Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.
Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.
Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.
Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Carisa kembali ke kantor dengan langkah cepat. Dadanya masih penuh, napasnya belum benar-benar stabil. Ia tidak berhenti di mejanya—langsung berbelok menuju ruang direktur.
Pintu diketuk singkat, lalu dibuka tanpa menunggu lama.
“Bu, kalau ada pertemuan lagi dengan Pak Reynanda, tolong kirim orang lain saja—” ucapnya lebih dulu, nadanya tegas, hampir terburu.
Bu Direktur yang semula hendak menyambut dengan senyum langsung menahan diri. Ia memperhatikan Carisa sejenak.
“Carisa,” katanya pelan, mencoba meredam, “tenangkan dulu.”
Carisa menggeleng tipis. “Saya tidak bisa...”
“Duduk,” potong Bu Direktur, tetap tenang. “Ada yang mau bertemu kamu.”
Carisa terdiam. Alisnya sedikit berkerut.
“Siapa?”
Bu Direktur melirik ke arah sofa di sudut ruangan.
Carisa mengikuti arah pandang itu—dan langsung membeku.
Humaira duduk tenang di sana. Penampilannya rapi, tertutup, seperti biasa. Ada ketenangan di wajahnya, sesuatu yang membuatnya terlihat anggun tanpa usaha.
Ia berdiri perlahan saat tatapan mereka bertemu.
Ruangan itu mendadak terasa sempit.
Baru saja Carisa berhadapan dengan Reynanda dan sekarang, istrinya berdiri di depannya.
Carisa tidak bergerak. Semua amarah yang tadi memenuhi dadanya tidak hilang, tapi berubah bentuk. Lebih berat. Lebih sulit dikendalikan.
Humaira melangkah mendekat, berhenti dengan jarak yang cukup dekat.
“Carisa, maaf aku datang ke kantormu.” suaranya lembut, tapi jelas.
Carisa menelan pelan. “Iya, tidak apa-apa. Tapi ada urusan apa?”
Ada jeda. Singkat, tapi terasa panjang.
“Aku minta waktu sebentar,” lanjut Humaira, menoleh sekilas ke arah Bu Direktur. “Kalau tidak keberatan.”
Bu Direktur mengangguk. “Silakan.” kata Bu Direktur. "Kalau begitu aku tinggalkan kalian berdua." Bu Direktur pun pergi keluar ruangan dan menutup pintunya.
Carisa masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tidak lepas dari Humaira, mencoba membaca maksud di balik kedatangannya.
“Silakan duduk,” kata Carisa.
Mereka berpindah ke sofa tamu. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat suasana terasa kaku.
“Ada hal penting apa sampai kamu datang ke kantorku, Humaira?” tanya Carisa.
Humaira menarik napas pelan sebelum menjawab.
“Tolong… jangan ganggu rumah tanggaku.”
Carisa terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis. “Ganggu?” ulangnya pelan. “Kamu datang ke sini untuk bilang itu?”
Humaira menatapnya, tetap tenang. “Aku tidak datang untuk berdebat. Aku cuma ingin mmperjelas.”
“Memperjelas tentang apa?” tanya Carisa.
“Bahwa apa pun yang pernah ada antara kamu dan suamiku… itu sudah seharusnya selesai,” jawab Humaira. “Dan tidak dibawa lagi ke masa sekarang.”
Carisa menghela napas pendek. “Itu juga yang aku inginkan.”
Humaira mengangguk kecil, tapi tatapannya tidak berubah. “Kalau begitu… tolong jaga jarak.”
Carisa menatap balik, kali ini lebih tajam. “Kamu pikir aku yang mendekat?”
Humaira tidak langsung menjawab.
“Suamimu yang mencariku,” lanjut Carisa, nadanya tetap terjaga tapi jelas menekan. “Jadi mungkin kamu salah orang kalau datang ke sini.”
Humaira menunduk sebentar, lalu kembali menatap Carisa. “Aku tahu.”
Carisa sedikit terkejut, tapi tidak menunjukkannya.
“Dan aku juga akan bicara dengannya,” tambah Humaira. “Tapi aku tetap perlu bicara denganmu. Karena kamu bagian dari masalah ini,” jawabnya jujur.
