Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Api yang Tertahan
Malam turun perlahan, menyelimuti asrama Akademi Kerajaan Averion dalam kesunyian yang dingin.
Hujan tipis jatuh tanpa suara, membasahi jendela-jendela batu yang tinggi. Angin berhembus pelan, membawa hawa lembap yang merayap masuk ke setiap sudut ruangan.
Di dalam kamar kecilnya Sakura terbaring.
Napasnya tersengal.
Tubuhnya panas, namun di saat yang sama terasa dingin menusuk hingga ke tulang.
“Ahh…!”
Ia menggigit bibirnya keras, menahan suara yang hampir keluar.
Rasa sakit itu datang lagi.
Lebih kuat dari sebelumnya.
Lebih dalam.
Seperti sesuatu yang mencoba merobek dirinya dari dalam.
Aliran energi di tubuhnya kacau.
Tidak stabil.
Tidak terarah.
Seperti dua kekuatan yang saling bertabrakan tanpa henti.
Racun yang selama ini mengalir di tubuhnya
yang dulu hanya menekan dan melemahkan
kini bereaksi.
Terbangun.
Dan bergetar.
Seolah merespon sesuatu yang lain.
Sesuatu yang… bukan berasal dari racun itu sendiri.
duk…
Sakura menahan napas.
Detak itu.
Ia mengenalnya.
Bukan detak jantungnya.
Bukan juga rasa sakit biasa.
Ini sama seperti yang ia rasakan beberapa hari terakhir.
Resonansi.
Dari bawah.
Dari sesuatu yang tersegel jauh di bawah akademi.
“Kenapa… sekarang…”
Tangannya gemetar saat ia mencoba duduk.
Pembuluh meridiannya terasa seperti terbakar, lalu membeku, lalu terbakar lagi.
Siklus itu berulang.
Tanpa jeda.
Tanpa belas kasihan.
Ia memejamkan mata.
Dan tiba-tiba sebuah ingatan muncul.
Suara tabib tua itu.
Pelan.
Namun jelas.
“Jika suatu hari tubuhmu terasa seperti dihancurkan dari dalam… itu berarti sesuatu sedang bangkit.”
Napas Sakura tertahan.
“Bangkit…”
Ia menggigit bibirnya lagi.
“…atau menghancurkanku.”
Untuk pertama kalinya ia benar-benar takut.
Bukan pada rasa sakit.
Tapi pada kemungkinan bahwa ia tidak akan mampu mengendalikannya.
Bahwa semua ini…
akan berakhir sebelum ia sempat melakukan apa pun.
Namunperlahan ketakutan itu berubah, menjadi sesuatu yang lain.
Tekad.
Jika ia hanya menungguia akan mati.
Jika ia hanya bertahan ia akan hancur.
Maka satu-satunya pilihan adalah menghadapinya.
Keesokan paginya.
Langit masih gelap.
Sakura tetap berjalan menuju kelas.
Langkahnya lemah.
Wajahnya pucat.
Namun matanya tenang.
Bukan karena tidak sakit.
Tapi karena ia sudah menerima bahwa rasa sakit itu akan selalu ada.
Dan ia tidak akan lari darinya.
Namun seperti biasa
“Lihat itu, anak selir datang lagi.”
Suara itu tajam.
Penuh hinaan.
Claudia berdiri di tengah halaman, dikelilingi beberapa murid.
Senyumnya tipis.
Dingin.
“Kenapa wajahmu seperti mayat hidup?” ucapnya santai.
Ia menyilangkan tangan.
“Ah, aku lupa…”
Tatapannya turun sedikit.
“…memang dari awal kau itu sampah.”
Tawa kecil terdengar.
Fuko dan Yuki berdiri di belakangnya.
Mengamati.
Menilai.
Sakura tidak menjawab.
Ia berjalan lurus melewati mereka.
Namun Claudia bergerak lebih cepat.
Tangannya menarik kerah baju Sakura.
“Hei.”
Langkah Sakura terhenti.
Claudia mendekat.
Suaranya turun.
Pelan.
Namun tajam seperti pisau.
“Jangan sok kuat.”
Ia menyeringai.
“Bau racun dari tubuhmu saja sudah menjijikkan.”
Sakura diam.
Namun kali ini ia mengangkat wajahnya.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang berubah.
Di mata Sakura tidak ada lagi ketakutan.
Tidak ada lagi keraguan.
Hanya dingin.
Kosong.
Namun dalam.
“Lepaskan.”
Suaranya pelan.
Namun stabil.
Claudia terdiam sesaat.
Hanya satu detik.
Namun cukup untuk membuatnya menyadari—
ada yang berbeda.
Sangat halus.
Hampir tidak terasa.
Namun…
mengganggu.
Seperti tekanan tipis di udara.
Claudia menyipitkan mata.
Lalu tertawa kecil.
“Berani juga sekarang?”
Namun ia tetap melepaskannya.
“Pergi.”
Ia mendengus.
“Aku tidak mau menyentuh sesuatu yang hampir mati.”
Sakura berjalan pergi.
Tanpa menoleh.
Namun begitu ia memasuki lorong sepi
“Ugh…!”
Ia langsung berlutut.
