Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Fajar Kehancuran dan Singa yang Tumbang
Angka digital merah di atas nakas berkedip pelan.
05:58 AM.
Suara debur ombak Uluwatu yang menghantam tebing karang di bawah sana terdengar semakin jelas seiring dengan kabut pagi yang mulai terangkat. Sinar matahari fajar berwarna jingga keunguan mulai menyusup melalui celah tirai vila kami, menerangi sisa-sisa kelopak mawar yang hancur terinjak di atas lantai.
Aku duduk di tepi ranjang, meremas ujung selimut sutra hingga buku-buku jariku memutih. Mataku tak berkedip menatap punggung lebar Bumi.
Suamiku itu belum bergeser satu sentimeter pun dari kursinya sejak tiga jam yang lalu. Kemeja linen putihnya kini dipenuhi bercak noda darah yang telah mengering—darah dari pelipisnya dan darah si pembunuh bayaran. Plester di dahinya tampak sedikit merembes. Namun, di balik penampilannya yang hancur lebur, posturnya tetap setegap batu karang.
Dengungan kipas pendingin laptopnya berpacu sekeras detak jantungku.
"Bumi," bisikku parau, suaraku nyaris hilang ditelan ketegangan. "Satu menit lagi."
Bumi tidak menoleh. Jari-jarinya yang panjang dan kokoh melakukan tarian mematikan di atas keyboard untuk terakhir kalinya.
"Sarah sudah memasukkan perintah eksekusi ke dalam server relay," gumam Bumi, matanya memindai ribuan baris kode hijau yang meluncur deras di layar hitam. "Dia menjadwalkan pengiriman massal ke 2.500 alamat email—seluruh jajaran direksi, komisaris, pemegang saham, dan daftar kontak 150 jurnalis media nasional. Subjek emailnya: Bukti Skandal Pernikahan Kontrak CEO Wiratmadja Tech."
Aku menelan ludah. Jika file PDF itu lolos, nama baikku, perusahaan ini, dan ibunda Bumi akan hancur lebur dalam hitungan detik.
05:59 AM.
"Sarah terlalu percaya diri," sebuah senyum miring yang sedingin es terbentuk di sudut bibir Bumi. "Dia menggunakan akses master untuk melewati firewall (tembok api), tapi dia lupa menutup backdoor yang kugunakan untuk meretas ruang rapat Haris kemarin. Aku sudah berada di dalam aliran datanya."
Jari telunjuk kanan Bumi melayang tepat di atas tombol Enter.
"Tiga..." Bumi mulai menghitung mundur. Hembusan napasnya terdengar berat.
"Dua..."
Aku memejamkan mata erat-erat.
"Satu. Override."
KLIK.
Bumi menekan tombol Enter dengan satu hentakan tajam.
Layar laptopnya seketika berkedip terang, mengubah barisan kode hijau menjadi sebuah kotak dialog berwarna merah darah dengan tulisan: [PAYLOAD INJECTED. MASS EMAIL SENT.]
Hening.
Tidak ada ledakan kembang api. Tidak ada suara sirene yang meraung seketika. Hanya ada suara napas kami yang memburu di dalam kamar yang berantakan itu.
Aku membuka mata pelan-pelan. "A-apa yang terjadi? Apa kau berhasil mencegah email itu terkirim?"
Bumi menyandarkan punggungnya ke kursi, membiarkan kedua tangannya jatuh terkulai di sisi tubuhnya. Ia menoleh ke arahku. Mata cokelatnya yang dikelilingi lingkar hitam kelelahan itu menatapku dengan sorot kemenangan yang absolut.
"Aku tidak mencegahnya terkirim, Aruna," jawabnya serak, tersenyum tipis. "Sistem penyebaran otomatis itu terlalu cepat untuk dihentikan tanpa merusak server kantor kita sendiri. Jadi, aku membiarkan Sarah mengirimkannya."
"APA?!" Aku terlonjak berdiri. Kepanikanku meledak. "Bumi, kau membiarkan kontrak itu tersebar?!"
"Aku membiarkan emailnya tersebar," ralat Bumi tenang. Ia mengangkat sebelah tangannya untuk menenangkanku. "Tapi di detik ke nol koma sekian sebelum data itu diluncurkan, aku menyuntikkan perintah Override (pengambilalihan paksa). Aku menghapus file lampiran PDF berisi draf kontrak nikahmu dari dalam server, dan menukarnya dengan file lain."
Aku terdiam kaku. Napasku tertahan di dada. "File... file apa yang kau masukkan?"
Senyum Bumi melebar, namun kali ini senyuman itu memancarkan aura seorang eksekutor yang tak kenal ampun.
