Hao Qi hanyalah seorang mahasiswa yatim piatu miskin yang tercekik hutang rentenir dan selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya.
Namun, nasibnya berubah drastis ketika ia tanpa sengaja mengaktifkan Sistem Toko Sepuluh Ribu Alam di ponsel bututnya. Melalui sistem rahasia ini, Hao Qi bisa menjual barang-barang murah sehari-hari seperti mi instan dan korek api gas ke berbagai dimensi lain dengan bayaran selangit berupa koin sistem, emas batangan, pil penempa tubuh, hingga teknik bela diri kuno.
Sambil menyembunyikan identitas dan kekuatan barunya, Hao Qi mulai melunasi hutangnya, menyadari keberadaan energi Qi di dunia modern, dan melangkah naik untuk menghancurkan para orang sombong yang dulu meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Ia segera melepas pakaian kotornya dan bergegas keluar kamar menuju kamar mandi umum di ujung lorong lantai tersebut.
"Byur! Byur!"
Hao Qi mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang keluar dari ember. Sambil menggosok kulitnya yang tertutup lendir hitam, senyum di wajahnya semakin lebar.
Di bawah cahaya lampu kamar mandi yang berkedip-kedip, ia bisa melihat perubahannya. Tubuhnya yang sebelumnya kurus kering dan kurang gizi kini tampak berisi. Otot dada, perut, dan lengannya terbentuk sempurna, tidak berlebihan seperti binaragawan, tapi padat dan proporsional seperti seorang atlet profesional. Lebam biru di rahangnya menghilang sepenuhnya, memperlihatkan kulit yang kini tampak lebih sehat dan bersih.
"Luar biasa..." Hao Qi menatap telapak tangannya sendiri. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ada kekuatan ledakan yang bersembunyi di balik ototnya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Hanya dengan sebutir pil tingkat rendah, aku berubah menjadi seperti ini. Kalau Ah Kun mengajakku berkelahi sekarang, aku bisa meremukkan tulangnya hanya dengan satu tangan."
Setelah membersihkan diri, Hao Qi kembali ke kamarnya dan tidur dengan nyenyak. Malam itu adalah tidur paling lelap yang pernah ia rasakan selama tiga tahun terakhir. Ia tidak perlu khawatir tentang alarm pagi atau panggilan kerja dadakan.
Keesokan paginya.
Sinar matahari pagi menyelinap dari celah-celah ventilasi udara di lorong indekos.
"Kriet."
Hao Qi keluar dari kamarnya dengan pakaian kasual yang bersih, kaus putih polos dan celana jins pudar yang selalu ia rawat dengan baik. Tas selempang murahnya tersampir di bahu, berisi batangan emas yang akan mengubah hidupnya hari ini.
"Pagi, Bibi Wang! Cuacanya cerah sekali hari ini, ya!" Hao Qi menyapa dengan nada ceria dan senyum ramah kepada seorang wanita paruh baya bertubuh tambun yang sedang menyapu lantai lorong.
Wanita itu adalah Bibi Wang, pemilik indekos yang terkenal cerewet dan galak.
Bibi Wang menghentikan sapunya, menatap Hao Qi dari atas ke bawah dengan dahi berkerut. Ada sesuatu yang berbeda dari pemuda miskin ini hari ini, pikirnya. Wajahnya terlihat berseri-seri, postur tubuhnya lebih tegap, dan aura suram yang biasanya menyelimutinya kini lenyap tak berbekas.
"Cerah apanya?! Tunggakan sewa kamarmu sudah dua bulan, Hao Qi! Mau sampai kapan kau menunggak? Kalau hari ini kau tidak bayar, angkat kaki dari tempatku!" omel Bibi Wang sambil bertolak pinggang.
Hao Qi tidak membalas dengan kemarahan atau rasa malu seperti biasanya. Ia justru tertawa kecil dan mengangguk sopan.
