok ♥️