Darah tipis mengalir dari sudut bibirnya.
Tangannya menekan lantai.
Napasnya terputus-putus.
duk!
Detak itu kembali.
Lebih keras.
Lebih dekat.
Dan kali ini
ia bisa merasakannya.
Bukan hanya dari luar.
Tapi…
terhubung.
Seolah sesuatu di bawah akademi itu
memanggilnya.
Atau…
menjawabnya.
“Tidak bisa… seperti ini terus…”
Jika ia hanya bertahan tubuhnya akan hancur.
Jika ia tidak mengendalikan ini ia akan mati.
Dan kali ini ia benar-benar yakin.
Ini bukan sekadar racun.
Ini bukan sekadar penyakit.
Ini…
kekuatan.
Yang belum ia pahami.
Sore itu Sakura menuju perpustakaan tua.
Langkahnya pelan.
Namun pasti.
Tempat itu sepi.
Berdebu.
Dipenuhi rak buku kuno yang jarang disentuh.
Ia berjalan menyusuri lorong rak
hingga akhirnya berhenti.
Tangannya meraih sebuah buku.
Alkimia Dasar dan Pengobatan Racun
Ia membukanya.
Membaca.
Cepat.
Namun teliti.
“Alkimia bukan hanya mencipta…”
“…tapi juga menyeimbangkan.”
“Tubuh manusia dapat menjadi wadah racun…”
“…atau wadah kekuatan.”
Napas Sakura perlahan menjadi lebih dalam.
Ia mulai memahami.
Jika racun itu menekan dan kekuatan dalam dirinya mendorong keluar
maka…
yang ia butuhkan bukan menghilangkan salah satunya.
Tapi mengendalikan keduanya.
“Kalau aku tidak bisa menghilangkan racunnya…”
Ia mengepalkan tangannya.
“…aku akan menjadikannya milikku.”
Malam itu di kamar kecilnya
Sakura mencoba.
Dengan bahan seadanya.
Daun pahit.
Akar kering.
Serbuk mineral.
Tangannya gemetar.
Namun matanya fokus.
Tidak ada ruang untuk ragu.
“Jangan gagal…”
Ia mencampur perlahan.
Mengikuti ingatan.
Mengikuti insting.
Mengikuti… tubuhnya sendiri.
Ia merebus.
Menunggu.
Hingga akhirnya setetes cairan hitam pekat terbentuk.
Baunya tajam.
Berbahaya.
Namun tidak asing.
Sakura menatapnya lama.
Jika ini gagal ia mungkin mati.
Namun jika tidak mencoba
ia pasti mati.
Ia mengangkat ramuan itu.
Dan meminumnya.
Beberapa detik
tidak terjadi apa-apa.
Lalu—
“AAAAHHH!!!”
Tubuhnya langsung kejang.
Energi di dalam tubuhnya meledak.
Racun dan kekuatan itu bertabrakan
lebih keras dari sebelumnya.
Lebih liar.
Lebih tidak terkendali.
Namun di tengah rasa sakit itu
Sakura merasakan sesuatu
Untuk pertama kalinya ia bisa “melihat” aliran itu.
Racun itu.
Mengalir.
Bergerak.
Bukan sebagai musuh.
Tapi sebagai sesuatu yang bisa diarahkan.
Napasnya terengah.
Tubuhnya gemetar.
Namun perlahan-lahan rasa sakit itu mereda.
Tidak hilang.
Namun…
melemah.
Sangat sedikit.
Namun nyata.
Sakura tersenyum tipis.
“Berhasil…”
Di luar kamar sebuah bayangan berdiri dalam gelap.
Tidak bergerak.
Tidak bersuara.
Namun matanya tajam.
Mengamati.
Prajurit bayangan sang Ratu.
Ia telah berada di sana sejak awal.
Mengawasi.
Menilai.
“Menarik…”
Bisiknya pelan.
“Anak itu tidak mati.”
Matanya menyipit.
“Justru mulai berubah.”
Ia tidak bergerak mendekat.
Tidak ikut campur.
Namun jelas ia tidak lagi menganggap Sakura sebagai sesuatu yang bisa diabaikan.
“Perintah Ratu… mungkin perlu dipercepat.”
Bayangan itu menghilang.
Seolah tidak pernah ada.
Di dalam kamar Sakura duduk lemah.
Namun sadar.
Tangannya terangkat perlahan.
Aura tipis berwarna gelap keunguan
berdenyut pelan di sekitarnya.
Tidak besar.
Tidak kuat.
Namun…
hidup.
“Ini…”
Napasnya perlahan stabil.
“…kekuatanku?”
Untuk pertama kalinya ia tidak hanya bertahan.
Ia mulai…
mengendalikan.
Dan tanpa ia sadari sesuatu di bawah akademi
kembali bergetar.
Menjawab.
---------
Hai semua
mimin mau bilang maaf dulu nih jika cerita kurang menarik atau ceritanya hampir sama dengan novel mimin sebelumnya yang masih tentang balas dendam.
Jangan terlalu berharap ya
Mimin baru mencoba membuat Novel kembali setelah beberapa lama off.
jangan lupa Like nya
Terima kasih🥰🥰🥰