"Aku memasukkan kompilasi file audio rekaman Rendra saat menyuruh bengkel memotong rem mobil suamimu. Ditambah bukti mutasi transfer puluhan miliar dari Cayman Island ke rekening si pembunuh bayaran. Dan sebagai bonus..." Bumi memiringkan kepalanya sedikit, "...aku juga menyisipkan rekaman video call Haris semalam yang memamerkan uang suapnya pada wanita simpanannya."
Kakiku mendadak kehilangan daya topangnya. Aku jatuh terduduk di tepi ranjang, menutup mulutku dengan kedua tangan. Mataku membelalak tak percaya.
Bumi baru saja menjatuhkan bom atom di tengah-tengah ruang rapat korporat dan meja redaksi seluruh media di Indonesia.
"Sarah menggunakan akses master atas namanya sendiri untuk mengirimkan ribuan email itu," lanjut Bumi, menutup layar laptopnya perlahan. "Itu artinya, saat polisi mengusut siapa yang membocorkan rahasia pembunuhan dan pencucian uang Rendra, jejak digitalnya akan mengarah langsung pada Sarah. Sekretaris itu menggali kuburannya sendiri."
Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis. Otak jenius pria ini benar-benar berada di dimensi yang berbeda. Ia tidak hanya menyelamatkanku; ia menggunakan senjata musuh untuk menggorok leher musuh itu sendiri.
Tepat pada pukul 06:05 AM, kesunyian di resor itu pecah.
Di luar vila kami, dari arah bangunan-bangunan vila mewah lain yang dihuni oleh jajaran dewan komisaris, mulai terdengar suara keributan. Sayup-sayup terdengar suara makian yang kasar, bunyi barang pecah belah yang dibanting, dan dering ponsel yang berteriak bersahut-sahutan.
Kiamat kecil baru saja turun di Uluwatu.
Ponselku yang tergeletak di atas ranjang tiba-tiba bergetar gila-gilaan. Layarnya menyala, menampilkan rentetan nama dewan direksi loyalisku, disusul oleh notifikasi panggilan masuk tak terjawab dari puluhan nomor tak dikenal—para jurnalis yang menuntut konfirmasi.
"Mereka sudah membacanya," gumamku, tubuhku merinding membayangkan kekacauan di luar sana.
Aku mengangkat wajah, menatap Bumi. Pria itu berdiri dengan gerakan yang sangat pelan dan sedikit limbung. Ia berpegangan pada tepi meja sejenak, memejamkan mata sambil meringis menahan sakit di pelipisnya.
Melihatnya seperti itu, segala euforia kemenanganku menguap. Zirah CEO-ku runtuh, digantikan oleh naluri seorang istri yang ketakutan setengah mati melihat suaminya terluka.
Aku berlari menghampirinya, merangkul pinggangnya, dan menyampirkan lengannya ke bahuku.
"Bumi, wajahmu pucat sekali. Plestermu merembes darah lagi," suaraku bergetar, menahan tangis. "Kita harus ke rumah sakit. Sekarang."
Bumi memaksakan diri membuka mata. Ia menunduk menatapku, tersenyum lemah. "Tunggu sebentar lagi, Aruna. Pertunjukannya belum selesai. Tokoh utamanya pasti akan datang kemari untuk—"
BRAAAAK!
Pintu utama vila kami—yang semalam sudah rusak engselnya karena ditebas parang—kini ditendang dengan kekuatan penuh dari luar hingga terlepas sepenuhnya. Daun pintu kayu jati itu jatuh menghantam lantai marmer dengan suara memekakkan telinga.
Aku terkesiap, secara refleks menyembunyikan diriku di balik tubuh Bumi. Meski tubuhnya sedang melemah, lengan Bumi langsung terentang ke belakang, mendorongku menjauh agar aku aman dari bahaya apa pun yang masuk.
Dari kepulan debu sisa hantaman pintu, berdirilah sosok itu.
Rendra Daniswara.
Penampilan pria aristokrat yang selalu rapi layaknya model majalah itu kini hancur berantakan. Jas beludrunya tak terlihat, hanya kemeja putih yang kancingnya terbuka acak-acakan. Matanya semerah darah, melotot lebar dengan urat-urat yang menonjol mengerikan di dahi dan lehernya. Tangannya mencengkeram sebuah ponsel pintar hingga buku-buku jarinya memutih.
Dua orang petugas sekuriti resor berdiri di belakang Rendra, namun mereka tampak kebingungan dan ketakutan melihat amukan bos besar mereka, tidak berani melerai.
"ARUNAAA!" raungan Rendra menggema, suaranya pecah oleh keputusasaan dan kemarahan murni. Ia melangkah masuk melewati pintu yang hancur, menatap kami dengan tatapan seorang psikopat yang baru saja kehilangan segalanya.
"Kau..." Rendra menunjuk kami dengan tangan bergetar, napasnya memburu seperti anjing gila. "Apa yang kalian lakukan?! Email apa itu sialan?! Polisi... Bareskrim Jakarta baru saja meneleponku! Rekeningku dibekukan!"
Aku berdiri mematung di belakang Bumi. Udara di ruangan itu terasa berubah menjadi racun. Rendra sudah terpojok, dan binatang buas yang terpojok adalah makhluk yang paling mematikan.
Bumi berdiri tegap, mengabaikan darah yang menetes dari pelipisnya. Ia menatap Rendra dengan kedinginan absolut.
"Email itu adalah cerminmu, Rendra," jawab Bumi, suaranya rendah namun memotong udara setajam silet. "Kau yang memulai permainan kotor ini dengan mencuri data istriku. Aku hanya mengembalikan data itu dengan sedikit modifikasi. Bukankah kau ingin skandal ini tersebar pagi ini?"
Rendra menggeram layaknya monster. Ia membuang ponselnya ke lantai hingga layarnya hancur berkeping-keping. Pria itu menyadari bahwa ia telah kalah. Tidak ada celah hukum yang bisa menyelamatkannya dari rekaman suaranya sendiri saat memerintahkan pembunuhan.
Dalam sekejap mata, kewarasan Rendra putus sepenuhnya.
"JIKA AKU HANCUR, KALIAN BERDUA AKAN MATI BERSAMAKU!" teriak Rendra histeris.
Tangannya merogoh ke balik punggungnya, menarik sepucuk pistol otomatis berwarna perak. Ia menodongkan moncong senjata itu tepat ke arah dada Bumi.
Waktu seakan berhenti. Napasku tercekat di pangkal tenggorokan.
"TIDAK! RENDRA, JANGAN!" jeritku, berniat menerobos maju untuk menjadi tameng bagi suamiku. Aku tidak akan membiarkan pria ini berkorban lagi untukku!
Namun, lengan kiri Bumi yang sekeras baja menahanku di belakang punggungnya. Ia tidak mundur satu milimeter pun. Ia menatap lurus ke dalam lubang laras pistol mematikan itu tanpa berkedip.
"Kau tidak akan menembaknya, Rendra," ucap Bumi dengan nada datar yang mengejutkan, seolah ia sedang berbicara tentang cuaca. "Karena jika kau menarik pelatuk itu, kau tidak akan menghabiskan sisa hidupmu di sel koruptor bintang lima. Kau akan membusuk di sel pembunuhan berencana, menunggu eksekusi regu tembak."
Tangan Rendra bergetar hebat. Moncong pistolnya bergoyang tak tentu arah. Otaknya yang panik sedang berperang antara logika hukum dan hasrat membunuh.
"Jatuhkan senjatamu, Rendra Daniswara."
Sebuah suara bariton yang berat dan penuh otoritas tiba-tiba memecah ketegangan dari arah luar vila.
Kami serentak menoleh.
Di teras vila yang hancur, berdirilah Kombes Gusti dari satuan Polisi setempat, diapit oleh selusin anggota polisi berseragam taktis anti-peluru dengan senjata laras panjang ( assault rifle ) yang sudah dikokang dan dibidikkan tepat ke kepala Rendra.
"Apa Polisi?!" cicit Rendra, wajahnya seketika berubah menjadi putih pasi. Pistol di tangannya mendadak terasa seberat puluhan kilogram.
"Turunkan senjatamu perlahan, atau anak buahku akan menembus tempurung kepalamu sekarang juga," perintah Kombes Gusti dengan nada yang tak menerima bantahan. Perwira menengah itu melangkah masuk dengan tenang. "Email lampiran yang saudari Sarah kirimkan pagi ini secara otomatis juga masuk ke inbox Direktorat Tindak Pidana Umum. Saya di hubungi oleh pusat untuk mengamankan Anda. Bukti Anda sangat cukup, Sodara Rendra."
Dengan lutut yang gemetar, Rendra akhirnya melepaskan pistol perak itu. Senjata itu jatuh ke lantai dengan bunyi dentingan besi yang nyaring.
Detik itu juga, dua anggota polisi taktis menyerbu masuk, membanting tubuh Rendra ke lantai, memelintir kedua tangannya ke punggung, dan memasangkan borgol baja yang mengunci pergelangannya dengan kasar.
Rendra meronta-ronta, matanya yang liar menatap lurus ke arahku saat ia diseret paksa keluar dari vila.
"Aruna! Kau pikir ini sudah selesai?!" teriak Rendra dari kejauhan, suaranya serak dan gila. "Perusahaanmu tetap hancur! Sahammu anjlok! Kau tetap akan kembali menjadi janda yang tidak berguna!"
Suara jeritan Rendra perlahan menghilang ditelan jarak saat ia dimasukkan ke dalam mobil polisi.
Keheningan yang luar biasa tebal tiba-tiba turun menyelimuti vila kami. Suara debur ombak kembali mendominasi.
"Saya ingin Menyampaikan pesan Kombes Herman dari pusat,"ucap Kombes Gusti tegas."Taktik peretasan Anda sangat berbahaya dan melanggar hukum, Saudara Bumi,Tapi, saya harus mengakui... itu adalah langkah bunuh diri paling cerdas yang pernah saya lihat. Berkat email pagi ini, kami tidak hanya menangkap Rendra, tapi juga berhasil menahan Sarah di Jakarta."
Bumi hanya mengangguk kaku. "Terima kasih, Ndan. Kami menyerahkan sisanya pada keadilan."
"Kami akan menyegel vila ini untuk mengumpulkan bukti dan mengamankan pembunuh bayaran yang Anda sekap di toilet itu. Saya sarankan Anda dan istri Anda segera ke rumah sakit. Luka di kepala Anda terlihat buruk," nasihat Kombes Gusti, menepuk bahu Bumi pelan sebelum berbalik pergi meninggalkan kami.
Begitu polisi terakhir keluar dari vila kami, sisa-sisa energi di udara seakan ikut tersedot habis.
Aku berjalan melangkah maju ke sisi Bumi.
"Kita berhasil," bisikku sambil tersenyum, air mata haru kembali menggenang di mataku. "Bumi, kita benar-benar berhasil..."
Bumi menoleh menatapku. Senyum lega yang teramat manis, senyuman pria tulus yang sangat kucintai, mengembang di bibirnya yang pucat.
"Alhamdulillah..." gumamnya pelan. "Sekarang... kamu aman, Aruna."
Tepat setelah kalimat itu terucap, senyum Bumi memudar. Matanya kehilangan fokus, pandangannya mengawang ke udara kosong.
Aku menyadari ada yang salah saat melihat kulitnya mendadak berubah menjadi abu-abu pucat dan keringat dingin membanjiri lehernya.
"Bumi?" panggilku, panik mulai merayap naik.
Bumi mencoba melangkah satu langkah ke arahku, namun kakinya sepenuhnya kehilangan daya topang. Pria itu menghembuskan napas panjang yang terdengar seperti rintihan, lalu matanya terpejam rapat.
Di detik berikutnya, tubuh raksasanya ambruk ke depan, jatuh bagai pohon besar yang ditebang dari akarnya.
"BUMI!"
Jeritanku membelah udara pagi. Aku melompat maju, merengkuh tubuh besarnya sebelum ia menghantam lantai marmer yang keras. Berat badannya nyaris membuatku ikut terjatuh, namun aku memaksakan diri menahan tubuhnya dengan seluruh kekuatanku, hingga kami berdua jatuh terduduk di lantai dengan kepalanya berada di pangkuanku.
"Bumi! Bangun! Jangan tutup matamu!" isakku histeris, menepuk pipinya dengan tangan bergetar hebat.
Darah merah segar kembali merembes deras dari balik plester di pelipisnya, menodai gaun sifon putihku. Kulitnya terasa sedingin es. Adrenalin yang menopang tubuhnya semalaman suntuk telah habis tak bersisa, dan rasa sakit akibat hantaman parang di kepalanya akhirnya menagih nyawanya.
Aku memeluk kepalanya erat-erat ke dadaku, meneteskan air mata yang tak sanggup lagi kubendung.
"Tolong! Siapa pun, tolong suamiku!" raungku sekuat tenaga ke arah pintu yang terbuka, memanggil tim medis resor dengan keputusasaan yang merobek jiwa.
Di tengah kemegahan resor yang kini menjadi saksi bisu kemenangan terbesarku, aku menangis memeluk tubuh pria yang memberikanku kemenangan tersebut. Zirah ratuku telah runtuh sepenuhnya. Bumi Arkan tak bergerak di pangkuanku. Denyut nadinya terasa begitu lemah, nyaris tak berdetak. Jika Tuhan mengambilnya dariku sekarang setelah semua yang kami lewati... aku bersumpah aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