Carisa tersenyum tipis, tanpa kehangatan. “Atau kamu hanya butuh seseorang untuk disalahkan.”
Humaira menggeleng pelan. “Aku tidak menyalahkan. Aku hanya… menjaga apa yang seharusnya aku jaga.”
Carisa tidak langsung membalas. Tatapan mereka bertahan beberapa detik, sama-sama tidak mundur.
Dan di antara mereka, tidak ada lagi basa-basi hanya batas yang sedang diuji.
"Tadi malam Mas nanda pulang dalam keadaan mabuk." lanjut Humaira. "Selama kami.menikah dia tidak pernah melakukan perbuatan yang di larang agama. dia laki-laki sholeh yang taat agama. tapi kemarin dia membuatku terkejut ... dia mabuk dan terus mengatakan penyesalan nya tentang masa lalu dia."
Humaira tetap duduk tenang. Wajahnya lembut, suaranya pelan tapi setiap katanya terasa lebih tajam dari sebelumnya.
“Aku hanya ingin ini berhenti,” ulangnya.
Carisa tidak menjawab.
Humaira melanjutkan, masih dengan nada yang sama. “Perempuan yang menjaga dirinya… biasanya tahu batas. Tahu mana yang bukan haknya.”
Carisa menatapnya lurus, ada rasa lelah dalam dirinya.
“Aku tidak pernah datang untuk mengambil apa pun darimu.”
Humaira tersenyum tipis. “Kadang… yang diambil bukan selalu sesuatu yang terlihat.” ia diam sejenak. “Dalam rumah tangga yang dijaga bukan cuma hubungan. Tapi juga kehormatan. Nama baik.” Ia menatap Carisa dalam. “Itu yang paling mudah rusak… kalau tidak hati-hati.”
Carisa menghela napas pendek. “Kamu tidak perlu bicara seolah aku tidak tahu itu.”
Humaira mengangguk pelan. “Aku percaya kamu tahu.”
“Lalu?”
“Itu sebabnya aku datang,” jawabnya. “Karena orang yang tahu… seharusnya juga tahu kapan harus mundur.”
Carisa menyandarkan punggungnya, matanya tetap pada Humaira.
“Kalau kamu ingin menyindir, tidak perlu pakai kalimat halus,” katanya datar.
Humaira tidak tersinggung. “Aku tidak menyindir.”
“Lalu ini apa?”
Humaira menatapnya lebih lama. “Aku hanya mengingatkan. Karena tidak semua perempuan bisa menjaga dirinya… saat diuji.”
Kalimat itu jatuh pelan tapi cukup jelas kemana arahnya.
Carisa tidak langsung membalas. Rahangnya mengeras sedikit, tapi ia tetap menahan diri.
Dan untuk pertama kalinya sejak Humaira datang, suasana berubah bukan lagi sekadar tegang tapi mulai melukai.
Humaira tidak berhenti. Ia tetap dengan nada yang sama lembut, tenang, tapi semakin menusuk.
“Ada hal lain yang aku pelajari,” katanya pelan. “Tentang bagaimana perempuan menjaga dirinya… bukan cuma dari sikap, tapi juga dari apa yang ia tampilkan.”
Carisa tetap diam. Tatapannya lurus, tapi tidak menyela.
Humaira meliriknya sekilas, lalu kembali menatap tenang. “Menutup aurat itu bukan sekadar aturan,” lanjutnya. “Itu cara perempuan menghargai dirinya sendiri. Menjaga agar tidak semua mata merasa punya hak untuk melihat… apalagi mendekat.”
Carisa masih tidak bicara.
“Aku tidak bilang semua yang berjilbab pasti baik,” tambah Humaira, nada suaranya tetap halus. “Tapi setidaknya… mereka berusaha menjaga batas. Tidak memberi celah.”
Ia berhenti sebentar, seolah menimbang kata berikutnya. “Karena sering kali,” katanya lagi, lebih pelan, “yang terlihat terbuka… juga lebih mudah di dekati.”
Kalimat itu jatuh tanpa tekanan, tapi maknanya jelas. Carisa mendengarnya. Semua. Tanpa memotong, tanpa membalas.
Humaira menyandarkan punggungnya sedikit.
“Aku hanya tidak ingin rumah tanggaku rusak,” ujarnya akhirnya. “Dan aku berharap… kamu cukup mengerti untuk tidak menjadi bagian dari itu.”
“Sudah selesai bicaranya?” kata Carisa akhirnya. Ia benar-benar lelah. Hari ini menguras energinya baru saja menghadapi kejadian buruk dengan Reynanda, sekarang istrinya datang seolah Carisa perempuan perebut suami orang.
“Belum. Masih banyak yang ingin aku sampaikan,” kata Humaira.
“Tapi sayangnya aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkanmu,” balas Carisa datar. “Jadi tolong, pergi sekarang.”
“Sebentar lagi,” ujar Humaira tenang. “Masih ada yang perlu aku sampaikan.”
Carisa menghela napas pelan, menahan sisa emosinya.
“Cepatlah, aku masih banyak kerjaan,” katanya singkat.
Humaira menatapnya beberapa detik, lalu kembali bicara dengan nada yang tetap tenang.
“Aku tidak datang ke sini untuk mempermalukanmu,” ujarnya. “Aku juga tidak tertarik membuat keributan.”
Carisa tidak menjawab.
“Aku hanya ingin memastikan,” lanjut Humaira, “bahwa kamu benar-benar paham posisi kamu sekarang.”
Carisa tersenyum tipis. “Posisiku?”
“Iya.” Humaira mengangguk pelan. “Bukan sebagai seseorang yang punya hak.” Humaira diam sejenak. “Tapi sebagai seseorang yang… seharusnya tahu diri,” tambahnya.
“Kalau sudah selesai, silakan keluar,” kata Carisa.
Humaira berdiri perlahan. Ia merapikan ujung pakaiannya, lalu menatap Carisa sekali lagi.
“Dan satu lagi,” katanya pelan. “Kamu itu istri Yuda. Sepupuku.”
Humaira melangkah sedikit lebih dekat. Nada suaranya tetap tenang, tapi kini lebih tegas.
“Kalau semua ini sampai ke dia… atau ke keluarga besar kami,” lanjutnya, “ini tidak akan berhenti di sini.”
Sunyi.
Carisa menatapnya tanpa berkedip.
“Di keluargaku,” tambah Humaira, “hal seperti ini tidak dianggap ringan. Tidak ada yang akan memaklumi.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya jatuh.
“Dan kamu tahu sendiri bagaimana orang-orang bicara,” katanya lagi, lebih pelan. “Sekali nama kamu terseret… itu tidak akan mudah hilang.”
Carisa menghela napas tipis, tapi tidak membalas.
Humaira menegakkan bahunya.
“Aku tidak mengancam,” ujarnya. “Aku hanya mengingatkan konsekuensinya tidak kecil. Bukan cuma untukku… tapi juga untuk kamu.”
Tatapannya kembali mengunci Carisa.
“Jadi sebelum semuanya melebar ke mana-mana,” lanjutnya, “lebih baik kamu berhenti sekarang.”
Carisa tetap diam.
Humaira mengangguk kecil, seolah tidak membutuhkan jawaban. Lalu ia berbalik, berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia sempat berhenti sesaat.
“Karena kalau ini sampai keluar,” katanya tanpa menoleh, “yang kamu hadapi bukan cuma aku.”
Pintu terbuka. Lalu tertutup. Carisa mengembuskan napas panjang.
Dadanya terasa penuh. Bukan lagi karena marah, tapi lelah—lelah karena terus disalahpahami, lelah karena harus menahan diri di saat ia sebenarnya ingin membela diri.
Sejak tadi, Humaira terus bicara. Terus menekan dengan kalimat-kalimat yang halus tapi menyakitkan.
Dan Carisa memilih diam. Bukan karena tidak punya jawaban. Bukan karena semua itu benar. Tapi karena ia sudah terlalu lelah untuk membantah.
Ia tahu, apa pun yang ia katakan tidak akan mengubah apa-apa. Jadi ia hanya duduk di sana, menahan semuanya sendiri.
Membiarkan setiap kata itu lewat tanpa dibalas, tanpa dilawan seolah itu satu-satunya cara agar semuanya cepat selesai.
Namun yang tertinggal setelahnya bukan hanya sunyi. Tapi rasa berat yang tidak bisa ia lepaskan begitu saja.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak