Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBENARAN YANG MENYAKITKAN
Sepeninggal Assel, atmosfer di dalam ruangan itu seketika berubah mencekam. Maheer kembali ke kursinya dengan gerakan lambat yang penuh ancaman. Wajahnya yang tadi sempat panik mengejar Assel kini berubah menjadi sedingin es. Ia menatap Lusi dengan sorot mata yang seolah bisa menembus jantung wanita itu, membuat Lusi yang tadinya tampak percaya diri mulai merinding ketakutan.
"Apa maksud perkataanmu tadi? Kekasih?" tanya Maheer dengan nada suara yang rendah namun sarat akan kemarahan. "Sejak kapan kita memiliki hubungan seperti itu, hah?"
Lusi gemetar, tangannya yang tadi memegang lengan Maheer kini saling bertaut dengan cemas. "Maheer... aku tahu, secara resmi kita memang tidak punya hubungan apa-apa. Tapi kau tahu bagaimana perasaanku padamu selama ini. Aku tidak pernah menyerah meskipun kau berkali-kali menolakku. Aku mohon, beri aku satu saja kesempatan untuk membuktikan bahwa aku pantas menjadi kekasihmu."
Lusi tiba-tiba bersimpuh di hadapan Maheer, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Ia mencoba meraih tangan Maheer kembali, namun dengan kasar Maheer menepisnya. Ia bahkan mendorong bahu Lusi hingga wanita itu terjungkal ke belakang.
"Dasar wanita tidak tahu malu! Kau tidak punya harga diri, ya?" bentak Maheer. "Ingat Lusi, aku masih menoleransi kehadiranmu selama ini hanya karena kau adalah adik mendiang Ricardo. Aku menganggapmu sebagai adikku sendiri, tidak lebih! Jadi jangan pernah bermimpi untuk menduduki posisi istriku."
Lusi terisak di lantai, wajahnya memucat. "Tapi kau sudah berjanji akan menjagaku di hadapan Kakakku sebelum dia mengembuskan napas terakhir! Kau berhutang nyawa padanya, Maheer! Ingat, kau hidup karena..."
"Cukup, Lusi! Kau ingin tahu kebenaran yang selama ini aku sembunyikan darimu?" Maheer memotong kalimat itu dengan suara menggelegar. "Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Aku akan menyegarkan ingatanmu yang payah itu."
Maheer mengambil ponselnya dan mengutak-atik layar dengan cepat. Tak lama kemudian, ponsel Lusi yang tergeletak di lantai berdenting nyaring. Dengan tangan gemetar, Lusi mengambil ponselnya dan membuka pesan dari Maheer. Sebuah file video terunduh dan otomatis terputar.
Di dalam rekaman CCTV beresolusi tinggi itu, terlihat Lusi sedang bertengkar hebat dengan seorang pria di pinggir jalanan Australia. Pria itu adalah Ricardo, kakak kandungnya. Dalam video tanpa suara itu, Lusi tampak sangat emosional dan tiba-tiba berlari nekat ke tengah jalan raya yang sedang padat oleh kendaraan. Ricardo dengan wajah panik mengejarnya. Sebuah truk besar melaju kencang ke arah Lusi, dan tepat sebelum benturan terjadi, Ricardo mendorong Lusi hingga terpental ke trotoar. Ricardo-lah yang terpukul telak oleh truk tersebut.
Dalam video itu juga terlihat Maheer yang baru saja keluar dari sebuah gedung langsung berlari menghampiri Ricardo yang bersimbah darah. Maheer memangku kepala Ricardo, dan di detik-detik terakhirnya, Ricardo membisikkan sesuatu yang selama ini menjadi beban bagi Maheer: Jaga adikku, anggaplah dia sebagai adikmu sendiri.
Lusi menjatuhkan ponselnya ke lantai. Napasnya tersengal seolah oksigen di ruangan itu baru saja hilang. "Tidak... ini tidak mungkin. Ini pasti editan! Kau bohong! Semua orang bilang kau penyebab Kakakku mati! Kau yang membawanya ke jalanan itu!"
"Sadarlah, Lusi! Berhenti hidup dalam delusi yang kau ciptakan sendiri!" seru Maheer dengan tatapan datar. "Selama ini aku membiarkan cerita bohong itu beredar karena aku tidak ingin kau hidup dalam rasa bersalah yang bisa menghancurkan mentalmu, apalagi setelah kau bangun dari koma dan kehilangan ingatan. Tapi sepertinya kebaikanku malah kau salah gunakan untuk merusak rumah tanggaku."
Lusi menangis sejadi-jadinya, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Ini tidak mungkin... aku yang membunuh Kakakku sendiri?"
"Jika kau masih bersikeras tidak percaya, silakan kau cari tahu sendiri di kantor polisi Australia. Berkas kasus kecelakaan itu masih tersimpan rapi di sana," Maheer berdiri dan memanggil Hans yang sejak tadi menunggu di luar.
"Hans, bawa dia pergi. Beli tiket pesawat paling cepat menuju Australia. Pastikan dia sampai ke bandara dan naik ke pesawat itu," perintah Maheer tegas.
Hans melangkah maju dan menuntun Lusi yang masih lemas. Namun Lusi mencoba memberontak sambil memohon. "Kak Maheer, maafkan aku! Aku mohon, aku tidak punya siapa-siapa lagi di sana! Biarkan aku tinggal di Indonesia!"
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan benalu sepertimu merusak kebahagiaan istriku," jawab Maheer tanpa menoleh sedikit pun. "Pergilah. Hans, antar dia sekarang juga."
Setelah Lusi dibawa keluar, Maheer tidak membuang waktu. Ia menyambar jasnya dan melangkah cepat keluar dari ruangan. Pikirannya hanya tertuju pada Assel. Ia tahu, kata-kata Assel tadi bukan hanya sekadar amarah, melainkan dinding pembatas yang kembali dibangun wanita itu karena rasa kecewa.
Maheer langsung mengambil mobilnya di parkiran dan memacu kendaraan itu dengan kecepatan tinggi menuju mansion. Sesampainya di sana, ia langsung masuk dan mencari sosok Assel ke setiap ruangan.
"Mbok! Di mana Assel?" tanya Maheer saat bertemu Mbok Darmi di ruang tengah.
"Nyonya tadi langsung pergi ke kantornya sendiri, Tuan," jawab Mbok Darmi tampak cemas.
Maheer mengerutkan kening. "Kantornya? Di mana? Aku bahkan belum tahu di mana alamat perusahaannya."
Selama ini, Maheer memang terlalu fokus pada urusannya sendiri dan pemulihan fisiknya hingga ia lupa mencari tahu detail tentang pekerjaan Assel yang bergerak di bidang desain busana dan konveksi.
"Perusahaan Nyonya sebenarnya sangat dekat dengan perusahaan Tuan Maheer, hanya berjarak beberapa blok saja," jelas Mbok Darmi. "Dulu, almarhum Tuan Muzammil sengaja membangun kantor Nyonya di sana agar mereka bisa berangkat dan pulang bersama-sama setiap hari."
Maheer terdiam sejenak. Hatinya kembali terasa perih menyadari betapa Muzammil begitu memuja dan menjaga Assel hingga ke hal-hal detail seperti lokasi kantor. Dibandingkan dengan kakaknya, Maheer merasa dirinya benar-benar pecundang yang hanya bisa menambah beban pikiran bagi wanita itu.
"Apa nama perusahaannya, Mbok?"
"A.R Designer, Tuan," sahut Mbok Darmi.
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Maheer kembali ke mobilnya. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam menuju gedung A.R Designer. Ia tidak peduli jika harus bersujud di depan Assel untuk menjelaskan bahwa Lusi hanyalah masa lalu yang menyakitkan, bukan kekasih yang ia harapkan. Ia tidak akan membiarkan kata 'cerai' benar-benar terwujud dalam pernikahan mereka.
Namun, di tengah kemacetan jalanan Jakarta yang mulai padat, pikiran Maheer berkecamuk. Mengapa Assel tampak begitu mudah menyerah dan memintanya kembali pada Lusi? Apakah karena Assel memang tidak memiliki perasaan sedikit pun padanya, ataukah karena wanita itu hanya ingin melindungi hatinya dari luka yang baru?
Maheer mengepalkan tangannya di setir. Ia bersumpah, mulai hari ini, ia akan menghancurkan setiap keraguan yang ada di hati Assel, meski ia harus bersaing dengan bayang-bayang kakaknya sendiri yang begitu sempurna di mata wanita itu. "Kesalahpahaman ini harus selesai hari ini juga, sebelum Assel benar-benar menutup pintu hatinya rapat-rapat."
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah