NovelToon NovelToon
Sekolah Hantu

Sekolah Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Sistem
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.

Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.

Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?

Since: 10-04-2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Map Merah

Pintu kayu jati besar itu terbuka dengan bunyi derit panjang dan memekakkan telinga, seolah-olah engselnya terbuat dari tulang belulang yang sudah berkarat dan lama tidak digerakkan. Begitu Arga dan Lintang melangkah masuk, segala suara bising dari koridor luar serta deru badai kertas dan raungan Bima seketika lenyap ditelan keheningan total. Kesunyian di sini begitu pekat dan padat hingga suara detak jantung Arga sendiri terdengar keras seperti tabuhan genderang di dalam telinganya.

Ruang Guru SMA Nusantara sama sekali bukan kantor guru pada umumnya. Ruangan itu sangat luas dengan langit-langit tinggi yang dipenuhi ornamen ukiran kayu gelap yang tampak hidup dan merayap seperti akar pohon tua yang mencengkeram dinding. Barisan meja-meja guru tertata rapi memanjang membentuk lorong-lorong sempit yang terasa menyesakkan dada.

Di atas setiap meja, lampu kerja berwarna hijau emerald menyala redup, melemparkan bayangan-bayangan panjang dan aneh ke dinding yang penuh dengan potret hitam putih para pendiri dan guru guru sekolah dari masa ke masa.

"Hati-hati," bisik Lintang pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh suasana mencekam itu. "Lantai ini... ini bukan ubin keramik biasa."

Arga menunduk melihat ke bawah dan seketika perutnya terasa mual dan bergolak hebat. Lantai yang ia injak ternyata terbuat dari tumpukan ribuan lembar kertas ujian yang sudah menguning, kering, dan membatu keras. Di bawah lapisan transparan yang menyerupai kaca tebal, ia bisa melihat jelas tulisan-tulisan jawaban murid dan tinta merah penilaian yang melingkari angka nol besar berkali-kali. Seolah-olah seluruh ruangan ini dibangun di atas tumpukan kegagalan dan keputusasaan ribuan jiwa yang tersiksa.

Di setiap meja panjang, duduk sesosok bayangan hitam mengenakan pakaian formal guru era tahun tujuh puluhan. Mereka duduk diam tak bergerak, kepala tertunduk dalam seolah fokus penuh pada tumpukan dokumen tebal di hadapan mereka.

Namun yang membuat bulu kuduk Arga berdiri tegak adalah suara yang perlahan mulai memenuhi ruangan. Suara gesekan tajam pena di atas kertas.

Srak... srak... srak...

Ratusan bayangan itu sedang menulis serempak dengan irama yang sama persis. Namun tidak ada satu pun di antara mereka yang memegang pena atau pulpen biasa. Jari telunjuk mereka telah berubah menjadi tulang runcing tajam yang terus menerus mengeluarkan cairan merah kental seperti tinta darah.

"Itu adalah The Examiners," bisik Lintang cepat sambil terus berjalan mengendap-endap pelan. "Tugas mereka adalah mengoreksi dan menilai eksistensi para murid. Jangan sekali-kali membuat mereka mengangkat kepala dan menatapmu, Arga. Jika mereka menatap matamu, mereka akan mulai menuliskan 'Nilai Akhir' untuk hidupmu sendiri."

Arga mengikuti langkah Lintang dari belakang dengan tubuh kaku. Tangannya mendekap erat bola cahaya memori Raka di dada. Ia bisa merasakan energi gelap di ruangan ini mencoba menyedot ingatannya sendiri, membuat pikirannya perlahan menjadi kosong dan melupakan tujuan utamanya datang ke sini. Ia harus tetap fokus.

Di ujung paling jauh ruangan, tepat di balik meja kayu mahoni paling besar—meja Kepala Sekolah—terdapat sebuah brankas besi tua yang tertanam kuat di dinding batu.

"Map Merah itu ada di dalam sana," Lintang menunjuk dengan dagunya pelan.

Saat mereka berjalan melewati meja seorang guru wanita dengan sanggul tinggi yang kaku, Arga tidak sengaja menginjak sebuah pensil kayu yang tergeletak sembarangan di lantai.

KRAK!

Suara patahan kecil itu terdengar meledak keras di tengah keheningan yang mencekam itu.

Seketika itu juga, suara goresan pena serentak berhenti total. Ratusan kepala bayangan guru itu terangkat perlahan secara bersamaan dengan gerakan yang kaku dan tidak wajar.

Tubuh Arga membeku ketakutan. Ia menatap wajah-wajah mereka—atau lebih tepatnya, ketiadaan wajah. Di tempat di mana seharusnya terdapat mata dan mulut, hanya ada lubang-lubang hitam kecil yang terus-menerus mengeluarkan asap hitam pekat.

"Murid... Arga..." suara mereka bergema bukan dari mulut, melainkan terdengar langsung bergema di dalam kepala dan pikiran Arga. "Waktu ujian... sudah habis. Kumpulkan... jawabanmu sekarang..."

Satu per satu, para guru bayangan itu berdiri dari kursi mereka. Gerakan mereka patah-patah kaku seperti manekin yang digerakkan oleh tali-tali tak kasat mata. Mereka mulai berjalan perlahan namun pasti mengepung Arga dan Lintang dari segala arah. Jari-jari tulang mereka yang berlumuran tinta merah memanjang panjang tajam, siap untuk menorehkan sesuatu di dahi Arga.

"Lari ke meja utama, Arga! Aku akan menahan mereka di sini!" teriak Lintang.

Dengan sigap Lintang menghunus belati peraknya dan melakukan gerakan menyapu cepat di udara. Lingkaran api biru menyala terang meledak keluar dari bilah senjatanya, berfungsi sebagai penghalang sementara yang memisahkan mereka dari gerombolan guru hantu itu.

Para bayangan itu mendesis marah saat kulit mereka terkena percikan api biru, namun mereka terus merangsek maju dengan kegigihan yang mengerikan tanpa rasa takut sedikitpun.

Arga tidak membuang waktu. Ia berlari sekencang-kencangnya melewati celah barisan meja, melompati tumpukan dokumen yang tiba-tiba tumbuh tinggi menjulang seperti tembok penghalang. Saat ia akhirnya sampai di depan meja besar Kepala Sekolah, matanya tertuju pada brankas besi itu.

Brankas itu terkunci dengan mekanisme yang aneh. Bukan menggunakan nomor sandi atau pola, melainkan sebuah lubang kunci yang bentuknya sangat detail menyerupai sebuah jantung manusia yang dikecilkan.

"Sial! Kuncinya tidak cocok!" seru Arga panik saat ia mencoba memasukkan kunci perak biasa yang ia bawa. Lubang kunci itu bentuknya tidak pas.

"Bukan kuncinya, Arga! Gunakan memorinya! Gunakan inti cahaya itu!" teriak Lintang dari tengah kerumunan yang mulai menembus pertahanan apinya.

Arga menatap bola cahaya hangat di telapak tangannya yang berisi jiwa Raka. Tanpa ragu lagi, ia menempelkan bola cahaya itu tepat ke permukaan lubang kunci berbentuk jantung tersebut.

GLUP!

Seketika bola cahaya itu tersedot masuk seolah-olah besi brankas itu memiliki mulut yang hidup. Brankas besi besar itu mengeluarkan suara raungan panjang yang memilukan, seolah-olah logam itu sendiri sedang merasakan sakit yang luar biasa.

KLANG!

Pintu tebal itu terbuka lebar secara otomatis, melepaskan gelombang hawa dingin yang sedingin es hingga napas Arga berubah menjadi uap putih di udara.

Di dalamnya, hanya tersimpan satu benda. Sebuah map kulit berwarna merah marun yang sangat pekat dan gelap, teksturnya terlihat kasar seolah-olah terbuat dari kulit manusia yang diawetkan. Di sampul depannya, tertulis dengan huruf-huruf emas yang sudah memudar.

LOG KONTRAK ANGKATAN 50 TAHUN

Dengan tangan gemetar hebat, Arga membuka map itu. Lembaran-lembaran di dalamnya berisi tulisan-tulisan kontrak dengan bahasa kuno yang tidak ia mengerti, namun di pojok atas setiap halaman tertempel foto-foto murid.

Arga membalik halaman dengan cepat hingga sampai ke halaman paling belakang.

Di sana, tertempel foto kakaknya, Raka. Namun yang membuat jantung Arga seolah berhenti berdetak adalah tulisan tebal di bawah foto itu.

"STATUS: TELAH DISEMPURNAKAN. FONDASI UTAMA. JANTUNG TERSIMPAN DI MENARA JAM."

Di bawah tulisan itu, terdapat sebuah peta kasar yang menggambarkan jalur rahasia dari Ruang Guru menuju Perpustakaan Tua, dan dari sana menuju puncak Menara Jam. Map Merah ini bukan sekadar arsip biasa; ini adalah cetak biru atau blueprint dari seluruh sistem kutukan mematikan yang menimpa SMA Nusantara.

"Aku mendapatkannya, Lintang!" teriak Arga penuh semangat.

Namun saat ia berbalik badan, ia melihat Lintang sudah terpojok mati di sudut ruangan, dikelilingi oleh puluhan guru bayangan yang kini masing-masing memegang penggaris besi panjang yang berubah menjadi cambuk-cambuk berduri tajam.

Tiba-tiba...

BRAAKK!

Pintu utama Ruang Guru yang tadinya tertutup rapat meledak hancur berkeping-keping.

Bukan Reno yang masuk, melainkan sesosok pria tinggi besar mengenakan jas hitam yang disetel sangat rapi dan sempurna. Wajahnya sangat tampan dengan garis rahang tegas, namun matanya berwarna perak murni tanpa hitam sedikitpun. Di tangannya ia memegang tongkat komando dengan ujung emas berbentuk kepala singa yang menjulang tinggi.

"Cukup," ujar pria itu dingin.

Suaranya rendah namun berwibawa, mengandung tekanan energi yang begitu besar hingga membuat lutut Arga lemas dan ia jatuh berlutut di lantai seolah tertindih beban berat.

Melihat kedatangan pria itu, seluruh guru bayangan seketika berhenti menyerang. Mereka dengan patuh kembali duduk di meja masing-masing, menundukkan kepala dan kembali menulis dengan suara goresan pena yang monoton.

"Selamat malam, Arga," ujar pria itu dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai matanya yang dingin. "Aku adalah Sang Arsitek, Kepala Sekolah yang selama ini kau cari. Dan aku sangat berterima kasih karena kau telah bersedia membukakan brankas itu untukku. Kau tahu, aku sendiri tidak bisa menyentuh Map Merah itu kecuali jika dibuka oleh seorang murid dengan kemurnian darah yang sama dengan 'Inti'."

Arga kini sadar sepenuhnya. Ia telah dijebak sejak awal. Sang Arsitek sengaja membiarkannya melewati segala rintangan dan sampai di sini hanya untuk mengambilkan benda yang selama ini tersegel oleh kekuatan kasih sayang saudaranya sendiri.

"Sekarang, berikan map itu padaku," kata Sang Arsitek sambil mengulurkan tangannya yang putih pucat. "Dan aku berjanji, kau akan diperbolehkan melihat saudaramu satu kali lagi... sebelum ia benar-benar menjadi bagian dari tembok sekolah ini selamanya."

Arga menatap Map Merah di tangannya, lalu menatap Lintang yang masih terengah-engah dan terluka. Ia tahu, jika ia menyerahkan map ini, maka segala harapan untuk mematahkan kutukan akan hilang selamanya. Namun jika ia melawan, ia tidak yakin bisa keluar hidup-hidup dari ruangan ini.

"LINTANG! TUTUP MATMU SEKARANG!" teriak Arga tiba-tiba.

Alih-alih menyerahkan map itu, Arga justru merobek halaman kontrak milik Raka dengan kasar. Dalam satu gerakan cepat, ia menelannya bulat-bulat. Ia teringat catatan terakhir di buku harian Raka bahwa cara paling cepat untuk menyembunyikan kontrak dari Sang Arsitek adalah dengan menyatukannya dengan darah dan tubuh sang pewaris.

BUZZZ!

Energi gelap yang dahsyat meledak di dalam tubuh Arga. Matanya seketika bersinar terang berwarna merah darah. Ia merasakan kekuatan Indigo-nya meluap-luap melampaui batas yang pernah ia rasakan sebelumnya.

"KAAAAUUUU!" Sang Arsitek meraung marah tak percaya. Wajah tampannya retak-retak seperti porselen pecah, menyingkap kegelapan murni yang mengerikan di baliknya.

Arga menyambar tangan Lintang erat-erat. Dengan sisa kekuatan barunya yang meledak-ledak, ia menghantamkan kunci peraknya sekuat tenaga ke lantai Ruang Guru.

DUG!

Lantai yang terbuat dari kertas ujian membatu itu runtuh dan hancur lebur. Sebuah lubang dimensi hitam menganga lebar menyedot mereka berdua jatuh ke dalam kehampaan.

Mereka tidak jatuh ke tanah. Mereka melayang turun menembus labirin rak-rak buku yang tak berujung. Mereka jatuh menuju tempat yang disebut Perpustakaan Tua.

1
cintanya ningning
jadi tu jahat atau baik ya?
papi junkyung: yg mana ka?
total 1 replies
Xiao Juan
lanjutt lagi
rimaa~~~°
lanjut lagi thor
Cleo
masi harus berjuang lagi di pintu berikutnya wkwk, semangat arga💪
Cleo
lanjut lagi dong, up 2 tor sehari hehe, maap ngelunjak🤭🙏
papi junkyung
keren mom ceritanya
Sartika Monik
mana lagi lanjutannya,,duh padahal lagi penasaran banget bun haha🤭
cintanya ningning
lanjuttt
yeol
lagi dungg tor, tadi update di fb langsung ke sini haha
Fimela Angelia
duh masi gantung banget ni
Koo Eun Tak
next thor
Cleo
lanjut💪
Cleo
widih kata katanya bagus, resonansi indigo mutlak/Drool/
Fimela Angelia
cepetan update huhu/Sob//Sob/
Fimela Angelia
ini ya tangan perak yang dimaksud di blurb nya
Xiao Juan
lanjutinn author semangat kutunggu crazy up mu
Xiao Juan
fantasi banget hahaha keren keren tor🤭
Koo Eun Tak
lanjut lanjut
Cleo
gantung banget tor/Frown/
papi junkyung
mana lagi ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!