"Tenang saja, Bibi Wang yang cantik. Nanti siang aku pasti kembali dan melunasi semuanya, sekalian bayar untuk enam bulan ke depan! Aku pergi dulu, semoga hari Bibi menyenangkan!" Hao Qi melambaikan tangan dan berjalan cepat menuruni tangga.
"Heh! Mulut manismu itu tidak akan mempan padaku! Awas kalau kau bohong!" teriak Bibi Wang dari lantai dua, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum tipis di sudut bibirnya saat dipuji cantik.
Hao Qi berjalan menyusuri trotoar jalan raya kota Jiangjing yang mulai ramai. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi di sekitarnya. Tujuannya hari ini bukan kampus, melainkan pusat kota tempat deretan toko perhiasan mewah berada.
Setengah jam kemudian, ia berdiri di depan sebuah toko perhiasan besar dengan papan nama berlapis emas "Toko Emas Jin Long". Toko ini terkenal di Jiangjing sebagai salah satu toko perhiasan paling terpercaya dan sering membeli emas batangan dari pihak swasta.
"Kring..."
Lonceng pintu berbunyi saat Hao Qi melangkah masuk. Hawa sejuk AC langsung menyapu wajahnya.
Toko itu terlihat sangat mewah, dengan etalase kaca yang berkilau memamerkan berbagai jenis perhiasan. Beberapa pelanggan yang tampak kaya sedang melihat-lihat kalung dan cincin berlian.
Seorang pramuniaga wanita berseragam rapi menoleh ke arah Hao Qi. Melihat pakaian Hao Qi yang sangat sederhana dan tidak bermerek, senyum profesional pramuniaga itu sedikit memudar, namun ia tetap menghampirinya.
"Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu? Jika Anda mencari cincin kawin atau hadiah dengan harga terjangkau, koleksi perak kami ada di sebelah kiri," ucap pramuniaga itu dengan nada yang sopan, namun tersirat sedikit pandangan meremehkan.
Hao Qi tersenyum ramah, sama sekali tidak tersinggung dengan perlakuan tersebut. Ia sudah kebal dengan pandangan orang-orang kota yang menilai seseorang dari pakaiannya.
"Selamat pagi, Nona. Aku tidak sedang mencari perhiasan," Hao Qi membalas dengan suara tenang dan percaya diri.
"Lalu, apa yang anda cari di sini Tuan?"
"Aku punya sebuah barang yang ingin kunilai dan kujual. Aku ingin menjual emas batangan murni. Apakah toko kalian menerimanya?"
Pramuniaga itu sedikit terkejut, namun matanya memindai Hao Qi sekali lagi dengan penuh keraguan. Pemuda berpakaian lusuh ini punya emas batangan?
"Kami memang melayani pembelian emas, Tuan. Tapi emas yang kami beli harus memiliki sertifikat atau setidaknya melewati proses penilaian ketat oleh ahli kami untuk menguji kemurniannya. Prosesnya memakan waktu dan biaya potongan jika emas Anda di bawah standar."
"Tidak masalah," Hao Qi tersenyum lebar, menepuk tas selempangnya pelan. "Panggilkan saja penilai emas kalian. Aku yakin kualitas barangku tidak akan mengecewakan."
Pramuniaga itu ragu sejenak, namun melihat sorot mata Hao Qi yang tenang dan senyumnya yang meyakinkan, ia akhirnya mengangguk.
"Baiklah, silakan tunggu sebentar, Tuan. Saya akan memanggil Manajer Lin dari ruang penilaian."
Hao Qi berdiri dengan santai di dekat meja tunggu. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko, menikmati suasana mewah yang sebelumnya tidak pernah berani ia masuki.
"Dalam beberapa jam, hidupku tidak akan sama lagi," Hao Qi membatin, senyum penuh antisipasi mengembang di wajahnya. Langkah pertamanya menuju kebebasan akhirnya dimulai.