Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07 Malam Pertama
Nandini menggigit bibirnya. Ia melihat jam dinding. Sudah pukul sembilan malam.
Walimah selesai menjelang Magrib, namun masih ada tamu yang datang hingga selepas waktu Isya. Luar biasa, tamu yang datang tak berhenti.
Banyak yang mendoakan pernikahan Santaka dan Nandini. Pernikahannya boleh terpaksa, doa dan antusiasme para tamu itu tulus.
Lastri akhirnya memutuskan jam delapan, pengantin dapat beristirahat. Kasihan dari pagi harus terus menerus beramah tamah dengan tamu.
Kini saatnya bagi mereka, beramah tamah satu sama lain, berdua. Sungguh pengertian Lastri.
Namun bagi Nandini, itu artinya WIH, Waktu Indonesia bagian Horor. Ia bingung menghadapi malam pertamanya dengan Santaka.
Nandini dapat mendengar suara air mengalir dari shower di kamar mandi yang ada di kamar Santaka. Giliran suaminya yang mandi. Nandini telah lebih dahulu.
Gadis itu sudah berganti-ganti posisi tak jelas. Duduk, berdiri, berjalan, berdiri lagi. Berakhir duduk, capek.
Nandini meremas ujung kaus yang ia gunakan. Jangan bayangkan saat ini Nandini menggunakan baju tidur haram ataupun baju tidur ala putri.
Montir itu membungkus dirinya dengan kaus oblong putih dan celana pendek setengah paha. Baju tidur kebiasaannya di rumah.
Pintu kamar mandi terdengar terbuka. Nandini terlonjak. Dadanya berdebar kencang. Ia langsung menoleh.
Santaka dengan wajah basah, keluar menggunakan kaus serupa Nandini dan kain sarung. Nandini meringis.
Takut, di balik sarung itu polos, tak ada apa-apa lagi. Bukankah lelaki suka begitu, sarung dipakai tanpa pakaian dalam?
Atau minimal hanya pakaian dalam. Nandini menggelengkan kepalanya cepat.
Santaka menghampiri Nandini. Langkahnya perlahan. Tangan Nandini langsung terulur ke depan. “Stop Gus. Jangan tambah deket!”
Sang suami mengerutkan dahi. “Saya mau ambil sajadah ini, Mbak. Mau saya simpen di tempatnya.” Nandini menipiskan bibir.
Santaka mengambil sajadah yang tersampir di kasur, di dekat tempat Nandini duduk. Ia meletakkannya di rak kayu.
Lelaki itu kembali mendekati Nandini. Ia duduk di samping Nandini. Senyum simpul terlihat tipis di wajahnya.
Nandini kontan mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang. Senyum simpul Santaka menebal.
“Gus... sebelum... ngapa-ngapain saya mau bilang sesuatu...” Tangan Nandini kembali terulur ke depan. Anggap saja sebagai perisai.
“Apa Mbak?” Santaka memiringkan kepalanya.
“Saya lagi... datang bulan...”
Santaka mengernyit. “Bukannya tadi Isya... solat?”
Nandini meringis. Duh, dia liat ternyata.
“Baru tadi!” Nandini menganguk-anggukkan kepala.
Mata Santaka mengarah ke bagian bawah Nandini. Wanita itu kontan menutupnya dengan bantal.
Kok matanya ke situ? Si Gus Roti kacau juga!
“Mbak... Kamu wis bohongin saya soal pingsan. Yang sekarang bohong lagi ndak? Saya mau bukti.” Mata Santaka menelisik.
“Hah? Bukti apa, caranya?” Dahi Nandini berkerut.
Santaka menipiskan bibirnya. “Yaa, saya... liat atau... pegang mungkin.”
Bantal di pangkuan Nandini, ia lempar ke arah wajah Santaka. “Saya ndak nyangka Gus mesum!”
Santaka tergelak sambil menangkis bantal itu. “Makanya jangan suka bohong. Jadi ndak dipercaya kan.”
Nandini merengut. “Iya... saya ngaku... saya ndak datang bulan. Gus, saya... belum siap... Saya belum bisa... kita...” Nandini menunduk.
“Memangnya ndak pernah belajar biologi? Mau saya ajarin?” Santaka tersenyum sambil mengangkat alis. Nandini mendelikkan mata.
Ini si Gus Roti ternyata banyak omong ya? Di depan orang gayanya kalem, diem diem wae...
“Gus, saya serius, bukan nggak ngerti. Kayak gitu sih saya khatam, eh, maksudnya saya butuh waktu.”
“Sampai kapan?” Santaka bersedekap.
“Ya, ndak tau! Pokoknya, sekarang-sekarang ndak bisa.” Nandini memalingkan wajahnya.
Santaka tersenyum. Ia menggaruk satu alisnya. “Mbak, saya tau kita menikah dadakan. Tapi itu ndak membuat kita lepas dari hak dan kewajiban.
Salah satu hak dan kewajiban suami istri itu, yo nafkah batin itu. Untuk saya, itu hak saya sekaligus tanggung jawab saya buat Mbak. Karena itu kan kebutuhan dasar.
Begitu juga sebaliknya. Itu kewajiban Mbak ke saya dan hak Mbak untuk terpenuhi kebutuhannya. Kita dipaksa nikah bukan berarti mempermainkan pernikahan.
Dosa besar Mbak, zolim. Saya paham, Mbak Dini butuh waktu. Pelan-pelan kita saling mengenal, supaya kita saling nyaman. Gimana?”
Santaka memang belum mencintai Nandini, namun ia tak mau pernikahan ini menjadi ladang dosanya. Oleh karena itu, ia mencoba berdamai, legowo dengan posisinya sebagai suami, imam dalam rumah tangga ini.
"Iya. Pokoknya tunggu saya siap." Nandini mengembuskan napas lega, Santaka ternyata sosok yang bijaksana. Ia kira ia akan dinasihati soal laknat malaikat bagi istri yang menolak melayani suami.
Atau lebih parah. Santaka akan memaksanya. Tangan Nandini akan diikat, matanya ditutup, lalu tubuhnya akan digerayangi.
Nandini menggelengkan kepalanya berulang kali. Kenapa jadi dia yang berpikiran kotor?
Ck, bahaya tenan sekamar sama laki-laki! Pikiran suciku ternodai...
“Tapi saya punya permintaan, Mbak.” Santaka berdiri dan berjalan memutari ranjang, duduk di sisi sebelah Nandini.
“Kita tidur satu kasur. Ndak ada yang tidur di sofa atau kasur lipet.” Santaka tersenyum simpul.
“Duh, gimana ya Gus. Baru saya mau kasih ide itu. Saya saja yang tidur di kasur lipet. Ndak apa-apa.” Nandini meringis.
“Boleh sih... Tapi kalau ada kecoa, saya ndak nanggung.” Santaka tersenyum simpul.
Mata Nandini membulat. Kakinya refleks naik ke atas kasur. Santaka terkekeh.
“Gus ngapusi ya? Bohong kan?” Mata Nandini menyipit ketika menatap Santaka.
“Ya, buktiin saja sendiri.” Mata Santaka mengerling. Nandini berdecak.
“Mbak, kita kan sudah komitmen saling mengenal, belajar supaya nyaman. Tidur satu kasur itu bagian dari belajarnya. Kalau ndak dibiasakan, kapan nyamannya?”
Nandini terdiam. “Tapi Gus jangan macem-macem kecuali saya setuju ya. Awas kalau coba-coba!” Nandini mengepalkan tinju di depan wajahnya.
Santaka kembali tersenyum, kepalanya menggeleng. “Yo wis, kita tidur saja. Mbak Dini sukanya lampu mati atau nyala?”
“Mati.” Nandini merapikan bantal. Ia menjadikan guling sebagai pembatas dirinya dan Santaka.
“Alhamdulillah, sama.” Santaka mematikan lampu kamar. Walau dimatikan, ada semburat cahaya dari lampu luar sehingga kamar Santaka tidak gelap total.
Santaka dan Nandini sama-sama tidur telentang. Mata mereka kompak menatap langit-langit.
Suasana hening. Yang tak hening jantung kedua manusia itu. Tidur sekasur dengan lawan jenis tentu tak akan membuat hati tenang.
Santaka mulai merasa lelah menggelayuti kelopak matanya. Netranya perlahan melemah. Ia bisa merasakan Nandini membolak-balikkan posisi tidurnya.
Tiba-tiba Nandini terduduk. Ia menoleh ke arah Santaka. Lelaki itu spontan menutup matanya. Ia mengintip sedikit. Nandini nampak menatap lama kemudian melengos.
Bola mata Santaka nyaris keluar melihat aksi lanjutan istrinya. Tangan Nandini masuk ke dalam baju, menuju punggung.
Wanita itu lalu menarik branya. Pakaian dalam itu kemudian ia simpan di pinggir kasur.
Jantung Santaka terasa menggedor dadanya. Mata yang telah melemah mendadak seperti lampu 30 watt, terang benderang.
Bagaimana caranya Santaka bisa menahan diri jika tiap malam ada pemandangan sejenis ini?
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj