NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12. Darah Suci Keturunan Kerajaan Alabas.

Aula istana bergema saat Jenderal Kel berlutut di hadapan takhta Raja Zion ( penguasa negara Alabas). Di belakangnya, Kurza berdiri dengan tenang bersama Miyuki yang tetap setia di sisinya. "Yang Mulia Raja Zion," suara Kel menggelegar, "hamba datang membawa kabar kemenangan mutlak! Pasukan iblis di selatan telah dihancurkan hingga ke akar-akarnya."

‎Raja Zion mencondongkan tubuh, matanya berbinar. "Ceritakan padaku, Kel. Bagaimana mungkin pertempuran yang kami perkirakan akan memakan waktu berminggu-minggu bisa selesai dalam satu hari?"

‎Kel melirik ke arah Miyuki dengan raut wajah yang masih menyimpan sisa kekaguman. "Itu semua karena wanita ini, Yang Mulia. Nona Miyuki... dia bukan sekadar prajurit. Hamba melihatnya membelah pasukan iblis sendirian dengan kecepatan yang tak tertangkap mata. Bahkan Bos Iblis Malphas yang raksasa itu meledak menjadi debu es di tangannya." Seru Kel dengan semangat melaporkan pencapaian Miyuki.

‎Kel melanjutkan dengan suara lebih rendah, "Kekuatan vampir yang diciptakan Tuan Kurza adalah senjata paling mematikan yang pernah dimiliki kerajaan ini. Tanpa dia, mungkin setengah dari pasukan hamba sudah terkubur di selatan." Mendengar laporan itu, para penasehat kerajaan dan jendral yang tadinya sinis kini mulai berbisik penuh ketakutan sekaligus rasa syukur. Raja Zion bangkit dari takhtanya, berjalan menuruni tangga dan berhenti tepat di depan Kurza dan Miyuki.

‎"Kurza, kau telah membuktikan ucapanmu," ujar Raja Zion sambil menatap Miyuki dengan penuh minat. "Dan kau, Miyuki... namamu akan dikenal sebagai penyelamat sekaligus mimpi buruk bagi musuh-musuh Negara Alabas. Katakan padaku, hadiah apa yang pantas diberikan untuk kekuatan sebesar ini?" seru Raja Zion dengan penuh kelegaan.

‎Mendengar ucapan Raja Zion, suasana di aula istana mendadak menjadi hening dan dingin. Para Penasehat, Bangsawan, dan Jendral menahan napas; mereka tahu bahwa kekuatan besar yang dimiliki Miyuki pantas mendapatkan hadiah, setidaknya sebuah wilayah yang seperti Kurza dapatkan.

‎Belum sempat Miyuki menjawab pertanyaan dari Raja Zion. Kurza menyela dengan maju persis di hadapan Raja Zion. "Yang Mulia, Miyuki tidak butuh hadiah apa - apa dari Yang Mulia, tapi saya, hampir beberapa bulan ini saya tidak makan Yang Mulia" seru Kurza sambil tanganya memegangi perut.

‎Raja Zion mengangguk pelan, wajahnya menunjukkan campuran antara rasa segan dan pengertian. "Pergilah, Kurza. Mereka sudah menunggumu. Pengabdianmu dan Miyuki tidak boleh dibayar dengan rasa lapar yang menyiksa." Perintah Raja Zion sembari menunjukan sebuah pintu yang ada di samping aula.

‎Kurza berbalik, memberi isyarat pada Miyuki untuk mengikutinya. Mereka berjalan melewati lorong-lorong istana yang megah menuju taman rahasia kerajaan. Di sana, di bawah naungan pohon-pohon berbunga indah, Ratu Iris dan Putri Khaya sedang duduk dengan tenang. Mereka tidak tampak takut; bagi mereka, memberikan darah kepada Kurza adalah ritual suci untuk menjamin keamanan kerajaan.

‎"Kalian sudah tahu mengapa aku di sini," ucap Kurza saat melangkah masuk ke taman. Putri kerajaan bangkit berdiri, menyibakkan rambutnya untuk menampakkan lehernya yang jenjang dan putih bersih. "Kami telah mendengar kemenanganmu, Tuan Kurza. Sebuah kehormatan bisa memulihkan kekuatan sang pelindung."

‎Miyuki berdiri di kejauhan, dengan wajah yang bingung tapi tetap siaga menjaga pintu masuk taman agar tidak ada yang mengganggu. Matanya tetap waspada, namun ada kilatan emosi yang sulit diartikan saat melihat tuannya mendekati sang Putri. Kurza mendekat, tangannya dengan lembut memegang bahu sang Putri. Aroma darah bangsawan yang manis mulai merangsang insting vampirnya yang sudah tertahan selama sebulan. Tanpa ragu lagi, ia mulai mengambil haknya sebagai imbalan atas keselamatan kerajaan Alabas.

‎Suasana di taman rahasia itu terasa begitu kontras: keindahan bunga-bunga yang bermekaran bersanding dengan pemandangan yang gelap sekaligus sakral. Saat taring Kurza menembus kulit halus Putri Khaya, sang Putri hanya mendesah pelan, bukan karena sakit, melainkan karena sensasi magis yang mengalir di antara mereka.

‎Darah bangsawan yang murni mengalir masuk, membawa kembali vitalitas dan kekuatan ke dalam tubuh Kurza yang semula layu.Miyuki, yang berdiri mematung di ambang pintu, merasakan dadanya berdenyut aneh. Sebagai senjata ciptaan Kurza, ia terhubung secara batin dengan tuannya. Ia bisa merasakan kepuasan Kurza, namun di saat yang sama, ada rasa asing yang menusuk sesuatu yang manusia sebut sebagai rasa cemburu, meski ia sendiri belum paham istilah itu. Ia hanya tahu bahwa ia lebih suka jika dialah yang memberikan segalanya untuk Kurza, bukan wanita lain, sekalipun itu seorang putri.

‎Ratu Iris yang duduk tak jauh dari sana memperhatikan Miyuki dengan tatapan bijak. Ia menyadari kegelisahan gadis itu. "Jangan khawatir," bisik sang Ratu pelan, hampir tak terdengar di antara desiran angin. "Darah kami hanya sekadar pengisi daya bagi tubuhnya. Setelah beberapa saat, Kurza melepaskan genggamannya. Matanya kini bersinar dengan warna cerah yang jauh lebih pekat dan hidup. Putri Khaya bersandar sedikit lemas di pundak ibunya, wajahnya pucat namun tersenyum puas.Kurza berbalik, menatap Miyuki yang masih siaga. Ia berjalan mendekat, lalu mengusap kepala Miyuki dengan tangan yang kini terasa hangat oleh darah kerajaan.

‎"Ayo pulang ke kastel, Miyuki. Kekuatanku sudah pulih. ." ajak dari Kurza. Miyuki mengangguk patuh, perasaan sesak di dadanya menguap seketika digantikan oleh rasa bangga yang meluap. Mereka meninggalkan taman itu, berjalan berdampingan menuju kegelapan malam, siap menjadi perisai dan pedang bagi Alabas yang tak akan pernah bisa dipatahkan oleh siapapun.

‎Mereka berdua berjalan meninggalkan area istana Raja Zion, tanpa berpamitan dengan Raja Zion dan Ratu Iris. Melewati gerbang besar yang dijaga ketat oleh prajurit Alabas yang kini menatap mereka dengan rasa hormat. Bagi orang awam, mereka adalah pahlawan; bagi musuh, mereka adalah maut yang berjalan. Sepanjang perjalanan menuju kastel pribadi mereka yang terletak di dataran tinggi yang dingin, Miyuki berkuda tepat di belakang Kurza. Sinar bulan menyinari jalan setapak.

‎"Tuan," panggil Miyuki memecah keheningan malam. "Apakah... rasa darah putri tadi benar-benar sehebat itu?" Kurza tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, "Darah mereka Suci" jawaban singkat Kurza. Kastel tua mereka mulai terlihat di cakrawala, berdiri kokoh di atas tebing batu yang curam. Di sanalah tempat mereka bisa melepaskan topeng sebagai prajurit dan kembali ke rutinitas mereka yang tenang, jauh dari intrik politik kerajaan. Saat pintu besar kastel terbuka menyambut kepulangan mereka, ia merasa beban dari medan perang benar-benar telah terangkat.

‎Sesampainya di kamar utama yang luas dan remang, Kurza merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar. Miyuki, seperti biasa, dengan cekatan melepas sepatu bot tuannya dan meletakkan pedangnya di rak senjata, sebelum akhirnya ikut duduk di sisi ranjang atas isyarat Kurza. Suasana tenang kastel membuat percakapan terasa lebih intim. Kurza menyandarkan punggungnya pada bantal, matanya menatap langit-langit kamar dengan sisa kilat merah yang perlahan meredup.

‎"Tuan," Miyuki memulai, suaranya pelan di tengah kesunyian kamar. "Tadi Tuan berkata darah mereka suci. Apakah darah Ratu Iris dan Putri Khaya benar-benar berbeda dari darah manusia biasa yang pernah Tuan temui?" Kurza menoleh ke arah Miyuki, lalu meraih tangan wanita itu, menariknya sedikit lebih dekat. "Sangat berbeda, Miyuki. Darah bangsawan Alabas memiliki kemurnian yang sudah dijaga selama ratusan tahun. Rasanya bukan sekadar cairan kehidupan; ada semacam energi sihir yang mengalir di dalamnya.

‎Darah Putri Khaya terasa seperti api yang lembut, membakar kelelahan dalam pembuluh darahku seketika. dari darah Putri Khaya lah aku bisa berjalan di bawah sinar Matahari." Jawab Kurza. Miyuki terdiam sejenak, jemarinya memainkan ujung selimut. "Lalu... bagaimana dengan Ratu Iris? Tuan juga mengambil darahnya?" Kurza terkekeh pelan, suara rendahnya bergema di ruangan itu. "Ia aku juga meminum darah Ratu Iris. Darah Ratu Iris memiliki darah yang lebih 'berat' dan penuh pengalaman.

‎Keduanya memberikan keseimbangan. Tanpa itu, mungkin tubuhku akan rapuh dan hanya menjadi vampir yang keluar di malam hari. seru Kurza, ia lalu menatap Miyuki dengan intens. "Kenapa? Apa kau merasa aku terlalu berlebihan dalam mengambil 'hadiah' itu?"Miyuki menggeleng cepat, wajahnya sedikit tertunduk. "Bukan begitu, Tuan. Saya hanya berpikir... apakah kekuatan saya sebagai ciptaan Tuan akan tetap cukup untuk melindungi Tuan, jika Tuan selalu membutuhkan darah murni mereka untuk pulih?"Kurza menarik tangan Miyuki dan mengecup punggung tangannya dengan lembut. "Darah mereka adalah bahan bakar, Miyuki. Tapi kau adalah jantungnya. Bahan bakar tidak ada gunanya tanpa mesin yang menggerakkannya.

‎Bersambung. . .

1
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: Terima kasih bosku.
total 1 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!